Assalamu'alaikum wr.wb.

Tanda-Tanda Dari Hewan Jika Akan Terjadi Bencana Alam

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Oleh : Sondra Akhmadi

 Dari URL Link :
http://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=168298766535408&id=100000619462481

Hewan-hewan lebih dekat dengan alam daripada kebanyakan manusia. Alam
merupakan tempat tinggal para hewan sejak awal mereka ada di bumi.
Bahkan bila hewan dijadikan binatang peliharaan dan tinggal di rumah
bersama-sama manusia, insting hewan tak berkurang. Mereka masih
memiliki koneksi erat dengan alam.

Seperti yang sudah sering kita saksikan dan hadapi, banyak sekali
bencana alam terjadi belakangan ini. Bahkan bisa lebih banyak lagi
akibat kerusakan-kerusakan yang dibuat sendiri oleh manusia. Banjir,
tanah longsor, gempa bumi, tsunami, badai, topan semuanya memakan
banyak korban jiwa dan materi. Pengalaman membuktikan bahwa
hewan-hewan dapat mendeteksi dini bencana alam dan membuat mereka
selamat dari bencana. Kita sebagai manusia dapat memperhatikan
hubungan erat antara hewan dengan alam yang nantinyapun akan dapat
membantu kita mengurangi resiko dari bencana alam, termasuk
kemungkinan menyelamatkan nyawa kita.



Disini saya akan membagikan berbagai pengalaman manusia (termasuk
pengalaman pribadi) di berbagai wilayah yang selamat dari bencana alam
dengan memperhatikan tanda atau petunjuk dari hewan-hewan pada kita
manusia.



IKAN LELE & GEMPA



Di Jakarta dan berbagai kota metropolitan di dunia, rumah di atas
tanah harganya jauh lebih mahal daripada tinggal di apartemen.
Sehingga banyak sekali penduduk yang memilih tinggal di apartemen
untuk efektivitas biaya. Apartemen yang dibangun bila kita amati
perkembangannya semakin tinggi struktur bangunannya. Untuk keamanan
dan kenyamanan para penghuni, manajemen apartemen biasanya mengadakan
latihan evakuasi, baik dari kebakaran atau gempa. Ini hal yang cukup
baik mengurangi resiko kecelakaan dan banyaknya korban. Bagi penghuni
apartemen di lantai atas, evakuasi memakan waktu cukup lama.

Bagi para penghuni apartemen, hal lain yang dapat dimanfaatkan adalah
dengan memelihara ikan lele. Sekelompok lele dipelihara dalam akuarium
kaca atau kolam dalam apartemen. Lele memikiki sensitifitas tinggi
terhadap pergerakan tanah termasuk gempa, bahkan walaupun lele
diletakkan di lantai tinggi apartemen. Di Jepang, sangat disarankan
bagi para penghuni partemen untuk memelihara ikan ini. Bila suatu
getaran dalam tanah terjadi dan membentuk gempa, maka lele-lele
peliharaan ini akan berkecipuk aktif dan mengibas-ibaskan air
akuarium/kolam. Sebelum berita gempa muncul di TV atau radio, penghuni
apartemen dapat bergegas melakukan evakuasi penyelamatan.



GAJAH & KRAKATAU



27 Agustus 1883 pulau gunung berapi Krakatau meletus. Gunung laut di
Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatera ini meletus dasyat
memberikan catatat terhebatnya di zaman modern. Lebih dari 36 ribu
jiwa tewas baik langsung atau tidak langsung akibat letusannya.



Sebuah cerita kecil menarik perhatian para peneliti. Kota Lampung di
Sumatra Bagian Selatan, yang bersebrangan dengan Krakatau. Seminggu
sebelum meletus, terdapat sebuah sirkus di Lampung.  Sirkus itu
memiliki gajah kecil. Tiba-tiba saja gajah kecil itu meraung-raung
berlarian kesana kemari dan susah dihentikan. Pawangnya dan
orang-orang sirkus sangat kesulitan menghentikan kenakalan si gajah.
Tak ada yang mengerti mengapa si gajah berlaku seperti itu. Lalu
seminggu setelah itu Krakatau meletus. Sepertinya si gajah kecil sudah
tahu terlebih dahulu akan letupan-letupan gunung dan sudah merasakan
getaran-getarannya sebelum letusan hebatnya terjadi.

GAJAH & TSUNAMI



26th Desember 2004, gempa berskala besar terjadi di laut Aceh. Beberpa
menit kemudian, gelombang tsunaminya melahap pantai-pantai Negara Asia
Tenggara. Tak ada yang pernah menyangka akan kejadiaan ini sebelumnya.
Layaknya kisah dalam kitab suci, banjir di zaman Nuh, tsunami ini
menewaskan ratusan ribu orang dan kerugian material yang tak
terhitung.



Satu pulau kecil di Thailand. Seorang gadis cilik berlibur bersama
keluarganya. Sudah beberapa kali ia mengunjungi pulau itu. Setiap
kunjungannya ia selalu menyempatkan berjalan-jalan dengan mengendarai
gajah. Gajah yang ia kendarai juga selalu gajah yang sama. Pagi itu,
bersama pawang gajah, gadis cilik menegendarai gajah di pinggir
pantai. Sedang asiknya mereka menikmati pemandangan alam dan semilir
angin pantai di atas punggung gajah, tiba-tiba saja si gajah berlari
cepat, seperti ketakutan. Kontan si gadis menjerit. Si gajah tak
mempedulikan dan terus berlari. Pawannyapun ikut mengejar gajahnya.
Gajah berlari dan membawa si gadis cilik sampai sebuah bukit. Di atas
bukit, si gadis cilik, pawang dan gajah menatap kaku. Ombak sangat
besar melahap pantai tempat mereka jalan-jalan. Mereka sangat
bersyukur dan tambah menyayangi si gajah. Bila gajah tak berlari, maka
mereka bertiga pasti tewas menjadi korban tsunami.



ANJING & BADAI



Ini merupakan riset oleh seorang pengamat hewan peliharaan di Amerika.
Perhatikan berita atau pengumuman kehilangan hewan di Koran. Rata-rata
tiap hari hanya 5% pemilik kehilangan anjing peliharaan mereka. Bila
tiba-tiba berita atau pengumuman kehilangan ini melonjak hingga
20-30%, dipastikan akan datang sebuah bencana alam dalam waktu satu
hingga tiga hari ke depan. Sepertinya anjing-anjing itu sudah tahu
sebelumnya, kemudian kabur dari pemiliknya untuk menyelamatkan diri.



LUMBA-LUMBA & TSUNAMI

Sekelompok turis tiba di sebuah pulau kecil di Thailand. Mereka
menyewa satu perahu dan pelatih professional scuba

diving tuk berenang di perairan laut pulau tersebut. Mereka berangkat
dini hari. Di atas kapal mereka baru saja bersiap-siap dengan
peralatan renang mereka dan akan menyeburkan diri menyelam di laut.
Namun, tiba-tiba sekelompok lumba-lumba datang ke perahu. Awalnya
mereka senang melihat kehadiran lumba-lumba ini. Namun, para penyelam
ini menyadari keanehan pada lumba-lumba.  Sepertinya lumba-lumba
teriak-teriak mengeluarkan suaranya dan loncat-loncat ingin
diperhatikan. Salah satu penyelam menangkap tanda ini dan sepertinya
lumba-lumba ingin diikuti ke arah mana mereka berenang. Mereka tak
jadi menyelam tapi langsung mengarahkan kapal mengikuti lumba-lumba
tersebut. Ternyata mereka menjauhi  pantai menuju laut yang lebih
jauh. Baru mereka sadari beberapa jam setelah itu mereka kembali ke
pulau mereka menginap dan melihat pantai dan hotel-hotel telah habis
oleh tsunami yang terjadi tahun 2006 itu.



CAPUNG & BANJIR



Perhatikan hewan ini di sekitar tempat tinggal kita, terutama
jumlahnya. Biasanya capung terbang disekitar kita sedikit dan jarang.
Agak berbeda bila tempat tinggal kita dekat dengan sungai atau danau,
mereka sering terbang ke sekeliling rumah dan berkelompok. Bila
tiba-tiba mereka terbang sekeliling area tempat tinggal kita dalam
jumlah banyak atau sangat banyak, maka mereka menandakan air akan
naik.

Bisa air laut naik atau air sungai meluap naik dan efeknya adalah : banjir.













BURUNG & PETUNJUK-PETUNJUK MEREKA



Burung-burung memberikan  banyak tanda pada manusia. Mereka menjadi
sahabat dan penyelamat manusia tak hanya dalam hal bencana alam skala
besar, tapi juga mengenai hal-hal kecil dalam kehidupan. Saya
memperhatikan kehadiran burung dan siulan mereka dalam keseharian.
Menyadari bahwa burung-burung adalah penyelamat jiwa manusia dan
pemberi petunjuk banyak hal, maka sebaiknya kita tak berburu dan
membunuh burung. Kehadiran mereka di alam, termasuk di lingkungan
tempat kita di perkotaan, menjadi alarm terbaik bagi kita manusia.



Tanda-tanda dari para  burung :

    * 19 Oktober 1987 tragedi Bintaro. Kecelakaan tragis antara dua
kereta berlokasi di Bintaro. Tabrakan dua kereta ini menewaskan 130an
orang. Sepupu saya berada di salah satu kereta tersebut. Ia selamat
tanpa terluka sedikitpun. Dan sebuah kenangan yang tak akan ia
lupakan, dituturkan pada siapapun yang bertanya padanya tentang
kecelakaan kereta tersebut. Sebelum kecelakaan, sepupu saya berada di
gerbong ketiga sebelum gerbong terakhir kereta. Keretannya meluncur
dari Tanah Abang menuju Bintaro. Saat itu ia agak mengantuk. Tiba2 ia
mendengar orang-orang berteriak, “Hai-hai, lihat! Burung bagus…cantik
sekali”. Semua penumpang di gerbong menatap seekor burung cantik
berwarna-warni yang entah dari mana ia datang. Burung cantik itu
berkeliaran di dalam gerbong. Dan terbang ke gerbong berikutnya. Entah
bagaimana banyak sekali penumpang karena terpana melihat cantiknya
burung itu, mereka mengikuti burung itu. Dan tak sadar mereka semua
sudah sampai gerbong paling belakang. Barulah para penumpang
dikagetkan oleh bunyi tabrakan kereta dan goncangan besar. Gerbong
terakhir tak terguling. Sepupu saya dan para penumpang lainnya di
gerbong tersebut berusaha keluar dari kereta kemudian melihat kereta
yang mereka naiki tabrakan dengan kereta yang berlawanan arah. Sepupu
saya bersyukur, bila ia dan penumpang lainnya tidak mengikuti burung
cantik itu, maka mereka bisa saja jadi korban. Tiga belas tahun
kemudian, dalam sebuah kegiatan, saya berkenalan dengan seseorang
baik. Usianya jauh di atas saya. Karena kami akrab maka saya
menganggapnya sebagai paman saya sendiri. Entah bagaimana, tiba-tiba
dalam sebuah percakapan antara saya dan paman baru saya ini, ia
bercerita pernah diselamatkan oleh seekor burung. Saya bertanya, di
mana dan kapan terjadinya. Ternyata, paman saya ini merupakan salah
satu penumpang yang selamat dari tragedi Bintaro, karena mengikuti
seekor burung cantik. Paman baru saya dan sepupu saya berada di
gerbong yang sama, gerbong terakhir kereta dan mereka selamat.



    *  27 Maret 2009 bencana runtuhnya waduk Situ Gintung di
Tangerang, Banten. Situ Gintung merupakan waduk buatan sebagai
penampungan air hujan dan pengairan sawah. Dibangun tahun 1932-1933,
dengan luas 31 ha. Sejak 1970an, fungsi waduk berkembang menjadi
tempat wisata alam dengan dibangunnya restoran, kolam renang dan
tempat outbond. Lokasi tempat tinggal saya sangat jauh dari Situ
Gintung, beda provinsi. Saya tinggal di Jakarta Timur. Seminggu
sebelum bencana, seekor burung selalu muncul di malam hari dan
bersiul-siul di area perumahan kami. Ia muncul terus di malam atau
tengah malam selama satu minggu. Saya dan keluarga sangat heran.
Berita apa lagi yang di bawa si burung pada kami. Salah satu tetangga
kami juga menyadari kehadiran si burung, namun kami semua hanya
menunggu akan terjadinya sesuatu. Kami mulai mengawasi berita di TV
dan radio. Hingga seminggu kemudian pagi harinya sebelum kerja, berita
mengejutkan muncul. Waduk Situ Gintung pukul 4 pagi runtuh dan melahap
wilayah sekitarnya. Korban tewas sedikitnya 99 orang. Air waduk
sebanyak 2,1 juta meter kubik jebol dari dinding waduk dan melibas
apapun di bawahnya termasuk perumahan, pabrik makanan, sekolah dan
bangunan-bangunan lain. Tak ada yang mengira waduk yang dikira kokoh,
ternyata bisa jebol dan memakan banyak korban. Sejak itu, sepertinya
pemerintah berusaha mengecek dan membenahi waduk-waduk lainnya agar
bencana seperti ini tak terulang lagi.

    * Gempa Tasikmalaya 2 September 2009. Seperti yang saya terangkan
sebelumnya bahwa tempat tinggal saya di Jakarta Timur, berarti jauh
sekali dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Sebulan sebelum bencana
tanda-tanda alam sudah muncul. Salah satunya seekor burung yang datang
di area perumahan kami. Ia datang tiap beberapa hari sekali, tidak
tiap hari sekali. Bisa sore hari, malam dan tengah malam. Kami
memperhatikan kehadiran si burung. Pasti ia sedang memberi tanda.
Sampai dua minggu tak ada berita apapun di TV. Hal penting lain yang
menjadi perhatian kami adalah awan gempa! Saya berkeliling Jawa Barat.
Awan garis garis lurus vertikal maupun horizontal sudah ada beberapa
bulan sebelumnya. Mendekati hari gempa, awan-awan ini semakin banyak
muncul. Setiap muncul awan ini di hadapan saya, saya selalu mengambil
gambarnya dengan kamera handphone.
    * Ada hal lain yang juga mendapat perhatian saya. Hampir tiap
keluarga di lingkungan tempat tinggal saya, anak kecil atau bayi
mereka sakit. Entah demam atau flu. Saya menyelidiki lebih jauh pada
teman-teman saya yang tinggal berbeda lokasi dan sangat jauh lokasinya
dari saya. Ternyata hampir semua teman saya di Jawa dan  Bali yang
memiliki anak kecil atau bayi, anak-anak ini terkena demam (demam
berdarah, tifus), flu atau batuk. Sangat heran akan hal ini, maka kami
sekeluarga agak waspada. Mulai kami membicarakan dengan tetangga yang
bisa paham dengan hal ini. Mereka juga yakin akan terjadi sesuatu dari
beberapa tanda alam ini. Total 1 bulan sejak kehadiran awal si burung,
barulah gempa bumi hebat terjadi di laut dekat Tasikmalaya (kota di
atas gunung) dan getaran gempa dirasakan di seluruh pulau Jawa dan
Bali. Gempa bersekala besar 7.2 SR ini memakan korban 60an tewas di
Jawa Barat. Tercatat puluhan orang masih terkubur di bawah longsoran
perbukitan di daerah Cianjur akibat getaran gempa yang cukup besar
itu.



Hal lain terjadi pada saudara saya. Kantornya berada di Bekasi, Jawa
Barat. Sekitar 90 menit perjalanan dari Jakarta Timur. Sepuluh menit
sebelum gempa Tasikmalaya, sepasang burung gereja masuk kantornya.
Sepertinya burung-burung kecil itu kehilangan daya navigasi karena
mereka menabrak-nabrak dinding dan kaca kantor. Bersama rekannya,
saudara saya mengeluarkan kedua burung itu. Tak lama dari itu mereka
merasakan guncangan gempa. Ternyata, gempa dapat mengakibatkan
magnetic bumi bumi berubah dan membuat para burung kehilangan daya
navigasi sehingga burung-burung itu terbang kehilangan arah.



Kebanyakan dari kita berpikir bagaimana mengetahui petunjuk
hewan-hewan ini, sedangkan kita tak kenal bahasa mereka. Para burung,
gajah, lumba-lumba dan hewan-hewan lain, memberi petunjuk pada kita
dengan caranya masing-masing. Bahasa pasti tak sama, namun maksudnya
dapat kita pahami. Hukum alam mengatakan : bila kita memperhatikan
sesuatu hal, pasti hal tersebut akan balik memperhatikan kita. Maka
bila kita mulai memperhatikan keberadaan hewan-hewan di sekitar kita,
energi kita, perhatian kita, cinta kita, pada mereka akan mereka
terima. Secara alamiah, mereka terkoneksi dengan kita. Maka
siap-siaplah kita tuk mendapatkan sesuatu dari mereka, kapanpun mereka
bisa datang bersama petunjuk-petunjuknya.



Belajar dari pengalaman-pengalaman di atas, kita patut menyadari bahwa
sebagai manusia kita tak dapat memutuskan hubungan dengan alam. Tak
cukup hanya berhubungan dengan sesama manusia. Manusia hanya bagian
kecil dari alam. Hewan-hewan, tumbuhan, tanah, air, sungai, laut,
awan, gunung-gunung semua bagian alam, bagian dari diri kita, rantai
ekosistem yang penting, rantai keseimbangan kehidupan di bumi. Rasa
saling peduli dan cinta dapat kita berikan pada semua bagian-bagian
alam ini.

Hormat saya

Muhammad Syahreza

HP : 0811 193 646 / 0817 169 015

Blog bisnis : http://ohiofreshyoghurt.wordpress.com

Setiap pengusaha
sekecil apapun kita
semuda apapun kita
dapat membuat Indonesia menjadi lebih baik!

Mulailah dari diri kita sendiri, jika setiap kita menjadi lebih baik,
maka Indonesia pasti menjadi lebih baik!

Kunjungi Sumbar online di :

www.west-sumatra.com
www.mentawaiislands.com
www.newsikuaiisland.com
www.visitminangkabau.com
www.aloitaresort.com/diving
www.cimbuak.net

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke