Rina, iko ado contoh cerpen dari sanak awak Heri Latif di Bulando.
Alurnya enak, pesannya tentang politik kambinghitam di Belanda pun jelas.
Hal yang sama terjadi di AS. Pembangunan masjid di NY dijadikan isu politik.
Dan Demokrat kalah dalam pemilihan sela, karena Obama terkesan membela
pembangunan masjid itu sebagai hak setiap warga negara untuk beribadah
sesuai agama masing2, selama tidak melanggar ketentuan yang berlaku.

Taruihkan manulih Rina. Kamu pasti bisa!
--------------------------------------------------------------------

*Salju

Kereta api terlambat lagi, salju telah membuat sistem sinyal kereta api
kedinginan, lalu membeku, dan kebingungan tak bisa diatur lagi. Winter kali
ini memang terasa aneh, cuacanya lebih dingin dan lebih membeku.

Aku terdampar di stasiun Utrecht, tak bisa melanjutkan perjalanan. Aku tak
punya opsi lain kecuali menunggu di pojokan stasiun. Di luar badai salju
lagi memburu waktu. Langit bagaikan bisu cemburu menyaksikan salju seperti
kapas itu seakan-akan sedang bermain-main dengan angin.

Di dalam stasiun sudah banyak orang kebingungan yang menatap papan
pengumuman, tak ada kereta api yang bergerak. Kemana mereka mesti mengadu?
Antrian panjang mengular di bagian penerangan. Kulihat wajah wajah yang
kecewa sibuk menelepon mengabarkan situasi yang tak ada jalan keluarnya.
Mereka berdesakan mencari tempat untuk menunggu kabar baik.

Menunggu adalah sesuatu yang membosankan, apalagi menunggu sampai badai
salju selesai memutihkan alam dan berharap sinyal kereta api bisa berfungsi
lagi. Dinginpun mulai merangkak dari bawah telapak kaki, menembus sol sepatu
dan sampai ke hidungku, mulailah bersin yang mengandung virus terbang
kemana-mana.

Orang yang berdiri di sebelahku mukanya cemberutan, matanya melotot. Ia
pasti takut kena sambar virus yang lewat bersinku itu. Apa boleh buat, aku
memang punya alergi, ia boleh pindah tempat sesukanya, aku tak peduli.

Aku bersin lagi. Sekali ini bersinnya berhasil kublokkir, tapi akibatnya
kentutpun keluar tanpa permisi, dan suaranya cempreng bagai suara terompet
topeng monyet. Aku malu berat bah, tapi pura pura tak tau. Topiku makin
dalam menutupi mukaku, syal yang melilit leher menyembunyikan wajahku. Aku
tak berani melirik ke kiri dan ke kanan. Selama 10 detik aku menahan napas,
akibatnya malah tambah parah, perutku jadi  gembung dan terasa mual. Aku mau
kentut lagi!

Hampir lima menit aku menahan kentut, akhirnya aku tak tahan lagi dan
berlari ke arah pintu ke luar. Di luar angin dingin menerpa angin yang
keluar dari badanku. Kulihat beberapa orang sedang asik merokok, asapnya
ditelan ribuan salju yang seperti kapas itu. Malam menembangkan nyanyian
angin musim dingin.

Aku masuk lagi ke dalam stasiun menuju kedai kopi, aku haus ingin minum kopi
susu. Suara pengumuman tentang jadwal kereta api terdengar menggema di
dinding. Sinyal kereta api ke arah utara katanya telah dibuka, akupun
berdoa.

***

Di luar badai salju telah mulai mereda. Segelas kopi susu dan sebatang
keretek ikut juga membakar sepi, tapi cuaca tetap tak bersahabat. Tumpukan
salju menutupi trotoar dan jalanan. Seorang datang bertanya apa aku punya
korek api. Setelah rokok jadi abu, percakapanpun bersambung sampai ke dalam
stasiun, kami berdiskusi tentang badai salju sampai dengan masalah kelaparan
yang masih menghantui dunia. Ia mengaku sebagai seorang pegawai negeri
bagian urusan orang asing. Kesempatan bagiku untuk bertanya padanya tentang
isu politik yang lagi ngehits, tema soal politik kambing hitam. Sekarang
orang asing dijadikan alat politik praktis, apakah ini suatu tanda bahwa ada
usaha untuk mengalihkan perhatian terhadap krisis ekonomi yang menimpa dunia
dan juga Belanda.

“Retorika politik Belanda berdasarkan permintaan pasar, kerna krisis ekonomi
maka orang gampang dipengaruhi rayuan populisme, orang bingung lagi nyari
pegangan”, katanya kalem.

“Rupanya persoalannya cuma orang bingung lagi nyari pegangan. Itukah alasan
utamanya? Bukankah bangsa barat suka bicara soal hak asasi manusia, tapi
ternyata tak sanggup melihat kenyataan, bahwa ada orang asing di Belanda
yang berhasil mendaki tangga karir politiknya hingga menduduki korsi
gubernur di kota Rotterdam.

Teman diskusi yang ketemunya gara gara badai salju ini menjawab:
“percayalah, jika terjadi krisis ekonomi yang berat seperti ini, bangsa
apapun di dunia akan menyelematkan dirinya sendiri-sendiri. Kepercayaan
public terhadap nilai nilai lama akan digantikan oleh pemikiran yang hanya
mementingkan diri sendiri, korban dicari dari kelompok yang paling lemah,
hukum alam berlaku”.

Pengumuman menggema lagi, semua sinyal telah diperbaiki, kereta api jalan
lagi. Diskusi ditutup. Kami berpisah setelah sempat berdiskusi soal
kemanusiaan, dan apakah hak asasi manusia itu juga dibilang kejadian alam?

Jawabannya ada pada diri kita masing masing, tergantung dari rasa
kemanusiaan kita, bukan tergantung dari warna kulit ataupun perbedaan
materi. Kemanusiaan adalah benteng terakhir untuk membuktikan bahwa manusia
itu berbudaya dan mencintai perdamaian.

*Amsterdam, 13/12/2010

http://herilatief.wordpress.com/
http://akarrumputliar.wordpress.com/
http://sastrapembebasan.wordpress.com/

2010/12/16 andi ko <[email protected]>

> Mantap Rin
>
> Tingga kekuatan curitonyo dan pesan yang ingin disampaikan diperkuat
>
> Salam
>
> Andiko
>
> Manunggu Kapa Barangkek di Adi Sutjipto
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. E-mail besar dari 200KB;
> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
>



-- 
Wassalaamu'alaikum
Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta),
gelar Bagindo, suku Mandahiliang,
lahir 17 Agustus 1947.
Nagari Gasan Gadang, Kab. Pariaman. rantau: Deli, Jakarta,
sekarang Sterling, Virginia-USA
------------------------------------------------------------
"menjadi bagian dari sapu lidi, akan lebih bermanfaat dari pada menjadi
sebatang lidi"

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke