Wayoi nakan Hendra mamasuakkan baliak. Alah 3 kali barangko dilewakan.
Indak baalah "lanca kaji dek ulang"

On 10/13/10, Hendra Messa <[email protected]> wrote:
> dunsanak sadonyo,
>
> berikut forward cerita dari kawan ambo di IMSA, ttg komunitas muslim di
> thailand, selatan,
> dari ceritanya, ternyata ada juga perantau minang ke sana, yg sebagian
> menjadi guru agama , ustad disana, semoga bermanfaat
>
> salam
> HM
> http://hdmessa.wordpress.com
> -------------
>
> Pondok Ban Tan
> Anies Baswedan
> (Rektor Universitas Paramadina)
>
>
> Ya Nabi salam alaika. . .
> Ya Rasul salam alaika. . .
>
> Ya habibie salam alaika. . .
> Shalawatullah alaika. . .
>
> Sekitar
>  seribu anak-anak menghampar di lapang rumput depan pondok. Lautan
> kerudung dan peci putih melafalkan shalawat, khusyuk dan menggema.
>
>
>
> Suasana pondok Pesantren Ban Tan malam ini terasa unik. Pondok kecil ini
>  dibangun di pedalaman Thailand Selatan. Untuk mencapainya, harus
> terbang dari Bangkok yang jaraknya sekitar 750 km ke kota kecil Nakhon
> Si Thammarat. Lalu, dari bandara yang kecil itu, naik mobil kira-kira
> satu jam ke pedalaman. Masuk di tengah-tengah desa dan perkampungan umat
>  Budha, di situ berdiri Pondok Ban Tan. Pondok ini dibangun awal abad
> lalu dengan beberapa orang murid. Niatnya sederhana, yaitu menjaga
> akidah umat Islam yang tersebar di kampung-kampung yang mayoritas
> penduduknya beragama Budha.
>
>
>
> Melihat wajah anak-anak pondok, seperti kita sedang menatap masa
> depan. Anak-anak yang dititipkan orang tuanya untuk sekolah ke Pondok,
> yaitu untuk menjaga sejarah kehadiran Islam di kerajaan Budha ini. Di
> propinsi ini, mereka berdampingan dengan damai. Sebuah tradisi yang
> harus dijaga terus.
>
>
>
> Malam ini, setelah berliku perjalanannya, seakan jadi salah satu
> event puncak untuk keluarga pengasuh pondok ini. Di awal tahun 1967,
> terjadi perdebatan panjang di antara para guru di pondok ini. Anak
> tertua Haji Ismail, pemimpin pondok ini, jadi bahan perdebatan. Anak
> usia 17 tahun itu memenangkan beasiswa AFS untuk sekolah SMA setahun di
> Amerika Serikat.
>
>
>
> Pondok Ban Tan seakan goyah. Tak terbayangkan bagi mereka, dari
> perkampungan Muslim yang kecil, jauh dari keramaian dan di pedalaman
> Thailand di tahun 1960-an, cucu tertua pendiri pondok akan dikirimkan ke
>  Amerika. Umumnya, santri-santri cerdas dikirim melanjutkan sekolah ke
> Jawa, Kedah, atau Kelantan; jika ada dana mereka akan dikirim ke Makkah
> atau Mesir. Tapi, Amerika? tidak pernah terlintas di benak mereka akan
> mengirim santri belajar ke Amerika. Saat itu, para guru di pondok
> terpecah pandangannya: separuh takut anak ini akan berubah bila dikirim
> ke negeri kufar (istilah yang digunakan dalam perdebatan itu), mereka
> tidak ingin kehilangan anak cerdas itu.
>
>
>
> Setelah perdebatan panjang, Si Kakek, pendiri pondok itu,
> mengatakan, "Saya sudah didik cucu saya ini, saya percaya dia istikamah
> dan saya ikhlas jika dia berangkat." Ruang musyawarah di pondok itu jadi
>  senyap. Tidak ada yang berani melawan fatwa Sang Guru. Haji Ismail,
> sang ayah, mengangguk setuju. Tidak lama kemudian berangkatlah anak muda
>  tadi ke Amerika.
>
>
>
> Tahun demi tahun lewat. Dan, dugaan guru-guru pondok itu terjadi:
> anak itu tidak pernah kembali jadi guru pondok. Dia tidak meneruskan
> mengelola warisan kakek dan ayahnya itu. Dia pergi jauh. Anak muda itu
> terlempar ke orbit lain.
>
>
>
> Malam ini anak yang dulu diperdebatkan itu pulang. Dia pulang bukan
> sebagai orang asing, dia pulang membawa kebanggaan untuk seluruh
> keluarga, seluruh pondok, dan seluruh rakyat di propinsi kecil ini.
>
> Dia
>  pulang sebagai Sekretaris Jenderal ASEAN. Pondok Ban Tan jadi terkenal,
>  kampung halaman jadi perhatian dunia. Sebelumnya, dia adalah menteri
> luar negeri Thailand, Muslim pertama yang jadi Menlu di negara
> berpenduduk mayoritas Budha.
>
>
>
> Namanya dikenal oleh dunia sebagai Surin Pitsuwan; dikampungnya dia dikenal
> sebagai Abdul Halim bin Ismail.
>
> Malam
>  ini Surin pulang kampung membawa teman dan koleganya. Sekarang, seluruh
>  bangunan pondok ini tampak megah. Setiap bangunan adalah dukungan dari
> berbagai negara. Anak ini pulang dengan membawa dukungan dunia untuk
> pondok mungil di pedalaman ini. Semua adiknya menjadi guru, meneruskan
> tradisi dakwah di kampung halamannya.
>
>
>
> Saya menyaksikan bahwa sesungguhnya, Surin selalu 'hadir' di sini,
> dia membawa dunia. Dia menjadi jembatan lintas peradaban, dia jadi duta
> Muslim Thailand di dunia.
>
> Dia tidak pernah hilang seperti
> ditakutkan guru-gurunya. Dia masih persis seperti kata kakeknya. Sejak
> pertama kali saya ngobrol dengan Surin, 3 tahun lalu di Hanoi, tutur
> kata dan pikirannya seakan mengatakan: isyhadu bi ana muslimin.
>
>
>
> Ramadhan kemarin, saat kita makan malam-Ifthar bersama-di Bangkok,
> Surin cerita tentang ASEAN Muslim Research Organization Network (AMRON)
> conference di Walailak University dan ingin mengundang ke pondoknya awal
>  Oktober. Saya jawab tidak bisa karena ada rencana acara di Bandung.
> Sesudah itu, dia kirim beberapa sms meyakinkan bahwa ke "Ban-Tan" lebih
> utama daripada ke "Ban-Dung".
>
>
>
> Saat duduk di Masjid Al-Khalid, bersama ratusan santri, bersyukur
> rasanya mengubah jadwal dari ke Bandung jadi berangkat ke Ban Tan. Saya
> shalat Isya berjamaah duduk disamping Surin. Selesai shalat, ratusan
> tangan mengulur, semua berebut bersalaman dengannya. Wajah takjub
> santri-santri itu tidak bisa disembunyikan. Mereka semua seakan ingin
> bisa seperti Surin. Dia seakan jadi visualisasi nyata dari mimpi-mimpi
> para santri di kampung kecil di pedalaman Thailand.
>
>
>
> Malam itu, di pelataran Pondok Ban Tan, dibuatkan panggung untuk
> menyambut. Santri-santri bergantian naik panggung. Mereka ragakan
> kemahiran bercakap Melayu, Inggris, dan Arab. Sebagai puncak acara,
> mereka tampilkan Leke Hulu (Zikir Hulu). Tradisi tarikat yang sudah
> dijadikan seni panggung. Seluruh santri ikut berzikir, gemuruhnya
> menggetarkan dada.
>
>
>
> Besok paginya, Syaikhul Islam Thailand, pemimpin Muslim tertinggi
> di Thailand khusus datang dari Songklah, kota di sisi selatan, untuk
> sarapan pagi bersama di pondoknya. Kita ngobrol panjang dan saya tanya
> asal keturunannya karena garis wajahnya berbeda; dia jawab kakek saya
> dari Sumatra, tapi dia keturunan Hadramauth.
>
>
>
> Hari itu saya bersyukur. Saya katakan itu pada Surin bahwa ini
> perjalanan luar biasa. Tapi, dia belum puas. Surin memanggil salah satu
> alumni pondoknya (seorang doktor ilmu manajemen) untuk mengantarkan saya
>  ke masjid di kampung-kampung pesisir pantai untuk dikenalkan dengan
> Ustaz keturunan Minang.
>
>
>
> Setelah melewati kampung-kampung dan pasar yang sangat sederhana,
> saya sampai di rumahnya yang sangat sederhana, di belakang madrasah yang
>  dipimpinnya. Kita berdiskusi tentang suasana di sini, tentang Minang,
> dan tentang kemajuan. Lalu, dia mengambil bingkai-bingkai dari lemari,
> dia tunjukkan beberapa foto-foto orang tuanya, ayahnya dipaksa hijrah
> dari Maninjau di Ranah Minang karena perlawanan pada Belanda. Kira-kira
> 90 tahun yang lalu, dia sampai di Thailand Selatan dan jadi guru agama.
> Mengagumkan, anak-anak muda pemberani memang selalu jadi pilar kokohnya
> Dienul Islam. Mereka hadir dan hidup berdampingan penuh kedamaian.
>
>
>
> Sekali lagi, kita ditunjukkan betapa hebatnya efek pendidikan. Beri
> fondasi akidah, bekali dengan modal akhlaqul karimah lalu biarkan anak
> muda terbang mencari ilmu, membangun network, merajut masa depan. Anak
> muda tidak takut menyongsong masa depan. Kelak ia akan pulang, menjawab
> doa ibunya, menjawab doa ayahnya dengan membawa ilmu, membawa manfaat
> bagi kampung halamannya, bagi negerinya, dan bagi umatnya.
>
>
>
> Di bandara kita berpisah. Saya pulangĀ  kampung ke Jakarta dan Surin
> berangkat ke Brussel, memimpin delegasi para kepala pemerintahan ASEAN
> dalam ASEAN-European Summit.
>
> Hari ini, anak yang dulu ditakutkan
>  hilang itu akan memimpin delegasi pemimpin se-Asia Tenggara. Dan, pada
> hari ini juga, Ibunya masih tetap tinggal di pondok Ban Tan, sekitar 90
> tahun, tetap mendoakan anaknya seperti saat melepasnya berangkat sekolah
>  SMA ke Amerika dulu.
>
>
>
>
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
>   1. E-mail besar dari 200KB;
>   2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
>   3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
>

-- 
Sent from my mobile device

Wassalaamu'alaikum
Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta),
gelar Bagindo, suku Mandahiliang,
lahir 17 Agustus 1947.
Nagari Gasan Gadang, Kab. Pariaman. rantau: Deli, Jakarta,
sekarang Sterling, Virginia-USA
------------------------------------------------------------
"menjadi bagian dari sapu lidi, akan lebih bermanfaat dari pada
menjadi sebatang lidi"

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke