Kmd. Armen sarato Dunsanak di palanta Iko ambo copaskan sbb:
*Tips Cara Mengawetkan Cabe/Cabai Agar Tahan Lama Dan Dapat Digunakan Lagi Ketika Diperlukan* Wed, 31/12/2008 - 1:13am — godam64 Cabe adalah suatu bahan masakan vital yang sering digunakan untuk memasak masakan. Harga cabai baik cabe merah maupun cabe rawit ketika langka akan naik drastis sehingga menjadi sangat mahal. Bagi anda yang suka membeli banyak cabe di kala harga cabe sedang murah tidak ada salahnya membuat cabe yang tersisa awet agar tidak busuk dengan cepat. Untuk mengawetkan cabe agar tidak mudah busuk kita caranya adalah dengan mengukus dan menjemur cabe lalu menyimpannya di tempat yang tertutup. Ketika ada sisa banyak cabei yang tidak digunakan maka pertama-tama kita kukus cabe selama 15 sampai 20 menit lalu tiriskan. Lalu jemur cabe itu sampai kering dan simpan dalam wadah tertutup rapat. Jika ingin digunakan kita tinggal merendam cabe kering tersebut dalam air panas. Selamat mencoba. Walau tehologi sarupo iko alah diketahui oleh petani dan kelebihan produksi acok terjadi pada petani tapi nyatanya petani *belum berpikir* untuk mengatur masalah kelebihan produksi tsb. Iko di kampuang wakatu ketek ketek: Mungkin sejak ratusan tahun yl. inyiak inyiak awak biaso merontokkan padi dengan caro "diiriak" (diinjak injak dengan kaki) yang memakan waktu serta tenaga yang besar. Lalu untuak membersihkan butiran padi dari daunnya "dikirai" dan dianginkan/ kalau tak ada angin kerja berhenti <---- alangkah tidak efisienya tehnologi tsb. Tapi bagi anak anak itulah waktu yang sangat menyenangkan tidur di baruang baruang beratap jerami di tengah sawah di alam terbuka, malam malam mamak tani basaluang ! Kemudian pak Harto merubah semua kebiasaan tersebut dalam jangka yang tidak lama, kini petani tidak perlu mairiak dan meanginkan lagi tapi cukup dihempaskan hempaskan ke balok kayu. Nah siapa yang akan menyuruh petani mengawetkana lado dengan tehnologi yang mereka sebenarnya sudah tahu ! Kini urang kampuang ambo baladang mantimun yang produksinya cukup banyak di nagari Tanjuang Sungayang, dan dalam 40 hari sudah panen. Tapi dibeli oleh pedagang pengumpul hanya *Rp. 1000*,- per kilo, sedangkan dikonsumen/kota mentimun itu dijual antara* Rp 5000*,- sd. Rp 8000,- perkilo. Siapa yang bisa membantu petani ini ? Kok ambo cuma bisa mancubo jo konsep menghubungkan mereka dengan dunia luar melalui www.nagari.org, tapi apakah akan menanggapi dan berhasil, wallohu aklam Abraham Ilyas lk 65. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
