Dunsanak kasadono,

Ado tulisan menarik dari Anis Baswedan tentang urang Minang di Songklah:
Besok paginya Syaikhul Islam Thailand, pemimpin Muslim tertinggi di Thailand
khusus datang dari Songklah, kota di sisi selatan, untuk sarapan pagi
bersama di Pondoknya. Kita ngobrol panjang dan saya tanya asal keturunannya,
karena garis wajahnya berbeda; dia jawab kakek saya dari Sumatera, tapi dia
keturunan Hadramauth.




----- Forwarded Message ----
From: Radon Dhelika <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sun, October 10, 2010 8:31:54 AM
Subject: [imas_sg] Fwd: [midori-isc] Kisah Tokoh Dunia yang Inspiratif di Zaman 
Kontemporer

Sekadar sharing bacaan inspiratif untuk hari ahad.

Radon

---------- Forwarded message ----------
From: Kunta Biddinika <[email protected]>
Date: 2010/10/9
Subject: [midori-isc] Kisah Tokoh Dunia yang Inspiratif di Zaman Kontemporer
To: milis sahabat Midori <[email protected]>


Mohon maaf, sekedar meneruskan kisah inspiratif berikut ini.
Mohon maaf kalau cross-posting...

Kunta

----------------------------------

Republika, 08 Oktober 2010

Pondok Ban Tan
oleh Anies Baswedan


Ya Nabi salam alaika . . .
Ya Rasul salam alaika . . .
Ya habibie salam alaika . . .
Shalawatullah alaika . . .

Sekitar seribu anak-anak menghampar di lapang rumput depan pondok. Lautan
kerudung dan peci putih, melafalkan shalawat, khusuk dan menggema.

Suasana pondok Pesantren Ban Tan malam ini terasa unik. Pondok kecil ini
dibangun di pedalaman Thailand Selatan. Utk mencapai-nya harus terbang dari
Bangkok, jaraknya sekitar 750 km ke kota kecil Nakhon Si Thammarat lalu dari
airport yang kecil itu, naik mobil kira2 satu jam ke pedalaman. Masuk di
tengah2 desa-desa dan perkampungan umat Budha, disitu berdiri Pondok Ban
Tan. Dibangun awal abad lalu dengan beberapa orang murid. Niatnya sederhana,
menjaga aqidah umat Islam yg tersebar di kampung2 yang mayoritas penduduknya
beragama Budha

Melihat wajah anak-anak pondok, seperti kita sedang menatap masa depan.
Anak-anak yang dititipkan orang tua-nya untuk sekolah ke Pondok, untuk
menjaga sejarah kehadiran Islam di kerajaan Budha ini. Di propinsi ini
mereka berdampingan dengan damai. Sebuah tradisi yang harus dijaga terus.

Malam ini, setelah berliku perjalanannya, seakan jadi salah satu event
puncak utk keluarga pengasuh pondok ini.

Di awal tahun 1967 terjadi perdebatan panjang diantara para guru di Pondok
ini. Anak tertua Haji Ismail, pemimpin pondok ini, jadi bahan perdebatan.
Anak usia 17 tahun itu memenangkan bea-siswa AFS untuk sekolah SMA setahun
di Amerika Serikat.

Pondok Ban Tan seakan goyah. Tak terbayangkan bagi mereka, dari perkampungan
Muslim yang kecil, jauh dari keramaian, dan di pedalaman Thailand di tahun
1960an, cucu tertua pendiri Pondok akan dikirimkan ke Amerika. Umumnya
santri-santri cerdas dikirim melanjutkan sekolah ke Jawa atau Kedah atau
Kelantan; jika ada dana mereka akan dikirim ke Makkah atau Mesir. Tapi
Amerika ?!?; tidak pernah terlintas di benak mereka akan mengirim santri
belajar ke Amerika. Saat itu para guru di pondok terpecah pandangannya:
separoh takut anak ini akan berubah bila dikirim ke negeri kufar (istilah
yang digunakan dalam perdebatan itu), mereka tidak ingin kehilangan anak
cerdas itu.

Setelah perdebatan panjang, Si Kakek, pendiri Pondok itu, mengatakan, "saya
sudah didik cucu saya ini, saya percaya dia istiqomah dan saya ikhlas jika
dia berangkat". Ruang musyawarah di pondok itu jadi senyap. Tidak ada yang
berani melawan fatwa Sang Guru. Haji Ismail, sang ayah, mengangguk setuju.
Tidak lama kemudian berangkatlah anak muda tadi ke Amerika.

Tahun demi tahun lewat. Dan dugaan guru-guru Pondok itu terjadi: anak itu
tidak pernah kembali jadi guru pondok. Dia tidak meneruskan mengelola
warisan kakek dan ayahnya itu. Dia pergi jauh. Anak muda itu terlempar ke
orbit lain.

Malam ini anak yang dulu diperdebatkan itu pulang. Dia pulang bukan sebagai
orang asing, dia pulang membawa kebanggaan untuk seluruh keluarga, seluruh
pondok dan seluruh rakyat di propinsi kecil ini.

Dia pulang sebagai Sekretaris Jendral ASEAN. Pondok Ban Tan jadi terkenal,
kampung halaman jadi perhatian dunia. Sebelumnya dia adalah menteri luar
negeri Thailand, muslim pertama yang jadi Menlu di Negara berpenduduk
mayoritas Budha.

Namanya dikenal oleh dunia sebagai Surin Pitsuwan; dikampungnya dia dikenal
sebagai Abdul Halim bin Ismail.

Malam ini Surin pulang kampung membawa teman dan koleganya. Sekarang seluruh
bangunan Pondok ini nampak megah. Setiap bangunan adalah dukungan dari
berbagai negara. Anak ini pulang dengan membawa dukungan dunia utk Pondok
mungil di pedalaman ini. Semua adiknya menjadi guru, meneruskan tradisi
dakwah di kampung halamannya.

Saya menyaksikan bahwa sesungguhnya, Surin selalu "hadir" disini, dia
membawa dunia. Dia menjadi jembatan lintas peradaban, dia jadi duta Muslim
Thailand di dunia.

Dia tidak pernah hilang seperti ditakutkan guru-gurunya. Dia masih persis
seperti kata Kakeknya. Sejak pertama kali saya ngobrol dengan Surin, 3 tahun
lalu di Hanoi, tutur kata dan pikirannya seakan mengatakan: isyhadu bi ana
muslimin.

Ramadhan kemarin, saat kita makan malam -Ifthar bersama- di Bangkok, Surin
cerita tentang ASEAN Muslim Research Organization Network (AMRON) conference
di Walailak University dan ingin undang ke Pondoknya awal Oktober. Saya
jawab tidak bisa karena ada rencana acara di Bandung. Sesudah itu, dia kirim
beberapa sms meyakinkan bahwa ke "Ban-Tan" lebih utama daripada ke
"Ban-Dung".

Saat duduk di Masjid Al-Khalid, bersama ratusan santri, bersyukur rasanya
merubah jadwal, dari ke Bandung jadi berangkat ke Ban Tan. Saya sholat Isya’
berjamaah duduk disamping Surin, selesai sholat ratusan tangan mengulur,
semua berebut salaman dengannya. Wajah takjub santri-santri itu tidak bisa
disembunyikan, mereka semua seakan ingin bisa seperti Surin. Dia seakan jadi
visualisasi nyata, dari mimpi-mimpi para santri di kampung kecil di
pedalaman Thailand.

Malam itu, di pelataran Pondok Ban Tan dibuatkan panggung utk menyambut.
Santri-santri bergantian naik panggung. Mereka ragakan kemahiran bercakap
melayu, inggris dan arab. Sebagai puncak acara mereka tampilkan Leke Hulu
(Dzikir Hulu). Tradisi tarikat yang sudah dijadikan seni panggung. Seluruh
santri ikut berdzikir, gemuruhnya menggetarkan dada.

Besok paginya Syaikhul Islam Thailand, pemimpin Muslim tertinggi di Thailand
khusus datang dari Songklah, kota di sisi selatan, untuk sarapan pagi
bersama di Pondoknya. Kita ngobrol panjang dan saya tanya asal keturunannya,
karena garis wajahnya berbeda; dia jawab kakek saya dari Sumatera, tapi dia
keturunan Hadramauth.

Hari itu saya bersyukur. Saya katakan itu pada Surin bahwa ini perjalanan
luar biasa. Tapi dia belum puas, Surin panggil salah satu alumni pondoknya
(seorang doktor ilmu management) untuk antarkan saya ke Masjid di
kampung-kampung pesisir pantai untuk dikenalkan dengan Ustadz keturunan
Minang.

Setelah melewati kampung-kampung dan pasar yang sangat-sangat sederhana,
saya sampai di rumahnya yang sangat sederhana, di belakang Madrasah yg
dipimpinnya. Kita berdiskusi tentang suasana disini, tentang Minang, dan
tentang kemajuan. Lalu dia ambil bingkai-bingkai dari lemari, dia tunjukkan
beberapa foto-foto orang tuanya, ayahnya dipaksa hijrah dari Maninjau di
Ranah Minang karena perlawanan pada Belanda. Kira-kira 90 tahun yang lalu,
dia sampai di Thailand Selatan dan jadi guru agama. Mengagumkan, anak-anak
muda pemberani memang selalu jadi pilar kokohnya Dienul Islam. Mereka hadir
dan hidup berdampingan penuh kedamaian.

Lengkap sudah perjalanan kali ini. Dalam satu rotasi ditemukan dengan
komunitas yang kontras. Di Kuala Lumpur, berdialog dengan kalangan bisnis
dan politik dalam ASEAN 100 Leadership Forum dengan suasana megah, di
Thailand Selatan berdialog dengan kaum Muslim minoritas dengan suasana
sederhana, sangat bersahaja.

Sekali lagi kita ditunjukan betapa hebatnya efek pendidikan. Beri fondasi
aqidah, bekali dengan modal akhlaqul karimah lalu biarkan anak muda terbang
mencari ilmu, membangun network, merajut masa depan. Anak muda tidak takut
menyongsong masa depan. Kelak ia akan pulang, menjawab doa ibunya, menjawab
doa ayahnya dengan membawa ilmu, membawa manfaat bagi kampung halamannya,
bagi negerinya dan bagi umatnya.

Di airport kita berpisah. Saya pulang  kampung ke Jakarta dan Surin
berangkat ke Brussel, memimpin delegasi para kepala pemerintahan ASEAN dalam
ASEAN-European Summit.

Hari ini anak yang dulu ditakutkan hilang itu akan memimpin delegasi
pemimpin se-Asia Tenggara. Dan, pada hari ini juga Ibunya masih tetap
tinggal di pondok Ban Tan, sekitar 90 tahun, tetap mendoakan anaknya seperti
saat melepasnya berangkat sekolah SMA ke Amerika dulu.

Barakallahu lakum . . . .

Just landed in Jakarta;  Oct 4, 2010; 00.30 am. (Sekadar catatan pendek,
sebuah perjalanan singkat. Ditulis dalam perjalanan pulang ke Jakarta


[Non-text portions of this message have been removed]


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

*****************************************************************
Untuk kirim file, foto, lagu, isi database dsb silakan klik:
http://groups.yahoo.com/group/imas_sg/

Untuk subscribe, kirim e-mail kosong ke:
[email protected]
Pemohon akan menerima formulir pendaftaran yang harus diisi lengkap

Untuk unsubscribe, kirim e-mail kosong ke: 
[email protected]
*****************************************************************


Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/imas_sg/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/imas_sg/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/


      

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke