”Sekarang 
tak  pernah lagi ditemukan sesajen nasi kunyit dengan telur ayam  di 
bawah  pohon beringin. Bahkan sudah banyak pohon beringin ditebang dan 
dibakar bersama ’penjaganya’  yang dulu ditakuti itu,”

subhanallah, semoga beliau senantiasa diberi kekuatan untuk melanjutkan 
dakwahnya.

wassalam,
harman st.idris

http://majalah.hidayatullah.com/?p=1981
Dai Tangguh di Kaki Gunung Singgalang
Posted by admin in  Serial Dai on  11 29th, 2010 |  no responses
                        



Pengunungan SinggalangDakwah
 tak kenal kata pensiun. Meski rambutnya telah memutih, namun ghirahnya 
tidak pernah padam. Beratnya medan dakwah tak menghentikan gelora 
dakwahnya.
Senja mulai temaram saat Buya Imam menyusuri jalan setapak menuju 
Dusun Aro, untuk mengisi pengajian di Surau Al-Abrar yang terletak di 
pinggir hutan. Tiba-tiba dari arah semak belukar keluar segerombolan 
babi hutan yang menghadang perjalanannya. Dua di antaranya bahkan sudah 
bertaring. 
Konon cerita  orang-orang tua, jika bertemu babi bertaring, segeralah
  mengambil langkah seribu, berlari secepatnya dengan berbelok-belok 
atau  segera memanjat batang kayu. Tetapi itu tak mungkin lagi dilakukan
 Buya Imam. Jarak dia dan  gerombolan babi hutan  sudah terlanjur dekat.
 Keduanya  hanya terpisahkan sekitar lima meter saja. ”Yang  saya 
lakukan saat itu hanyalah memohon pertolongan Allah Subhanahu wa 
Ta’ala,” kenang Imam.
Sesaat kemudian salah satu babi yang bertaring mulai mengambil 
ancang-ancang menyerang dengan merenggangkan dan merendahkan tubuhnya.  
 Buya Imam sudah  bertekad, jika babi besar itu menyerang, ia  akan  
melawan dengan seluruh  kemampuan. Ia terus memperkukuh keikhlasan di 
hati, apapun yang akan Allah takdirkan atas dirinya.  Tetapi  sejurus 
kemudian sang babi  berbalik  memutar tubuhnya. Seakan   dikomandokan,  
gerombolan babi hutan itu berlarian  masuk hutan. Imam menarik nafas 
panjang. ”Alhamdulillah,” ucapnya berulangkali.
Tak hanya  dihadang kawanan babi hutan. Suatu malam yang diterangi 
cahaya bulan, Buya Imam yang baru pulang dari  mengisi pengajian di 
Surau Kayu Ponton, samar-samar  melihat seekor harimau yang turun dari 
kaki bukit, namun jaraknya masih cukup jauh dari sisi jalan kampung yang
 akan dilalui Imam. Karena itu, ia menunggu saja  sampai harimau itu 
menyeberang jalan  menuju hutan lebat  di kaki Gunung Singgalang. 
Anehnya, harimau itu malah berbalik ke atas bukit. Dengan satu lompatan, tubuh 
harimau itu hilang ditelan  semak belukar.
”Dihadang  binatang buas, terkepung longsor, dan hujan deras,  sudah 
menjadi bagian dari perjalanan dakwah. Yang penting kita tidak takabur 
dan senantiasa berserah diri kepada Allah yang Maha penolong ,” tutur   
Buya Imam saat dijumpai majalah ini menjelang sore di kediamannya di 
Dusun Aia Rukam,  Nagari Matua Mudiak, Sumatera Barat beberapa waktu 
lalu.
Pertolongan Allah yang tak terduga,  tak hanya dirasakan  Buya Imam 
ketika kepergok binatang buas. Pernah saat  di perjalanan,  hujan turun 
sangat lebat. Biasanya kalau sudah begini, tebing-tebing di sisi jalan 
sering longsor. Bila tidak cepat meninggalkan lokasi, bisa turut 
tertimbun hidup-hidup.  Tetapi berulang kali pula  secara tak terduga 
Buya Imam mendapat pertolongan Allah. ”Sering saya alami, di tengah 
perjalanan  tiba-tiba saja  ada  pengendara sepeda motor berhenti 
meminta saya naik diboncengkan hingga ke tempat pengajian. Padahal, saya
 sama sekali  tak mengenalnya,” tutur Buya Imam.
Masih Berjalan Kaki

Empat puluh tahun silam,  Imam  berjalan kaki mendampingi Imral, murid 
mengajinya   saat bermusabaqah. Kini, bekas muridnya itu sudah memasuki 
pensiun. Namun, Buya  Imam  tetap seperti yang dulu. Dai yang satu ini 
masih  berjalan kaki dalam menebar dakwah dari kampung ke kampung. 
Walaupun Buya Imam belum juga menerima bantuan rutin, namun semangat 
dakwah Buya Imam  tak pernah padam. Padahal, Pemerintah Provinsi 
Sumatera Barat telah mengucurkan Tunjangan Khusus Ulama Nagari sejak 
2009. 
Di tengah kelangkaan ulama,  Buya Imam  terus  berperan sebagai dai  
full time. Hari-harinya  habis  untuk berdakwah, mengisi jadwal khutbah 
Jumat hingga  melatih penyelenggaraan jenazah secara gratis. ”Karena 
nyaris tak punya waktu lagi,  belakangan ini tugas mengajar  di madrasah
 saya serahkan ke guru bantu,” jelas Buya Imam.  
Selain kelompok pengajian, Buya Imam juga melakukan terobosan dakwah.
 Belakangan ini, ia gencar  menggarap terbentuknya  kelompok pengajian 
di kalangan    kaum (suku). ”Ini penting agar dakwah juga sampai pada 
pemangku adat dan anak keponakan anggota kaum,” jelasnya.
Sayangnya, dakwah di kalangan kaum   tidak  mudah. Saat ini, 
pengajian rutin baru  berhasil dibentuk di kaum adat Suku Sikumbang. 
Dulu pernah terbentuk di Suku Caniago, tapi kemudian bubar begitu saja.
Merintis Pengajian

Buya Imam,  begitu  sapaan  orang kampung padanya. Nama lengkapnya 
Syamsudin Imam Rajo Alam. Imam adalah gelar yang dinobatkan masyarakat  
kaumnya  karena  dinilai telah memenuhi syarat  sebagai urang siak  yang
 terus mengelorakan dakwah.  
Di kaki Gunung Singgalang,  kawasan dataran tingggi Agam  ini,  Buya 
Imam  masih terus berdakwah. Usia yang hampir berkepala tujuh, ketiadaan
 fasilitas  dan beratnya medan dakwah tidak mengendorkan semangatnya.
Bapak  dari lima anak ini merintis kelompok pengajian  di 
kampung-kampung berawal  dari satu-dua jamaah saja. Kini,  kelompok 
pengajian  binaannya sudah mencapai belasan, tersebar dari desa-desa  
yang ada di Nagari Matua Mudiak  hingga ke Matua Hilia dan Lawang 
Tigobalai. ”Alhamdulillah,  di Nagari Matua Hilia beberapa waktu 
belakangan juga sudah  terbentuk lima majelis taklim dengan  anggota 
lebih seratus orang. Mereka  kini lagi   semangat-semangatnya mengaji,” 
ujar buya  Imam.
Di kawasan terpencil yang jauh dari kediamannya, seperti Dusun Arau, 
kelompok pengajian juga berhasil dibentuk. Kendati  pesertanya baru 
beberapa orang saja, namun  Buya Imam tetap semangat mendatangi Surau 
Al-Abrar yang terletak di pinggir hutan.
Dulu Diberi Sesajen, Kini Ditebangi

Topik pengajian, ceramah, maupun khutbah Buya Imam selama ini tak 
beranjak dari kajian ketauhidan. Ini sesuai dengan  kondisi medan dakwah
 yang dijalaninya.  ”Ya, namanya di daerah pelosok.  Dulu-dulunya 
kondisi  di sini  samalah dengan di Jawa sana,” jelas Imam Rajo Alam.
Memang, dulunya masih ada  satu-dua warga  yang melanjutkan tradisi 
dengan  meletakan sesajen di rumpun pohon beringin. Ada  pula orang yang
 takut  mandi di  pancuran sumber mata air pada tengah hari, karena 
takut   dimarahi   ”penjaganya.”
Dakwah Buya Imam tentang ketauhidan yang disampaikan terus menerus 
dalam setiap pengajian, akhirnya membawa perubahan besar. Di Nagari 
Matua Mudiak, kemusyrikan  benar-benar telah ditumpas habis. ”Sekarang 
tak  pernah lagi ditemukan sesajen nasi kunyit dengan telur ayam  di 
bawah  pohon beringin. Bahkan sudah banyak pohon beringin ditebang dan 
dibakar bersama ’penjaganya’  yang dulu ditakuti itu,” tutur buya Imam. 
Allahu Akbar!* Dodi Nurja/Suara Hidayatullah, NOPEMBER 2010










      

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke