Baringin Gadang di Pakan Kaluang
Ureknyo manjelo ka Bukareh
.....

Demikian sebait pantun yang sering didengar ketika mengikuti acara perpisahan 
murid kelas VI SD Negeri No. 1 Larak sekitar tahun 1980-1985, ketika saya 
bersekolah di SD tersebut yang memang terletak di Pakan Kaluang. Pantun ini 
barangkali dibuat untuak mengungkapkan kekaguman orang Panampuang akan 
keberadaan sebatang pohon beringin yang sangat besar dan kokoh. Bertahun-tahun 
pohon itu kokoh berdiri menjadi penjaga nagari Panampuang. Sampai robohnya 
pohon beringin itu, bersamaan dengan rubuhnya rezim Orde Baru yang didukung 
oleh partai Partai Golkar dengan lambangnya pohon beringin, diperkirakan umur 
pohon beringin tersebut lebih dari 400 tahun. Dapat dibayangkan, betapa tuanya 
besarnya pohon kalau diameternya lebih panjang dari panjang lapangan bola voli 
yang kini menggantikan pohon beringin tersebut.
Di bawah pohon beringin itu, dulu, kata orang tua-tua, ada sebuah pasar yang 
disebut Pakan Kaluang. Pakan Kaluang mungkin berarti pasar tempat dimana banyak 
kelelawar, karena memang di batang pohon beringin itu dulu banyak ditemukan 
kelelawar atau kaluang tinggal. Dalam budaya Minangkabau keberadaaan pasar 
merupakan salah satu pilar penting dari keberadaan atau eksistensi sebuah 
nagari.Tidak hanya itu, Pakan Kaluang juga merupakan tempat dilaksanakannya 
pertemuan niniak mamak rang Panampuang. Ada lima suku di Panampuang: Jambak, 
Koto, Guci, Tanjuang dan Sikumbang. Dengan demikian, Pakan kaluang merupakan 
tempat yang penting bagi masyarakat Panampuang. Hal ini terbukti sampai kini 
dengan masih ditempatkannya Ibu Nagari Panampuang di Pakan Kaluang pada era 
otonomi daerah dan sebelumnya sampai dengan tahun 1978 ketika nagari diganti 
dengan desa.
Begitu kuatnya peranan Pakan Kaluang sebagai ibu Nagari Panampuang, barangkali 
disebabkan oleh keberadaan pokok pohon beringin tersebut. Batang yang besar, 
tinggi dan kokoh tentu merupakan land mark dari nagari Panampuang. Sebagai 
salah satu dari empat nagari dari Ampek Angkek sebagai wilayah pertama di Luhak 
Agam, tentu keberadaan Pakan Kaluang ini merupakan salah satu pilar utama 
Panampuang disamping adanya sebuah batu prasasti di Jambak yang menasbihkan 
keberadaan Panampuang sebagai salah satu nagari tertua di Luak Agam.
Ada banyak hal yang dapat digali dari keberadaan pohon beringin tersebut. Hal 
pertama tentunya terkait dengan perkiraan usia pohon beringin tersebut. Perlu 
kajian, atau mungkin penelitian yang lebih mendalam oleh peneliti Panampuang 
tentunya. Kajian juga bisa dilakukan terhadap sebab musabab kenapa beringin 
yang sangat besar itu akhirnya tumbang dan mati. Cerita ini dapat dihubungkan 
dengan kejatuhan rezim Orde baru di bawah Soeharto.
Setiap orang Panampuang (atau yang pernah menetap, bermain di Panampuang, 
khususnya Pakan Kaluang) yang berusia di atas 20 tahun pasti memiliki kenangan 
tersendiri terhadap batang beringin tersebut. Secara pribadi ada satu hal yang 
sangat menarik bagi saya terkait dengan keberadaan Baringin Gadang tersebut. 
Ketika dulu sedang keluar main waktu sekolah, kami sering memanjat pohon 
tersebut untuk sekedar bermain atau bersembunyi sewaktu bermain mancik-mancik. 
Di sebelah barat batang beringin tersebut terdapat sebuah bangkai mobil yang 
sudah tinggal rangka chasisnya saja. Bangkai mobil yang ukurannya cukup besar 
itu sering menggangu pikiran saya. Mobil siapakah gerangan? Kenapa Bangkai 
mobil itu ada disana? Dan sejak kapan berada di sana?Bangkai mobil itu sebagian 
besar sudah dibalut akar batang beringin tampaknya mobil itu sudah sangat lama 
berada di situ.
Lebih dari 25 tahun -sampai awal tahun 2010 ini- saya masih belum tau siapa 
pemilik dan kenapa bangkai mobil itu berada disana. Sempat juga rasa ingin tahu 
tersebut hilang dalam pikiran saya ketika Beringin Gadang itu akhirnya tumbang 
dan tidak ada bekasnya lagi.
Akan tetapi, tiba-tiba rasa ingin tau tersebut terjawab ketika beberapa waktu 
yang lalu saya diberi buku Samudera Tak Berpantai: Kumpulan Catatan Berbagai. 
Buku yang ditulis oleh yang sangat terhormat Pak Tuo (begitu biasa saya 
panggil) Amir Syakur Alias Inyiak Aguang itu membangunkan pikiran saya pada 
suasana masa lalu. Bermain sambil memanjat batang beringin atau menonton 
pertandingan bola volly dari cabang dan dahannya agar dapat melihat dengan 
mudah orang-orang yang sedang bertanding sambil sesekali melihat dan memandangi 
rangka mobil tua di dekat pohon beringin tersebut.
Lalu, bagaimana sebenarnya cerita tentang mobil tua itu. Panjang ceritanya, 
cukup heroik kisahnya, bagaimana dan kenapa bangkai mobil tua itu ada di sana?
Pada tanggal 18 Desember 1948, Belanda melancarkan agresinya yang ke II dengan 
membom Kota Jogjakarta dan seterusnya menahan Presiden Soekarno dan Wakil 
Presiden Mohd. Hatta. Jogjakarta dapat diduduki, dua hari kemudian giliran 
Bukttinggi di bom oleh bala tentara Nica. Bukittinggi dibumihaguskan. Seluruh 
pejabat sipil dan militer menyingkir keluar kota. Tujuannya adalah Kamang, dan 
daerah lain disepanjang bukit barisan serta di lerang Gunung Merapi dan 
Singgalang. Namun demikian Kamang adalah tujuan utama karena sangat dekat 
dengan Koto Tinggi sebagai basis PDRI. Sehingga koordinasi berlangsung lebih 
mudah. Dalam perjalanan pengungsian tersebut, salah satu jalur yang ada dan 
mudah dilalui adalah rute Bukittinggi-Biaro-Lambah-Panampuang-Koto Baru-Salo 
dan Pintu Koto untuk seterusnya ke Rumah Tinggi atau Batu Baraguang di Kamang. 
Jalur tersebut tentu saja melewati Pakan Kaluang.
Malam-malam pengungsian tersebut, begitu banyak pejalan kaki, mobil, truk dan 
sebagainya berlalu lalang melewati jalur tersebut. Pada satu malam, ada satu 
truk besar bermuatan penuh beras sahingga kelebihan kapasitas melewati Pakan 
Kaluang. Mobil itu merupakan perbekalan logistik tentara untuk dikirim ke 
Kamang. Apa daya, karena kelebihan muatan, mobil itu mogok di Surau Lauik (350m 
sebelum Pakan Kaluang). Mujur bagi sopir truk, mobil itu mogok tidak jauh dari 
rumah orang tua Inyiak Maisir Thaib", seorang pegawai Jawatan/Kantor/Badan 
Penerangan RI di Bukittinggi. Beliau dinal luas di kalangan perjuangan. Beliau 
dengan keluarga sudah terlebih dahulu tiba dari Bukittinggi. Karena mobil sarat 
muatan itu mogok, sang sopir lalu mencari tempat dan orang untuk menitipkan dan 
menyimpan beras logistik untuk tentara tersebut. Dengan bantuan Inyiak Maisir 
Thaib beras itu dibongkar dan disimpan di Surau Lauik. Hanya sebagian kecil 
saja beras itu yang sampai ke Kamang karena sebagian dimanfaatkan oleh 
masyarakat di Panampuang.
Nasib mobil tua lebih tragis, mobil tersebut tidak bisa diperbaiki. Karena 
takut menghambat gerak laju pengungsi yang hendak ke Kamang, dan guna 
menghindari kecurigaan tentara Belanda, mobil tersebut lalu di dorong ke arah 
Pakan Kaluang. Tujuannya tentu untuk dapat menyembunyikannya dari pandangan 
tentara Belanda yang berpatroli dan menggempur gerilyawan yang melarikan diri 
ke Kamang. Bila sampai di ketahui tentara Belanda, tentu sangat celaka bagi 
masyarakat di sekitar Pakan Kaluang khususnya dan Panampuang pada umumnya. 
Tempat yang paling tepat untuk menyembunyikan truk besar tersebut adalah di 
balik batang pohon Baringin.
Beramai-ramai truk di dorong ke sana sehingga tidak diketahui oleh tentara 
Belanda. Tidak hanya itu rumput yang tumbuh serta akar Batang beringin yang 
semakin lama semakin panjang terus menutupi bangkai truk tersebut sehinggga 
hampir tidak terlihat dan jadi terlupakan. Lama kelamaan, orang Panampuangpun 
jadi lupa, bahwa dibalik pohon beringin itu ada sebuah bangkai truck. Bangkai 
truck itu tetap berada di sana, (mungkin) sampai beringin itu akhirnya runtuh. 
Kemudian dijual jadi besi bekas atau diambil oleh penjual besi bekas yang 
masuak kampuang kalua kampuang. Akhirnya truk yang berperan penting dalam 
perjuangan kemerdekaan itu hilang lenyap. Bersamaan dengan itu cerit tentang 
truck itupun semakin tidak jelas dan bahkan sudah dilupakan orang.
Karena sudah banyak yang lupa, orang yang mengetahui keberadaaan truk itupun 
semakin sedikit. Sampai akhirnya, ketika ada yang melihat bangkai sebuah truk 
seperti yang dialami oleh penulis, tak ada yang tau jawabannya. Syukurlah, buku 
yang saya kemukakan di atas memberi saya jawabannya. Akhirnya, lewat tulisan 
ini saya ingin berbagi cerita diantara banyak cerita tentang Baringin Gdang di 
Pakan Kaluang ataupun Nagari Panampuang di masa lalu.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: Wempi Satria <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 22 Nov 2010 12:54:29 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [...@ntau-net] Ajo jo Anduang alah mulai ilang di Piaman

Salam,

kalau di keluarga urang rumah ambo nan urang piaman, kamanakan ba ante ka
nan padusi, ka nan laki-laki e lai ba mamak.
cucu mamanggia 'iyek' karano dulu e teloh jadi talonsoang sampai kini, nan
padusi e dipanggia nenek.

kalau nan di ambo rang pikumbuah, kamanakan lai ba mamak. cucu ba ungku, nan
padusi ba nenek.

kalau anak, baiak dari ambo atau dari rang rumah ambo, kasado alah e ba mama
ba papa.
tamasuak anak ambo... tetangga ambo pun disiko mamanggia kami mama jo papa
loh... tapi disambuang jo namo anak... misal e "mau kemana mama joni,
pagi-pagi dah rapi?" haha...

-- 
http://wempi.nokspi.com
28/MDN

2010/11/22 Muhammad Dafiq Saib <[email protected]>

> Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
>
> Memang iyo, katiko ambo ketek-ketek di kampuang, buliah dikecek-an indak
> ado awak maimbau urang nan tuo pado awak jo panggilan bukan bahaso Minang.
> Generasi apak jo amak awak nan padusi, indak ado nan awak imbau tante doh.
> Ado nan mak tuo, mak ngah, etek. Baitu pulo panggilan untuak mamak-mamak
> awak samisal mak gadang, mak tangah, mak etek, mak uncu atau pak etek, pak
> tangah, pak gadang pak uncu. Di ka sakampuang basa, urang padusi atau pun
> laki-laki diimbau jo panggilan sarupo itu. Pai awak ka lapau, ado lapau tek
> Nur, lapau tek Zizah. Atau lapau mak Tuah, mak Pakiah. Atau sate mak Kudun,
> sate mak Ajaik.
>
> Katiko awak baransua gadang, alah ado ba kamanakan. Barubahlah caro
> panggilan tu dek awak indak dapek manantuan surang. Ado kamanakan nan ba mak
> gadang ka ambo, tapi sangaik saketek. Nan labiah banyak, ba oom. Dek sarupo
> itu diaja apak jo amak no.
>
> Kini tibo di giliran cucu-cucu, kami aja maimbau kami inyiak jo nenek. Tapi
> di anak-anak indak ado nan amuah diimbau etek dek kamanakan no do.
>
> Ka baa jano awak.......
>
> Wassalamu'alaikum,
>
> Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
> Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
> Lahir : Zulqaidah 1370H,
> Jatibening - Bekasi
>
>
> *From:* Riri Mairizal Chaidir <[email protected]>
> *To:* Milis RantauNet <[email protected]>
> *Cc:*
> *Sent:* Monday, November 22, 2010 9:34:25 AM
>
> *Subject:* Re: [...@ntau-net] Ajo jo Anduang alah mulai ilang di Piaman
>
> Haha, batua tu Ajo. Harusnyo untuak masalah2 yang sifatnya pribadi dan
> hubungan kekeluargaan ndak usah mengikuti urang lain, apalagi sampai "go
> international".
>
> Jan sampai pulo beko mereka itu mamanggia sanaknyo pakai kato "Kamerad"
>
> Riri
>
>
>
>
>  --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~<http://groups.google.com/group/RantauNet/%7E>
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. E-mail besar dari 200KB;
> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke