AslmWrWb Mantap juo pengetahuan sejarah sanak Armen ko. Lah bisa pulo samo jo uda Suryadi mah, asal dapek tampek nan tapek..:))
Bantuaknyo tuo-mudo zaman itu indak mangacu ka umua, tapi ka pemikiran. Nan progresif memperjuangkan kemerdekaan dianggap mudo. Nan lamak laloknya di bawah katiok Balando dianggap tuo. Samo subananyo jo rang minang kan? Nan mudo tu bukan umua, tapi nan alun manikah. Nan alah manikah, langsuang jadi mamak, walaupun umuanyo ketek. Apolai nan lah jadi datuak pulo macam sanak Armen, tantu lah jadi niniak mamak posisinyo, bukan pemuda lai... Wassalam fitr tanjuang 2010/10/26 Armen Zulkarnain <[email protected]>: > Assalamualaikum wr wb > pak Fitr Tanjuang sarato angku, mamak, bundo, jo dunsanak sakalian sapalanta > RN > Semula saya agak ragu untuk menjawab, namun ketika melihat postingan > terakhir menuliskan lk/36 saya baru yakin. > Saya kira Sumpah Pemuda bukanlah lahir sekonyong-sekonyong (insidentil). > Namun merupakan sebuah perjalanan panjang dari pemikiran-pemikiran yang > menghendaki suatu pembaharuan. Suatu pembaharuan yang lebih "meng - > Indonesia", bukan terkotak-kotak pada daerah per daerah, walau dari nama > organisasi waktu itu (Jong Sumatra, Jong Java, Jong Batak, Jong Ambon, Jong > Islamieten Bond, Gerakan Pramuka Indonesia, Indonesisch Clubgebouw, > Perserikatan Minahasa, Pemuda Kaum Betawi, dll). > Sumpah Pemuda merupakan suatu hasil dari Kongres Pemuda II (jadi sebelumnya > ada Kongres Pemuda I). Gerakan pemuda/pelajar ini merupakan era baru suatu > persatuan, yang didasarkan pada persamaan nasib dijajah oleh kolonial > Belanda. > Hal ini didasari oleh pemikiran pemuda dimasa itu, bahwa perjuangan melawan > kolonial Belanda dimasa lalu (seperti Perang Paderi, Perang Aceh, Perang > Jawa, Perang Batak, dll) tidak berhasil karena sifatnya yang kedaerahan. > Konsep-konsep negara mulai dituangkan dalam sejarah perjalan organisasi > pemuda/pelajar ini. Mulai dengan penggunaan bahasa indonesia di surat kabar > - surat kabar, menciptakan lagu-lagu kebangsaan, menggunakan jalur diplomasi > dll. Saat itu, negara yang adalah kerajaan Belanda berikut seluruh > aturan-aturan yang berlaku di Hindia Belanda. > Saya kira, kesempatan belajar pemuda-pemuda Indonesia di negeri Belanda, > membuka mata & pemikiran para "founding father" bangsa ini, bagaimana sebuah > negara kecil di eropa bisa menguasai nusantara yang jauh lebih luas > dibandingkan Kerajaan Belanda. Tentu saja politik devide et impera merupakan > salah satu senjata ampuh dimasa itu selain kekuatan persenjataan. Hal ini > pula yang menjadi pemikiran pemuda-pemuda dimasa itu, untuk menggalang > persatuan dari seluruh daerah-daerah kolonial belanda yang berupa pendirian > organisasi-organisasi pemuda/pelajar. > > Kalau melihat sukses besar atau tidak, saya kira dimasa itu sangat relatif. > Dikatakan besar, karena bisa mengumpulkan perwakilan pemuda dari banyak > daerah di nusantara, disebut kecil karena hanya dihadiri oleh 71 peserta. > Sedangkan apakah intel-intel pemeritahan Belanda tidak memperoleh informasi > tentang ini, berikut saya sertakan nama-nama tempat selama Kongres Pemuda II > berlangsung : > - Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond > - Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop > - Pada rapat penutup, 28 Oktober 1928, di Gedung Indonesische Clubgebouw di > Jalan Kramat Raya 106 > > Mengenai ada tidaknya golongan tua ikut dalam gerakan ini, saya kira > beberapa kutipan bisa menjelaskan hal itu : > > Bahder Johan, aktivis JSB, yang dimuat di edisi perdana Jong Sumatra, > Januari 1918: > > “Lahirnja J.S.B kedoenia tentoelah pikiran orang akan menambah lagi besarnja > pertjeraian antara kedoea pihak itoe karena diwaktoe itulah pendoedoek > Sumatera jang berhaloean kaoem muda, artinja jang berhaloean akan kemadjoean > berjabat tangan tanda persaudaraan akan bekerdja bersama-sama mentjapai jang > moeda itoe: jaitoe akan meninggikan deradjat poelau Sumatera dan memberikan > tempat kepada bangsa Sumatera didalam doenia peradaban. Besar dan tinggi > maksoed dan pengharapan Jong Sumatranen Bond, toeloes dan ichlas tjita-tjita > pemoeda Sumatra akan mengharoemkan nama Sumatra dimoeka bumi ini akan > memimpin bangsanja sepandjang tangga ketjerdasan menudju gedoeng > kesempoernaan, dan terpikoellah kewadjiban diatas batoe kepala bangsa > Sumatra besar dan ketjil, toea dan moeda akan memberi djiwa yang tegoeh dan > koeat kepada Jong Sumatranen Bond!” * > > Mohammad Yamin memimpin JSB pada 1926-1928 dan dengan aktif mendorong > pemikiran tentang perlunya bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa > persatuan. Kepekaan Yamin meraba pentingnya bahasa identitas sudah mulai > terlihat dalam tulisannya di Jong Sumatra no 4, th 3, 1920: > > “Sesoenggohnja tiadalah kami hendak melebih-lebihkan atau mempertinggi > bahasa Melajoe itoe setara dengan bahasa Sangsekarta atau Joenani, tidak, > haram sedemikian maksoed kami. Hanjalah kami memperingatkan bahwa bahasa > kita makin lama, makin tidak dioesahakan dan dipeladjari, ja, sampai ada > jang tiada hendak tahoe menahoe lagi. Nafsoe ini tersesat, tersalah dan > berdosa. Kepada ia kami pekikkan dengan soeara jang terang dan kami katakan > dengan kalimat jang djelas: TIADA BAHASA, HILANGLAH BANGSA!” ** > > Majalah Jong Sumatra berperan penting dalam memerjuangkan pemakaian bahasa > nasional ini dengan menjadi media yang pertamakali mempublikasikan gagasan > Yamin, ide cemerlang tentang bahasa kebangsaan. > > Berdirinya JSB tahun 1916 sebenarnya juga dipandang sinis oleh Said Ali, > pemimpin surat kabar Tjaja Sumatra : > > “Soematra beloem mateng bagi seboeah politik dan oemeoem,” *** > > Kemudian, ada sebuah peristiwa menarik yang hampir terlewatkan dari sejarah > bangsa ini, pada tanggal 16 Agustus 1945, sekelompok pemuda > (Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh) menculik Soekarno & Hatta (Soekarno & > Hatta di masa itu sudah disebut kalangan tua) yang kita sebut > dengan Peristiwa Rengasdengklok. Saya kira, bangsa ini berhutang pada > pemuda-pemudanya. > > Sayang dalam tatanan adat & budaya minangkabau, peran pemuda masih jauh > tersisihkan. Semoga bermanfaat, amin ya Rabbal alamin. > > wasalam > > AZ - 32 th > > Padang > > *,**,*** : Kutipan dapat ditemukan dalam buku Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa > Bangsa, Tanahair Bahasa. Jakarta: Indonesiabuku, 2008, hlm. 145-146. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
