Sanak jo kamanakan sa Palanta

Saya pertama kali turun di Hang Nadim ketika transit dalam penerbangan
Pontianak - Medan pada tahun 1992. Namun baru sepuluh tahun kemudian saya
benar-benar ke kota pulau ini ketika PERFORM program tempat saya bekerja
ketika itu menyelenggarakan regional meeting di sana.

Tadinya saya malah akan bekerja selama 5 bulan di proyek Batam Wastewater
Master Plan. Setelah tertunda dan tertunda karena pekerjaan di Jakarta harus
diselesaikan, akhirnya dengan agak tertatih-tatih hari Kamis 25/11---hampir
sebulan  yang lalu, saya kembali menginjak Hang Nadim, yang tentu saja sudah
banyak berubah dibandingkan dengan delapan tahun yang lalu. Ya, jangankan
Hang Nadim delapan tahun yang lalu, Sukarno-Hatta yang terakhir saya injak
satu tahun lalu  sudah banyak berubah, lebih rame, toilet di terminal F yang
sudah direnovasi. Dan untuk pertama kalinya pula saya terbang naik Boeing
737 seri 800 Garuda yang sebelumnya hanya saya lihat gambar dan ulasan
mengenai keunggulannya dibandingkan dengan seri-seri di bawahnya di koran.

Di Batam saya dijemput oleh OM Proyek  yang walaupun namanya Jawa 'banget',
eh ternyata "Si Padang" juga. Dari Hang Ngadim saya langsung di bawa ke
tempat kos yang sudah dicarikannya di Green Land, Batam Center, karena
beberapa kolega saya juga kos di sana. Dengan wajah yang agak menyesal dia
bilang sayang yang ada tinggal yang di lantai dua. "Oo tidak apa-apa, ini
malahan bagus untuk membantu saya menjaga kebugaran," jawab saya.

Dengan sewa Rp 1,5 juta sebulan termasuk laundry, saya dapat kamar yang
cukup bersih, pakai AC, kamar mandi di dalam dan TV 16 inch, hampir sama
dengan sewa yang saya bayar untuk kamar dengan fasilitas yang hampir sama
dan di lantai yang sama ketika saya bekerja di Semarang  Yang di Batam
kamarnya lebih resik dan arnya dari PAM, sementara yang di Semarang dari
sumur pompa yang   kadang-kadang airnya kotor. Kelebihan di Semarang ialah
untuk makan malam cukup banyak pilihan. Memang tidak ada pilihan yang
sempurna. Malahan malam pertama di Batam nyaris saya lewati dengan perut
keroncongan. Waktu hendak keluar mencari warung nasi, hujan turun dengan
lebatnya. Akhirnya saya bersiap-siap untuk tidur hanya dengan minum Milo 3
in one, karena saya membawa kompor listrik portable dari rumah. Tiba-tiba
ibu pemilik kos yang tidak tinggal di sana mengetuk pintu menanyakan apakah
sudah saya sudah makan atau belum, kalau belum akan dibelikannya. 

Alhamdulillah akhirnya malam itu saya bisa makan nasi dengan ikan bakar, dan
dapat tidur dengan nyenyak. 

Paginya saya dapat SMS dari direktur perusahaan tempat saya bekerja sebagai
tenaga lepas sejak  tahun 2006 agar kembali ke Jakarta dulu karena ada
pekerjaan yang harus diselesaikan. Sabtu siang keesokan harinya saya kembali
ke Jakarta dengan Lion Airlines, karena penerbangan Garuda hari itu sudah
penuh. Itu adalah penerbangan pertama saya dengan Lion. Selama ini Lion saya
masukkan ke daftar terakhir. Pasalnya dulu, ketika kembali dari perjalanan
ke daerah, di Sukarno-Hatta saya berpapasan dengan rombongan pramugari Lion
yang rata-rata berkulit bersih, dengan rok panjang semata kaki. Tapi
alamaak, belahannya di kanan kiri cukup jauh di atas lutut. Saya melihat
wajah kedua anak perempuan saya di wajah para pramugari tersebut. Saya tidak
merendahkan para pramugari itu tentu saja. Yang membuat kepala saya sering
berasap adalah perusahaan-perusahaan yang gemar mengeksploitasi tubuh
perempuan untuk kepentingan bisnisnya. Kalau Jupe, Depe cs melakukannya
suka-suka itu urusan mereka sendiri. Tetapi Lion rupanya sudah berubah.
Selain pesawatnya masih baru: Boeing 737 seri 900, awak kabinnya cowok
semua.

Setelah tiba di Jakarta dan datang ke kantor karena ada rapat, saya
diberitahu bahwa saya tetap di Jakarta saja, dan seperti sebelumnya,
sebagian besar dapat dikerjakan di rumah.  Untuk posisi di Batam akan
dicarikan penggantinya. Awalnya saya agak kecewa juga, karena saya suka dan
sudah mempersiapkan diri untuk pekerjaan di sana. Akan tetapi akhirnya saya
sadar bahwa Allah SWT memang telah menetapkan, Batam bukan garis hidup
saya. As a matter of fact, karena faktor usia dan kesehatan, termasuk
penglihatan yang semakin menurun dan suara yang semakin hilang yang
menyukarkan saya berkomunikasi secara lisan,  saya tidak lagi sebugar ketika
bekerja di Aceh dan Semarang. Apalagi Kur sang belahan jiwa, belakang ini
sudah sering sakit-sakitan. Malahan sepekan yang lalu terpaksa dirawat di RS
beberapa hari, karena gulanya yang sebelumnya relatif tinggi, drop tajam.

Dan apa digariskan Allah SWT, pastilah yang terbaik buat hamba-hamba-Nya.

 

Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 67+)

Asal Padangpanjang, suku Panyalai, tinggal di Depok, Jawa Barat 

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke