Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh, Adidunsanak lapau nan mulie,
Ambo sadang baraja-raja maeditkan tulisan dari kawan Kawan ko nyo sakik hati jadi curhat ka ambo Trus ambo suruah agiah tulis curhat tu Nah, curhatan kawan tu ambo rubah jadi mirip cerpen Baa kiro2 yo? Ambo minta pandapek dari banyak cerpenis hebat di Lapau ko. Ambo ingin share disiko, sebab ambo baru sakaliko mancubo manulis yg bukan ambo alami atau ambo saksikan. Da ambo publish disiko alah seijin nan punyo pengalaman Dan kebetulan tokoh nan berperan disiko sadonyo adalah urang awak Trus ambo susah mancari judulnyo, minta tolong ciek saran maagiah judulnyo Mokasih banyak sabalumnyo Banyak maaf jiko ndak berkenan, tolong disisiahkan sajo. Wassalam Rina, batam ----------------------____________________________________________________ Suntuk sehari tadi, membawaku sore ini ke salah satu toko pakaian di kota duri. Kota Industri Tambang yang kutinggali sekarang ini. Aku memilih sebuah toko yang bercat metalik silver yang menyilaukan. Di toko ini semua pakaian dan accessoriesnya bisa ditawar. Sebab menurutku tawar menawar adalah seni berbelanja yang mengasyikkan. Demikianlah yang kulakukan dimasa lampau di saat aku masih sekolah dulu. Saat itu Orangtuaku memiliki sebuah Kedai Nasi yang terletak di persimpangan jalan yang ramai. Aku yang kebagian tugas untuk berbelanja segala kebutuhan Kedai Nasi itu, merasa sangat beruntung karena hasil tawar menawarku lumayan menyejahterakan kantongku dikala itu. Dua orang laki-laki sebayaku yang menjadi penjaga toko ini, tak terusik dengan kedatanganku. Menggunakan bahasa yang sangat kukenali, mereka berdua tetap bercerita walau telah melihat kedatangaku memasuki tokonya. Apa penampilanku kurang begitu menyakinkan mereka ya?," hatiku jadi bertanya-tanya. Menurut ku koleksi pakaian dan accessories di toko ini cukup lengkap dan bagus. Mataku langsung tertuju pada celana jeans yg terpajang didinding sebelah atas kami. Sekalipun gerak-gerikku menunjukkan keberminatanku pada salah satu pakaian yang mereka pajang, tetapi mereka masih tetap cuek denganku sambil meneruskan obrolan mereka yang sempat terpotong oleh kedatanganku tadi. Merasa pembeli adalah Raja J, maka kuputuskan untuk bertanya. "Boleh lihat celana jeans yang digantung disana itu Bang?," tanyaku sopan. Tanpa menghiraukanku si Abang langsung menjawab," Empat ratus duapuluh ribu harganya," jawabnya acuh tak acuh seperti tak mau diusik dari keasyikkan mereka ngobrol. Bahkan posisi duduk merekapun tidak bergeming sedikitpun. Masih kutekan hatiku yang memberontak melihat sikap mereka itu. Beginilah kalo permintaan lebih besar dari stock, jadinya si Penjual jadi belagu bikin gondok aja. "Kira-kira pasnya berapa Bang," tawarku lagi dengan sabar yang tersendat-sendat. "Gak bisa dikurangi lagi," jawabnya masih dengan acuh tak acuh. "Makasih Bang," letupku cepat sambil kuayunkan langkahku keluar dari toko sialan itu. Sambil berjalan aku menggerutu panjang pendek. Coba tadi orangnya sedikit ramah, berkemungkinan itu celana udah pindah tangan dan duitkupun juga akan pindah tangan tanpa perlawanan yang begitu berarti. Sebab terkadang kebiasaanku yang bila sudah sangat suka dengan suatu barang, aku merasa rugi bila tidak memilikinya, walaupun pengorbanan untuk itu sedikit mengguncang management financialku. Sambil memegang sebatang rokok yang sedari tadi belum sempat kubakar,aku melihat tulisan 'Sedia Lotek' dikaca Warung diseberang jalan yang catnya berwarna hijau pupus. Sekedar menghilangkan kekesalan hati, aku berjalan memasuki warung kecil ini, sebab Lotek adalah salah satu makanan favoriteku. "Pedas ya Buk," pintaku ke Ibuk yang nunggu warung sambil duduk di kursi plastik bewarna merah marun ini. Dengan cekatan si Ibuk sudah menghidangkan sepiring lotek yang disiram dengan sambel yang dibikin terpisah dari adonan lotek, sehingga dengan gampang dia bisa menyesuaikan dengan selera pemesan. Padahal dalam bayanganku, aku bisa menghabiskan rokok yang tengah kupegang ini sampai si Lotek hadir dihadapanku, sebab pembuatan Lotek yang secara tradisional menyebabkan banyak waktu harus kusediakan untuk bersabar sampai si Lotek bisa terhidang di depan hidungku. Bumbu kacang yang pedas sedap mesti diuleni dengan ulenan batu yang landai, dimana si anak batu ulenan akan sibuk beberapa saat menggiling dan menggolek manja ke induknya, sambil menyatukan rasa ke seporsi hidangan ini sampai jadi. Surut sudah seleraku untuk menikmati seporsi lotek jadi-jadian ini. Si Ibuk penjual Lotek yang seharusnya mempertahankan rasa keaslian Lotek dengan gilingan langsung bumbu pelumur Lotek ini. Tapi pertimbangan tenaga dan waktu yang menyebabkan orang berlomba-lomba menciptakan alat mekanik pemanja tenaga manusia seperti Blender dan sejenisnya menyelesaikan urusan penghidangan suatu makanan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Sehingga rasa yang bermain tidak lagi seperti rasa asli yang menggelorakan lidah untuk merasakan sensasi lezatnya si Lotek. Si Lotek berubah menjadi Lotek Hitech yang berasa Hight Technology bukan lagi berasa Lotek kampung yang ngangeni diriku yang hidup di perantauan ini. Duh..Ibuk..piye tho Buk.kok ngikut-ngikut Hitech sih.Coba kalo seperti Lotek udik di kampungku sana, tentunya aku akan dengan senang hati melangkahkan kakiku lagi ke warung hijau pupus ini ketika hasrat akan Lotek tidak bisa kutahankan. Walaupun warung ini lumayan jauh, tetap akan kujelang. Kekecewaan demi kekecewaan di hari yang berjalan cepat sehari ini, membuat diriku berpikir keras. Hikmah apakah yang bisa kuambil dari dua kejadian barusan ini. Kepala dan hatiku berontak dengan kondisi ini, mereka kupastikan menyetujui pendapatku bila semua organ didiriku saat ini menunjukkan rasa kesal yang bersangatan. Sambil duduk melamun di angkot yang membawa diriku kembali ke kosanku di sudut lain dari Kota Duri ini, kembali kupikirkan hikmah yang bisa kupetik. Akhirnya aku bisa tersenyum senang, ketika hal itu kudapatkan. Dengarlah Kawan. Pertama. Bila si penjaga toko tadi ramah dan melayaniku sebaik-baiknya, tentunya susah hatiku untuk menghindari terjadinya perpindahan barang dan uang di saat itu. Aku akan sedikit kelimpungan dengan Management Finansialku yang tiba-tiba terusik gara-gara Jeans bagus itu. Kedua. Bila si Ibu membuatkan Lotek seperti Lotek udik yang luar biasa enak dan sedapnya seperti yang biasa kumakan di kampungku, tentunya aku akan sering ileran ketagihan ingin menikmati suapan demi suapan Lotek itu. Sedangkan jaraknya yang jauh dan ongkos pulang pergi yang menjerat tentunya juga akan sedikit mengacaukan istirahatku dan keuanganku yang harus kukelola dengan bijaksana. Okelah Sobat.bagaimana dengan hari-harimu..?? Mudah-mudahan kalian semua bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian ringan disekeliling kita. ---------------------------------------- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
