Assalamualaikum ww Ambo pun suai bana jo mak Abraham, ekonomi kerakyatan berbasis nagari itulah yang harus kita kuatkan, karena itu berdampak langsung dengan peningkatan taraf hidup anak nagari, misal Sungai Pua dari dulu tasabuik dengan produk2 basinyo, mako semua yang berhubungan dengan ini dikembang luaskan hingga menghasil produk2 keperluan industri sejak dari suku cadang kenderaan bermotor, spareparts mesin2 pabrik, dlsb
Di Sungai Pua itu kalau dapat kan jangan hanya ada "tukang apa" alias pandai besi penghasil cangkul, tajak, sakin, keris datuak2, sewah, ladiang, pisau dapur, ladam kudo saja tapi disana dijadikan pusat perbengkelan (central shop) ada mesin bubut (machineshop), mesin las (weldingshop) dimana disitu juga bisa dihasil pisau sangkur, senjata ringan serbu yang bisa diekspor ke Hammas misalnya, tolls dan spareparts alat2 berat keperluan pertambangan semen Padang, batu bara, bahkan kalau perlu memasuki pasar kebutuhan operasi perminyakan di Riau misalnya Luhak nan Tigo bisa difokuskan sebagai sentra hasil pertanian beras, sayur mayur/buah2an, masak kita kalah dengan Sumut yang menguasai pasaran sayur di Singapura dan Malaysia Kha kalau eksploatasi SDA itukan domainnya pemerintah pusat, begitu amanat Undang2, jadi kita yang orang daerah ini mending ngurus yang jelas2 tampak dan nyata saja, urusan yang tidak tampak itu (migas, uranium dll) biarlah Pempus yang ngurus, lagi pula hasilnya kan nanti dinikmati kalau berhasil kan untuk rakyat seluruh rakyat propinsi Indonesia sedangkan rakyat Sumbar bakalan kebagian sebagian sahaja Lagi pula, kalau memang SDA di Sumbar dinilai ekonomis oleh Investor tentu sudah sejak dulu2 lagi mereka gambling dan ber-buru dolar ke Sumbar ini, jadi karena kurang menariklah makanya SDA Sumbar itu tidak ada yang melirik Atau mungkin yang agak gampang bolehlah kita desak pengembangan PLTA bahkan kalau perlu kedepan seluruh rakyat Sumbar gratis listrik bersamaan terjualnya listrik Sumbar dipropinsi tetangga lewat jaringan Sumatera interconnection misalnya PLTU prospektif juga sih, tapi kan lagi2 belum ada yang ngelirik, mungkin itung2 ekonomisnya tidak menjanjikan, lain hal dengan PLTU Kamojang Jawa Barat yang sampai hari inipun belum juga habis2nya, SDA Panas Bumi di Sumbar kayaknya tidak besar2 betul, jadi masih di cuekin investor Sekali lagi investasi dibidang SDA penuh dengan ketidak pastian, jadi kalaupun ada investor yang berminat benar2 bersifat gambling karena sangat padat modal itu Proyek yang padat modal itu pasti akan tidak padat karya, karena pengusahaan-nya akan menggunakan peralatan berat, canggih dan automation, manalah pulak akan bisa diharap dapat menyerap tenaga kerja tempatan, apa lagi tenaga lokal kita kan kurang skill (non skilled labour), tentu nanti tenaga asing juga yang menikmati gaji besar dan kalau ada tenaga lokal paling cuma kebigian sebagai kuli/laborer, driver dan tukang rundo alias satpam Kalau nanti proyek SDA yang padat modal toh berhasil menguras isi perut bumi Ranah Bundo ini yang punya produk itu kan jelas sang pemilik modal asing itu, lalu Rakyat Indonesia lewat pempusat kebagian sebagian saja, nah yang tersisa paling jugha ujung2nya buat rakyat dan anak nagari yang buminya yang indah ini hancur2an, diobrak-abrik dan isi perutnya dikuras sampai habis2an oleh asing itu, paling nanti juga kita dan anak cucu kita kebagian kerusakan lingkungan saja Investor asing yang datang itu kan jelas kapitalis yang serakah, murid2 dan anak didik yahudi, kalau tidak bakalan untung besar mana mau dia kemari, dan kalau kemari tidak akan membaik-kan rakyat bagai doh SDA Sumbar boleh2 saja kita bilang ada walau belum bisa dikatakan melimpah, namun yang jelas para investor sebagai urang panggaleh masih mikir2 dulu ditengah berbagai alternatif yang ada ditempat lain Jadi sasuai ambo jo mak Abraham, ekonomi berbasis nagari sajo lah nan ka rancak kito racak, akan jelas taraso langsuang hasilnyo bagi kemakmuran anak nagari mohon maaf kok kurang berkenan awasalam abp58 ________________________________ Dari: Riri Mairizal Chaidir <[email protected]> Kepada: Milis RantauNet <[email protected]> Terkirim: Kam, 21 Oktober, 2010 06:47:01 Judul: Re: [...@ntau-net] Bls: Posting lamo.... Minyak di Singkarak /Uranium. Uda Abraham dan Dunsanak Sadonyo. Ambo samo sakali buto jo pertambangan atau mineral atau minyak atau apapun, tapi ingin lo sato saketek. Jadi ambo gunokan logika awam, babodoh2 kecek urang. Kalau memang ado potensi sumber daya alam nan gadang di bawah kampuang awak tu, ba a kok ndak bagaduru "saudagar2" minyak, saudagar uranium, dan saudagar tambang lainnyo ka kampuang awak? Sadangkan ka Natuna nan jauah dari darek sajo mereka pai kasitu. Ka tangah rimbo Papua mereka kaja. Bahkan ka Alaska pun mereka banyak kasitu. Tapi ba a dek mereka ndak maengong ka kampuang awak? Riri 48/L/bekasi Powered by Telkomsel BlackBerry® ________________________________ From: "Abraham Ilyas" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Thu, 21 Oct 2010 04:52:05 +0700 To: <[email protected]> ReplyTo: [email protected] Cc: <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Bls: Posting lamo.... Minyak di Singkarak /Uranium. Saya kira, kita tidak perlu mengharapkan Sumbar (khususnya minangkabau) buru-buru mengelola potensi mineral tambangnya. Oleh karena itu saya sering menyebutkan dipalanta RN, perkuatlah ekonomi nagari dengan melakukan pendampingan di sektor IT (website nagari), pertanian, perikanan, eternakan, UKM. Semoga dipahami, amin ya Rabbal alamin. wasalam AZ - 32 th ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Salam untuak Dinda Armen Zulkarnain sarato dunsanak di palanta. Ambo setuju dengan pandapek Dindo sarupo itu. Melakukan pendampingan pemanfaatan Tekhnologi Informasi (TI) tampaknyo memang sangek paralu kini. Tanpa mengurangi penghargaan kapado nagari nagari nan alah punyo website (informatif), mako pengalaman ambo nan mancubo manjojokan template nagari -nagari (interaktif/samantaro gratis) sejak tahun 2010 alun disambuik oleh komunitas di akar rumput tsb. Tapi sebaliknyo galeh FB lebih capek berkembangbiak, bahkan kini alah batambah pulo ciek lai galeh di yahookoprol yang mobil, yang mungkin punyo sisi sisi negatif pada masyarakat sedang berkembang sarupo di kampuang awak. Mungkin Dindo punyo ide untuak merealisasikan pendampingan pemanfaatan TI tersebut di nagari nagari nan jumlahnyo >500 tsb. Salam Abraham Ilyas lk. 65th www.nagari.org -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
<<armen1.gif>>
