Tarimo kasih sanak IJP. Mambaco harapan sanak akan banyaknya tulisan hasil pemikiran urang awak, ambo jadi takana jurnalisme orang biasa panyingkul yg (mungkin) berbasis di makassar. bisa dicaliak di http://www.panyingkul.com/index.php
kalau rantaunet dijadikan palanta tampek batuka carito, nostalgia, badebaik, mancari kawan lamo - mgkn paralu dibuekkan wadah untuk mendorong penulisan dr ranah dan rantau. penulisannya lbh serius dan ado yg jd editor. atau mungkin alah ado, ambo nan alun tau. wassalam, budhi 2010/12/28 Indra Jaya Piliang <[email protected]> > ** > > *http://www.indrapiliang.com/2010/12/28/kongres-eh-seminar/* > > *Harian Haluan, 27 Desember 2010* > > *Kongres, Eh, Seminar* > > *Oleh* > > *Indra J Piliang* > > > > Seorang kawan, Ibrani SH, meminta saya menjadi moderator acara Kongres > Kebudayaan Minangkabau di Bukittinggi. Belum seminggu, saya mendapatkan > informasi dari Marzul Very, KNPI Sumatera Barat, bahwa acara itu dibatalkan. > Yang kemudian terjadi, Kongres Kebudayaan Minangkabau berubah menjadi > Seminar Kebudayaan Minangkabau. Lokasi acara dipindahkan ke Padang. Selama > dua malam saya menginap di Hotel Basko. > > > > Apa yang saya bayangkan betapa Kongres, eh, Seminar ini akan menjadi ajang > bagi keluarnya “rudus” pandeka-pandeka Minang tidak terbukti. Minangkabau > tetaplah wilayah kebudayaan yang lebih mengandalkan logika dan dialektika, > ketimbang langkah empat dalam silat. Yang bersemangat hadir adalah kalangan > perantau. Barangkali karena penyelenggara acara adalah Gebu Minang yang > sudah berubah dari gerakan ekonomi ke gerakan kebudayaan. > > > > Sayangnya, kalangan yang justru banyak hadir adalah generasi “saisuak”. > Anak-anak muda Minang entah kemana. Kebudayaan, pada titik ini, hanya bagian > dari nostalgia kelompok-kelompok lama yang tak ingin melihat nagari demi > nagari takluk kepada kebudayaan asing. Tanpa upaya untuk melakukan semacam > “Kaoem Moeda Movement”, sebagaimana terjadi pada awal abad ke 20, kebudayaan > hanya menjadi sekadar ritual, bukan tradisi yang bisa diperbaharui. > > > > *Kongres* > > Saya tidak tahu akar umbi penolakan atas rencana Kongres Kebudayaan > Minangkabau. Maklumlah, saya sama sibuknya dengan jutaan anak-anak muda > Minang lainnya di rantau dalam mengadu untuang badan. Yang saya tahu, > anak-anak muda Minang bukanlah kelompok yang pengecut dalam berbicara. Ranah > mengajarkan betapa perdebatan adalah bagian tak terpisahkan dalam kehidupan. > > > > Kongres adalah ajang untuk bergelanggang mata orang banyak. Bersuluh > matahari. Dan segala bentuk petatah-petitih lama bagi setiap orang dalam > mengajukan pendapat. Ketika Kongres ditolak dengan beragam ancaman yang > tidak perlu, saya membatin betapa kebudayaan Minang bak mahkota di kepala > seorang raja atau kaisar. Kebudayaan Minang diperebutkan, tetapi barangkali > hanya sebagai kebanggaan semu yang tak mampu memperlihatkan keadaban dalam > berkomunikasi. > > > > Kalaulah ada masalah dalam penanggalan atau doktrin kebudayaan, kongres > menjadi ajang untuk mempertukarkan gagasan. Beragam kongres kebudayaan di > manapun tidaklah bisa menghasilkan satu keputusan tunggal. Kebudayaan juga > bukanlah sesuatu yang bersifat material (semata), melainkan gabungan dari > beragam unsur yang bahkan memasuki ranah agama dan ilmu pengetahuan. > > > > Kalau Kongres Kebudayaan Minangkabau tempo hari jadi dilaksanakan, maka > catatan sejarah hanya akan menyebutnya sebagai Kongres Kebudayaan > Minangkabau Pertama. Alias nanti bisa dilaksanakan untuk kedua, ketiga, atau > keseratus kalinya. Setiap kongres bisa berisikan tema-tema yang berlainan > atau mengulang tema yang sama untuk lebih dipertajam. Dengan cara begitu, > kalau kongres adalah ajang sekali setahun atau sekali dalam dua tahun, > perbincangan menyangkut kebudayaan Minangkabau akan terus ada. > > > > *Seminar* > > Ketika Kongres berubah menjadi Seminar, saya kira persoalannya lebih kepada > kompromi kepada ketidak-mengertian. Harga diri panitia memang ikut-ikutan, > tetapi bukan unsur utama. Dengan seminar, jawaban sudah diberikan betapa > kehadiran pemikiran apapun sebetulnya bukan ancaman. Pemikiran bisa > dikoreksi, kesepakatan bisa diurai kembali. > > > > Dari sisi format, sebetulnya seminar yang digelar belum maksimal. Makalah > yang dibagikan terlalu sedikit, bercampur antara isu-isu kebudayaan, > penanganan bencana, serta kawasan laut dan pesisir. Pembagian peserta ke > dalam sejumlah komisi juga berdasarkan isu-isu kebudayaan dan non kebudayaan > tadi. Tampak sekali panitia berusaha untuk mempertahankan apapun yang bisa > dipertahankan. > > > > Ke depan, kita membutuhkan seminar lagi. Yang lebih lama. Yang lebih besar. > Dengan makalah yang lebih banyak. Kalau perlu, setiap bupati dan walikota di > Sumbar menyampaikan makalah. Kalau tidak ada makalah, bupati dan walikota > bisa menyampaikan masalah-masalah kebudayaan di masing-masing kabupaten dan > kota. > > > > Mau lebih banyak lagi, langsung ke tingkat nagari. Alangkah eloknya bila > masing-masing wali nagari menyampaikan makalah, sementara para ahli, baik > dari kalangan kampus atau budayawan lain justru menjadi pendengar dan > perumus. Perbincangan akan jauh lebih hangat, apabila yang berbicara adalah > langsung suara dari akar umbi kebudayaan Minang itu sendiri, yakni > sosok-sosok yang bergelimang lunau di sawah, sinaran matahari pantai atau > kedinginan di gunung tinggi. > > > > *Riset* > > Yang juga tak kalah penting adalah riset-riset kebudayaan. Kita layak > semakin galau, ketika kian sedikit putra-putri ranah Minang yang ikut dalam > kompetisi penulisan ilmiah populer di luar Minang. Andrinof Chaniago, > seorang dosen Universitas Indonesia, sering mengeluh tentang ketiadaan > makalah-makalah dari Sumatera Barat setiap kali dia menjadi juri. > > > > Masih banyak waktu untuk menjadikan Sumatera Barat tetap sebagai baromater > kebudayaan di Indonesia bagian barat. Keunggulan pikiran harus digali, > kekayaan budaya wajib ditelusuri. Riset adalah bagian dari itu. Dari sisi > jurnalistik dan fotografi, sebetulnya semakin banyak ditemui, terutama di > media online. Namun yang langsung bersinggungan dengan kegiatan semacam > Kongres atau Seminar Kebudayaan jarang. > > > > Tugas generasi kini bukanlah mengelap-elap kebudayaan lama yang entah masih > dipakai atau sudah dibuang bak kain usang. Generasi kini memerlukan dialog > dengan generasi yang lebih senior. Sungguh ironis, bila yang disaksikan > adalah bukan perdebatan, melainkan hanya sekadar penolakan atas sebuah > peristiwa budaya semacam kongres atau seminar. > > > > Tentu, kita menunggu lebih banyak kongres atau seminar lagim agar lebih > banyak makalah atau pemikiran yang bisa dibagi dan berbagi... > > > > > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
