Assallamualaikum wr wb
pak Fitrianto Tanjuang sarato angku, mamak, bundo jo dunsanak sapalanta RN nan 
ambo hormati, 

Dahulu di Sumbar - paling tidak diera pertengahan 1990-an - penduduknya 
terkenal 
dengan keramahtamahan & sikap yang sangat bersahabat pada siapa saja. Oleh 
karena itu kemanapun urang awak merantau selalu bisa menyesuaikan diri. Begitu 
dengan aparatur pemerintah daerahnya terkenal dengan hubungan yang harmonis 
pada 
setiap unsur stakeholder minangkabau, seperti niniak mamak, ulama & organisasi 
perantaunya.

Namun saya mencatat, sejak krisis moneter melanda negara ini - termasuk juga 
Sumbar -  ada guncangan-guncangan pada pemerintah daerah kita. Dimulai dengan 
pengunduran diri Gubernur Muhclish Ibrahim yang baru menjabat + 1,5 tahun (saya 
kira hal ini cukup jarang terjadi di Indonesia), disusul terseretnya anggota 
DPRD provinsi dalam kasus korupsi yang kemudian disusul pula oleh anggota DPRD 
kota Padang dengan masalah yang sama. Terakhir, Guberbur selanjutnya yaitu pak 
Zainal Bakar sendiri terserey pula menjadi pesakitan kasus korupsi ini.

Setelah pemilu langsung yang pertama diranah minang (2005), secercah harapan 
muncul ketika pak Gamawan fauzi menjabat sebagai Gubernur Sumbar. Sayang beliau 
tidak begitu lama (hanya + 4 tahun) menjabat, sebab ditarik ke pusat menjabat 
sebagai Mendagri.

Mengapa hal ini saya uraikan panjang lebar? Sebab insting saya mengatakan ada 
pihak-pihak yang tidak menginginkan "urang awak" bisa baelok-elok baliak 
saroman 
zaman saiusak, sebab walaupun sebagai suku minangkabau kita bukanlah suku yang 
mayoritas (hanya 4-5 % dari 240 juta bangsa Indonesia) namun selama ini banyak 
memberikan dukungan terhadap keutuhan NKRI sejak negara ini belum berdiri.

Oleh karena itu, saya melihat ada kalangan "urang awak" yang terlalu cepat 
mencurigai dunsanaknya, menganggap adanya ketidakberesan, kongkalikong sesuatu 
hal (padahal masih bersifat dugaan) yang terpancing berkomentar, syakwasangka 
yang menjurus pada tindakan saling menjatuhkan satu sama lain.

Saya yakin sekali, kita orang minang secara kultur sangat mahir berdebat, namun 
terkadang hal ini malah membuang waktu & energi yang tidak sedikit. Oleh karena 
itu pula, saya pernah meminta (atau menyatakan suatu pendapat), bahwa untuk 
hal-hal yang sifatnya krusial lebih baik bajaleh-jaleh & usahakan seminim 
mungkin berpepatah-petitih, sebab apabila dunsanak kita sedang mencurigai akan 
semakin sulit menjelaskan dengan lebih gamblang.

Sekali lagi ini hanya firasat saja, sepertinya ada pihak-pihak yang suka 
apabila 
tidak ada "saiyo sakato" dikalangan pemerintahan daerah, stakeholder, ataupun 
masayarakat di ranah & diperantauan. Sabab ado nan mangatoan, si Padang ko lai 
indak kompak bana alah taka iko kemajuannyo, apolai kok inyo saiyo sakato, 
tambah cilako awak baeko, caliaklah contoh nan kapatang, baru saketek si Padang 
ko baiyo batido, alah sampai pulo "Mak Itam" ka kampuangnyo baliak, alah sato 
mulai dari tokoh masyarakat, artis, pemda, pengusaha,  niniak mamak, bundo 
kanduang, pemuda dll  tukuak manukuak. Salam ta'zim.

wasalam

AZ - 32 th
asa nagari Kubang, 50 Koto
babako ka Canduang Koto Laweh, Agam 
kini marantau ka kota Padang (lai indak jauah bana doh) 

Sebagai orang muda, saya lebih suka seluruh komponen minangkabau dimana saja 
berada bisa saling bersinergi, sebab babaliak banagari memang membutuhkan 
sinergi bersama masayarakat minangkabau, baik Pemda, organisasi masyarakat, 
pemerintahan nagari, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang jo 
pemudanyo yang terangkum pada masyarakat nagari baik yang dikampung halaman 
maunpun diperantauan.  
                       



________________________________
Dari: Fitrianto <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Rab, 10 November, 2010 11:11:19
Judul: Re: [...@ntau-net] Fw: Spandoek gelap sebagai sarana baru penghujatan 
tokoh 
di Sumatera Barat.

Mak Saaf,
Makonyo dalam usulan ambo ka gub IP, adoh no2 nan maminta supayo dgn randah 
hati 
manarimo apopun sanksi dari mandagri (itu pun kalau adoh) dan nomor 5 maminta 
supayo manyuruah diam dulu pendukung2nyo.

Mudah2an iko karajo provokator lia, bukan pendukung gub IP.

Apo lai, gub IP alah manampakkan kebesaran jiwa dgn mamintak maaf dan 
mengunjungi baliak Mentawai sapulang dari Munchen tu.
Iko sasuai jo usulan no1 ambo, walaupun mungkin bukan usulan ambo nan sampai ka 
gub IP.

Wassalam
fitr tanjuang

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke