Kalau manuruik ambo, hal ko bisa kito test di Jakarta, atau di Pakanbaru atau 
di 
Padang..

Sederhana sajo caro no... pakai baju nan lusuah, masuk ka kompleks perumahan 
elite.. pura pura batanyo atau mangetuk pintu rumah urang...
sudah tu pakai baju nan samo pai ka daerah pinggiran atau rumah rumah nan 
talatak di gang sampik, pura pura batanyo dan ketuk pintu rumah urang...

InsyaALLAH di perumahan dalam gang itu kito akan dilayani dengan sepatut no, 
atau bahkan ditawari minum dan di tawarin manunggu kalau urang nan di cari 
indak 
ado.

tapi kalau di perumahan elite...Antalah .....saluang se nan ka manyampaikan...




________________________________
Dari: Ephi Lintau <[email protected]>
Kepada: RantauNet <[email protected]>
Terkirim: Sen, 6 Desember, 2010 08:59:42
Judul: [...@ntau-net] Makin Kaya Makin Tak Peka

semoga hal ini tidak menimpa kita....amin...
----------------------------------------------------------------

Makin Kaya Makin Tak Peka 

Mon, 06 Dec 2010 06:20:44 

TEMPO Interaktif, Jakarta - Ada sebuah tayangan acara di televisi. Dalam  acara 
itu, ada seorang anak yang dekil dan lusuh meminta tolong soal  hal sepele 
untuk 
membangkitkan rasa iba orang la in. Jika kita menyimak  acara tersebut, bisa 
jadi kita terkejut oleh kenyataan bahwa biasanya  orang yang mau peduli dan 
membantu justru bukan orang yang kelihatan  mampu. Orang yang dalam pandangan 
umum diharapkan bisa memberi lebih.

Ternyata memang itulah yang terjadi. Ketika masyarakat umum berpikir  bahwa 
orang yang punya kelebihan bisa membantu lebih banyak, yang  terjadi justru 
sebaliknya. 

Sebuah penelitian multipel di Amerika Serikat membuktikan bahwa  orang-orang 
dengan status sosial-ekonomi tinggi (atau orang yang merasa  diri mereka 
berkecukupan) lebih buruk dalam berempati dan menilai emosi  orang lain 
dibandingkan dengan mereka yang punya status sosial-ekonomi  lebih rendah.

Alasannya adalah bisa jadi orang dengan pendapatan atau pendidikan  rendah 
merasa harus lebih responsif terhadap orang lain, kata penulis  hasil 
penelitian 
itu, dalam penelitian post-doktoral psikologi di  University of California, San 
Francisco.

Dalam penelitian Michael W. Kraus sebelumnya, ia menemukan bahwa orang  yang 
lebih makmur cenderung lebih kasar daripada orang yang lebih miskin  saat 
berbicara dengan orang yang tak dikenal. Mereka juga menemukan  bahwa orang 
yang 
lebih miskin justru lebih pemurah dengan harta mereka  dibandingkan dengan 
orang 
yang kaya raya. Kraus menduga empati orang  yang lebih miskin bisa jadi menjadi 
akar dari sikap murah hati mereka.  "Mereka sangat waspada akan kebutuhan orang 
lain, dan mereka langsung  merespons apa yang mereka lihat," kata Kraus.

Para peneliti melakukan tiga penelitian untuk melihat kesenjangan empati  
antara 
orang kaya dan miskin. Pada awalnya, mereka memfokuskan diri  pada aspek 
pendidikan dari status sosial-ekonomi. Peneliti melibatkan  200 pekerja 
universitas, mulai staf administrasi, pengajar, hingga  manajer.

Lalu mereka mengumpulkan data dari tingkat pendidikan relawan, dan  bertanya 
kepada mereka untuk mengidentifikasi ekspresi wajah dari  sejumlah foto. Inilah 
tugas yang sebesar apa pun pendidikan kita tak  menjamin kita untuk lulus. 
Sebab, justru mereka yang hanya lulusan  sekolah menengah atas yang mendapat 
nilai rata-rata 7 persen lebih  tinggi dibandingkan dengan mereka yang lulusan 
perguruan tinggi.

Jumlah angka mentah ini dikonversi ke skala yang rata-rata partisipan di  
penelitian itu, 100,89. Ketika angka itu dipecah berdasarkan kategori  
pendidikan, semua partisipan tersebut yang lulusan sekolah menengah atas  
mendapatkan nilai rata-rata 106, sedangkan partisipan yang lulus  perguruan 
tinggi mendapat nilai rata-rata hanya 99.

Lalu si peneliti juga melibatkan 106 mahasiswa yang berhubungan satu  dengan 
lainnya dalam kerangka wawancara kerja palsu. Mereka ditanyai  bagaimana 
perasaan mereka dan bagaimana kira-kira perasaan rekan mereka  selama wawancara 
berlangsung. Ternyata mereka yang sebelumnya tercatat  menempati tingkat 
sosial-ekonomi tertinggi justru parah dalam  menduga-duga perasaan rekan mereka.

"Hasil penelitian ini tidak melibatkan latar belakang gender dan etnik,"  kata 
Kraus. "Kita bisa dengan jelas melihat individu-individu yang  berasal dari 
kelas yang lebih rendah justru menunjukkan akurasi empati  yang jauh lebih 
besar 
dalam penelitian ini."

Tapi bagaimana jika orang yang lebih makmur itu menjadi demikian karena  mereka 
sangat berfokus pada diri sendiri? Bagaimana jika ternyata  kemakmuran tidak 
mempengaruhi empati, tapi justru empati yang  mempengaruhi kemakmuran? Untuk 
mengetahui hal ini, para peneliti  kemudian meneliti lagi 81 mahasiswa yang 
berbeda. Kali ini mereka  diminta membayangkan orang-orang yang luar biasa kaya 
raya, orang-orang  seperti Bill Gates.

Lalu para siswa itu diminta membayangkan diri mereka sebagai orang yang  makmur 
dan menempatkan diri di tangga sosial-ekonomi. Sambil  membayangkan figur 
seperti Bill Gates memicu mahasiswa untuk menempatkan  diri mereka lebih rendah 
dalam tangga ekonomi dibanding seharusnya  mereka berada. Sementara itu, 
mahasiswa lain yang diminta untuk  membayangkan orang lain yang tidak makmur 
justru membuat mereka  menempatkan diri sendiri lebih tinggi pada tangga status 
sosial-ekonomi.

Akhirnya, 81 mahasiswa tersebut melihat 36 foto close-up di bagian mata  dan 
diminta menilai emosi yang digambarkan dalam gambar tersebut.  Ternyata, mereka 
yang telah dimanipulasi hingga merasa diri mereka  berada di kelas bawah 6 
persen lebih akurat dalam menilai emosi dalam  foto dibanding mereka yang 
dimanipulasi merasa diri lebih makmur.

Ini, kata Kraus, adalah temuan yang penting. "Jika memanipulasi, Anda  bisa 
bicara tentang kepemimpinan kelas dalam empati," tutur Kraus, yang  bersama 
koleganya dalam penelitian ini menerbitkan hasil penelitian itu  dalam jurnal 
Psychological Science edisi Oktober 2010.

"Penelitian ini sangat menarik," kata Vladas Griskevicius, psikolog dari  
University of Minnesota yang tak terlibat dalam penelitian tersebut.  "Sebagian 
besar peneliti semula berpikir bahwa semakin tinggi latar  belakang status 
sosial-ekonomi seseorang, semakin baik mereka membaca  emosi orang lain," kata 
Griskevicius. "Tapi penelitian ini menemukan hal  sebaliknya. Bahwa orang 
dengan 
latar belakang status sosial-ekonomi  lebih rendah justru lebih peka terhadap 
apa yang orang lain pikir dan  rasakan."

-- 
=========== Salam Hormat ==========
Yuhefizar a.k.a Ephi Lintau          
e-Learning | e-Literacy | e-Business
http://ephi.lintau.info <- Program Kilat Belajar Bahasa Inggris
www.ephi.web.id 
http://blog.ephi.web.id
www.web1juta.com
www.sukses-bersama.com            
www.pengusaha-online.com 
www.e-investasi.com       
e-Mail : [email protected]                 
Handphone  : 08126777956                      
================================

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib 
mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke