semoga hal ini tidak menimpa kita....amin...
----------------------------------------------------------------

Makin Kaya Makin Tak Peka

Mon, 06 Dec 2010 06:20:44

TEMPO Interaktif, Jakarta - Ada sebuah tayangan acara di televisi. Dalam
acara itu, ada seorang anak yang dekil dan lusuh meminta tolong soal hal
sepele untuk membangkitkan rasa iba orang la in. Jika kita menyimak acara
tersebut, bisa jadi kita terkejut oleh kenyataan bahwa biasanya orang yang
mau peduli dan membantu justru bukan orang yang kelihatan mampu. Orang yang
dalam pandangan umum diharapkan bisa memberi lebih.

Ternyata memang itulah yang terjadi. Ketika masyarakat umum berpikir bahwa
orang yang punya kelebihan bisa membantu lebih banyak, yang terjadi justru
sebaliknya.

Sebuah penelitian multipel di Amerika Serikat membuktikan bahwa orang-orang
dengan status sosial-ekonomi tinggi (atau orang yang merasa diri mereka
berkecukupan) lebih buruk dalam berempati dan menilai emosi orang lain
dibandingkan dengan mereka yang punya status sosial-ekonomi lebih rendah.

Alasannya adalah bisa jadi orang dengan pendapatan atau pendidikan rendah
merasa harus lebih responsif terhadap orang lain, kata penulis hasil
penelitian itu, dalam penelitian post-doktoral psikologi di University of
California, San Francisco.

Dalam penelitian Michael W. Kraus sebelumnya, ia menemukan bahwa orang yang
lebih makmur cenderung lebih kasar daripada orang yang lebih miskin saat
berbicara dengan orang yang tak dikenal. Mereka juga menemukan bahwa orang
yang lebih miskin justru lebih pemurah dengan harta mereka dibandingkan
dengan orang yang kaya raya. Kraus menduga empati orang yang lebih miskin
bisa jadi menjadi akar dari sikap murah hati mereka. "Mereka sangat waspada
akan kebutuhan orang lain, dan mereka langsung merespons apa yang mereka
lihat," kata Kraus.

Para peneliti melakukan tiga penelitian untuk melihat kesenjangan empati
antara orang kaya dan miskin. Pada awalnya, mereka memfokuskan diri pada
aspek pendidikan dari status sosial-ekonomi. Peneliti melibatkan 200 pekerja
universitas, mulai staf administrasi, pengajar, hingga manajer.

Lalu mereka mengumpulkan data dari tingkat pendidikan relawan, dan bertanya
kepada mereka untuk mengidentifikasi ekspresi wajah dari sejumlah foto.
Inilah tugas yang sebesar apa pun pendidikan kita tak menjamin kita untuk
lulus. Sebab, justru mereka yang hanya lulusan sekolah menengah atas yang
mendapat nilai rata-rata 7 persen lebih tinggi dibandingkan dengan mereka
yang lulusan perguruan tinggi.

Jumlah angka mentah ini dikonversi ke skala yang rata-rata partisipan di
penelitian itu, 100,89. Ketika angka itu dipecah berdasarkan kategori
pendidikan, semua partisipan tersebut yang lulusan sekolah menengah atas
mendapatkan nilai rata-rata 106, sedangkan partisipan yang lulus perguruan
tinggi mendapat nilai rata-rata hanya 99.

Lalu si peneliti juga melibatkan 106 mahasiswa yang berhubungan satu dengan
lainnya dalam kerangka wawancara kerja palsu. Mereka ditanyai bagaimana
perasaan mereka dan bagaimana kira-kira perasaan rekan mereka selama
wawancara berlangsung. Ternyata mereka yang sebelumnya tercatat menempati
tingkat sosial-ekonomi tertinggi justru parah dalam menduga-duga perasaan
rekan mereka.

"Hasil penelitian ini tidak melibatkan latar belakang gender dan etnik,"
kata Kraus. "Kita bisa dengan jelas melihat individu-individu yang berasal
dari kelas yang lebih rendah justru menunjukkan akurasi empati yang jauh
lebih besar dalam penelitian ini."

Tapi bagaimana jika orang yang lebih makmur itu menjadi demikian karena
mereka sangat berfokus pada diri sendiri? Bagaimana jika ternyata kemakmuran
tidak mempengaruhi empati, tapi justru empati yang mempengaruhi kemakmuran?
Untuk mengetahui hal ini, para peneliti kemudian meneliti lagi 81 mahasiswa
yang berbeda. Kali ini mereka diminta membayangkan orang-orang yang luar
biasa kaya raya, orang-orang seperti Bill Gates.

Lalu para siswa itu diminta membayangkan diri mereka sebagai orang yang
makmur dan menempatkan diri di tangga sosial-ekonomi. Sambil membayangkan
figur seperti Bill Gates memicu mahasiswa untuk menempatkan diri mereka
lebih rendah dalam tangga ekonomi dibanding seharusnya mereka berada.
Sementara itu, mahasiswa lain yang diminta untuk membayangkan orang lain
yang tidak makmur justru membuat mereka menempatkan diri sendiri lebih
tinggi pada tangga status sosial-ekonomi.

Akhirnya, 81 mahasiswa tersebut melihat 36 foto close-up di bagian mata dan
diminta menilai emosi yang digambarkan dalam gambar tersebut. Ternyata,
mereka yang telah dimanipulasi hingga merasa diri mereka berada di kelas
bawah 6 persen lebih akurat dalam menilai emosi dalam foto dibanding mereka
yang dimanipulasi merasa diri lebih makmur.

Ini, kata Kraus, adalah temuan yang penting. "Jika memanipulasi, Anda bisa
bicara tentang kepemimpinan kelas dalam empati," tutur Kraus, yang bersama
koleganya dalam penelitian ini menerbitkan hasil penelitian itu dalam jurnal
Psychological Science edisi Oktober 2010.

"Penelitian ini sangat menarik," kata Vladas Griskevicius, psikolog dari
University of Minnesota yang tak terlibat dalam penelitian tersebut.
"Sebagian besar peneliti semula berpikir bahwa semakin tinggi latar belakang
status sosial-ekonomi seseorang, semakin baik mereka membaca emosi orang
lain," kata Griskevicius. "Tapi penelitian ini menemukan hal sebaliknya.
Bahwa orang dengan latar belakang status sosial-ekonomi lebih rendah justru
lebih peka terhadap apa yang orang lain pikir dan rasakan."

-- 
=========== Salam Hormat ==========
Yuhefizar a.k.a Ephi Lintau
e-Learning | e-Literacy | e-Business
http://ephi.lintau.info <- Program Kilat Belajar Bahasa Inggris
www.ephi.web.id
http://blog.ephi.web.id
www.web1juta.com
www.sukses-bersama.com
www.pengusaha-online.com
www.e-investasi.com
e-Mail : [email protected]
Handphone  : 08126777956
================================

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke