Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,

Adidunsanak lapau yang mulia,

 

Saya senang sekali menulis

Kalo tau menulis itu sesenang sekarang mungkin sejak dari pandai menulis
saya akan selalu menulis jika ada waktu yang terluang

 

Terima kasih kepada RN yang memberi kesempatan atas kesenangan ini, pahala
dan keberkahan hidup untuk semua pengelolanya mudah-mudahan Allah
perkenankan, Amin. Saya hanya bisa berkirim do'a sebab belum bisa berkirim
materi untuk kelancaran RN. Semoga pengelola RN selalu bahagia, mudah rezeki
dan dalam lindunganNya selalu. 

 

Sebuah tulisan untuk mengenang masa-masa memakai sejenis penutup kepala yang
terbuat dari kain yang berbentuk empat persegi panjang yang sekarang sudah
mulai langka dipakaikan wanita terutama wanita Minang.

 

Lilik

By : Ritrina

 

"Panjang sekali jilbab ini," pikir si Upik. Bagaimana cara memasangnya? Mana
besok dah mau sekolah pake jilbab persegi panjang ini lagi. Si Upik kecil
yang kebingungan melihat dua lembar jilbab persegi panjang itu. Sebab selama
ini dia hanya tau jilbab itu kain segiempat bujursangkar yang dilipat
menyilang trus disarungkan kekepala. Semat sana sini dengan peniti dan jarum
pentul jadilah Upik kecil dengan jilbabnya yang selalu dipakainya pergi
mengaji ketika masih SD. 

 

Sekarang Upik sudah tamat SD dan keinginannya ingin masuk sekolah yang sama
dengan Abangnya. Sekolah itu namanya MTsN sebuah sekolah menengah pertama
yang terletak lumayan jauh dari tempat tinggal si Upik. Walaupun begitu dia
dengan senang hati menjalani akan bersekolah disana sebab ada Abang dan Uni
sepupunya yang juga bersekolah disana. Ntar kalo ada apa-apa kan bisa minta
tolong, trus kalo berangkat sekolah juga bisa bareng-bareng. Yang lebih
menguntungkan lagi adalah buku-bukunya kan bisa diwariskan sebab
pelajarannya pastinya akan sama.

 

Upik kecil masih bingung bagaimana memakaikan kain persegi panjang itu ke
kepalanya. Akhirnya dia panggil-panggil Mamanya, Mamanya yang kaget
dipanggil-panggil buru-buru datang ke kamarnya. Kawan, inilah kebiasaan
buruk si Upik yang susah untuk dirubahnya, seharusnya kan datang baik-baik
ke Mama kita trus baru minta bantu atau minta sesuatu bukan teriak-teriak
panggil Mama datang ke kita. It so..so..bad habbit ya..jangan ditiru ya.
Itulah Mama, saking sayang ama anak bungsunya yang manis ini (haha..jangan
ada yang protes ya.. kan Mamaku yang bilang.J) Mama buru-buru datang ke
kamar Upik. 

"Apo Nak Kanduang," tanya Mamaku. 

"Ini Ma, jilbab ini makainya gimana?," tanyaku bingung.

"Pergi ke tempat Ni Yossi saja," kata Mamaku menyarankan.

Ohya Kawan, Ni Yossi adalah Uni sepupuku yang tinggal dekat rumahku yang
tadi udah kuterangkan jika dia juga sudah sekolah di MTsN yang akan kumasuki
hari pertamanya dikeesokan harinya. Dengan semangat membara langsung kuambil
kantong plastik asoy tipis lalu kumasukkan jilbab persegi panjang itu.
Sesampainya di rumah Uniku itu, sambil senyum geli setelah kuterangkan
kesulitanku, dia ajarkan bagaimana memasang jilbab persegi panjang itu
dengan benar yang ternyata namanya adalah Lilik.

 

Selama 3 tahun bersekolah di MTsN aku memakai Lilik untuk pergi sekolah.
Kain persegi panjang ini selalu menyertai hari-hariku ke sekolah selain hari
Jumat dan Sabtu dimana kami memakai jilbab coklat dengan baju panjang
pramuka yang mirip dengan baju kurung Minang. Lilik ini dipakaikan bersama
baju kurung putih dan rok panjang blueblack alias biru dongker. Kain itu
dililitkan ke kepala sebanyak dua kali terus dirapikan pinggir kedua lilitan
kain ini dikening lalu disematkan di samping kanan wajah sehingga rapi
membingkai muka si Upik kecil untuk siap pergi sekolah. Walaupun Upik
berbaju kurung dan berlilik, tidak menutup ke bisaan dia untuk manjat pagar
sekolah bila terlambat. Haha.Dasar Upik..Upik.

 

Seiring berjalannya waktu Upik kecil tidak lagi kecil, dia sudah tau kalo
Lilik yang biasanya dia pakai sewaktu MTs dulu nama kebesarannya adalah
Mudhawarah.  Di zaman Mamanya dulu si Mudhawarah ini jadi mimpi-mimpi bagi
pemuda yang mengincar anak-anak gadis yang memakai Mudhawarah di setiap
kesempatan. Upik juga tau bila tokoh-tokoh wanita Minangkabau dahulunya juga
menggunakan Mudhawarah ini sampai masa tua mereka.  Salah satunya Prof DR
Zakiah Darajat yang sering tampil sebagai menjadi pembicara di acara TVRI
waktu dulu. Mama Upik suka sekali melihat penampilan beliau dengan
Mudhawarahnya yang rapi. Sehingga Mama pernah membelikan sebuah Mudhawarah
sewaktu Upik kuliah yang harganya bagi Upik kelewat mahal. 

 

Mudhawarah alias lilik ini selain dipakai oleh murid-murid sekolah agama
Islam seperti MTsN juga sangat identik dengan sebuah pesantren di Kota
Padang Panjang Sumbar yaitu Diniyah Putri Padang Panjang. Sayangnya Upik
tidak bersekolah disana sebab Mama ga mau pisah dengan Upik kecilnya. Jadi
Upik tetap bersekolah di kotanya yang mana sekolahnya masih berada didekat
rumahnya. Entah karena pesantren Diniyah Putri yang terkenal dengan
penampilan santriwati mereka yng memakai Mudhawarah, maka Mudhawarah buatan
Kota Padang Panjang sangat terkenal kwalitas buatannya. Kainnya yang halus
dengan sulaman tangan yang halus dan rapi, membuat harga mudhawarah asal
Padang Panjang ini menjadi sangat mahal. 

 

Di saat Upik sekolah sampai dengan kuliah, Mudhawarah dari Kota Padang
Panjang yang lazim dipakai adalah kain halus putih dan lembut yang disulam
serangkai bunga mawar di salah satu sudut kain ini. Diameter bunganya itu
kira-kira sejengkal lebih. Bila yang memakai Mudhawarah ini ada di
pusat-pusat perbelanjaan baik kota Bukittinggi atau Padang Panjang, orang
akan menyangka mereka adalah salah satu santriwati di Diniyah Putri. 

 

Upik kembali memakai mudhawarah ini setelah dia kuliah di salah satu
perguruan tinggi di Kota Padang. Semua Mahasiswi diwajibkan untuk memakai
Mudhawarah ketika mengikuti ujian semester. Pakaian ala gadis Minangkabau
jadul yaitu stelan dengan rok atau kami sebut kodek kain panjang  motif
kacang goreng warna coklat muda dipadu dengan baju kurung putih bersih dan
lilitan Mudhawarah. Perasaanku suasana di ujian semester di Kampus dulu
seperti hidup di jaman silam. Seperti yang kulihat di foto-foto lama koleksi
Mama atau Papa, dimana mereka berpakain serba putih untuk bersekolah.
Seperti halnya Mahasiswanya yang berpakain stelan celana dasar putih dan
kemeja putih. Beberapa kawan cowok malah ada yang memakai peci hitam. Kadang
ku berpikir, apa karena peraturan ini sudah ada sejak zaman dahulu kala di
Kampus ini dan pengurusnya lupa untuk up date aturan ini. Ataukah mereka
ingin melestarikan Mudhawarah atau Lilik ini sebagai identitas wanita
Muslimah Minangkabau? Mudah-mudahan alasannya yang terakhir ini.

 

Di saat ini di tanah rantauku ini, aku belum pernah melihat wanita muslimah
yang memakai Mudhawarah yang anggun itu. Oh pernah ding..2 tahun yang lalu,
ketika buka bersama dengan Uni Siti Putrajaya, salah seorang warga Cimbuak
berkebangsaan Malaysia. Beliau memakai Mudhawarah ini, saya ingat sekali
waktu itu berjumpa untuk berbuka bersama di salah satu rumah makan padang di
kota rantauku ini. Nah Kawan..apakah sang Mudahwarah akan hilang dari Bumi
Minangkabau tercinta? Siapa yang berani menjawab????

 

 

Batam,  Dec 02nd,2010

Ritrina

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke