Rita dan Dunsanak Palanta RN yang berbahagia Di hari minggu awal tahun baru 2011, saat santai dirumah menikmati secangkir kopi panas siang menjelang sore saya mencoba mealih bahasakan komentar, pendapat teman-teman RN sehubungan tulisan saya "Saya Berhenti Merokok" yang menarik dan cukup panjang saya mulai dari cerita Rita, wahh lumayan panjang juga, entah pas entah tidak saya sudah maksimal rasanya jikapun ada penambahan sedikit (mudah2an) tidak lari dari makna yang diceritakan Rita
Silahkan Rita, nilai dulu..udah pas belum, ini menjadi dokumen saya atas komentar tulisan saya tersebut, sedang berbagi dunsanak yang lain sedang saya garap, selamat membaca, tes dulu :-) Wass-Jepe *** Ikutan Da Jepe, saya cuap-cuap dengan uruasan hisap menghisap ini Ambo mungkin tamasuak urang nan agak 'sadis' ka si ahli hisap ko :) Alhamdulillah, Abak (sebutan orang tua laki-laki di Minang) saya berhenti merokok sejak dia bujangan, sebelum menikah dengan Ibu, Abak berkata alasannya berhenti merokok karena saat itu hidup sangat susah, takutnya lebih penting pula urusan merokok dari pada makan anak bini J Gara-gara tidak merokok itu < Abak selalu punya alas an untuka mengakali kami kaum padusi (perempuan) diateh rumah, hamper tiap hari ada saja yang beliau minta camilan/snek seperti goring ubilah, goring pisang, lapek, onde-onde, bubur kacang padi (hijau), apa saja untuk jadi alas an yang akan dikunyah-kunyah diwaktu luang. “kalau orang-orang sudah makan merokok kan Nak ?, Abak nggak usah, tapi sediakan saja makanan yang lain ya..hge he he” itu lah hal-hal yang diulangnya hamper tiap hari. Uniknyo, almarhum Abak saya kurang suka sama jajanan atau makanan yang dibeli atau tidak ada semangat (antusias) beliau kalau memakan yang dibawa dari luar (bukan masakan keluarga sendiri), kata Abak saya, berbeda dengan masakan keluarga (didapur) walau terkadang kurang manis, kurang garam dihajar saja tanpa banyak cincong, sehingga apa yang beliau minta atau apa yang beliau inginkan (taragak) maka diusahakan juga “Made in Dapur sendiri” he he he Karena Abak tidak merokok, rumah saya boleh dikatakan bebas asap rokok. Kakak sulung saya juga bukan perokok sama dengan Abak, tapi dua orang saudara saya memang merokok, jikapun mereka merokok tidak pernah dalam rumah. Mereka merokok (biasanya habis makan), saudara laki-laki saya akan pergi jauh-jauh dari rumah, lalu mereka tunggu agak sesaat sebelum balik kerumah, walau begitu hidung Ibu tetap saja sensitive dan lansung berkata dan menginterogasi kakak saya layaknya seekor kucing mencium sesuatu “Haaa !!auah dari rumah. Lalu mereka tunggu agak sesaat, sabalun pulang. Itu pun hidung ibu tatap sajo sensitif dan langsung mengecek dan menginterogasi bantuak kucing mencium sesuatu. "Haa... kalian tadi marokok ya!!!!". Walaupun ibu tidak marah (berang) tapi mata Ibu tetap saja membelalak sebesar bola ping pong he he he. Karena saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang bebas asap rokok akhirnya saya jadi rentan dan sensitive jika kena asap rokok, bahkan saya lebih dulu sesak nafas dari pada orang yang merokok, ha ha ha.Apaboleh buat karena lingkungan, bagaimanapun tentu saya yang berada ditengah masyarakat belajar toleran, sehingga lama kelamaan ketika saya berdekatan dengan orang yang sedang merokok, tubuh saya akhirnya bisa menerima dan bertoleransi dengan orang yang merokok dekat saya. Lain pula ceritanya di kampus, saya masih di cap sama kolega saya yang ahli hisap sebagai , seandainya ada seseorang yang merokok dekat saya, rokok dan mancisnya (catuih) lansung saya sembunyikan, ketika mereka selesai merokok dan ingin menambah sebatang lagi akan kalang kabut mencari rokok yang saya sembunyikan tersebut, lucunya lagi terkadang mereka mengiba-iba meminta rokok yang saya sembunyikan itu, tapi saya cuek bebek pura-pura tidak tahu saja, akhirnya saya dikasih julukan sama mereka “Orang Sadis” :-), tapi mereka tidak sampai hati juga memarahi ulah usil saya tersebut ha ha ha Karena saya sudah dikenal luas dan familiar, Bapak-bapak tersebut mengambil sebatang rokok dari bungkusnya, sambil ketawa-ketawa pada saya, lalu sisanya dalam bungkus yang telah diambil Bapak-bapak ini disimpannya dalam tas atau kedalam saku dan saya tidak bisa merampoknya lagi :-). Saat berkumpul bersama, saya cukup terlindungi oleh Bapak-Bapak senior yang tidak merokok “Jangan duduk disana Ta, disabalah kursi Bapak Anu tu saja duduk, nggak kuat ntar Ita sama asap rokok para ahli hisap yang sedang kumpul bareng merokok” he he he Mungkin marokok sudah masuk ketaraf kecanduan, sebanyak yang 'peduli' dengan lingkungan, sabanyak itu pula yang tidak peduli alias cuek bebek.Sebut saja disebuah ruangan Fakultas yang full AC sangat terlihat jelas tulisan dengan huruf super besar (maksudnya : Gadang-Gadang, red) "TERIMA KASIH, ANDA TIDAK MEROKOK". Tapi kadang-kadang ada juga Bapak-bapak yang bandelnya luar biasa(Minang : Mada bana) masih tetap merokok, maklumlah beliau sangat senior, karena saya dasar usil (minang : cipeh, red) dari pada bisik-bisik nanti orangbtersinggung lansung saja saya katakana ke Bapak tersebut “ Oiii Bapak Kandung, coba lihat papan nama yang tertulis didinding iti Pak” Bapak ini menjawab saja dengan santai cuek bebek “Tulisan itu kan dikatakan “Terima Kasih” ke saya jika saya tidak merokok, jadi untuk kali ini Rita nggak usah berterima kasih pada saya yang lagi merokok. “ ha ha ha terpaksa ketawa pencong (miring) orang-orang yang berada dalam ruang siding tersebut. Mmm ada yang lebih parah lagi seorang senior di kampus saya yang perokok berat ibaratnya dimulutnya tak henti-henti asap keluar seperti cerobong lokomotif kereta api jadul,karena hubungan saya dengan senior ini sangat dekat seperti saudara kandung saja, sayapun berani bicara tanpa tedeng aling sama senior saya ini, kira-kira seperti ini “Bang coba abang hitung-hitung sudah berapa banyak uang yang abang habiskan untuk urusan merokok ini, kalau dikalkulasi mungkin abang sudah bisa membelikan istri abang rumah satu lagi” Si Abang .menjawab santai seperti ini “Begini Ta, katakanlah Abang berhenti merokok, lalu uangnya abang belikan rumah, eehhh pas rumah kebeli terbakar, …ahaaa kan sama saja tuh ..ujung-ujungnya kebakar juga kayak rokok ha ha ha ha” . Ampun …ampun…nggak habis pikir , kelihatannya berhenti merokok ini memang tergantung kemauan yang kuat dalam diri, motivasi intrisik harus kuat untuk melawan berhenti merokok alias berhenti berprofesi sebagai ahli isap :-) Itulah Da Jepe, sekedar ciloteh awal tahun urusan orang yang merokok Salam, Murai Kukuban Rita, seorang Dosen sebuah Universitas Swasta di Padang -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
