Assalamualaikum wr wb

Angku, mamak, bundo sarto dunsanak sapalanta RN nan ambo hormati, berikut 
sekilas berita tentang Nagari Mandiagin Katiagan kec. Kinali kab. Pasaman 
Barat, 
mohon maaf pabilo kurang berkenan.

wasalam 

AZ - 32 th
Padang 


Mengunjugi Nagari Terisolir Mandiangin Katiagan Pasaman Barat

Oleh: Altas Maulana
Senin, 28 Juni 2010 | 21:08:00 WIB
Mengunjugi Nagari Terisolir Mandiangin Katiagan Pasaman Barat: Negeri Kaya yang 
Tak Tersentuh Pembangunan"Jika air sedang pasang, kami harus menghadang 
derasnya 
gelombang, jika air sedang surut kami bisa..
Negeri Kaya yang Tak Tersentuh Pembangunan
"Jika air sedang pasang, kami harus menghadang derasnya gelombang, jika air 
sedang surut kami bisa berjalan kaki, namun harus siap menantang bahaya, karena 
jalan yang dilewati berupa rawa-rawa yang bisa mengancam nyawa."
Itulah sekelumit kisah hidup warga Nagari Mandiangin Katiagan, Kecamatan 
Kinali, 
Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) yang disampaikan Wali Nagari Mandiangin 
Katiagan, S Buyung Ganto, kepada antara-sumbar.com ketika ditemui di nagari 
itu, 
beberapa waktu lalu.
Perjalanan menuju Nagari Mandiangin Katiagan memang amatlah susah. Betapa 
tidak, 
jalan menuju Nagari Mandiangin Katiagan harus menggunakan Kapal Ponton (kapal 
penghubung - red). Menghadang ganasnya gelombang laut, jika tidak memiliki 
keberanian dan nyali luar biasa, dipastikan tidak akan pernah sampai ke Nagari 
Mandiangin Katiagan.
Jadi, siapa pun yang akan bepergian Nagari Mandiangin Katiagan, pasti akan 
merasakan susahnya transportasi. Wajar jika warga Nagari Mandiangin Katiagan 
sangat mengharapkan bantuan Pemkab Pasbar dan DPRD untuk memperjuangkan 
hadirnya 
sarana transportasi yang lebih baik menuju nagari mereka.
Nagari Mandiangin Katiagan yang berada di wilayah Kecamatan Kinali Kabupaten 
Pasbar, adalah salah satu daerah tertinggal dari 33 jorong di Pasbar. Terbukti 
dari akses jalan menuju nagari itu benar-benar memprihatinkan.
Di suatu siang di tengah teriknya panas matahari, antara-sumbar.com mengunjungi 
daerah terisolir ini. Meskipun harus menemui rintangan berat dengan melewati 
jalan yang susah, namun antara-sumbar.com tidak mundur selangkah pun.
Jalan menuju daerah ini memang tidak selancar menuju daerah lain di Pasbar. 
Dari 
pusat ibukota Pasbar Simpang Empat, bisa menggunakan kendaraan roda empat 
menuju 
Kecamatan Kinali sekitar 50 KM. Dilanjutkan dengan kendaraan roda dua atau 
mobil 
bergardan dua, melewati jalan tanah atau kerikil melintasi perkebunan sawit PT 
PMJ Kinali sampai ke Mandiangin dengan waktu tempuh sekitar tiga sampai empat 
jam. Sesampai di tepi penyeberangan, kemudian melanjutkan perjalanan dengan 
menggunakan kapal ponton, itu pun jika air sedang pasang. Jika air sedang 
surut, 
hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki yang jauhnya juga puluhan kilometer. 
Bisa dibayangkan betapa susahnya warga jika ingin berhubungan dengan dunia 
luar, 
begitupun sebaliknya.
Dari penelusuran antara-sumbar.com, sebenarnya akses jalan menuju Nagari 
Mandiangin Katiagan dapat ditempuh dari tiga jalur. Pertama, melalui jalan 
milik 
PT PMJ Kinali bisa menggunakan kendaraan roda empat sampai ke Mandiangin. Dari 
sini dilanjutkan dengan menggunakan Kapal Ponton menyeberangi muara menuju 
Katiagan.
Kedua melalui jalur rawa dari Muara Bingung dengan menggunakan perahu dayung, 
namun jalur ini pun sangat tergantung kepada pasang surutnya air laut. Jika air 
laut surut, maka perjalanan menuju Katiagan harus ditempuh berjalan kaki. 
Sedangkan jalur ketiga adalah berputar melalui Kecamatan Tiku Kabupaten
Agam, namun jalur ini semakin jauh, hampir dua kali lipat dari dua jalur 
pertama. Ketika antara-sumbar.com menuju daerah ini, air laut sedang surut. Bisa
dibayangkan betapa susahnya, karena harus menggunakan jalur rawa berjalan kaki 
sejauh puluhan kilometer.
Dalam perjalanan, benar-benar terasa betapa sulitnya melalui jalur ini. 
Antara-sumbar.com harus ekstra hati-hati untuk memilih tempat menginjakkan 
kaki. 
Karena rawa yang diseberangi adalah hutan bakau, ada yang tajam, runcing, 
tumpul, belum lagi ancaman pasang surut air laut yang bisa terjadi seketika.
Baru sepanjang dua kilo meter berjalan kaki melewati hutan bakau, badan sudah 
terasa penat dan kerongkongan pun kering kehausan. Namun dengan penuh semangat, 
akhirnya sampai juga di Nagari Mandiangin Katiagan. Dari awal perjalanan rawa 
ini sampai di tujuan terlihat memakan waktu tiga sampai empat jam.
Bukan sekedar cerita, antara-sumbar.com benar-benar membuktikan betapa Nagari 
Mandiangin Katiagan merupakan daerah tertinggal. Semua sulit, baik akses jalan 
maupun hubungan dengan dunia luar. Nagari Mandiangin Katiagan adalah salah satu 
nagari yang terletak di pesisir pantai barat Indonesia, dengan akses 
transportasi yang sangat sulit dan hanya bisa dituju dengan menggunakan perahu 
dan kapal ponton.
Belum lagi jika menempuh jalan melalui PT PMJ Kinali, jalan tanah berlobang dan 
bergelombang akan dihadapi siapa saja yang akan menuju tepi pantai 
penyeberangan 
ke Nagari Mandiangin Katiagan. Pohon kelapa sawit mengelilingi jalan yang 
seakan-akan hendak mengapit setiap kendaraan yang lewat. Sejauh-jauh mata 
memandang, tidak akan ada yang terlihat kecuali hanya hamparan perkebunan 
kelapa 
sawit.
Benar-benar tidak seperti yang dibayangkan, perjalanan menuju tempat 
penyeberangan saja sudah memakan waktu lebih kurang dua jam. Ditambah 
perjalanan 
menuju Nagari Mandiangin Katiagan menyeberang dengan berjalan kaki di rawa-rawa 
memakan waktu tiga sampai empat jam.
“Beginilah susahnya akses jalan menuju kampung kami. Makanya kami sangat 
berharap Pemkab Pasbar dan DPRD ikut memikirkan jalan alternatif menuju Jorong 
Katiagan. Kasihan kita dengan warga di sini harus menyabung nyawa setiap kali 
ingin berurusan ke ibukota kabupaten,â€ujar S Buyung Ganto.
Hal sama juga dikatakan Ketua Bamus Jorong Katiagan, Nurul Hidayat kepada 
antara-sumbar.com. Ia pun berharap jalan menuju Nagari Mandiangin Katiagan 
diperhatikan. Jangan daerah yang kaya potensi sumberdaya alam (SDA) dan 
suberdaya manusia (SDM) saja yang diperhatikan, nagari Mandiangin Katiagan juga 
butuh diperhatikan.
“Kami berharap Pemkab Pasbar bersama DPRD memiliki tekad yang sama untuk 
membangun daerah-daerah tertinggal, terutama Nagari Mandiangin Katiagan,†
ujarnya.
Tokoh masyarakat Katiagan, Tamsil Sutan Mangkuto, juga berharap jalan menuju 
Mandiangin Katiagan segera dibenahi. Dengan kondisi jalan saat ini, akses 
transportasi memakan waktu lama. Ia berharap para pejabat Pemkab Pasbar melihat 
langsung Nagari Mandiangin Katiagan, sehingga muncul keinginan memperbaiki 
jalan 
ke Mandiangin Katiagan.
Nagari Mandiangin Katiagan dihuni 4.072 jiwa dengan 867 Kepala Keluarga (KK). 
Sebagian besar masyarakatnya bermatapencaharian sebagai nelayan dan petani 
kebun. Sebagian besar lahan di wilayah Katiagan adalah lahan perkebunan dengan 
luas sekitar 8.200 Ha. Penduduknya 100 persen menganut agama Islam dan etnis 
yang mendominasi adalah etnis melayu dimana hampir 99% berasal dari etnis 
tersebut, sisanya adalah etnis Mandailing dan Jawa.
Selain dari hasil tangkapan ikan, hasil lainnya adalah buah kelapa sawit. 
Wilayah pemukiman penduduk Jorong Katiagan menyebar, tetapi pemukiman ini tidak 
langsung berbatasan dengan laut, melainkan dibatasi sungai dan daratan.
Kekayaan alam laut memang menjadi magnet kuat di Nagari Mandiangin Katiagan, 
terbukti banyaknya warga yang berprofesi sebagai nelayan. Apalagi hasil laut di 
kawasan itu begitu menjanjikan. Hasil tangkapan ikan mencapai ratusan ton per 
minggu.
Namun sayang potensi besar tangkapan ikan itu, sulit untuk dibawa keluar karena 
sulitnya akses transportasi. Masyarakat percaya jika masalah transportasi ini 
bisa diatasi, nagari mereka akan menjadi salah satu penghasil ikan terbesar di 
Pasbar.
Masih karena masalah transportasi, sebagian besar anak usia sekolah banyak yang 
putus pendidikan. Kebanyakan mereka hanya menamatkan pendidikan sampai bangku 
Sekolah Dasar (SD) dan sedikit sekali yang sampai ke bangku Sekolah Menengah 
Pertama (SMP).
Secara umum infrastruktur yang ada di Jorong Katiagan belum selengkap 
infrastruktur yang ada di jorong lainnya. Saat ini Jorong Katiagan belum 
memiliki bangunan tambat perahu, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan pasar.
Lebih memiriskan lagi Jorong Katiagan belum memiliki tempat mandi cuci kakus 
(MCK), sehingga warganya banyak buang air besar dan kecil ke sungai yang ada di 
sekitarnya. Tentunya tindakan warga ini akan mempengaruhi kesehatan. Selain 
itu, 
warga Jorong Katiagan masih hidup dalam kegelapan tanpa aliran listrik, mereka 
hanya menggunakan lampu dinding dari minyak tanah.
Selain keterbatasan sarana-prasarana, Jorong Katiagan juga secara akses 
komunikasi sangat tertinggal. Selain lokasi yang jauh, Jorong Katiagan juga 
tidak memiliki jaringan komunikasi, baik telepon kabel maupun seluler.
Fasilitas yang ada di Jorong Katiagan hanya berupa fasilitas kesehatan terdiri 
dari tiga buah Posyandu dan Kesling satu buah. Sedangkan fasilitas pendidikan 
SD 
dua buah dan satu SLTP yang masing-masing memiliki gedung yang sederhana.
Dijelaskan Tamsil Mangkuto, secara umum untuk pengembangan Jorong Katiagan ke 
depan diperlukan infrastruktur, seperti jalan masuk menuju Katiagan yang selama 
ini akses jalannya sangat susah dilalui sehingga perekonomian masyarakat jadi 
terhambat.
Apabila ada akses penyeberangan antara daratan permukiman dengan daratan di 
pantai, akan banyak potensi ekonomi yang bisa dikembangkan seperti, lahan 
daratan tersebut dapat digunakan sebagai sentral pengolahan ikan.
Selain itu, potensi alam dan pantainya yang indah sangat bagus dikembangkan 
sebagai objek wisata. Selain itu akses jalan ke Tiku juga akan mudah karena 
sudah ada jalan yang telah dirintis, hal ini akan mempercepat akses ekonomi 
masyarakat.
Jorong Katiagan juga memiliki sungai yang mengelilingi kejorongan tersebut, 
dimana sungai tersebut belum tercemar dan merupakan sarana transportasi yang 
sering digunakan ke pusat ibukota Nagari, dan merupakan sumber mata pencaharian 
penduduk setempat untuk menangkap ikan.
Jorong Katiagan juga memiliki hutan mangrove lebih kurang 200 Ha yang hidup di 
sepanjang pantai, muara sungai dan sepanjang sungai. Hutan mangrove merupakan 
tempat berpijak, mencari makan dan tempat pembesaran berbagai jenis ikan. Hutan 
mangrove juga dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat mencari ikan, kepiting, 
udang dan ada juga yang mengambil kayu bakau untuk perumahan.
Selain memiliki hutan mangrove yang luas, Jorong Katiagan juga merupakan salah 
satu jorong yang dikelilingi sungai. Dengan adanya sungai yang bermuara di 
Jorong ini, maka terbentuk estuaria atau ekosistem air payau.
Tipe estuaria di jorong katiagan adalah tipe estuaria daratan denga luas 75 Ha. 
Adanya ekosistem estuaria berpotensi sebagai lahan budidaya ikan seperti 
budidaya ikan bandeng dan tambak udang. Apalagi adanya lahan hutan mangrove 
yang 
dapat dijadikan sebagai tambak untuk budidaya.
Organisme-organisme yang hidup di ekosistem estuaria adalah berbagai jenis 
ikan, 
udang, kepiting, buaya dan organisme-organisme lain yang dapat beradaptasi 
dengan perubahan salinitas yang tajam. Ekosistem estuaria ini juga merupakan 
tempat masyarakat dalam menangkap ikan.
Dari pengamatan antara-sumbar.com. Gebrakan Pemkab Pasbar mengunjungi daerah 
ini 
untuk merasakan langsung sulitnya akses transportasi menuju Mandiangin Katiagan 
patut diacungi jempol. Daerah tertinggal dengan potensi kekayaan alam dan laut 
melimpah ini memang butuh perhatian serius.
Persoalan transportasi menuju Jorong Katiagan memang persoalan pelik yang harus 
dipecahkan bersama-sama stakeholders daerah ini. Membebani salah satu pihak 
tentu bukanlah pilihan bijak, mengingat pembangunan akan berhasil jika ada 
kerjasama dan dukungan berbagai pihak.
Menanggapi keluhan dan harapan masyarakat Nagari Mandiangin Katiagan, Bupati 
Pasbar, H Syahiran, menyatakan akan terus berusaha bersama DPRD Pasbar untuk 
mencarikan jalan ke luar, agar masyarakat Katiagan bisa lepas dari 
ketertinggalan.
Dana APBN untuk pembangunan jalan dan jembatan pascabencana akan diusahakan 
bisa 
dialihkan ke nagari ini. â€Kita berharap masyarakat bersabar, karena semua 
butuh proses. Saat ini, dari 22 daerah tertinggal, 20 daerah sudah bebas dan 
sudah bisa dilewati kendaraan roda dua. Mudah-mudahan ke depan kita bisa lebih 
baik lagi,†katanya.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke