Assalamualaikum ww

Alhamdulillah, Dai Tangguh seperti Buya Imam Rajo Alam ini sekarang sudah 
banyak 
dilakoni oleh ikhwah2 kita yang tergabung dalam IKADI (Ikatan Dai Indonesia), 
kalau berjuang sendri2 memang sulit dan berat tapi kalau ber-sama2 dibawah 
oraginsasi dan manajemen yang baik berbagai kendala dilapangan sudah tidak 
berat 
lagi

Dengan kendaraan 4x4 serombongan dai muda IKADI dari berbagai latar belakang 
(IAIN, LC Timur Tengah, Pendidikan umum sejak dari Ir sampai SH bahkan banyak 
juga yang non S1) membagi wilayah kerja dengan fasilitas masing2 sebuah mobil 
baik 2x4 mapun 4x4 @ 8 sampai 12 orang permobil per satu jurusan area kerja, 
dai 
terakhir yang didrop adalah merangkap driver dilokasi terjauh, bila selesai, 
sang dai / driver terakhir ini memungut satu demi satu rekan2 yang sudah didrop 
dimesjid/surau masing2

Hujan petir, jalan becek berlumpur, ular piton maupun cobra, gajah harimau babi 
hutan ataupun beruang tidak lagi jadi penghalang dan yang jelas dai2 ini gratis 
bahkan pada musim2 dan periode tertentu siangnya mereka siap mendrop jawi 
qurban 
utuh (masih hidup maupun yang sudah dipacking), bea siswa anak2 berprestasi, 
bea 
siswa ke Al Azhar Kairo, menyalurkan zakat, infaq dan sadaqah, ambulance dan 
klinik gratis utk duafa bahkan gratis bila mesti dirawat di RSUD propinsi, dll

Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, mereka bersatu dalam da'wah (bukan 
single fighter) sebagaimana diamanatkan Allah dalam Surah Ash Shaff (61) ayat 4:

"Sesungguhnya Allah mencintai orang2 yang berjuang dijalanNYA dalam barisan 
yang 
teratur, mereka se-olah2 bagaikan sebuah bangunan yang tersusun kokoh"

Nah kalau ingin dicintai Allah, berjuang2lah dijalan Allah dalam sebuah 
manajemen yang tersusun kokoh, sudah saatnya kita meninggalkan jalan sendri2, 
berda'wah sendri2, menegakkan agama Allah sendri2 buatlah barisan yang teratur 
dan kokoh, insya Allah Allah akan menolong kita, Allah sih suka juga kalau kita 
bekerja sorang2 namun tentu akan lebih suka bahkan cinta kalau ber-jama'i dalam 
sebuah organisasi yang dimanajemeni dengan baik, bersinergipun tentu tidak bisa 
dilakukan sendri2, bukan?

wasalam
abp58



________________________________
Dari: Aryandi Ilyas <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Jum, 3 Desember, 2010 11:16:09
Judul: Re: [...@ntau-net] Dai Tangguh di Kaki Gunung Singgalang

Subhanlallah,
semoga ALLAH memuliakan Bpk Ust Imam Rajo Alam...
Terimakasih pak Harman atas posting artikel ini.... Iyo sabana sajuak
awak mandanga kaba dr kampuang nan co iko... Alhamdulillahirabbal
alamin....
Semoga ado amalan juo untuak pak Harman...

Pada tanggal 03/12/10, Harman <[email protected]> menulis:
> ”Sekarang
> tak  pernah lagi ditemukan sesajen nasi kunyit dengan telur ayam  di
> bawah  pohon beringin. Bahkan sudah banyak pohon beringin ditebang dan
> dibakar bersama ’penjaganya’  yang dulu ditakuti itu,”
>
> subhanallah, semoga beliau senantiasa diberi kekuatan untuk melanjutkan
> dakwahnya.
> wassalam,
> harman st.idris

> http://majalah.hidayatullah.com/?p=1981
> Dai Tangguh di Kaki Gunung Singgalang
> Posted by admin in  Serial Dai on  11 29th, 2010 |  no responses

> Pengunungan SinggalangDakwah
>  tak kenal kata pensiun. Meski rambutnya telah memutih, namun ghirahnya
> tidak pernah padam. Beratnya medan dakwah tak menghentikan gelora
> dakwahnya.
> Senja mulai temaram saat Buya Imam menyusuri jalan setapak menuju
> Dusun Aro, untuk mengisi pengajian di Surau Al-Abrar yang terletak di
> pinggir hutan. Tiba-tiba dari arah semak belukar keluar segerombolan
> babi hutan yang menghadang perjalanannya. Dua di antaranya bahkan sudah
> bertaring.
> Konon cerita  orang-orang tua, jika bertemu babi bertaring, segeralah
>   mengambil langkah seribu, berlari secepatnya dengan berbelok-belok
> atau  segera memanjat batang kayu. Tetapi itu tak mungkin lagi dilakukan
>  Buya Imam. Jarak dia dan  gerombolan babi hutan  sudah terlanjur dekat.
>  Keduanya  hanya terpisahkan sekitar lima meter saja. ”Yang  saya
> lakukan saat itu hanyalah memohon pertolongan Allah Subhanahu wa
> Ta’ala,” kenang Imam.
> Sesaat kemudian salah satu babi yang bertaring mulai mengambil
> ancang-ancang menyerang dengan merenggangkan dan merendahkan tubuhnya.
>  Buya Imam sudah  bertekad, jika babi besar itu menyerang, ia  akan
> melawan dengan seluruh  kemampuan. Ia terus memperkukuh keikhlasan di
> hati, apapun yang akan Allah takdirkan atas dirinya.  Tetapi  sejurus
> kemudian sang babi  berbalik  memutar tubuhnya. Seakan   dikomandokan,
> gerombolan babi hutan itu berlarian  masuk hutan. Imam menarik nafas
> panjang. ”Alhamdulillah,” ucapnya berulangkali.
> Tak hanya  dihadang kawanan babi hutan. Suatu malam yang diterangi
> cahaya bulan, Buya Imam yang baru pulang dari  mengisi pengajian di
> Surau Kayu Ponton, samar-samar  melihat seekor harimau yang turun dari
> kaki bukit, namun jaraknya masih cukup jauh dari sisi jalan kampung yang
>  akan dilalui Imam. Karena itu, ia menunggu saja  sampai harimau itu
> menyeberang jalan  menuju hutan lebat  di kaki Gunung Singgalang.
> Anehnya, harimau itu malah berbalik ke atas bukit. Dengan satu lompatan,
> tubuh harimau itu hilang ditelan  semak belukar.
> ”Dihadang  binatang buas, terkepung longsor, dan hujan deras,  sudah
> menjadi bagian dari perjalanan dakwah. Yang penting kita tidak takabur
> dan senantiasa berserah diri kepada Allah yang Maha penolong ,” tutur
> Buya Imam saat dijumpai majalah ini menjelang sore di kediamannya di
> Dusun Aia Rukam,  Nagari Matua Mudiak, Sumatera Barat beberapa waktu
> lalu.
> Pertolongan Allah yang tak terduga,  tak hanya dirasakan  Buya Imam
> ketika kepergok binatang buas. Pernah saat  di perjalanan,  hujan turun
> sangat lebat. Biasanya kalau sudah begini, tebing-tebing di sisi jalan
> sering longsor. Bila tidak cepat meninggalkan lokasi, bisa turut
> tertimbun hidup-hidup.  Tetapi berulang kali pula  secara tak terduga
> Buya Imam mendapat pertolongan Allah. ”Sering saya alami, di tengah
> perjalanan  tiba-tiba saja  ada  pengendara sepeda motor berhenti
> meminta saya naik diboncengkan hingga ke tempat pengajian. Padahal, saya
>  sama sekali  tak mengenalnya,” tutur Buya Imam.
> Masih Berjalan Kaki
>
> Empat puluh tahun silam,  Imam  berjalan kaki mendampingi Imral, murid
> mengajinya   saat bermusabaqah. Kini, bekas muridnya itu sudah memasuki
> pensiun. Namun, Buya  Imam  tetap seperti yang dulu. Dai yang satu ini
> masih  berjalan kaki dalam menebar dakwah dari kampung ke kampung.
> Walaupun Buya Imam belum juga menerima bantuan rutin, namun semangat
> dakwah Buya Imam  tak pernah padam. Padahal, Pemerintah Provinsi
> Sumatera Barat telah mengucurkan Tunjangan Khusus Ulama Nagari sejak
> 2009.
> Di tengah kelangkaan ulama,  Buya Imam  terus  berperan sebagai dai
> full time. Hari-harinya  habis  untuk berdakwah, mengisi jadwal khutbah
> Jumat hingga  melatih penyelenggaraan jenazah secara gratis. ”Karena
> nyaris tak punya waktu lagi,  belakangan ini tugas mengajar  di madrasah
>  saya serahkan ke guru bantu,” jelas Buya Imam.
> Selain kelompok pengajian, Buya Imam juga melakukan terobosan dakwah.
>  Belakangan ini, ia gencar  menggarap terbentuknya  kelompok pengajian
> di kalangan    kaum (suku). ”Ini penting agar dakwah juga sampai pada
> pemangku adat dan anak keponakan anggota kaum,” jelasnya.
> Sayangnya, dakwah di kalangan kaum   tidak  mudah. Saat ini,
> pengajian rutin baru  berhasil dibentuk di kaum adat Suku Sikumbang.
> Dulu pernah terbentuk di Suku Caniago, tapi kemudian bubar begitu saja.
> Merintis Pengajian
>
> Buya Imam,  begitu  sapaan  orang kampung padanya. Nama lengkapnya
> Syamsudin Imam Rajo Alam. Imam adalah gelar yang dinobatkan masyarakat
> kaumnya  karena  dinilai telah memenuhi syarat  sebagai urang siak  yang
>  terus mengelorakan dakwah.
> Di kaki Gunung Singgalang,  kawasan dataran tingggi Agam  ini,  Buya
> Imam  masih terus berdakwah. Usia yang hampir berkepala tujuh, ketiadaan
>  fasilitas  dan beratnya medan dakwah tidak mengendorkan semangatnya.
> Bapak  dari lima anak ini merintis kelompok pengajian  di
> kampung-kampung berawal  dari satu-dua jamaah saja. Kini,  kelompok
> pengajian  binaannya sudah mencapai belasan, tersebar dari desa-desa
> yang ada di Nagari Matua Mudiak  hingga ke Matua Hilia dan Lawang
> Tigobalai. ”Alhamdulillah,  di Nagari Matua Hilia beberapa waktu
> belakangan juga sudah  terbentuk lima majelis taklim dengan  anggota
> lebih seratus orang. Mereka  kini lagi   semangat-semangatnya mengaji,”
> ujar buya  Imam.
> Di kawasan terpencil yang jauh dari kediamannya, seperti Dusun Arau,
> kelompok pengajian juga berhasil dibentuk. Kendati  pesertanya baru
> beberapa orang saja, namun  Buya Imam tetap semangat mendatangi Surau
> Al-Abrar yang terletak di pinggir hutan.
> Dulu Diberi Sesajen, Kini Ditebangi
>
> Topik pengajian, ceramah, maupun khutbah Buya Imam selama ini tak
> beranjak dari kajian ketauhidan. Ini sesuai dengan  kondisi medan dakwah
>  yang dijalaninya.  ”Ya, namanya di daerah pelosok.  Dulu-dulunya
> kondisi  di sini  samalah dengan di Jawa sana,” jelas Imam Rajo Alam.
> Memang, dulunya masih ada  satu-dua warga  yang melanjutkan tradisi
> dengan  meletakan sesajen di rumpun pohon beringin. Ada  pula orang yang
>  takut  mandi di  pancuran sumber mata air pada tengah hari, karena
> takut   dimarahi   ”penjaganya.”
> Dakwah Buya Imam tentang ketauhidan yang disampaikan terus menerus
> dalam setiap pengajian, akhirnya membawa perubahan besar. Di Nagari
> Matua Mudiak, kemusyrikan  benar-benar telah ditumpas habis. ”Sekarang
> tak  pernah lagi ditemukan sesajen nasi kunyit dengan telur ayam  di
> bawah  pohon beringin. Bahkan sudah banyak pohon beringin ditebang dan
> dibakar bersama ’penjaganya’  yang dulu ditakuti itu,” tutur buya Imam.
> Allahu Akbar!* Dodi Nurja/Suara Hidayatullah, NOPEMBER 2010
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.

Wassalammu'alaikum wr. wb
Aryandi, 37th+, ciledug, tangerang
Tingkatkan Integritas Diri, Jalin Silahturrahim, Mari Bersinergi, Ayo
Jemput Rezeki, Bantu Anak Negeri

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke