Da Jepe, Kok ndak talakik pulo di Da Jepe maalih bahasa kan 'thread' rokok nan lah panjang dan banyak partisipan ko, rancak juo mintak se beliau-beliau tu surang-surangnyo mambuek versi Indonesianyo, supayo capek salasai :)
Ko nan di ambo :) Kok nan iko ka Da Jepe pakai buliah, kok nan lah salasai Da Jepe alih bahasakan tadi tu nan ka dipakai, juo monggo... hehehe Tapi memang... kalau alah dijadikan bahasa Indonesia... kadang-kadang 'roh' bagarah-garah minang nyo jadi bakurang, atau bahkan hilang, jadi kurang 'greget' kata orang sana... hahaha.. Ini dia... ---------------------------- Assalamu'alaikum Wr. Wb. Da Jepe... Tahun Baru kok ngomongin rokok baru.. eh baru ngomongin rokok... :) Boleh ikutan ya Da Jepe, cuap-cuap urusan merokok ini... Masalahnya saya mungkin termasuk kategori orang yang 'sadis' terhadap si 'ahli hisab' ini. Awal ceritanya begini. Alhamdulillah, bapak saya (yang saya panggil 'abak', panggilan untuk orang tua laki-laki dalam bahasa Minang - red) sudah berhenti merokok sebelum beliau menikah dengan ibu saya. Alasannya cukup simpel, kehidupan saat itu cukup susah, sehingga beliau khawatir, takut setelah menikah, nantinya tidak bisa membelikan makan anak istri gara-gara lebih mementingkan rokok, Tapi gara-gara tidak merokok itu pula, abak saya punya ''senjata' untuk mengakali para 'padusi' (yang berarti perempuan dalam bahasa Minang) yang ada di dalam keluarga kami. Hampir tiap hari, ada-ada saja yang beliau minta untuk sekedar 'snack' atau cemilan pengisi waktu luang. Apakah cuma sekedar goreng ubi, goreng pisang, onde-onde, bubur kacang hijau, lapek (semacam penganan yang manis dari berbagai bahan, bisa dari pisang, ketan, atau tepung terigu/beras yang dibungkus daun pisang, lalu dikukus), atau yang lainnya. "Kalau orang kan merokok, kalau abak biarlah tidak merokok, demi kalian juga kan.., tapi ganti saja dengan kue-kue atau makanan lain ya..", begitu dia selalu merayu kami saban hari kalau ingin makan sesuatu. Salah satu keunikan abak saya yang mau tidak mau membuat kami harus 'rajin-rajin' ke dapur, adalah kesenangannya menyantap makanan 'produk dalam negeri' alias dimasak keluarga sendiri. Beliau akan terlihat kurang antusias jika makanan itu hanya diperoleh dengan cara instan (membeli). Berbeda dengan yang kami masak di rumah, kurang manis atau kurang garam, tetap saja beliau menyantap dengan nikmat, tentu saja tetap diselingi 'sindiran-sindiran' kecil khas gaya minang yang mengundang gelak tawa. Itu pulalah sebabnya, setiap keinginannya untuk makan makanan yang dia suka atau kangen, kami akan mengusahakan makanan itu adalah 'made in' dapur sendiri :) Kembali ke urusan rokok merokok alias hisap menghisap yang menjadi 'hot issue' ini. Karena abak saya tidak pernah merokok, rumah kami sejak dulu boleh dikatakan steril dari asap rokok. Kakak sulung saya, seperti halnya abak, kebetulan juga bukan seorang perokok. Dua saudara laki-laki saya yang lain, walaupun merokok, tapi dulu juga tidak pernah merokok di rumah. Kalaupun mereka ingin merokok (biasanya setelah selesai makan), mereka akan pergi sedikit menjauh dari rumah, dan menunggu agak beberapa waktu sebelum kembali pulang, sampai menurut mereka (paling tidak) baunya tidak lagi berbekas dan mereka pulang dengan aman. Tapi tetap saja ibu yang punya hidung sensitif seperti kucing, akan mendengus-dengus ibarat mencium sesuatu, dan langsung menginterogasi dengan mata melotot "Haaa... kalian tadi merokok ya..???" Walaupun tidak terlalu marah, tapi tetap saja ibu terlihat agak kesal karena bola matanya juga membesar mengalahkan besarnya bola pingpong, hehe. Dibesarkan dalam lingkungan/rumah yang bebas asap rokok, membuat saya pribadi jadi sangat sensitif dan rentan dengan asap rokok. Kalau ada orang yang merokok di dekat saya, sayalah yang lebih dulu batuk-batuk dan sesak nafas, sebelum sesak nafas dan batuk-batuk menyerang si perokok itu sendiri yang menjadi biang keladi :( Seiring berjalannya waktu, bergaul dengan banyak orang dan bersosialisasi dalam lingkungan yang lebih luas, membuat saya mau tidak mau belajar beradaptasi dengan si perokok. Tubuh saya juga mulai belajar menyesuaikan diri ketika berdekatan dengan orang yang sedang merokok. Kalaupun tak kuat, saya akan lebih memilih menghindar dengan halus agar yang bersangkutan tidak tersinggung atau sakit hati. Walaupun demikian, kalau di kantor saya masih sering dicap sebagai orang yang 'sadis' atau 'tegaan' terhadap para ahli hisap alias dewan suro ini (suro = suka merokok :) ). Kalau ada bapak-bapak yang merokok di dekat saya, biasanya rokok atau pemantik apinya sering saya sembunyikan, sehingga ketika rokok yang diisapnya habis, mereka tidak bisa menambah walaupun agak sebatang dua batang lagi karena saya sembunyikan. Kadang mereka mengiba-iba meminta, tapi saya hanya membelalakkan mata atau pura-pura tidak tahu. Wajarlah kalau label 'sadis' akhirnya melekat juga pada diri saya. Sedikit lucu sebenarnya, karena mereka juga pada dasarnya tidak pernah sampai hati untuk marah atas 'kesadisan' saya tersebut, hehe. Hanya saja karena ulah saya yang jahil itu sudah cukup dikenal luas, mereka kadang-kadang gantian meledek dan mengolok-olok saya. Ketika mereka akan merokok, dengan sengaja mereka mempermainkan bungkusan rokok mereka sebelum menyembunyikan di tas atau di saku pakaian mereka. Begitu tahu saya tidak akan bisa mengambil lagi dengan paksa, mereka tertawa penuh kemenangan sambil menyanyi-nyanyi kecil dengan usil. Kadang-kadang dalam berbagai kesempatan bersama-sama, saya cukup dibantu juga oleh bapak-bapak yang tidak merokok. Tidak jarang, beliau-beliau mengingatkan saya untuk tidak duduk di kursi tertentu jika diketahui kursi di sebelahnya bakal diduduki oleh 'si penghisap kelas berat'. Biasanya mereka cukup memberi aba-aba atau kode' semisal "Ssssttt... Ta, jangan duduk di situ. Di sebelahnya Pak Anu lho, nanti mandi asap, batuk-batuk pula...". hehe. Namanya merokok, ya... ibarat candu, walaupun sebagian masih ada yang sedikit peduli dengan lingkungan sekitar, sebagian lainnya ada yang benar-benar cuek, orang Minang bilang 'mada', yaitu tidak peduli dengan apapun yang terjadi dengan orang lain atau apa saja yang terjadi disekitarnya, asalkan hasrat merokoknya terpenuhi. Sebut saja misalnya kejadian di kantor, dimana dalam salah satu ruang rapat terpampang peraturan yang cukup besar dan mencolok dengan huruf kapital "TERIMA KASIH, ANDA TIDAK MEROKOK". Tetapi tetap saja ada senior yang dengan enteng mengepul-ngepulkan si putih dari mulut dan hidungnya. Jelas saja yang lain, khususnya ibuk-ibuk jadi gemes dan resah, sambil berbisik-bisik satu sama lain. Walaupun beliau sudah sangat senior, dasar cuek, saya langsung saja mengingatkan, "Pak, tuh ada plang lho.. di dinding..", Eh, sang bapak senior malah bilang begini, "Oh..Itu artinya berterima kasih kalau bapak tidak merokok kan Ta?, kali ini Rita tak usah berterima kasih saja deh, biar bapak merokok dulu agak sebatang.." Nah lho... salah siapa? Apa salah bunda mengandung? hehehe... Yang lebih parah lagi justru pada salah satu senior di kantor saya. Saya sering meledek bahwa mulutnya seperti lokomotif kereta api zaman dulu karena asap tak berhenti keluar dari mulut tersebut. Di ruangan, di kelas lagi memberi kuliah, sedang istirahat, sebatang demi sebatang rokok yang diisapnya selalu sambung menyambung menjadi satu, Barangkali saja ia terinspirasi lagu nasional zaman dulu, "Dari barat sampai ke timur, berjajar pulau-pulau. Sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia.." hehe. Karena hubungan kami sudah seperti saudara kandung, saya bisa bicara lepas kepadanya dan berkata" Bang, coba deh..., abang hitung-hitung, sudah berapa banyak uang abang habiskan untuk urusan rokok merokok ini. Kalau abang kalkulasi, barangkali abang sudah bisa membelikan rumah agak satu buah lagi untuk anak dan istri abang, lho..". Dasar si penghisap kelas berat, beliau tetap saja cuek bebek dan tak mau kalah, malah balas berkilah, "Gini lho Ta, Misalnya abang berhenti merokok, lalu uangnya abang belikan rumah. Lha... kalau rumahnya terbakar, .... Akhirnya sama saja kan? " hahaha.. Tobat deh... Jadi kalau dipikir-pikir, keinginan untuk berhenti merokok memang harus datang dari si perokok sendiri. Barangkali kalau istilah psikologi (pendidikan)nya, motivasi dari dalam (motivasi intrinsik) lah yang lebih berperan, jadi bukan paksaan dari pihak lain. Diancam sekalipun, lhaa, kalau yang bersangkutan memang tak punya niat untuk 'stop smoking', ya... percuma saja... Kalau mau pinjam istilah anak muda "Ya... nggak ngaruh deh... ", hehe. Gitu aja deh Da Jepe, sekedar ikut cuap-cuap urusan rokok-merokok di awal tahun :) Salam, Padang, 01-01-11 Murai Kukuban ---------------------------- Pada 2 Januari 2011 16.16, jupardi andi <[email protected]> menulis: > Rita dan Dunsanak Palanta RN yang berbahagia > > > Di hari minggu awal tahun baru 2011, saat santai dirumah menikmati > secangkir kopi panas siang menjelang sore saya mencoba mealih bahasakan > komentar, pendapat teman-teman RN sehubungan tulisan saya "Saya Berhenti > Merokok" yang menarik dan cukup panjang saya mulai dari cerita Rita, wahh > lumayan panjang juga, entah pas entah tidak saya sudah maksimal rasanya > jikapun ada penambahan sedikit (mudah2an) tidak lari dari makna yang > diceritakan Rita > > > Silahkan Rita, nilai dulu..udah pas belum, ini menjadi dokumen saya atas > komentar tulisan saya tersebut, sedang berbagi dunsanak yang lain sedang > saya garap, selamat membaca, tes dulu :-) > > > Wass-Jepe > > *** > > > > Ikutan Da Jepe, saya cuap-cuap dengan uruasan hisap menghisap ini > > > > > Ambo mungkin tamasuak urang nan agak 'sadis' ka si ahli hisap ko :) > > > > > Alhamdulillah, Abak (sebutan orang tua laki-laki di Minang) saya berhenti > merokok sejak dia bujangan, sebelum menikah dengan Ibu, Abak berkata > alasannya berhenti merokok karena saat itu hidup sangat susah, takutnya > lebih penting pula urusan merokok dari pada makan anak bini J > > > > > Gara-gara tidak merokok itu < Abak selalu punya alas an untuka mengakali > kami kaum padusi (perempuan) diateh rumah, hamper tiap hari ada saja yang > beliau minta camilan/snek seperti goring ubilah, goring pisang, lapek, > onde-onde, bubur kacang padi (hijau), apa saja untuk jadi alas an yang akan > dikunyah-kunyah diwaktu luang. “kalau orang-orang sudah makan merokok kan > Nak ?, Abak nggak usah, tapi sediakan saja makanan yang lain ya..hge he he” > itu lah hal-hal yang diulangnya hamper tiap hari. > > > > > Uniknyo, almarhum Abak saya kurang suka sama jajanan atau makanan yang > dibeli atau tidak ada semangat (antusias) beliau kalau memakan yang dibawa > dari luar (bukan masakan keluarga sendiri), kata Abak saya, berbeda dengan > masakan keluarga (didapur) walau terkadang kurang manis, kurang garam > dihajar saja tanpa banyak cincong, sehingga apa yang beliau minta atau apa > yang beliau inginkan (taragak) maka diusahakan juga “Made in Dapur sendiri” > he he he > > > > > Karena Abak tidak merokok, rumah saya boleh dikatakan bebas asap rokok. > Kakak sulung saya juga bukan perokok sama dengan Abak, tapi dua orang > saudara saya memang merokok, jikapun mereka merokok tidak pernah dalam > rumah. Mereka merokok (biasanya habis makan), saudara laki-laki saya akan > pergi jauh-jauh dari rumah, lalu mereka tunggu agak sesaat sebelum balik > kerumah, walau begitu hidung Ibu tetap saja sensitive dan lansung berkata > dan menginterogasi kakak saya layaknya seekor kucing mencium sesuatu “Haaa > !!auah dari rumah. Lalu mereka tunggu agak sesaat, sabalun pulang. Itu pun > hidung ibu tatap sajo sensitif dan langsung mengecek dan menginterogasi > bantuak kucing mencium sesuatu. "Haa... kalian tadi marokok ya!!!!". > Walaupun > ibu tidak marah (berang) tapi mata Ibu tetap saja membelalak sebesar bola > ping pong he he he. > > > > Karena saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang bebas asap rokok > akhirnya saya jadi rentan dan sensitive jika kena asap rokok, bahkan saya > lebih dulu sesak nafas dari pada orang yang merokok, ha ha ha.Apaboleh buat > karena lingkungan, bagaimanapun tentu saya yang berada ditengah masyarakat > belajar toleran, sehingga lama kelamaan ketika saya berdekatan dengan orang > yang sedang merokok, tubuh saya akhirnya bisa menerima dan bertoleransi > dengan orang yang merokok dekat saya. > > > > > Lain pula ceritanya di kampus, saya masih di cap sama kolega saya yang > ahli hisap sebagai , seandainya ada seseorang yang merokok dekat saya, rokok > dan mancisnya (catuih) lansung saya sembunyikan, ketika mereka selesai > merokok dan ingin menambah sebatang lagi akan kalang kabut mencari rokok > yang saya sembunyikan tersebut, lucunya lagi terkadang mereka mengiba-iba > meminta rokok yang saya sembunyikan itu, tapi saya cuek bebek pura-pura > tidak tahu saja, akhirnya saya dikasih julukan sama mereka “Orang Sadis” > :-), tapi mereka tidak sampai hati juga memarahi ulah usil saya tersebut > ha ha ha > > > > > Karena saya sudah dikenal luas dan familiar, Bapak-bapak tersebut mengambil > sebatang rokok dari bungkusnya, sambil ketawa-ketawa pada saya, lalu sisanya > dalam bungkus yang telah diambil Bapak-bapak ini disimpannya dalam tas atau > kedalam saku dan saya tidak bisa merampoknya lagi :-). Saat berkumpul > bersama, saya cukup terlindungi oleh Bapak-Bapak senior yang tidak merokok > “Jangan duduk disana Ta, disabalah kursi Bapak Anu tu saja duduk, nggak kuat > ntar Ita sama asap rokok para ahli hisap yang sedang kumpul bareng merokok” > he he he > > > > > Mungkin marokok sudah masuk ketaraf kecanduan, sebanyak yang 'peduli' dengan > lingkungan, sabanyak itu pula yang tidak peduli alias cuek bebek.Sebut saja > disebuah ruangan Fakultas yang full AC sangat terlihat jelas tulisan dengan > huruf super besar (maksudnya : Gadang-Gadang, red) "TERIMA KASIH, ANDA TIDAK > MEROKOK". Tapi kadang-kadang ada juga Bapak-bapak yang bandelnya luar > biasa(Minang : Mada bana) masih tetap merokok, maklumlah beliau sangat > senior, karena saya dasar usil (minang : cipeh, red) dari pada > bisik-bisik nanti orangbtersinggung lansung saja saya katakana ke Bapak > tersebut “ Oiii Bapak Kandung, coba lihat papan nama yang tertulis didinding > iti Pak” Bapak ini menjawab saja dengan santai cuek bebek “Tulisan itu kan > dikatakan “Terima Kasih” ke saya jika saya tidak merokok, jadi untuk kali > ini Rita nggak usah berterima kasih pada saya yang lagi merokok. “ ha ha ha > terpaksa ketawa pencong (miring) orang-orang yang berada dalam ruang > siding tersebut. > > > > > Mmm ada yang lebih parah lagi seorang senior di kampus saya yang perokok > berat ibaratnya dimulutnya tak henti-henti asap keluar seperti cerobong > lokomotif kereta api jadul,karena hubungan saya dengan senior ini sangat > dekat seperti saudara kandung saja, sayapun berani bicara tanpa tedeng aling > sama senior saya ini, kira-kira seperti ini > > > > > “Bang coba abang hitung-hitung sudah berapa banyak uang yang abang habiskan > untuk urusan merokok ini, kalau dikalkulasi mungkin abang sudah bisa > membelikan istri abang rumah satu lagi” > > > > > Si Abang .menjawab santai seperti ini > > > > > “Begini Ta, katakanlah Abang berhenti merokok, lalu uangnya abang belikan > rumah, eehhh pas rumah kebeli terbakar, …ahaaa kan sama saja tuh > ..ujung-ujungnya kebakar juga kayak rokok ha ha ha ha” . Ampun …ampun…nggak > habis pikir , kelihatannya berhenti merokok ini memang tergantung kemauan > yang kuat dalam diri, motivasi intrisik harus kuat untuk melawan berhenti > merokok alias berhenti berprofesi sebagai ahli isap :-) > > > > > Itulah Da Jepe, sekedar ciloteh awal tahun urusan orang yang merokok > > > > Salam, > > > > Murai Kukuban > > > > Rita, seorang Dosen sebuah Universitas Swasta di Padang > > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
