Assalamualaikum wr wb
pak Fitr Tanjuang sarato angku, mamak, bundo, jo dunsanak sakalian sapalanta RN
Semula saya agak ragu untuk menjawab, namun ketika melihat postingan terakhir
menuliskan lk/36 saya baru yakin.
Saya kira Sumpah Pemuda bukanlah lahir sekonyong-sekonyong (insidentil). Namun
merupakan sebuah perjalanan panjang dari pemikiran-pemikiran yang menghendaki
suatu pembaharuan. Suatu pembaharuan yang lebih "meng - Indonesia", bukan
terkotak-kotak pada daerah per daerah, walau dari nama organisasi waktu itu
(Jong Sumatra, Jong Java, Jong Batak, Jong Ambon, Jong Islamieten Bond, Gerakan
Pramuka Indonesia, Indonesisch Clubgebouw, Perserikatan Minahasa, Pemuda Kaum
Betawi, dll).
Sumpah Pemuda merupakan suatu hasil dari Kongres Pemuda II (jadi sebelumnya ada
Kongres Pemuda I). Gerakan pemuda/pelajar ini merupakan era baru suatu
persatuan, yang didasarkan pada persamaan nasib dijajah oleh kolonial Belanda.
Hal ini didasari oleh pemikiran pemuda dimasa itu, bahwa perjuangan melawan
kolonial Belanda dimasa lalu (seperti Perang Paderi, Perang Aceh, Perang Jawa,
Perang Batak, dll) tidak berhasil karena sifatnya yang kedaerahan.
Konsep-konsep
negara mulai dituangkan dalam sejarah perjalan organisasi pemuda/pelajar ini.
Mulai dengan penggunaan bahasa indonesia di surat kabar - surat kabar,
menciptakan lagu-lagu kebangsaan, menggunakan jalur diplomasi dll. Saat itu,
negara yang adalah kerajaan Belanda berikut seluruh aturan-aturan yang berlaku
di Hindia Belanda.
Saya kira, kesempatan belajar pemuda-pemuda Indonesia di negeri Belanda,
membuka
mata & pemikiran para "founding father" bangsa ini, bagaimana sebuah negara
kecil di eropa bisa menguasai nusantara yang jauh lebih luas dibandingkan
Kerajaan Belanda. Tentu saja politik devide et impera merupakan salah satu
senjata ampuh dimasa itu selain kekuatan persenjataan. Hal ini pula yang
menjadi
pemikiran pemuda-pemuda dimasa itu, untuk menggalang persatuan dari seluruh
daerah-daerah kolonial belanda yang berupa pendirian organisasi-organisasi
pemuda/pelajar.
Kalau melihat sukses besar atau tidak, saya kira dimasa itu sangat relatif.
Dikatakan besar, karena bisa mengumpulkan perwakilan pemuda dari banyak daerah
di nusantara, disebut kecil karena hanya dihadiri oleh 71 peserta.
Sedangkan apakah intel-intel pemeritahan Belanda tidak memperoleh informasi
tentang ini, berikut saya sertakan nama-nama tempat selama Kongres Pemuda II
berlangsung :
- Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond
- Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop
- Pada rapat penutup, 28 Oktober 1928, di Gedung Indonesische Clubgebouw di
Jalan Kramat Raya 106
Mengenai ada tidaknya golongan tua ikut dalam gerakan ini, saya kira beberapa
kutipan bisa menjelaskan hal itu :
Bahder Johan, aktivis JSB, yang dimuat di edisi perdana Jong Sumatra, Januari
1918:
“Lahirnja J.S.B kedoenia tentoelah pikiran orang akan menambah lagi besarnja
pertjeraian antara kedoea pihak itoe karena diwaktoe itulah pendoedoek Sumatera
jang berhaloean kaoem muda, artinja jang berhaloean akan kemadjoean berjabat
tangan tanda persaudaraan akan bekerdja bersama-sama mentjapai jang moeda itoe:
jaitoe akan meninggikan deradjat poelau Sumatera dan memberikan tempat kepada
bangsa Sumatera didalam doenia peradaban. Besar dan tinggi maksoed dan
pengharapan Jong Sumatranen Bond, toeloes dan ichlas tjita-tjita pemoeda
Sumatra
akan mengharoemkan nama Sumatra dimoeka bumi ini akan memimpin bangsanja
sepandjang tangga ketjerdasan menudju gedoeng kesempoernaan, dan terpikoellah
kewadjiban diatas batoe kepala bangsa Sumatra besar dan ketjil, toea dan moeda
akan memberi djiwa yang tegoeh dan koeat kepada Jong Sumatranen Bond!” *
Mohammad Yamin memimpin JSB pada 1926-1928 dan dengan aktif mendorong pemikiran
tentang perlunya bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa persatuan. Kepekaan
Yamin meraba pentingnya bahasa identitas sudah mulai terlihat dalam tulisannya
di Jong Sumatra no 4, th 3, 1920:
“Sesoenggohnja tiadalah kami hendak melebih-lebihkan atau mempertinggi bahasa
Melajoe itoe setara dengan bahasa Sangsekarta atau Joenani, tidak, haram
sedemikian maksoed kami. Hanjalah kami memperingatkan bahwa bahasa kita makin
lama, makin tidak dioesahakan dan dipeladjari, ja, sampai ada jang tiada hendak
tahoe menahoe lagi. Nafsoe ini tersesat, tersalah dan berdosa. Kepada ia kami
pekikkan dengan soeara jang terang dan kami katakan dengan kalimat jang djelas:
TIADA BAHASA, HILANGLAH BANGSA!” **
Majalah Jong Sumatra berperan penting dalam memerjuangkan pemakaian bahasa
nasional ini dengan menjadi media yang pertamakali mempublikasikan gagasan
Yamin, ide cemerlang tentang bahasa kebangsaan.
Berdirinya JSB tahun 1916 sebenarnya juga dipandang sinis oleh Said Ali,
pemimpin surat kabar Tjaja Sumatra :
“Soematra beloem mateng bagi seboeah politik dan oemeoem,” ***
Kemudian, ada sebuah peristiwa menarik yang hampir terlewatkan dari sejarah
bangsa ini, pada tanggal 16 Agustus 1945, sekelompok pemuda
(Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh) menculik Soekarno & Hatta (Soekarno &
Hatta di masa itu sudah disebut kalangan tua) yang kita sebut dengan Peristiwa
Rengasdengklok. Saya kira, bangsa ini berhutang pada pemuda-pemudanya.
Sayang dalam tatanan adat & budaya minangkabau, peran pemuda masih jauh
tersisihkan. Semoga bermanfaat, amin ya Rabbal alamin.
wasalam
AZ - 32 th
Padang
*,**,*** : Kutipan dapat ditemukan dalam buku Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa
Bangsa, Tanahair Bahasa. Jakarta: Indonesiabuku, 2008, hlm. 145-146.
________________________________
Baa subananyo kejadiannyo?
Apo hanya pulau sumatra nan dipantau, sadang Mentawai talupokan?
Wassalam
fitr tanjuang
lk/36/albany NY
________________________________
Dari: Fitr Tanjuang <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sel, 26 Oktober, 2010 19:38:30
Judul: Re: [...@ntau-net] Fwd: [MinangUSA] Ketika Para Pemuda Bersumpah 82
Tahun
Lalu
Datuak Armen,
adoh nan ingek baa kok disabuik sumpah pemuda namonyo?
Apo iyo pemuda sajo nan bergerak, indak maajak nan gaek2?
Kok indak diajak, apo alasannyo?
Ceik lai, apo posisi Balando saat itu?
Apo Balando mendukung SP ko dek karano menganggap paliang iko kongres mancit?
Atau Balando indak tau, dalam artian intelijennyo salah informasi?
Atau Balando malah sato di balakang mendesain?
Pasti adoh pengkhianat gerakan kemerdekaan, kaum pangaca dan pangacau
nan indak ingin kongres SP ko sukses.
Tapi ruponyo sukses gadang mambuek tonggak sejarah dalam revolusi Indo.
Baa kok indak adoh sejarah di belakang SP tu tadanga dek ambo yo?
Nan ambo ingek cuman SP tu tgl 28 Okt isinyo 3.........
Wassalam
fitr tanjuang
2010/10/26 Armen Zulkarnain <[email protected]>:
> Assalamualaikum wr wb
> Mak Duta sarato angku, mamak, bundo, jo dunsanak sakalian sapalanta RN
> mungkin iko bisa membantu, kalau indak salah Bung Hatta berusia 18 th ketika
> mulai bergabung di organisasi ini. Jong Sumatranen Bond salah satu dari
> kelompok pemuda di Nusantra yang kemudian mencetuskan Sumpah Pemuda 1928 (7
> tahun berikutnya).
>
> Jong Sumatranen Bond
>
> Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
> http://id.wikipedia.org/wiki/Jong_Sumatranen_Bond
--
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.