dunsanak sadonyo, 

berikut forward cerita dari kawan ambo di IMSA, ttg komunitas muslim di 
thailand, selatan, 
dari ceritanya, ternyata ada juga perantau minang ke sana, yg sebagian menjadi 
guru agama , ustad disana, semoga bermanfaat

salam
HM
http://hdmessa.wordpress.com
-------------

Pondok Ban Tan
Anies Baswedan
(Rektor Universitas Paramadina) 


Ya Nabi salam alaika. . .
Ya Rasul salam alaika. . .

Ya habibie salam alaika. . . 
Shalawatullah alaika. . . 

Sekitar
 seribu anak-anak menghampar di lapang rumput depan pondok. Lautan 
kerudung dan peci putih melafalkan shalawat, khusyuk dan menggema. 



Suasana pondok Pesantren Ban Tan malam ini terasa unik. Pondok kecil ini
 dibangun di pedalaman Thailand Selatan. Untuk mencapainya, harus 
terbang dari Bangkok yang jaraknya sekitar 750 km ke kota kecil Nakhon 
Si Thammarat. Lalu, dari bandara yang kecil itu, naik mobil kira-kira 
satu jam ke pedalaman. Masuk di tengah-tengah desa dan perkampungan umat
 Budha, di situ berdiri Pondok Ban Tan. Pondok ini dibangun awal abad 
lalu dengan beberapa orang murid. Niatnya sederhana, yaitu menjaga 
akidah umat Islam yang tersebar di kampung-kampung yang mayoritas 
penduduknya beragama Budha.



Melihat wajah anak-anak pondok, seperti kita sedang menatap masa 
depan. Anak-anak yang dititipkan orang tuanya untuk sekolah ke Pondok, 
yaitu untuk menjaga sejarah kehadiran Islam di kerajaan Budha ini. Di 
propinsi ini, mereka berdampingan dengan damai. Sebuah tradisi yang 
harus dijaga terus.



Malam ini, setelah berliku perjalanannya, seakan jadi salah satu 
event puncak untuk keluarga pengasuh pondok ini. Di awal tahun 1967, 
terjadi perdebatan panjang di antara para guru di pondok ini. Anak 
tertua Haji Ismail, pemimpin pondok ini, jadi bahan perdebatan. Anak 
usia 17 tahun itu memenangkan beasiswa AFS untuk sekolah SMA setahun di 
Amerika Serikat. 



Pondok Ban Tan seakan goyah. Tak terbayangkan bagi mereka, dari 
perkampungan Muslim yang kecil, jauh dari keramaian dan di pedalaman 
Thailand di tahun 1960-an, cucu tertua pendiri pondok akan dikirimkan ke
 Amerika. Umumnya, santri-santri cerdas dikirim melanjutkan sekolah ke 
Jawa, Kedah, atau Kelantan; jika ada dana mereka akan dikirim ke Makkah 
atau Mesir. Tapi, Amerika? tidak pernah terlintas di benak mereka akan 
mengirim santri belajar ke Amerika. Saat itu, para guru di pondok 
terpecah pandangannya: separuh takut anak ini akan berubah bila dikirim 
ke negeri kufar (istilah yang digunakan dalam perdebatan itu), mereka 
tidak ingin kehilangan anak cerdas itu. 



Setelah perdebatan panjang, Si Kakek, pendiri pondok itu, 
mengatakan, "Saya sudah didik cucu saya ini, saya percaya dia istikamah 
dan saya ikhlas jika dia berangkat." Ruang musyawarah di pondok itu jadi
 senyap. Tidak ada yang berani melawan fatwa Sang Guru. Haji Ismail, 
sang ayah, mengangguk setuju. Tidak lama kemudian berangkatlah anak muda
 tadi ke Amerika. 



Tahun demi tahun lewat. Dan, dugaan guru-guru pondok itu terjadi: 
anak itu tidak pernah kembali jadi guru pondok. Dia tidak meneruskan 
mengelola warisan kakek dan ayahnya itu. Dia pergi jauh. Anak muda itu 
terlempar ke orbit lain. 



Malam ini anak yang dulu diperdebatkan itu pulang. Dia pulang bukan 
sebagai orang asing, dia pulang membawa kebanggaan untuk seluruh 
keluarga, seluruh pondok, dan seluruh rakyat di propinsi kecil ini. 

Dia
 pulang sebagai Sekretaris Jenderal ASEAN. Pondok Ban Tan jadi terkenal,
 kampung halaman jadi perhatian dunia. Sebelumnya, dia adalah menteri 
luar negeri Thailand, Muslim pertama yang jadi Menlu di negara 
berpenduduk mayoritas Budha.



Namanya dikenal oleh dunia sebagai Surin Pitsuwan; dikampungnya dia dikenal 
sebagai Abdul Halim bin Ismail.

Malam
 ini Surin pulang kampung membawa teman dan koleganya. Sekarang, seluruh
 bangunan pondok ini tampak megah. Setiap bangunan adalah dukungan dari 
berbagai negara. Anak ini pulang dengan membawa dukungan dunia untuk 
pondok mungil di pedalaman ini. Semua adiknya menjadi guru, meneruskan 
tradisi dakwah di kampung halamannya. 



Saya menyaksikan bahwa sesungguhnya, Surin selalu 'hadir' di sini, 
dia membawa dunia. Dia menjadi jembatan lintas peradaban, dia jadi duta 
Muslim Thailand di dunia.

Dia tidak pernah hilang seperti 
ditakutkan guru-gurunya. Dia masih persis seperti kata kakeknya. Sejak 
pertama kali saya ngobrol dengan Surin, 3 tahun lalu di Hanoi, tutur 
kata dan pikirannya seakan mengatakan: isyhadu bi ana muslimin. 



Ramadhan kemarin, saat kita makan malam-Ifthar bersama-di Bangkok, 
Surin cerita tentang ASEAN Muslim Research Organization Network (AMRON) 
conference di Walailak University dan ingin mengundang ke pondoknya awal
 Oktober. Saya jawab tidak bisa karena ada rencana acara di Bandung. 
Sesudah itu, dia kirim beberapa sms meyakinkan bahwa ke "Ban-Tan" lebih 
utama daripada ke "Ban-Dung". 



Saat duduk di Masjid Al-Khalid, bersama ratusan santri, bersyukur 
rasanya mengubah jadwal dari ke Bandung jadi berangkat ke Ban Tan. Saya 
shalat Isya berjamaah duduk disamping Surin. Selesai shalat, ratusan 
tangan mengulur, semua berebut bersalaman dengannya. Wajah takjub 
santri-santri itu tidak bisa disembunyikan. Mereka semua seakan ingin 
bisa seperti Surin. Dia seakan jadi visualisasi nyata dari mimpi-mimpi 
para santri di kampung kecil di pedalaman Thailand.



Malam itu, di pelataran Pondok Ban Tan, dibuatkan panggung untuk 
menyambut. Santri-santri bergantian naik panggung. Mereka ragakan 
kemahiran bercakap Melayu, Inggris, dan Arab. Sebagai puncak acara, 
mereka tampilkan Leke Hulu (Zikir Hulu). Tradisi tarikat yang sudah 
dijadikan seni panggung. Seluruh santri ikut berzikir, gemuruhnya 
menggetarkan dada. 


 
Besok paginya, Syaikhul Islam Thailand, pemimpin Muslim tertinggi 
di Thailand khusus datang dari Songklah, kota di sisi selatan, untuk 
sarapan pagi bersama di pondoknya. Kita ngobrol panjang dan saya tanya 
asal keturunannya karena garis wajahnya berbeda; dia jawab kakek saya 
dari Sumatra, tapi dia keturunan Hadramauth. 



Hari itu saya bersyukur. Saya katakan itu pada Surin bahwa ini 
perjalanan luar biasa. Tapi, dia belum puas. Surin memanggil salah satu 
alumni pondoknya (seorang doktor ilmu manajemen) untuk mengantarkan saya
 ke masjid di kampung-kampung pesisir pantai untuk dikenalkan dengan 
Ustaz keturunan Minang. 



Setelah melewati kampung-kampung dan pasar yang sangat sederhana, 
saya sampai di rumahnya yang sangat sederhana, di belakang madrasah yang
 dipimpinnya. Kita berdiskusi tentang suasana di sini, tentang Minang, 
dan tentang kemajuan. Lalu, dia mengambil bingkai-bingkai dari lemari, 
dia tunjukkan beberapa foto-foto orang tuanya, ayahnya dipaksa hijrah 
dari Maninjau di Ranah Minang karena perlawanan pada Belanda. Kira-kira 
90 tahun yang lalu, dia sampai di Thailand Selatan dan jadi guru agama. 
Mengagumkan, anak-anak muda pemberani memang selalu jadi pilar kokohnya 
Dienul Islam. Mereka hadir dan hidup berdampingan penuh kedamaian. 



Sekali lagi, kita ditunjukkan betapa hebatnya efek pendidikan. Beri 
fondasi akidah, bekali dengan modal akhlaqul karimah lalu biarkan anak 
muda terbang mencari ilmu, membangun network, merajut masa depan. Anak 
muda tidak takut menyongsong masa depan. Kelak ia akan pulang, menjawab 
doa ibunya, menjawab doa ayahnya dengan membawa ilmu, membawa manfaat 
bagi kampung halamannya, bagi negerinya, dan bagi umatnya.



Di bandara kita berpisah. Saya pulang  kampung ke Jakarta dan Surin 
berangkat ke Brussel, memimpin delegasi para kepala pemerintahan ASEAN 
dalam ASEAN-European Summit. 

Hari ini, anak yang dulu ditakutkan
 hilang itu akan memimpin delegasi pemimpin se-Asia Tenggara. Dan, pada 
hari ini juga, Ibunya masih tetap tinggal di pondok Ban Tan, sekitar 90 
tahun, tetap mendoakan anaknya seperti saat melepasnya berangkat sekolah
 SMA ke Amerika dulu. 



      

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke