Ini tulisan yang dibuat oleh ES ITO,anak dari kamang,yang kini alah mambuek 
novel Negara Kelima,dan Rahasia Mede.
Khusus Negara Kelima jika membacanya kita akan bangga sebagai orang minang...
Berikut tulisan dan link ES ITO yang berjudul surat utk firman...

firman/Surat Untuk FirmanPosted on December 28, 2010 
Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. 
Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. 
Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban 
yang seringkali bukan urusan kita. 
Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. 
Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti 
mengabarkan kebencian. 
Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik 
uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang 
tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. 
Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati 
sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk 
menjadi seperti mereka?Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara 
benci menjadi kenyataan. 
Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin 
mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita 
dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, 
sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. 
Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa 
cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan 
mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. 
Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau 
mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. 
Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka 
mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. 
Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.Hari-hari 
belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu.
 Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang 
lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk 
menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna 
solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. 
Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan 
itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” 
belum punah dari kehidupan kita. 
Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban 
diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. 
Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit 
Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah 
belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap 
kau cukup bermain dengan gembira.Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola 
Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola 
tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus 
kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga 
diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili 
siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau 
tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola 
bukan dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, 
seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. 
Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian 
mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus, 
gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan 
membuyarkan impian lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing 
yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.Kawan, aku berbicara 
tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata 
kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala 
darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang 
becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak 
butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola 
mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di 
Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang 
dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah 
layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian 
teladan!  
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke