________________________________
Dari: Arman Bahar <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Jum, 8 Oktober, 2010 11:08:28
Judul: Bls: Bls: Bls: Bls: [...@ntau-net] Ketika Tuhan Menciptakan Indonesia.


Assalamualaikum ww
Batua apo nan sanak sabuik masih banyak NGO nan langsung sacaro teknis mambantu 
masyarakat, namun kemampuan NGO tadi kan terbatas sasudah tu lah aniang2 sajo 
lai, kemudian masyarakat kembali dengan masalah semula bak lingkaran sutan, ajee

Dari dulu ada saja elit2 tertentu meng-hembus2kan agar kita menjauhi dan tidak 
"menjejakan" kaki diranah sana dengan misal mengatakan politik itu kotor, 
politik itu lebih kejam dari pembunuhan dan lain sabagainyo, dan hembusan 
menyesatkan ini lah tamakan pulo dek kito2 ko, sahinggo ranah politik ko kito 
ajuhi bahkan membicarakan-nya saja dianggap tabu hinggo banyak kito nan indak 
faham alias buto politik kecek urang, kok lai tau bana hanyo saketek sajo alias 
tapi2nyo sajo 


Dek lah banyak awak2 ko indak sato manyato diranah  politik ko, tantu gadang 
ati 
urang2 tu, kini lah inyo2 sajo nan tingga lai, indak ado nan mangawasi dan 
mengontrol apo nan dikakoknyo, lah samo kompaklah inyo samo inyo, hinggo muncul 
pulo dimasarakat istilah baru kutiko tu, "Korupsi Berjamaah" bagai, dll

Nan paliang sangaik2 dirugikan adolah Umat Islam, karano pulitisi2 tu maraso 
indak nyaman kalau soal agamo di-baok2 ka ranah politik, mako dihembuskan 
pulolah isu "urusan agamo di musajik sajolah, urusan politik usah dicampua2 
pulo 
jo urusan agamo", nah nan ciek ko memang mankuih berhasil, indak ado ulama atau 
urang2 nan faham agamo bermain didunia politik dan semakin bebaslah mereka 
berbuat tanpa kontrol, karena para ulama nan cubo2 ulo diranah politik tu sudah 
mereka usir masuk mesjid dan selanjutnya image politik itu busuk dan kotor 
masih 
tetap menjadi image masarakat bahkan hingga kini tamasuak sanak AZ pun hanyo 
mancaliak2 jauah sajo sahinggo mereka bebas, leluasa dan nyaman, dan kitapun  
semakin takut dan dipertakut dengan momok politik tu

Untuanglah kini sajak reformasi lai ado juo nan lah manyadari bahwa 
perpolitikan 
Indonesianan ko harus dikawal, sayangnyo kelompok nan mangawal ko alun 
mayoritas 
lai sahinggo karajo mengawal ko jadi sangaik barek, namun walau disabuik barek, 
Alhamdulillah lai batambah juo anggotanyo sasudah pemilu 2009 patangko

Alangkah rancaknyo kalau kisanak AZ cs berkenan sato pulo dalam barisan 
pengawal 
ko untuak mampakueknyo sahinggo kok lah mayoritas beko, tantu nan kito 
kawatirkan tentang negeri dan anak negeri kito bisa kita angsua2 mampaeloki dek 
karano kitolah mayoritas disitu hinggo kaum penghalang indak berkutik bana lai 
doh walau lewat voting sekalipun

Dek wakatu masih lamo lai, masih banyak kesempatan kisanak manimbang2nyo, usah 
ta-buru2 bana lai, kunyah2 sajolah dulu malakik mantap hati tu

Percayalah "Harapan Itu Masih Ada"
wasalam
abp58   




________________________________
Dari: Armen Zulkarnain <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Jum, 8 Oktober, 2010 08:34:26
Judul: Bls: Bls: Bls: [...@ntau-net] Ketika Tuhan Menciptakan Indonesia.


Walaikumsalam wr wb
Mak Arman Bahar nan ambo hormati, saya pribadi sudah lama menjauh dari hal-hal 
yang berbau politik, tidak pernah sato sakaki dalam hal ini. Kebetulan nagari 
asa ambo namonyo Kubang di  daerah mudiak 50 Koto. Kok urang kubang masuak pulo 
ka kubangan iyo antah jadi apo bantuaknyo. Ambo kiro masih banyak NGO - NGO 
yang 
secara teknis memang membantu masyarakat. Kehidupan politik di negeri kita ini 
saya lihat sejak upaya pendongkelan BJ Habibie lebih mengutamakan berbagai 
cara, 
asal tujuan tercapai, soal pantas atau tidak, kultural atau tidak, dsb dsb, 
menjadi nomor sekian belas. Saya kira ada baiknya jangan "menjejakan" kaki 
disana, apalagi berkaitan dengan nafkah yang kita bawa pulang kerumah. 
hehehe... 
iyo indak sato ambo nan ciek tu doh,  mambana.

wasalam

AZ - 32 th       



________________________________
Dari: Arman Bahar <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Jum, 8 Oktober, 2010 08:17:23
Judul: Bls: Bls: [...@ntau-net] Ketika Tuhan Menciptakan Indonesia.


Assalamualaikum ww
Pak Armen Zulk, kita boleh2 saja "patah hati" dengan politik Indonesia namun 
jangan diartikan menjauh darinya, karena kalau kita menjauh maka akan  banyak  
sekali orang lain yang menggantikan posisi kita, apalagi kisanak ambo lihek lai 
sato di HMI yang banyak menghasilkan politisi2 handal sekelas Abdul Gaffur

HMI memang diakui banyak menghasilkan politisi2 handal tapi handal saja tentu 
belum cukup karena itu sangat perlu ditambah resep "Hati Nurani" 


Banyak resep hati nurani yang di-iklankan orang, tapi resep yang bagus tentulah 
IMTAQ Iman dan Taqwa


Pemimpin masa depan sebaiknya yang menkonsumsi kuliner yang ada resep IMTAQ 
ini, 
mari kita angsur2 meng-inventarisir  sekalian ceck dan rechek bagai molah

Jalur pencalonan pemimpin sejak dari legislatif (anggota dewan) dan eksekutif 
(bupati/walkot, gubernur dan presiden) sudah yang terbaik yang ada saat ini, 
yang perlu diperbaiaki adalah iktikat baiknya terhadap kepentingan rakyat, 
bukan 
kepentingan lain dari itu

Kalau tidak mau lewat jalur partai kan Undang2 Pemilu ada menyediakan lewat 
jalur sendiri, tapi kan persaratannya cukup berat, asal lai cukuik sarat dan 
kepeang boleh maju lewat jalur ini, karena yang namanya pesta atau alek apolagi 
alek demokrasi pasti paralu pitih buanyyak, lai talook?

Kok indak talok yaa lewat partai sajalah, kan tinggal bagaimana agar kita 
dilirik orang saja lagi

Pitih nan disetor ka partai, kalau partai itu partai jujur dan barasiah 
pastilah 
pitih tersebut digunakan untuk keperluan kampanye sang calon tersebut, hanyo 
sayang kebanyakan partai (walau indak seluruh partai) pitih tu DIKUDOK HABIHNYO 
untuk keperluan  lain dari keperluan nan sabananyo

wasalam
abp58


________________________________
Dari: Armen Zulkarnain <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Jum, 8 Oktober, 2010 05:42:19
Judul: Bls: [...@ntau-net] Ketika Tuhan Menciptakan Indonesia.


Assalamualaikum wr wb

pak Saaf & pak Jacky Mardono yang saya hormati, sejak Oktober 1999 saya "patah 
hati" dengan politik Indonesia. Saya tidak habis pikir dolar yang sempat 
melambung Rp 15.000 per dolar AS yang  bisa ditahan hingga ke level Rp 6.500 
per 
dolar AS  oleh Kabinet Reformasi Pembangunan. Pada masa pemerintahan Habibie 
inilah diselenggarakan pemilu yang jauh lebih demokratis dibading 30 tahun 
sebelumnya. Namun anggota DPR & MPR  yang dihasilkan benar-benar parah. Lebih 
mengutamakan emosi & sentimen dari pada akal sehatnya. Berbagai wacana & isu 
ditiupkan selama 3 bulan untuk menjegal pemerintahan Habibie. 

Pemilu 7 Juni 1999 adalah pemilu saya yang pertama (mungkin juga yang terakhir 
- 
sebab saat sejak itu saya tidak pernah ikut memilih lagi, atau disebut golput) 
sewaktu mahasiswa ( waktu itu usia saya  21 th) dan terlibat langsung dalam 
komite pengawas pemilu UNFREL untuk wilayah Tanjung Balai Karimun prov. Riau. 

Pada Sidang Umum (SU) MPR Oktober 1999 saya menyaksikan sendiri dilayar kaca 
bagaimana tingkah polah anggota DPR MPR yang terhormat (masa itu adalah euforia 
politik Indonesia) mengolok-ngolok BJ Habibie. Sejak saat itu saya tidak pernah 
tertarik dengan apa yang namanya politik & organisasi  politik yang kita sebut 
dengan partai politik.

Marah pada Orde Baru adalah wajar, marah pada Alm. Soeharto juga wajar, selama 
 3.5 bulan kami dengan kawan-kawan HMI berkonsolidasi menggelar demo di 
jejaring 
Sumatera yang puncaknya pecah pada bulan Mei 1998. Namun, dari serangkaian 
peristiwa itu - dan hingga saat kini, partai politik kita yang jumlahnya 
puluhan 
itu tidak menghasilkan apa-apa yang baik untuk rakyat. 

Saya kira, selama jalur pencalonan Presiden, Gubernur, Bupati & Walikota 
cenderung pilihan dari partai politik, hasilnya tidak akan jauh berbeda. Sebab 
sudah menjadi rahasia umum, apabila kita ingin dicalonkan, harus menyediakan 
sekian "fulus" untuk partai-partai itu. Kalau caranya sudah seperti itu, 
bagaimana mendapatkan Calon Presiden yang baik??? Harus ada revisi tata cara 
melalui jalur indepent.

wasalam

AZ - 32 th
Padang       
     



________________________________
Dari: Dr Saafroedin Bahar <[email protected]>
Kepada: Rantau Net <[email protected]>
Terkirim: Jum, 8 Oktober, 2010 03:17:25
Judul: Re: [...@ntau-net] Ketika Tuhan Menciptakan Indonesia.

Pak Jacky, walau cerita ini fiktif, namun sukar kita bantah bahwa masalah kita 
yg paling dasar dewasa ini  adalah kualitas pemerintahan. Penjelasan UUD 1945 
dahulu  menyebut hal ini sebagai 'semangat para penyelenggara negara, semangat 
para pemimpin pemerintahan'.
Oleh krn kita menganut sistem pemerintahan presidensial, maka 'in concreto'  
semangat para penyelenggara negara yg terpenting adalah 'semangat presiden', 
atau lebih tepat disebut 'karakter presiden'.
Sewaktu wacana sekarang sampai disini, maka semua diskusi akan berhenti, karena 
karakter seseorang sudah 'given', tak mungkin berubah lagi. Rakyat Indonesia 
secara menyeluruh harus memikul konsekuensi dari pilihannya pada tahun 2009 
yang 
lalu. Apa boleh buat.
Oleh karena itu lebih baik jika sejak saat ini kita mulai menimang-nimang 
capres 
baru tahun 2014, yg wataknya diperkirakan sesuai dgn jenis tantangan yg kita 
hadapi. Yang jelas, pesona saja jauh dari cukup. Kepemimpinan, atau lebih tepat 
kenegarawanan - termasuk di dalamnya kearifan, ketegasan, dan keberanian - 
itulah yg lebih kita butuhkan dari para capres. Kualitas ini bisa kita bahas 
bersama-sama.
Mari kita mulai menginventarisasi para capres, dan secara tenang mengeritisi 
kekuatan dan kelemahan karakternya  satu demi satu, serta perkiraan sesuai 
tidaknya karakter  tsb dengan tantangan yg kita hadapi dalam dasawarsa 
2014-2024, dalam dua kali masa jabatan. Untuk itu perlu dihimpun dan dikaji 
rekam jejak para calon tersebut satu demi satu.
Syukurnya, dalam pilpres 2009 yang lalu harian Kompas sdh mulai melakukan 
kajian 
karakter capres ini dengan bantuan sebuah tim psikolog, dan menyiarkannya 
kepada 
publik. Yang masih menjadi soal adalah apakah para pemilih dapat memanfaatkan 
kajian itu dalam mengambil keputusan untuk memilih?. Kelihatannya koq tidak, 
atau belum.
Dengan demikian kita harus siap-siap pula untuk berulangnya kembali sejarah.
Wallahua'lam bissawab.
Wassalam,



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib 
mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke