Assalammualaikum wr wb

Sanak Bot Sosani Piliang sarato angku, mamak, bundo jo dunsanak sapalanta RN 
nan 
ambo hormati,

Bagi saya, adat istiadat minangkabau bukanlah sekedar menghapal pituah-pituah 
minang, mengkoleksi secara lisan pepatah petitih minang, sebab saya kira lebih 
dari itu, yaitu bagaimana hidup bermasyarakat sesuai dengan kulturalnya, 
perekonomiannya, teknologinya, ilmu pengetahuannya dan seluruh aspek kehidupan 
ini. Adat istiadat merupakan panduan hidup orang minang, yang secara kuas 
disebut dengan kebudayaan, yang saat ini kebudayaan minangkabau itu berlandasan 
pada ajaran agama Islam. Itu yang saya tangkap dari pemahaman dari adagium ABS 
SBK.

Oleh karena itu, saya selalu mengaitkan pituah-pituah minang dengan bagaimana 
membangun perekonomian nagari, dengan mencoba memberikan sedikit pemikiran 
bagaimana cara yang bisa dilakukan kita bersama, membantu peningkatan 
perekonomian nagari, sebab nagari adalah landasan struktural masyarakat 
minangkabau. Adalah benar itu merupakan fungsi & peran pemerintah daerah, namun 
masih banyak diperlukan bantuan-bantuan kecil dari kalangan anak nagarinya, 
baik 
di kampung halaman terlebih lagi yang ada diperantauan.

Mengapa saya sebutkan "terlebih yang ada diperantauan"? Sebab pada defenisinya 
perantau adalah anak nagari yang tidak bermukim di kampung halamanya, seperti 
juga saya yang saat ini sudah 10 tahun bermukim di Padang, bukan di kanagarian 
Kubang. 

Salah satu yang membuat saya tertarik bergabung di palanta RN ini adalah ketika 
membaca tulisan dibawah logo Mailing List Rantau Net...
         
Mailing List Komunitas Minangkabau (Urang Awak)
yang pertama dan terbesar di Internet (sejak 1993)
 
Nan di Ranah jo nan di Rantau basilaturahim ... basamo-samo bapikie dan babuek 
untuak Minangkabau tacinto 

Hal ini pula yang menyebabkan saya bergabung dengan panitia KKM setelah 
menghubungi pak Saaf serta mendapatkan persetujuan beliau untuk itu. Saya kira, 
apapun organisasinya, apapun bentuk kegiatannya, apabila memiliki tujuan untuk 
membangun ranah minang yang terdiri dari 625 nagari itu, saya ingin ikut sato 
sakaki. Malah saya pikir, apabila diperlukan totalitas waktu untuk itu, saya 
bersedia meninggalkan rutinitas saya sehari-hari. 

Mengapa harus sampai sedemikian? Saya kira hal ini disebabkan faktor 
keterlibatan saya tempo hari di organisasi UN yang memberikan asssesment pada 
daerah bencana, mengkoordinasikan tim rescue dari 32 negara ke lokasi-lokasi 
bencana, yang selama 15 hari tanggap darurat memberikan "pertunjukan langsung" 
bagi saya sendiri, melihat & bergumul didalamnya, mengangkat ratusan korban 
bencana yang sudah berpulang ke rahmatullah. 

Walaupun pada awal tahun 2005 selama 2.5 bulan saya juga bergabung bersama 
relawan lainnya pada bencana tsunami aceh, yang jauh lebih besar dampak dan 
kerugiannya, namun gempa 30 S 2009 lebih memukul bathin, sebab saya merupakan 
salah satu bagian dari minangkabau itu sendiri. 

Saya kira, dari semua peristiwa-peristiwa itu, bisa membuka mata hati kita, 
perlunya menguatkan ranah minang pada struktrur dasar masyarakatnya yang berada 
dalam bentuk nagari-nagari ini. Saya kuatir, pemberlakuan otonomi daerah yang 
sudah berjalan selama + 10 tahun terakhir ini akan semakin memundurkan ranah 
minang, dimana kemampuan sumber daya masyarakat kita masih jauh tertinggal dari 
provinsi sekitar. 

Perlu pula saya ingatkan, secara kultural, adat & budaya minangkabau yang 
menuntut kebersamaan (sadancian bak basi, saciok bak ayam...) memiliki 2 mata 
sisi, dimana apabila kebersamaan itu memang ada, akan meningkatkan kualitas 
hidup masyarakatnya, namun apabila kebersamaan itu tidak ada, malah semakin 
menggerus "ke dalam" masyarakat minangkabau sendiri. Saya kira, apabila 
kebersamaan tidak ada, jauh lebih baik kita meninggalkan kultur minangkabau itu 
sendiri, sebab akan lebih cenderung menimbulkan pertikaian-pertikaian atau 
sengketa-sengketa sebab pola berpikir masyarakat kita yang tidak dilandasi rasa 
kebersamaan terhadap aset-aset adat & budaya yang sifatnya selalu komunal, 
seperti "pusako tinggi", ulayat, musyawarah & mufakat, dsb dsb.

Oleh karena itu pula, disetiap kesempatan saya selalu mengutarakan, marilah 
kita 
berpikir dalam "mindset" minangkabau yang satu, merupakan gabungan dari 625 
nagari, bukan terkotak-kotak dalam kerangka berpikir nagari per nagari, semoga 
bermanfaat, amin amin ya Rabbal alamin.

wasalam 

AZ - 32 th
Padang
               




________________________________
Dari:Bot S Piliang <[email protected]>
Kepada:[email protected]
Terkirim:Sen, 25 Oktober, 2010 15:38:19
Judul:Re: [...@ntau-net] Kutang Barendo,  untuak Tuan di Rantau ...


Hmmm...no hurt feeling ya, tapi perasaan saya malah di kampuang nan jarang 
mandanga lagu klasik Minang, Tiar Rmon, apo lai di angkot atau bus kota. Nan 
ado 
musik tuntang bakatuntang. 

Jangan salah, rata-rata di tiap mobil atau komputer anak muda Minang di rantau, 
pasti tersimpan lagu-lagu Minang klasik dan aspti mereka dengar disetiap muncul 
kerinduan akan kampung halaman.
Saya sendiri malah beljar tari Minang, Randai, Talempong, Saluang, dan bansi 
serta adat budaya Minang di Bandung, di Kampus Tatar Pasundan, Universitas 
Padjadajran, lewat buku-buku literatur yang ada di perpustakaan Universitas. 
Karena di Ranah pada saat kami masih berbaju putih abu-abu, cuma bahasa Minang 
yang bisa kami kenali sebagai budaya inang, lain dari itu..tidak.
Tanya Kenapa????
Maaf kalau ambo lancang, tapi adagium Rantau dan  Ranah, saling tongek menongek 
ini sangat2 saya sesalkan dari mamak-mamak ambo nan ado di Palanta ko. Terlepas 
apakah KKM itu perlu atau tidak, tapi dalam hati ambo rasa sudah perlu ada 
revolusi dalam memaknai Budaya Minang, apakah ia hanya akan terperangkap dalam 
kenangan dan memori masa lalu dan kemudian terjemahan dalam stereotip si Padang 
yang akhirnya membuat generasi muda Minang sendiri malu mengakui ke Minang an 
mereka, atau kita bisa tampil dan kembali ke prinsip asal Budaya Minangkabau 
yang luhur yang pernah melahirkan generasi-generasi Emas yang menghiasi sejarah 
peradaban manusia? 


Maaf beribu maaf, ambo cuma rang muda matah yang mencoba berteriak melalui 
tulisan dan ujung jari, yang kecewa melihat kisruh Ninik Mamak dan seharusnya 
menjadi suluh bendang dalam nagari, bukan saling tunjuk dan cime'eh kian kamari.


Wasalam

Bot Sosani Piliang
Umur 29 th - Nagari Asal Sungai Rotan Pariaman
Just an Ordinary Man with  Extra Ordinary Dream
www.botsosani.wordpress.com
Hp. 08123885300

--- On Sun, 10/24/10, sjamsir_sjarif <[email protected]> wrote:


>From: sjamsir_sjarif <[email protected]>
>Subject: [...@ntau-net] Kutang Barendo,  untuak Tuan di Rantau ...
>To: [email protected]
>Date: Sunday, October 24, 2010, 11:40 PM
>
>
>Yo Ola La 
>Kutang Barendo,
>Nan Tampuruang Sayak Babulu ...
>Lah tamanuang nan tuo-tuo
>Takana mudo nan dahulu....
>
>Yo Ola La 
>Kutang Barendo,
>Nan Tampuruang Sayak Babulu ...
>Yo lah asik nan mudo-mudo
>Disangko nan tuo indak tahu....
>
>......................
>Senin, 25 Oktober 2010
>Tuan di Rantau
>Khairul Jasmi
>
>Tuan di rantau, sedang apakah Tuan  sekarang? Jadikah Kongres Kebudayaan 
>Minangkabau (KKM)? Ditantang sejumlah orang kabarnya. Ini pertama dalam 
>sejarah 
>Minangkabau, kehendak rantau ditantang orang kampung.
>Pak Emil Salim dulu tak begitu. Mangango kami kalau Pak Emil mengecek. Beliau 
>sangat sistematis. Kalau Pak Taufik Abdullah, dalam benar ilmunya. Juga Pak 
>Taufiq Ismail. Kalau penyair ini tampil di televisi, serasa diseretnya kami ke 
>tempat ia sedang berada.
>Pak Harun Zain, ondeh Tuan. Kalau beliau berbicara, kami simak baik-baik. 
>Berhutang budi dan berhutang sejarah Minangkabau pada beliau. Adakah Tuan 
>lihat-lihat Beliau ke rumahnya? Pak Azwar Anas juga begitu. Beliau penyayang 
>pada rakyat, tak pernah kami dengar perkataannya yang kasar. Ba nyak sekali 
>jasanya pada ne geri ini. Belakangan Pak Hasan Basri Durin, meneruskan 
>cita-cita 
>Pak Azwar. Kalau bertemu di Jakarta, sampaikan salam untuk Beliau.
>Tuan, di rantau masihkah dendang Misramolai mengalun sendu di lapak-lapak kaki 
> 
>limamu? Atau lagu Pasan Mande Yusaf Rahman, yang dinyanyikan Tiar Ramon itu, 
>masih didengarkan? Atau lagu 3 Diva mengalun harum di mobil rancakmu menjelang 
>Plaza Senayan?
>.............
>Atau tak usahlah kongres itu Tuan laksanakan. Malu awak dengan Pak Emil Salim 
>dan tokoh-tokoh lain yang mendirikan Gebu Minang.*
>
>... langkoknyo caliak di Harian Singgalang, 
>.. tuncik:
>http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=1458
>
>Sudah tu putakan lagu:
>Yo Ola La 
>Kutang Barendo,
>Nan Tampuruang Sayak Babulu ...
>
>KUTANG BARENDO ALLY NOOR MASTURA
>http://www.youtube.com/watch?v=LRkvgUWloqM
>
>Salam,
>--Nyiak Sunguik
>Sjamsir Sjarif
>Di Tapi Riak nan Badabua
>Santa Cruz, California
>--
>
> 


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke