Assalamualaikum...
Maaf ambo forwardkan ota mengenai maiklankan praktek singapur..

Labiah kurang mhn maap.

Rahyussalim
------Original Message------
From: Nani Cahyani Sudarsono
To: [email protected]
ReplyTo: [email protected]
Subject: Re: Apa IDI kita tidak berdaya?
Sent: Dec 20, 2010 17:14

TS yth
tadi pagi saya berkirim kabar dengan dr. Prijo dan Prof Agus Purwadianto
soal ini. Berikut ini jawaban dari Prof Agus:

"Ya, TS Yani. Nanti bentar lagi akan keluar permenkes yg melarang iklan
itu. Kita akui itu rada telat kemkes mengeluarkannya. Sdh tinggal paraf
Menkes. Tinggal penegakannya yg hrs istiqomah utk menjerakan orang2 spt
ini."

semoga menjadi maklum ...
salam,
-- 
Nani Cahyani Sudarsono
Undergraduate Program Coordinator
Faculty of Medicine, Universitas Indonesia
Jl Salemba Raya no 6 Jakarta 10430
Ph/Fax 62-21-3156978
e-mail [email protected]

On Mon, December 20, 2010 4:58 pm, [email protected] wrote:
> Jadi yang bisa PB IDI lakukan setidaknya mengirimkan surat ke IDI
> singapore dgn tembusan ke yang bersangkutan untuk tidak beriklan secara
> terang2an dan komersial, namun mengikuti nilai dan etika kedokteran
> "universal" dan Indonesia.
> Sedangkan undang2 periklanan menjadi PR bagi kita utk belajar apa isinya
> dan menjudicial review kalau memang perlu dan itupun kalau ada undang2nya.
> Kalau belum berarti IDI bisa beri asupan.
>
> Ismail HD
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
> -----Original Message-----
> From: [email protected]
> Date: Mon, 20 Dec 2010 09:48:06
> To: <[email protected]>
> Reply-To: [email protected]
> Cc: <[email protected]>
> Subject: Re: Apa IDI kita tidak berdaya?
>
> Tampaknya yurisprudensi memang menjadi masalah di sini.
>
> Karena si dokter singapura itu bukan anggota IDI maka (pada hemat saya)
> memang bukan kewajiban dia mengikuti aturan yg digariskan IDI.
>
> Lalu, apakah ada  aturan yg melarang seorang dokter asing dalam hal
> beriklan di Indonesia? Jangan jangan nggak ada
>
> IDI bisa menggugat Media massa nya sehingga terbentuk yurisprudensi agar
> tidak sembarangan beriklan. Sulit untuk mengatur dokter asing yg tidak
> tunduk pada perundang undangan kita (apalagi pangsa pasar medical di
> singapore ya bangsa Indonesia ini). Tapi Media massa nya kan tunduk dengan
> sistem perundang undangan kita
>
> Sekedar saran
>
> Aryadi Kurniawan
>
>
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
> -----Original Message-----
> From: [email protected]
> Date: Mon, 20 Dec 2010 14:25:12
> To: <[email protected]>
> Cc: <[email protected]>
> Subject: Re: Apa IDI kita tidak berdaya?
>
>>
> Memprihatinkan memang tapi kita khusnudhan saja, IDI mungkin sdh berusaha
> dengan cara yang lain.
> Atau, karena dokter Singapura itu toh bukan anggota IDI, ya sulit
> menegornya. Jadi IDI akan lasngsung melaporkan ybs ke Ikatan Dokter
> Singapura (muah-mudahan).
>
> Nah, saya usul bagaimana kalau FKUI saja membuat "round table disc" saja,
> dengan menghadirkan Pejabat DepKes, IDI dan Wartawan Kesehatan + LSM2
> kesehatan. Jangan lupa YLKI diajak. Round table ini kita harapkan menjadi
> "bola-salju" dengan target "orang2 pinter" yng membuat iklan terselubung
> di TV.
>
> trimakasih
>
> Wassalam. sms : 02192204623 / 0811990407.
>
>  Dear anggota milis Kurfak 2005,
>>
>> Kemarin di harian Kompas halaman 4, untuk ke sekian kalinya saya
>> melihat
>> iklan Dr Goh Seng Heng dari Singapura terpampang besar2an memenuhi 1/2
>> halaman koran mengiklankan dirinya (paling tidak saya sudah melihat
>> iklan
>> ini minimal 2x sebelumnya).
>> Saya sudah pernah membaca tulisan dari Prof. Rianto S, SpFK di Suara
>> Pembaca Kompas yang mengkritik keras adanya iklan dari Dr Goh ini.
>> Beliau
>> juga mengatakan sudah menegur keras melalui surat resmi kepada yang
>> bersangkutan. Namun dg melihat kembali iklan ini muncul hari ini, hati
>> saya menjadi sedih.. Apa sebegini tidak berdayanya IDI menghadapi era
>> pasar bebas? Betapa kasiannya dokter2 kita yg selama ini tidak pernah
>> beriklan diri krn menjunjung tinggi nilai2 Kode Etik Kedokteran, tapi
>> dokter asing dengan membabi butanya mengiklanlan dirinya bahkan di
>> media
>> massa kita yang terkemuka seperti Kompas?? Makin banyak aja pasien2
>> kita
>> yang akan lari berobat ke sana karena klien tidak pernah tau masalah
>> kode
>> etik kedokteran, mereka cuma perlu adanya informasi, dan informasi dari
>> dokter yang paling gencar adalah yang dari luar negeri seperti
>> ini...sementara dokter2 kita tidak bisa berbuat apa2... *prihatin mode
>> on*
>>
>> Dandi
>>
>> Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
>> Teruuusss...!
>
>
>




Powered by Telkomsel BlackBerry®

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke