Jeffrey Winters: Kalkulasi SBY Naif dan Salah  

Jakarta - Setahun sudah pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II 
berjalan. Namun kinerja pemerintah dianggap masih merah. Perolehan suara 60 % 
dalam Pilpres 2009 dan mendapat dukungan mayoritas di parlemen ternyata belum 
bisa dioptimalkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono untuk 
melakukan 
langkah-langkah yang konkrit dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan 
kesejahteraan rakyat. 
 
Di mata pengamat ekonomi politik dari Northwestern University, Amerika Serikat, 
Prof Jeffrey Winters, buruknya kinerja pemerintah tidak lepas dari sikap 
Presiden SBY dalam menjalankan pemerintahan. SBY dianggap lebih suka terlihat 
cantik, santun dan berambut rapi di depan kamera dibanding bekerja keras 
mengatasi persoalan-persoalan yang ada di Indonesia. 
 
Lantas apa yang membuat pasangan SBY-Boediono belum bisa berbuat banyak selama 
setahun bekerja? Berikut pandangan Jeffrey Winters kepada detikcom, Sabtu 
(16/10/2010): 
 
Apa pandangan Anda terhadap kinerja SBY-Boediono selama menjalankan 
pemerintahan? 
 
Sampai saat ini saya melihat kinerja pemrintahan SBY-Boediono rendah. Dan perlu 
dicatat prestasi yang rendah kepemimpinan SBY bukan sesuatu yang baru. Karena 
sejak 2004 memang kinerjanya tidak pernah tinggi. Jadi kombinasi SBY-Kalla yang 
sudah mengecewakan menjadi lebih parah dengan kombinasi SBY-Boediono. 
 
Meski pada masa SBY-JK kinerjanya buruk, paling tidak Jusuf Kalla dikenal 
sebagai orang yang tidak sabar dan sering mendorong SBY untuk bertindak dan 
ambil keputusan. Tetapi akhirnya Kalla menjadi capek, frustrasi dan lepas saja. 
 
Selama ini SBY adalah orang yang selalu ingin menjadi cantik. Dan jelas dia 
tidak mungkin menjadi cantik di depan kamera kalau benar-benar mendorong 
sistemnya sehingga bajunya dan mukanya penuh keringat seperti buruh yang kerja 
keras di jalan atau sawah. SBY dikenal sebagai orang santun dan rambutnya 
selalu 
rapih. Orang yang santun gaya SBY bisa sukses di bidang politik, dalam arti 
mempertahankan posisinya di pemerintahan, tetapi tidak mungkin bisa sukseskan 
Indonesia yang perlu didorong keras untuk menjadi kompetitor internasional yang 
dahsyat. 
 
Seharusnya rakyat tidak lagi memilih pemimpin yang hanya mengandalkan 
kesantunan 
dan bersolek diri di depan kamera. Tapi yang perlu dicari adalah seorang 
presiden yang lebih fokus kepada penurunan jumlah kemiskinan. 
 
Kalau mengenai kinerja para menterinya bagaimana? 
 
Kinerja para menteri terkait dengan performa pemimpinnya. Karena sikap 
presidennya sebagai leader tidak bagus tentu saja para menterinya juga tidak 
bagus kerjanya. Apalagi pemilihan anggota kabinet berdasarkan bagi-bagi 
kekuasaan supaya aman di parlemen. Hasilnya yang terjadi pemilihan bukan 
berdasarkan kapabilitas dan akuntabilitas. Melainkan berdasarkan jatah anggota 
koalisi. 
 
Bukankah memperkuat dukungan parlemen sebagai sebuah strategi supaya 
pemerintahan bisa berjalan efektif tanpa diganggu manuver-manuver politik dari 
parlemen? 
 
SBY sebagai calon presiden jelas menang besar di pemilu. Dua kali dia dapat 60 
persen! Di seluruh dunia jumlah suara sebesar itu disebut 'Landslide Victory'. 
Yang aneh, SBY tidak mengunakan mandat ini untuk membentuk kabinet yang 
benar-benar dimiliki dia sebagai instrumen eksekutif, untuk  melaksanakan 
dengan 
tegas konsep dan tujuan dia yang disampaikan dalam kampanye. Malah dia 
terkesan'dagang sapi' dengan partai-partai politik dan memilih kabinet yang 
lebih seperti kebun binatang atau 'Noah's Ark', dua wakil dari setiap jenis. 
 
Kalkulasi SBY ternyata naif dan salah. Dia berfikir bahwa dengan kabinet 
seperti 
ini, dia akan punya basis aman di DPR dan bisa jadi lebih efektif. Yang terjadi 
justru sebaliknya. Malah partner-partnernya tetap melawan SBY di DPR dan 
memperjuangkan agenda masing-masing di kabinet. Setiap presiden di Indonesia 
harus berasumsi bahwa tidak akan ada dukungan kuat di DPR. Dengan begitu banyak 
partai, pasti akan ada perlawanan. 
 
Pertanyaanya, bagaimana bisa menjadi eksekutif yang memaksimalkan kualitas dan 
solidaritas di dalam kabinet sendiri? Sudah barang pasti bahwa DPR akan selalu 
sulit. Tetapi, minimal bisa diharapkan bahwa kabinet akan utuh dan solid. 
Dengan 
formula SBY, justru hasil yang paling buruk, yaitu DPR yang selalu sulit dan 
kabinet pun yang kacau dan tidak efektif. Ingat, SBY bukan perdana menteri yang 
dipilih oleh MPR. Dia adalah presiden yang dipilih langsung oleh rakyat.  
 
SBY tidak pernah faham bedanya, dan akibatnya adalah kabinet yang begini 
sekarang, penuh menteri yang selalu memperjuangkan agenda partai politiknya 
terlebih dahulu dan bahkan melawan agenda presiden. 
 
Jadi jangan heran kalau roda kabinet SBY berputar di tempat. Ini karena dua 
faktor. Pertama, secara pribadi SBY memang orang yang sulit ambil keputusan dan 
tidak bisa menjalankan strategi dengan tegas dan cepat. Dan kedua, secara 
struktural dia membentuk kabinet dengan cara yang pasti akan memecah daripada 
menyatu. Oleh karena itu, diharapkan presiden berikutnya sebaiknya membentuk 
kabinet yang 100 persen penuh dengan orangnya dia, yang akan memperjuangkan 
agenda presiden, bukan agenda partai politik masing-masing. 

Mengenai pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai pemerintah SBY-Boediono, apakah 
menunjukan grafik yang menggembirakan? 
 
Sekali lagi Indonesia menjadi 'flavor of the day' untuk 'hot money financial' 
yang bersirkulasi dengan cepat di bumi ini. Indonesia harus waspada terhadap 
investasi DCCP ini (datang cepat, cepat pergi), malah pemerintah sepertinya 
membanggakan bahwa uang tersebut tertarik dengan bursa efek Jakarta. 
 
Padahal tidak ada alasan yang mendasar untuk uang tersebut mengalir ke 
Indonesia 
selain spekulasi sementara. Kalau berbudi, pemerintah akan hati-hati dengan 
investasi macam ini, karena pertama, tidak menambah jumlah investasi modal di 
sektor riil. Kedua, justru pulangnya uang seperti ini yang membuat krisis 
finansial 1997-1998 ganti status dari hujan biasa menjadi badai luar biasa. 
 
Saya melihat, Indonesia saat ini masuk ke dalam situasi yang bahaya dan 
pemerintah SBY serba senyum dan bahagia. Bentuk selalu kalahkan isi, sejak SBY 
naik menjadi presiden. 
 
Apakah ini artinya satu tahun ini SBY-Boediono gagal menggerakan perekonomian 
nasional? Bagaimana indikatornya? 
 
Pejabat dan presiden di Indonesia punya penyakit yang saya sebutkan 'Mentalitas 
7 Persen'. Penyakit mental ini punya dua dimensi. Satu, ada konsep bahwa 
Indonesia hanya mampu mencapai pertumbuhan ekonomi 7 persen saja. Target di 
atas 
7 persen dianggap mimpi dan tidak realistis. Kedua, jika Indonesia bisa 
mencapai 
7 persen, ini dianggap cukup untuk membuat masa depan jauh lebih baik. 
Dua-duanya salah. 
 
Kalau Cina dan India bisa mencapai pertumbuhan double digit atau 10 persen ke 
atas, Indonesia tidak ada alasan yang relevan selain tidak mau membuat 
perubahan 
supaya memang ada kinerja ekonomi yang lebih tinggi. Dan, kalau ternyata 
Indonesia hanya mencapai 7 persen, dan terus terang selalu jauh di bawah 
target, 
rakyat harus menunggu lama untuk ke luar dari kemiskinan. Mana ada presiden 
atau 
partai yang punya 'Visi 2045'? Ini seratus tahun kemerdekaan dan seratus tahun 
pembangunan. Apakah Indonesia bisa menjadi negara maju dalam waktu 35 tahun 
ini? 
Negara maju? 
 
Tidak ada yang berani setting tujuan se-ambisius itu, karena untuk benar-benar 
mencapai target tersebut, harus ada perubahan besar mulai sekarang. Elit 
politik 
di Indonesia lebih mementingkan partainya, bisnisnya, atau bahkan sakunya 
pribadi. Itu kenyataan. Jadi rakyatlah yang harus maksa perubahan yang lebih 
cepat, dan sense of urgency di tingkat pemerintahan yang jauh lebih tinggi. 
Elit 
politik di Indonesia sangat rajin setting target yang rendah, justru supaya 
bisa 
malas dan senang. Dan, yang menjadi korban adalah rakyat luas.

M. Rizal - detikNews


      

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke