Selesai melaksanakan ibadah di Padang Arafah, malamnya kita berangkat untuk 
mabid di Muzdhalifah. Memilih batu-batu kecil. Ibarat peluru yang dipersiapkan 
untuk dilemparkan pada Iblis di Jumratul Ula, Wustha dan Aqabah. Peristiwa ini 
menggambarkan dan mengulang kembali peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim A.S. 
Seperti terbaca dalam sebuah Firman SuciNya dalam Al-Qur'an.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim. 
Ibrahim berkata :" Wahai anakku, aku telah melihat dalam mimpiku, bahwa aku 
menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu." Ismael menjawab :"Wahai 
ayahku. laksanakanlah perintah Allah itu, ayah akan dapati aku sebagai orang 
yang sabar."(QS. 37:102).

Sebagai ayah sebetulnya Ibrahim berkuasa atas anaknya, tiada seorangpun yang 
bisa membantah atau melarang apa yang dilakukannya pada anaknya, dia berkuasa 
penuh, mau dihitamkan atau diputihkan terserah dia. Sebagai Rasul dan nabi 
Ibrahim harus segera menjalankan perintah Allah. Apalagi dia jelas menerima 
wahyu dan perintah dari Allah untuk menyembelih anaknya sebagai korban, namun 
dia tetap meminta kepada anak-nya, menyuruh fikirkan dan berdialog. Tidak 
terlihat sedikitpun dalam peristiwa itu unsur pemaksaan dan tak terlihat 
sedikitpun bahwa Ibrahim memperlihatkan kekuasaannya sebagai ayah serta dia mau 
menjalankan perintah semaunya sendiri. Dia bermusyawarah, diajaknya anaknya 
yang terkena akibat perintah itu untuk mencari jalan dan ikut memutuskan.

Dalam ayat ini menggambarkan kepemimpinan Nabi Ibrahim, sewaktu dapat wahyu 
dari Allah SWT yang memerintahkan beliau agar menyembelih anak kandungnya 
Ismael as. Ibrahim menyampaikan wahyu Allah itu kepada Ismael, dengan cara yang 
sangat mengharukan.

Ibrahim ternyata menanyakan dulu pendapat anaknya, Ismael. disertai nasehat 
agar Ismael memikirkan sendiri, makna perintah Allah itu. Baru sesudah itu 
perintah itu terlaksana berdasarkan keputusan bersama antara sang ayah dan sang 
anak. Bukan semata-mata keputusan ...
sang ayah, yang dalam hal ini bertindak sebagai atasan atau pimpinan.

Cara Ibrahim ini dalan manajemen modern ternyata sangat menentukan keberhasilan 
setiap pemimpin, karena anak buah merasakan bertanggung jawab dalam 
melaksanakan tugas yang dibebankan, sehingga komitmen mereka semakin tinggi dan 
motivasi merekapun akan sangat tinggi. Dengan demikian setiap orang akan 
memberikan partisipasinya dalam menjalankan setiap keputusan.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke