Tentang Pariwisata Indonesia, dan tentunya termasuk SUMBAR dari laporan da
Nal (RN) dan komentar Lektor Kepala dalam Bidang Ekoturisme di IPB, Uda
Ricky A, dulu juo di RN.

Salam

Selasa, 19 Oktober 2010 | 21:09 WIB
KOMPAS/YURNALDI

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata sampai saat ini
belum melakukan ekspose (evaluasi) sejauh mana pencapaian kinerja setahun
belakangan. Akan tetapi, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik,
hampir setiap kesempatan mengemukakan keberhasilan dan kemajuan pariwisata
Indonesia. Mulai dari kepercayaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
mengangkat kembali Jero Wacik sebagai Menteri Kebudayaaan dan Pariwisata,
tercapainya terget kunjungan wisatawan mancanegara, sampai tumbuhnya
hotel-hotel baru di sejumlah daerah.

Kalau dikatakan Pemerintah gagal, berarti menteri gagal, direktur
jenderalnya juga gagal. Saya tegaskan, Pemerintah tidak gagal.
-- Jero Wacik

"Kalau dikatakan Pemerintah gagal, berarti menteri gagal, direktur
jenderalnya juga gagal. Saya tegaskan, Pemerintah tidak gagal," kata Jero
Wacik, pada peluncuran Visit Banda Aceh Year 2011, Selasa (19/10/2010) di
Jakarta.

Sebelumnya, saat menerima finalis Puteri Pariwisata Indonesia 2010,
Menbudpar itu mengatakan, "Di bidang pariwisata, saya optimistis target 7
juta kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia tercapai. Karena hampir
setiap bulan, dibanding bulan yang sama tahun lalu, terjadi peningkatan
jumlah kunjungan lebih kurang 7 persen".

Jero Wacik mungkin benar, dengan indikator yang dikemukakannya. Namun,
kalangan pakar dan akademisi, serta pelaku wisata menilai pariwisata
Indonesia belum ada apa-apanya. Dibandingkan dengan kemajuan industri
pariwisata negara tetangga, Indonesia jauh ketinggalan.
Menurut Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada yang juga pakar
pariwisata, Prof Dr Wiendu Nuryantie, ada tiga parameter penting untuk
mengukur kinerja pariwisata, yaitu jumlah kunjungan wisman dan wisnus, lama
tinggal, dan jumlah pembelanjaan wisatawan. "Jika dua dari tiga parameter
itu menunjukkan kenaikan, itu keberhasilan dari upaya marketing. Namun,
rendahnya pembelanjaan wisman, menandakan rendahnya kualitas destinasi,"
tandasnya.
Wakil Ketua Umum Asita Pusat, Asnawi Bahar meragukan keberhasilan dari
pencapaian target kunjungan wisman tahun 2009 yang 6,4 juta wisman. "Angka
sebanyak itu dari mana? Coba hitung seat pesawat terbang dari dan ke luar
negeri, tak sampai sebanyak itu satu tahun. Lalu, data di imigrasi kan tidak
pernah ada mana yang betul-betul turis mancanegara, pekerja, dan mana yang
tidak. Mungkin saja orang Indonesia pulang wisata dari luar negeri dikatakan
sebagai turis mancanegara masuk ke Indonesia," katanya.

Lektor Kepala dalam Bidang Ekoturisme di IPB, Dr Ir Ricky Avenzora MSc,
mengatakan statistik turis sebesar 6 jutaan orang tersebut tidak bisa
diterima, sejalan dengan buruknya dinamika administrasi pemerintahan dan
karena adanya dinamika penipuan tujuan perjalanan mereka ke Indonesia.
"Sangat banyak pekerja gelap asing di Indonesia yang masuk ke Indonesia
dengan visa turis (yang secara sembrono memang telah dimudahkan oleh
peraturan Indonesia). Buruknya sistem administrasi menjadikan statistik
turis amburadul, sulit kita percaya," ujarnya.
Jika mau jujur, atas adanya dinamika penipuan tujuan kedatangan dan dinamika
double counting dalam pengadministrasian angka statistik, maka angka
tersebut kiranya patut dikoreksi sebesar 20 persen.

Tentang target 7 juta kedatangan wisman tahun 2010, menurut Ricky, karena
adanya kekerdilan mental birokrat yang takut kehilangan jabatan, jumlah
target tak mampu dilipatgandakan.
Wiendu mengungkapkan, Malaysia tahun 2009 bisa mendatangkan wisatawan
mancanegara 22 juta, Singapura 10,5 juta, dan Thailand 14 juta. Sementara
Indonesia cuma 6,4 juta (dan data itu masih diragukan).
"Kita selalu mengatakan Indonesia sangat kaya dengan potensi pariwisata,
tapi dibanding kunjungan wisman di negara tetangga (pesaing), potensi
Indonesia itu belum ada apa-apanya. Kita belum mampu mengolah potensi itu
menjadi sebuah destinasi. Artinya, keterpaduan akses, atraksi,
sarana-prasarana, fasilitas pendukung, akomodasi, sumberdaya manusia dan
citra atau image, belum optimal," papar Wiendu Nuryantie, ketua panitia
World Conference on Culture, Education and Science (Wisdom) 2010, yang akan
berlangsung di Yogyakarta, 8-11 November mendatang.

Menurut Asnawi Bahar, destinasi kita terkendala infrastruktur. Untuk
mencapai suatu tujuan wisata, akses ke sana lebih dari tiga jam. Di luar
negeri, idealnya jarak tempuh 2 jam. Kemudian promosi, masih jauh dari
harapan. Promosi yang dilakukan Indonesia tidak berkelanjutan dan tidak
jangka panjang.
"Malaysia mampu gaet banyak wisman dari Timur Tengah. Di Mekkah banyak
baliho besar promosi pariwisata Indonesia, sedang Indonesia tidak berpromosi
di Timur Tengah. Padahal, sebagai negara Islam terbesar, Indonesia bisa
menarik lebih banyak wisman dari Timur Tengah. Kita kalah dengan Malaysia
dalam hal promosi," paparnya.

Ricky Avenzora menegaskan, dalam perspektif politik wisata, maka harus
dikatakan bahwa tourism political bargaining Indonesia terus merosot tajam
dan hampir mencapai titik nadir terendahnya. Berbagai kelemahan yang
dimiliki pengambil keputusan dan kebijakan kepariwisataan Indonesia dalam
masa reformasi, telah menghasilkan program-program dan tindakan
kepariwisataan yang sangat artifisial dan sangat berbahaya dalam banyak
bidang.
"Dalam lingkup internasional, meskipun belum resmi, agregasio dari kuota
length of stay pariwisata Indonesia di pasar pariwisata internasional
cenderung menurun dari 21 hari menjadi 14 hari. Sedangkan pada lingkup
nasional, maka sangat jelas bahwa politikus dan pengambil kebijakan untuk
pariwisata Indonesia, sama sekali tidak menyadari adanya ancaman politik
pariwisata yang terstruktur dan sistematis dari berbagai negara tetangga,"
paparnya.
Sebagai contoh rendahnya political bargaining, coba amati berbagai inflight
film yang disediakan PT Garuda Indonesia di pesawat GA yang terbang ke luar
negeri. Carilah film yang ada tentang Indonesia dalam daftar inflight film
mereka. "Coba tanyakan pada pihak Garuda tentang siapa dan di mana keputusan
untuk memilih dan membeli inflight film tersebut dilakukan. Inflight film
Garuda ditentukan di Malaysia," katanya.
Destinasi Baru

Asnawi Bahar yang juga Ketua Asita Sumatera Barat menjelaskan, pariwisata
Indonesia kurang berkembang karena pemerintah kurang mengoptimalkan dan
mengembangkan destinasi baru. Pemerintah selalu memberikan fokus ke Bali.
Sehingga yang terjadi belakangan ini adalah penumpukan di Bali. "Hotel
dekati titik jenuh. Bandara walau dikembangkan, tidak menjawab persoalan.
Sementara destinasi lain kurang mendapat perhatian," katanya.
Wiendu menjelaskan, kunjungan wisman di Malaysia, Singapura, dan Thailand,
bahkan Filipina meningkat pesat karena mereka menciptakan
destinasi-destinasi baru, seperti Universal Studio di Singapura, yang
menambah kunjungan 2,5 juta wisman dan 1 juta di antaranya orang Indonesia.
Malaysia punya The Eye of Malaysia.
"Tanpa produk baru, kita akan mengalami product fatique, keletihan produk,
jadi susah mendongkrak wisman. Jadi selain promosi terus digenjot, yang
lebih penting adalah pembangunan kualitas destinasi," katanya.

Ricky melukiskan, yang terjadi saat ini bukan pembangunan destinasi, tapi
merusak potensi destinasi yang ada karena salah sentuh dalam perencanaan.
"Contoh, coba amati gerbang kota yang membatasi Bandara Soekarno-Hatta
dengan Kota Jakarta. Apakah masyarakat Betawi tidak mempunyai identitas
sehingga gerbang kota tersebut harus dibuat dengan mengambil identitas
masyarakat Bali? Apakah Jakarta, sebagai ibukota Negara tidak mempunyai
identitas sendiri? Atas hal itu, maka menjadi tidak salah jika banyak orang
luar yang lebih mengenal Bali daripada Indonesia," katanya.

Menbudpar Jero Wacik, dalam Peluncuran Visit Banda Aceh Year 2011, menjawab
kenapa Bali yang selalu dapat prioritas. "Bali terkenal di dunia bukan
karena Manteri Kebudayaan dan Pariwisatanya orang Bali. Akan tetapi, karena
Bali itu sendiri. Saya jarang mempromosikan Bali, Bali mempromosikan dirinya
sendiri," tegasnya.

Menurut wisman, lanjut Wacik, Bali menjadi destinasi unggul, karena lima
kriteria, yaitu kekuatan alam, budaya, manusia yang welcome, makanan, dan
value. "Jika ingin suatu daerah memiliki destinasi unggul, penuhi kelima
kriteria itu," tambahnya.
Wacik berlomba-lomba ajak gubernur dan bupati/wali kota menciptakan
destinasi unggulan di daerahnya masing-masing.

Akan tetapi, tanpa adanya fokus program dan terintegrasikan program
pendukung dari kementerian lain, maka pembangunan destinasi baru yang
diharapkan, menurut Wakil Ketua Umum Asita Pusat Asnawi Bahar, tak akan
mencapai tujuan dan sasaran yang diharapkan.

Atase Pariwisata

Lima tahun belakangan ini sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak Duta Besar
RI yang menjadikan jumlah wisatawan ke Indonesia sebagai indikator
keberhasilan tugas diplomatiknya di luar negeri.

Menurut Ricky Avenzora, di satu sisi hal tersebut adalah memang bisa menjadi
indikator tentang pentingnya pariwisata bagi Indonesia, tapi di sisi lain
hal tersebut menjadi kecenderungan yang sangat berbahaya bagi politik luar
negeri Indonesia yaitu karena tupoksi diplomatik dubes tentunya bukan hanya
peningkatan wisatawan.
"Hingga saat ini pun belum satu pun Kedutaan Besar Indonesia di luar negeri
yang dilengkapi dengan struktur Atase Pariwisata, sehingga tugas tersebut
diemban oleh atase lain dan cenderung menjadikan mereka over duties dan
tidak fokus pada tupoksi utama mereka," katanya.
Asnawi Bahar juga mengungkapkan hal senada, perlunya di setiap negara yang
jadi sasaran pariwisata Indonesia, di Kedutaan Besar atau di Konsulat
Jenderal RI ada atase pariwisata, yang khusus mengurus promosi dan
sebagainya tentang pariwisata Indonesia. "Di banyak Kedutaan Besar dan KJRI,
selain atase pariwisata belum punya, bahan promosi pariwisata pun tak ada.
Kalau pun ada hanya Bali," katanya.

http://travel.kompas.com/read/2010/10/19/21091083/Pariwisata.Indonesia.Jauh.
Ketinggalan.


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke