Assalamu'alaikum WW Ritrina
Salam hormat ambo untuak papa Ritrina dan untuak Mak Ngah. 

Alhamdulillah katiko pak Imam  wafat ambo lai sempat datang  di Musajik di 
Kramat, tampek Jenazah pak Imam di semayam dan di shalatkan oleh ribuan ummat 
nan datang wakatu itu.

Wassalamu'alaikum WW
EBR,53,jakarta





________________________________
Dari: rinapermadi <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sel, 21 Desember, 2010 16:03:04
Judul: [...@ntau-net] Ketika Papa Bercerita.....  By : Ritrina

 
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,
Adidunsanak lapau nan berbahagia,
 
Sekedar untuk maingekkan ambo ke beberapa obrolan ringan antaro anak jo ayahnyo 
nan lah sadari ketek ambo tabiaso mamanggia beliau dengan sebutan Papa, bukan 
karena lanjo nan gadang tapi iyo alah mode itu diseting Mama ambo sadari 
saisuak. Obrolan iko adolah khusus mengenai seorang Tokoh panutan di dalam 
hiduik Papa katiko bagolak saisuak yaitu Buya M Natsir.
Sekedar penyegar ambo kutipkan linknyo sabalun ambo mulai carito versi Papa 
ambo.
 
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:rUEraW2ou2QJ:www.eramuslim.com/editorial/m-natsir-pemimpin-islam-sejati.htm+M+Natsir&cd=9&hl=en&ct=clnk

 
http://bulanbintang.wordpress.com/2010/06/30/memoar-aba-sebagai-cahaya-keluarga-catatan-102-tahun-mohammad-natsir/

 
 
Salamaik manyimak…
 
KETIKA PAPA BERCERITA
By : Ritrina
 
A.      Gang Kenanga
 
Barangkali para pembaca akan merasa jika Gang Kenanga berada di sebuah kota 
yang 
memiliki banyak perumahan. Di setiap perumahan ada jalan kecil yang sering 
disebut dengan Gang. Namun Gang Kenanga yang akan saya ceritakan disini adalah 
sebuah tempat di dalam kerimbunan rimba raya yang terletak di daerah Sumatera 
Barat tepatnya daerah pinggiran kota Bukittinggi arah ke Lubuk Sikaping 
tepatnya 
daerah itu bernama Kumpulan.  Gang Kenanga adalah sebuah daratan diatas tebing 
yang dibawahnya mengalir sungai kecil sekitar 2 meter lebarnya biasa disebut 
dengan batang aia.  Di seputaran batang aia ini berdiri beberapa pondok 
persembunyian Buya M Natsir sekeluarga beserta rombongan. 

 
Salah seorang rombongan ini adalah Papa yang bertugas sebagai kurir. 
Untuk mencapai Gang Kenanga sangatlah sulit sebab selain jauh juga penuh dengan 
resiko. Dari sekitar daerah Aia Kidjang dekat daerah Kumpulan berjalan kaki 
kearah kiri rimba selama kurang lebih 2 jam. Setelah itu menyeberang Batang Aia 
Masang yang lumayan lebar dan deras. Berjalan lagi arah Tenggara terus ketemu 
Batang Air kecil dimudikkan sekitar setengah jam lalu berjalan lagi agak 
mendaki 
menembus rimba. Seperempat jam kemudian ketemu batang air berdiameter 2 meter 
lalu dimudikkan sekitar seperempat jam ketemu tebing yang tidak terlalu terjal 
maka didataran diatas tebing itulah gang Kenanga berada. 

 
B.      Kurir
 
Tugas sebagai kurir yang diemban Papa di awal tahun 1961 dimana di penghujung 
masa pergolakan PRRI yang berakhir di akhir tahun 1961. Tugas yang cukup 
menyita 
kejelian supaya jejak yang ditinggalkan bila memasuki dan meninggalkan tempat 
persembunyian itu tidak sampai terlihat meninggalkan bekas. Bila berjalan di 
darat harus diusahakan tidak menginjak sesuatu yang meninggalkan jejak. Seperti 
jalur pinggiran batang air yang mana harus menyusuri air sungai dengan kaki 
harus tetap berada di dalam air, tidak boleh menyibakkan air ke batu atau 
berjalan diatas batu yang banyak terdapat di dalam sungai tersebut.
 
Layaknya tugas kurir, Papa sering diberi tugas mengantarkan surat ke 
Bukittinggi 
kota untuk diteruskan ke alamat yang dituliskan oleh Pak Imam (panggilan Buya M 
Natsir diantara pejuang PRRI). Sering kali alamat surat itu ditujukan ke negeri 
Paman Sam selain ke tujuan lainnya. Pernah juga kembali membawa senjata dan 
amunisi. Selain itu Ummi (sebutan untuk istri buya M Natsir diantara pejuang 
PRRI) juga menyuruh untuk membeli keperluan mereka di Rimba itu dengan menjual 
emas yang dipakai oleh Ummi bila persediaan mulai menyusut. Tidak jarang ada 
banyak sumbangan yang diterima Pak Imam dari daerah-daerah di sekitaran sana 
seperti dari daerah Kamang. Yang dipergunakan sepenuhnya untuk perjuangan 
mereka 
disaat itu. 

 
C.      Makan bersama
 
Bila ada orang kampung yang ingin berjumpa dengan Pak Imam untuk suatu 
keperluan, maka orang itu dijamu layaknya seorang tamu. Walaupun dia hanya 
seorang pesuruh juga, namun Pak Imam selalu memperlakukan layaknya seperti 
saudara. Ummi dan seorang anak Pak Imam akan sibuk mempersiapkan makanan untuk 
makan bersama-sama walaupun ala kadarnya. Sebelum mereka makan bersama, 
belumlah 
boleh orang itu kembali pulang. Ketika sedang makanpun Pak Imam selalu 
‘mambasoi’ supaya orang tersebut menambahkan makanannya. Hal-hal sederhana 
seperti inilah yang membuat beliau menjadi seorang Pimpinan yang tambah 
disegani 
, dicintai dan dihormati.
 
D.     Makan Kambing hutan
 
Seorang kawan Papa yang lihai menembak berhasil menembak seekor kambing hutan 
yang lumayan gemuk. Kambing tersebut dimasak oleh Ummi dan anak beliau, kalau 
tidak salah ingat namanya Aisyah kata Papa sambil berusaha mengingat-ingat. 
Kambing yang digulai dan dipanggang itu dimakan bersama-sama penuh kegembiaraan 
di tengah rimba itu. Mereka lupa sesaat akan keberadaan mereka di tengah rimba 
itu untuk berjuang. Saking terkenangnya masa makan besar tersebut, tidak sadar 
Papa sering sekali mengulang-ulang cerita itu bila sudah terkenang masa-masa 
pergolakan dan masa hidup bersama Pak Imam yang diidolakannya.  
 
Papa juga berkata, bila seseorang yang sudah bersama Pak Imam sama-sama makan 
daun di rimba dulu tapi tingkah polahnya tidak sedikitpun menauladani Pak Imam 
yang sederhana dan sholeh itu, sungguh dia adalah seorang yang sangat sombong 
dan angkuh. Tidak pantas disebut sebagai pejuang. Sepertinya Papa sambil 
berkata 
demikian ada yang mengganjal di hatinya, namun sepertinya beliau tidak ingin 
menceritakannya.
 
E.      Menyerah
 
Ketika keputusan telah disepakati untuk kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, maka 
para pejuang PRRI secara berangsur-angsur kembali memasuki kota sebab 
sebelumnya 
mereka melancarkan serangan gerilya dengan basis dari rimba ke rimba. Menurut 
Papa waktunya sekitar bulan September tahun 1961. 

 
Pak Imam sewaktu itu berjalan keluar dari persembunyian beliau kearah 
Palembayan 
tepatnya desa Mantaman lalu masuk ke Bukittinggi dimana ketika di desa itu 
telah 
dinanti oleh tentara Soekarno. Sedangkan Papa beserta seorang kawan beliau yang 
lainnya pergi ke arah Lubuk Sikaping untuk melapor penyerahan diri. Ummi yang 
tidak kuat untuk berjalan digendong oleh seorang kawan Papa bernama Chan orang 
Gadut Tilatang Kamang keluar rimba bersama rombongan Pak Imam. 

 
F.       Berkirim Surat
 
Setelah keadaan aman kembali, Papa melanjutkan sekolahnya dan akhirnya bekerja 
sebagi seorang perawat di rumah sakit. Beberapa tahun setelah menyerahnya PRRI 
itu Papa tetap mengingat Pak Imam sebagai pimpinannya. Berkirim surat adalah 
salah satu yang sering dilakukan Papa dengan Pak Imam. Salah satu surat yang 
diingat Papa sebagai balasan surat Papa yang mengabarkan keadaannya, Pak Imam 
menyuruh Papa untuk membaca semua literature yang berkaitan dengan pekerjaannya 
sebagai perawat. Hanya saja surat-surat tersebut saking ingin disimpan sampai 
Papa lupa menyimpannya dimana. Yah..namanya juga orang tua J
 
G.     Bertemu Kembali 
 
Untuk pertama kalinya Pak Imam yang dibatasi pergerakannya dengan sebutan 
Petisi 
50 yang oleh Soeharto juga dihukum. Pak Imam tidak bisa leluasa untuk 
bepergian. 
Pulang ke Padang untuk pertama kalinya itu, disambut dan dinanti oleh banyak 
orang yang bersimpati dengan pak Imam setelah bertahun-tahun berada di Jakarta. 
Sewaktu pesawat yang membawa Pak Imam mendarat di Lapangan Terbang Tabing, Pak 
Imam sudah terlihat sangat tua dan duduk di kursi roda. Ummi yang terlihat 
lebih 
bugar mengiringi disamping beliau. Papa yang sangat berharap bertemu dengan 
mereka telah menanti di dekat pintu kedatangan. Hanya ingin sekedar melihat 
Pimpinannya yang diseganinya dulu. Saat itu Pak Imam sudah tidak terlalu 
mengingat wajah Papa, hanya Ummi yang mengenali dan menyapa Papa dengan ramah. 
Si Djas…begitu Ummi menyapa Papa ketika bersalaman dengan para penyambut. 
Pertemuan yang mengharukan hati para penyambut Pak Imam dan Ummi setelah sekian 
tahun berpisah. 

 
H.     Mutiara Perjuangan
 
Walaupun Pak Imam adalah sosok yang dianggap sebagai tokoh pemberontak di 
Negara 
ini oleh banyak orang, namun bagi seorang seperti Papa adalah tokoh yang pantas 
untuk ditiru dan ditauladani. Pernyataan yang sama yang saya temui dari 
seseorang yang juga dekat dengan Pak Imam ini. Dimana dahulunya beliau juga 
sama-sama berjuang sebagai penyiar radio PRRI dan juru tulis Pak Imam mulai 
dari 
masa awal pergolakan PRRI tahun 1958 sampai dengan 1961. Nasib membawa pejuang 
satu ini ke Negeri yang sangat jauh dari kampungnya yaitu ke Santa Cruz 
California di tahun 1966. Di sebuah milis besar ‘Urang Awak’ beliau biasa 
disapa 
dengan sapaan Mak Ngah.
 
Di penghujung tahun 2010 tepatnya tanggal 19 Desember 2010 disebuah sore yang 
teduh di Kota Bukittinggi Sumbar. Papa dan Mak Ngah ketemu setelah beberapa 
kali 
berteleponan berkat jasa internet yang membuat bumi tidak berjarak. Milis 
Rantaunet yang dibidani beliau juga berperan sangat besar bertemunya dua abdi 
Pak Imam yang sama-sama mengagumi tokoh besar itu. 

 
Mama yang lagi belanja ke warung disapa oleh tetangga, Bapak ini mau ketemu 
Papa 
katanya. ‘Oh..Bapak yang bertelponan dengan Papa, yang dari Biaro? “ tanya Mama 
yakin. Langsunglah beliau dibawa pulang Mama untuk ketemu Papa. Sambil berjalan 
Orang Tua yang tidak lain adalah Mak Ngah itu bercerita, kalo dia bisa sampai 
ke 
daerah itu dengan berjalan kaki. Bayangkan Kawan… daerah pasar Bukittinggi yang 
penuh jenjang pasar yang tinggi dan curam didaki dan dituruni oleh Mak Ngah 
yang 
sudah memasuki umur 76 tahun…ck..ck..ck…ditambah lagi dengan berjalan kaki 
beberapa kilo ke arah  Kantor Walikota Bukittinggi.
 
Sesampai di rumah berlangsunglah pertemuan yang bersejarah itu, sayangnya tidak 
ada yang merekam cerita dua orang ini supaya kita bisa dibagi nostalgia mereka. 
Tapipun jika direkam barangkali mereka tidak bakalan mau, sebab banyak hal yang 
akan mereka rahasiakan tentunya, khas Pejoeang. Dua setengah  jam pertemuan itu 
segera berakhir sebab malam sudah mulai melingkupi bumi Bukittinggi, akhirnya 
cerita  penuh nostalgia itupun harus mereka akhiri. 

 
Andai saya juga bisa mendengar langsung cerita seru mereka dan tidak hanya 
mendengar laporan melalui percakapan telepon, tentunya saya bisa menyajikan 
tulisan ini lebih hidup dari apa yang sudah saya tuliskan ini.
 
(Seperti yang pernah Papa saya ceritakan)
 
Batam, 21 Desember 2010
Ritrina
 
 
 
 
 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib 
mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke