Selasa, 12 Oktober 2010 | 16:45 WIB

http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa_lainnya/2010/10/12/brk,20101012-284252,id.html

TEMPO Interaktif, Padang — Tim 9 yang terdiri dari ahli gempa dan ahli tsunami 
bentukan Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) 
kembali mengingatkan agar warga Padang, Mentawai, dan pesisir barat Sumatera 
Barat bersiap menghadapi gempa Megathrust di Pulau Siberut Mentawai dengan 
kekuatan yang mencapai 8,9 skala Richter dan dapat menimbukan tsunami.

"Kami dari tim sembilan ini rasanya seperti membawa kabar kematian, tetapi 
hasil kajian ini memang harus disampaikan agar kita bersiap menghadapi 
bencana," kata Wahyu Triyoso, pakar gempa yang juga salah satu anggota tim 
sembilan di Auditorium Kantor Gubernur, Padang, Selasa (12/10).

Hamzah Latif, ahli tsunami memaparkan simulasi tsunami yang bisa melanda Padang 
dan pesisir sekitarnya jika terjadi megathrust earthquake.

Dalam simulasi terbaru, tsunami bisa menghantam Kota Padang selama 2,5 jam 
dengan ketinggian 6 meter sejauh 2 kilometer.

"Dengan tsunami seperti itu dan kondisi Kota Padang seperti sekarang, jika 
tsunami terjadi pada siang hari, kira-kira bisa menimbulkan 150 ribu jiwa, itu 
yang dihitung manusia bergerak dengan lebar jalan, belum termasuk hambatan lain 
seperti macet oleh kendaraan, tiang listrik dan bangunan yang roboh," katanya 
menerangkan.

Hamzah juga tidak bisa membayangkan jika Kota Padang dihantam tsunami yang akan 
bisa merusak pelabuhan laut dan udara yang hanya terletak 300 meter dari 
pantai. Ia membayangkan kota berpenduduk lebih 900 ribu jiwa tersebut akan 
terisolasi karena jalan darat juga melewati Bukit Barisan.

Ia menyarankan pemerintah pusat dan daerah segera membuat shelter dan jalan 
evakuasi untuk mengantisipasi ancaman bencana tsunami di Sumatera Barat.

Ahli gempa Danny Hilman Natawijadja dari Laboratorium gempa Lembaga Ilmu 
Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang sudah 20 tahun meneliti gempa di Mentawai 
mengatakan ancaman gempa di bawah Pulau Siberut atau gempa megathrust sudah di 
depan mata.

"`Kapan waktunya, sebenarnya masanya sudah lewat, pelepasan itu sudah dimulai 
pada saat gempa Mentawai 2007 namun ini baru buntutnya, kini tinggal menunggu 
bapaknya," kata Danny Hilman.

Ia mengingatkan pentingnya mitigasi. Ia mengatakan kegiatan mitigasi selama ini 
sangat kurang dan jauh tertinggal. Namun itu bukan hanya di Indonesia, tapi 
juga di dunia internasional.

"Budayanya yang harus diubah, secara umum di dunia internasional pun belum 
membudayakan mitigasi, semuanya masih reaktif, setelah terjadi bencana baru 
datang ramai-ramai melakukan tanggap darurat," kata Danny.

Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief mengatakan, 
kurangnya kegiatan penanganan mitigasi bencana alam di sejumlah daerah rawan 
gempa dan tsunami karena dana mitigasi sangat kurang.

"Ini disebabkan karena Undang-Undang Kebencanaan Tahun 2002 dibuat dalam 
keadaan darurat saat banyak bencana, jadi yang mengatur tentang mitigasi sangat 
minim, hanya 2 pasal yang membahas mitigasi," ujar Andi Arif.

Andi mengatakan bahkan kurangnya dana mitigasi tersebut menyebabkan kepala 
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengeluh. Dari Rp 3 triliun dana 
bencana yang dikelola BNPB hampir tidak ada dianggarkan untuk kegiatan 
mitigasi. "Sekarang sudah diusulkan agar 10 persen dari dana tersebut 
dialokasikan untuk kegiatan mitigasi," kata Andi.

Ia mengatakan sudah memberikan masukan kepada Presiden dan Presiden sudah mulai 
menyadari betapa pentingnya mitigasi. "Karena hasil kajian Tim 9 yang mengkaji 
ancaman bencana di Indonesia, antara mitigasi berbasis scientific berbanding 
terbalik dengan cost, makin banyak penelitian maka persiapannya makin matang," 
ujarnya.

Andi mengatakan, sejak tsunami Aceh Desember 2004 hingga 2009 sebanyak Rp 150 
triliun dana APBN terserap untuk penanganan bencana. Itu artinya dalam lima 
tahun lalu setiap tahun Rp30 triliun tersedot untuk penanganan bencana.

"Dengan memprioritaskan mitigasi mungkin tidak sebesar itu dana habis dan 
korban gempa-tsunami tidak sebanyak itu," ujarnya.

Andi mengatakan, hasil kajian pihaknya dan Tim 9 yang terdiri dari para ahli 
gempa-tsunami memetakan enam provinsi dan 13 kabupaten-kota yang potensial 
bencana. Di antaranya Sumatera Barat (terutama Padang, Mentawai, dan daerah 
sekitar), Lampung Barat, Selat Sunda, Pangandaran, dan Yogyakarta.

Gubernur Irwan Prayitno berjanji akan segera membuat perda tata ruang yang baru 
yang mengatur bangunan harus tahan gempa, shelter-shelter, dan jalan-jalan 
evakuasi.

Febrianti



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke