Anggun,

 

Ini ide besar yang - kalau terwujud - menghasilkan sesuatu yang besar pula.

 

Cuma, apakah sudah ada suatu konsep yang jelas tentang tujuan (yang terukur,
bukan Cuma normatif), dan sistem kerja yang jelas?  Terutama tentang
bagaimana bentuk "komunikasi formal" yang diinginkan.

 

Kalau soal ruangan secretariat, rasanya tidak terlalu sulit J

 

Riri

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of anggun gunawan
Sent: Tuesday, December 07, 2010 12:14 PM
To: [email protected]
Subject: [...@ntau-net] Mengagas Organisasi Mahasiswa Minang Se-Dunia

 


Oleh: Anggun Gunawan (Alumni Fakultas Filsafat UGM - http://anggun.cjb.net)

 

Sampai saat ini, telah berdiri ratusan organisasi/komunitas mahasiswa Minang
di berbagai daerah dan mancanegara, baik di ranah maupun di rantau.
Sebutlah, Unit Kegiatan Mahasiswa Institute Teknologi Bandung (UKM ITB),
Ikatan Mahasiswa Minang Universitas Indonesia (IMAMI UI), Forum Komunikasi
Mahasiswa Minang Universitas Gadjah Mada (FORKOMMI UGM), Ikatan Mahasiswa
Minang Amikom Yogyakarta, Ikatan Pelajar Mahasiswa Minang (IPMM) Bogor,
Asrama Mahasiswa Sumatera Barat "Merapi Singgalang" dan "Bundo Kanduang"
Yogyakarta, Keluarga Mahasiswa Minang (KMM UNJ), Ikatan Mahasiswa Minang
(IKAMMI) Semarang, Forum Mahasiswa Minang ISI Yogyakarta (FORMMISI-Yk), BKMM
(Badan Kesatuan Mahasiswa Minang) Bandung, IMIB USU, Ikatan Pelajar
Mahasiswa NAD, Bengkel Seni Tradisional Minangkabau FAKULTAS SASTRA UNAND,
IKATAN MAHASISWA PADANG PARIAMAN (IMAPPAR) KOTA PADANG, PERMATO (Persatuan
Mahasiswa Tuah Sakato) Sumatera Selatan, FORMATO (Forum Mahasiswa Tuah
Sakato) Surakarta, Badan Kesatuan Mahasiswa Minang (BKMM) Jawa Barat,
Keluarga Mahasiswa Minang Jakarta Jaya (KMM Jaya), Ikatan Generasi Muda
Minang Yogyakarta (IGMMY), Ikatan Keluarga Mahasiswa Minang Universiti
Kebangsaan Malaysia (IKMM-UKM), Keluarga Mahasiswa Minang Mesir. Deretan
nama-nama di atas hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak organisasi
mahasiswa Minang lainnya yang sampai saat ini tetap eksis baik di dalam
negeri maupun di luar negeri.


Namun, ada satu kondisi "miris", dimana tidak ada satu forum komunikasi
formal yang menyatukan di antara sekian banyak organisasi mahasiswa Minang
yang ada. Padahal tersimpan potensi besar, jika intelektual muda Minang itu
bersinergi dalam sebuah forum yang lebih besar, yakni Forum Komunikasi
Mahasiswa Minang Se-Dunia.

Sebenarnya hal ini bukanlah ide baru. Pada tahun 2003-2004, telah ada upaya
ke arah unifikasi intelektual Minang melalui milis Aktivis Minang. Tapi
sampai sekarang gerakan ini hanyalah sebatas forum diskusi. Bahkan sejak
tahun 2005 gaungnya mulai meredup seiring kelulusan punggawa yang mengurusi
milis ini dari bangku kuliah. Sangat dimungkinkan juga sebelum kehadiran
Aktivis Minang, ada upaya-upaya untuk mendirikan organisasi mahasiswa Minang
bertaraf nasional. Tapi, semua itu menguap begitu saja seiring kesibukan dan
beralihnya para pengusungnya, dari status mahasiswa menjadi
pekerja/pengusaha.

Berawal dari pertemuan di Kantor Gubenur pada momen lebaran 2010 yang lalu,
beberapa mahasiswa Minang dari Jakarta, Jogjakarta, dan Padang terus
mengulirkan wacana pendirian Ikatan Mahasiswa Minang se-Indonesia.
Komunikasi intensif terus dilakukan oleh para inisiator dengan beberapa
pejabat Pemprov Sumatera Barat. Prof. Dr. Irwan Prayitno, selaku Gubenur
Sumatera Barat, telah menyatakan kesediaan lisan sebagai Ketua Penasehat.
Nadiar. SH, Kepala Kantor Penghubung Sumbar di Jakarta, juga telah
memberikan sinyalemen positif dan akan memberikan ruangan khusus di Kantor
Penghubung untuk dijadikan sekretariat organisasi ini.

"Bola telah bergulir, tak bisa lagi dihentikan", ungkap Rifki (Alumni Poltek
UI Jakarta - Mahasiswa Universitas Jayabaya Jakarta), salah satu inisiator
pendirian Ikatan Mahasiswa Minang se-Indonesia pada pertemuan Ahad 4
Desember 2010. Pertemuan yang dihadiri oleh mahasiswa Minang se-Jabodetabek
(UI, UNJ, UIN Sahid, Universitas Jayabaya) plus mahasiswa dari Jogjakarta
ini merupakan rangkaian penyatuan visi sebelum soft launching dan grand
launching Forum Silaturahmi dan komunikasi Mahasiswa Minangkabau se-
Indonesia dan luar negeri.

Penulis secara pribadi tentu sangat mendukung gerakan silaturahim ini.
Karena lewat semangat kebersamaan-lah kita mampu berbuat lebih banyak.
Kondisi dimana, "setiap lini dari pengembangan potensi yang ada di Sumbar
tentu memerlukan SDM yang berkualitas dan mempunyai keahlian di bidangnya",
tidak bisa dilepaskan dari peran anak-anak muda kreatif lulusan perguruan
tinggi. Namun, kepedulian terhadap kampung halaman tidak mesti menunggu
menjadi sarjana. Saat menjadi mahasiswa kontribusi nyata bagi Sumbar dapat
dilakukan. Sedikit apapun itu, tentu akan sangat berharga bagi masyarakat
Sumatera Barat.

Paling tidak, status mentereng sebagai mahasiswa tidak hanya sebuah klise
tanpa makna. Sebuah sarana pembuktian, bahwa mahasiswa tidak hanya berteriak
di jalanan dan bentrok dengan petugas keamanan. Mahasiswa tidak menjadi
komunitas elite di atas menara gading yang wacana-wacana digulirkannya jauh
dari realitas masyarakat. Harus ada perubahan paradigma mahasiswa dari
sekedar berwacana, mengkritik, dan berseminar menjadi mahasiswa yang
berkarya, turun memberdayakan masyarakat, dan berbuat nyata.

Kita tentu bisa membayangkan kemajuan apa yang akan dicapai , apabila
seluruh mahasiswa Minang dari seluruh dunia bersinergi dan berkontribusi
demi kemajuan Sumatera Barat. Mungkin, pada titik tertentu tidak lagi melulu
memikirkan Sumatera Barat, tapi mampu menghadirkan perubahan nyata bagi
Indonesia sebagaimana yang telah berhasil dilakukan oleh elite intelektual
Minang pada masa perjuangan kemerdekaan.

Ini adalah sebuah mimpi besar yang berhadapan dengan tantangan yang besar
pula. Sangat mudah mengumpulkan orang Minang dalam perayaan-perayaan
bersifat seremonial dan hiburan. Apalagi menginvite mereka dalam sebuah grup
<http://www.facebook.com/group.php?gid=150835831616969>  facebook yang
mengatasnamakan Forum Mahasiswa Minang Se-Dunia. Namun, menyatukan orang
Minang dalam gerakan organis, terstruktur dan profesional sungguh pekerjaan
amat sulit. Telah terpampang dihadapan kita, bagaimana Gebu Minang yang
terdiri dari para tokoh-tokoh Minang yang telah berkibar secara nasional dan
menglanglang buana ke mancanegara disindir tak mampu berbuat banyak untuk
kemajuan Sumatera Barat. Bahkan rencana Kongres Kebudayaan Minang yang
digagas oleh organisasi pada zaman Pak Harto itu mendapat perlawanan hebat
dari tokoh-tokoh Minang yang ada di Sumatera Barat. Kitapun telah mendengar
keluhan beberapa pejabat yang mengkritisi keberadaan Silaturahim Saudagar
Minang tak lebih dari show up para pebisnis yang berhasil di perantauan.
Kitapun telah menyaksikan tidak berjalannya kegiatan dan konflik-konflik
kepentingan yang menaungi organisasi mahasiswa Minang ber-skala regional.

Mendirikan sebuah perkumpulan besar yang dihuni oleh organisasi-organisasi
mahasiswa Minang yang telah dulu berkiprah di pentas regional, nasional,
bahkan internasional bukanlah pekerjaan mudah. Impian boleh tinggi tapi
haruslah diiringi konsep yang cerdas dan brilian. Karena yang dituju oleh
para inisiator adalah bergabungnya seluruh utusan organisasi mahasiswa
Minang dari daerah-daerah dan luar negeri dalam satu payung baru yang
rencananya akan dinamakan Keluarga Besar Mahasiswa Minang. Para inisiator
memang menyadari sepenuhnya akan dinamika perdebatan yang akan terjadi jika
suatu hari nanti organisasi ini berdiri. Namun, apakah para inisiator sudah
mengantisipasi kemungkinan perdebatan panjang tanpa ujung karena orang
Minang dikenal sebagai orang yang pintar ngomong, serta konflik kepentingan
terkait jabatan dan donasi yang akan diterima?

Sejarah memang telah membuktikan keberhasilan orang Minang menjadi orang
terpandang tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Tapi pencapaian itu
baru sebatas capaian pribadi tanpa didukung sebuah komunitas Minang. Baru
kemudian setelah menduduki posisi prestise mereka ditarik-tarik untuk
terlibat dalam kegiatan organisasi Minang. Bahkan Buya Syafi'i Ma'arif dan
Prof. Yunahar Ilyas, dua tokoh Muhammadiyah yang telah berkibar namanya di
tingkat internasional, acapkali dicibir oleh masyarakat Minang Jogja karena
minimnya sumbangsih yang mereka berikan pada Keluarga Besar Minangkabau
Yogyakarta.

Orang Minang bisa menjadi pemuncak ketika berada dalam sebuah organisasi
yang dihuni oleh berbagai macam etnis. Tapi, apakah ada sosok yang mampu
menjadi tokoh lahir dari sebuah organisasi Minang? Malahan kita menemukan
konflik-konflik kepentingan dari berbagai tokoh Minang. Sentimen Bung Hatta
terhadap Tan Malaka, telah gamblang dipaparkan oleh sejarah. Persaingan Tan
Malaka dan Sjahrir telah memecah suara kaum proletar pada dua kubu Murba dan
PSI. Okeylah, itu hanya sejarah. Sekarang penulis akan memberikan contoh
paling simple dari "perpecahan" orang Minang. Tentu pembaca mengetahui
terbelahnya suporter klub Sepakbola Semen Padang, Khmers dan Spartak.
Padahal sama-sama barisan pendukung Semen Padang? Sebuah lontaran dari
seorang teman, membuat penulis tertawa geli, "Ini masalah idealisme Bang.
Makanya kami berpisah".

Tulisan ini tidak hendak membawa arus negatif dan menghambat pendirian
organisasi mahasiswa Minang se-Dunia. Namun, mencoba memberikan beberapa
pertimbangan, sehingga gerakan ini tidak hanya sekedar ambisius. pribadi
dari beberapa orang inisiator. Memang para inisiator memiliki berbagai
pengalaman mengurusi berbagai organisasi mahasiswa. Tapi pernahkah para
inisiator mengurusi organisasi mahasiswa Minang tingkat regional. Bahkan
(mohon maaf), ada di antara para inisiator termasuk orang yang acuh tak acuh
dengan organisasi mahasiswa Minang kampus saat menjadi mahasiswa. Pertanyaan
besarnya adalah jika pengalaman mengurusi organisasi mahasiswa Minang
tingkat regional tidak ada dan lebih parah lagi tak pernah terlibat
organisasi mahasiswa Minang kampus pada saat kuliah, bagaimana pula hendak
menyatukan mahasiswa Minang se-Nusantara, bahkan se-dunia???

Lagi-lagi, penulis hendak menegaskan bahwa ekspektasi tulisan bukanlah
hendak mengulirkan gelombang apatis. Namun, mencoba memberikan gambaran real
atas situasi yang ada sejauh pengalaman dan pengamatan penulis berkecimpung
dalam berbagai forum diskusi dan organisasi Minang.

Jika para inisiator benar-benar serius mendirikan bangunan mercusuar ini,
maka dialog dengan para pakar sejarah dan budaya Minang perlu dilakukan.
Agar didapatkan gambaran yang utuh dan jelas tentang gambaran utuh tentang
manusia minangkabau. Diskusi dengan pengurus Gebu Minang dan SSM juga perlu
dilakukan, agar didapatkan penjelasan tentang manajerial dan pengalaman
mereka mengurusi orang Minang.

Penulis pribadi berpendapat, lebih baik pendirian organiasi, forum ataupun
apalah namanya berangkat dari jaringan personal, bukan perwakilan organisasi
masing-masing organisasi mahasiswa Minang yang telah lama eksis. Barulah
kemudian dibuat perwakilan-perwakilan daerah yang dipimpin oleh
personal-personal yang ada. Pendekatan ini, tidak saja melebur sentimen dan
ego masing-masing mahasiswa yang berlainan universitas serta konflik
internal organisasi, tapi juga bisa menarik mahasiswa-mahasiswi Minang yang
tak aktif di organisasi mahasiswa Minang yang telah eksis di kampus. Tentu
saja, apabila organisasi mahasiswa Minang di daerah-daerah menyatakan
kesediaan bergabung secara organisatoris, menjadi kekuatan positif bagi
kekuatan organisasi berskala internasional ini nantinya.

Kedua, fokus kegiatan yang akan dilakukan hendaknya lebih berorientasi pada
kerja-kerja nyata. Karena masyarakat sudah bosan dengan wacana-wacana
melangit tanpa realisasi. Kalaupun ada acara-acara semacam seminar, ataupun
workshop, itupun harus diletakkan sebagai konsep aplikatif yang nantinya
bisa panduan atas proyek-proyek di lapangan. Tak perlu berorientasi pada
hal-hal yang besar. Tapi mulailah dari hal-hal yang kecil.

Mudah-mudahan kita tidak terjebak pada sebuah adagium terkenal tentang
penyesalan orang tua. "Pada masa muda, aku ingin mengenggam dunia. Tapi
seiring berjalannya waktu, tiada aku mampu melakukannya. Akupun kemudian
kemudian berpikir, untuk mengurus negaraku saja. Namun, setelah kucuba tiada
pula aku mampu mengurusnya. Umurkupun semakin tua, hingga akupun berpikir
lebih baik mengurus keluargaku saja.".

Sesuatu yang besar biasanya dimulai dari hal-hal yang kecil. Langsung menuju
pada ledakan besar, hanyalah berujung pada euforia sesaat yang kemudian
tenggelam digilas masa. Kita memang harus memulai dari mimpi. Tapi aksi
menjadi jalan yang mesti ditempuh untuk realisasi. Kesalahan kita, bukanlah
terlalu tinggi mengantungkan mimpi. Tetapi terlalu cepat ingin terbang.
Sehingga, karena sayap tak punya terhempas juga akhirnya.

Btw, salam semangat untuk pendirian Organisasi Mahasiswa Minangkabau
Se-Dunia.

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke