11 Agustus 2008
Tan Vs Pemberontakan 1926-1927
Mestika Zed
* Sejarawan Universitas Negeri Padang
DI pagi buta yang becek, awal 1927, kaum pemberontak di Silungkang,
Sumatera Barat, akhirnya mengikuti jejak rekan-rekan mereka di Banten, yang
meletuskan pemberontakan pada pertengahan November 1926. Mereka menyerang
kedudukan pemerintah.
Sasaran utama adalah menangkap dan membunuh pejabat pemerintah, pejabat
pribumi, dan kulit putih. Mereka merusak sejumlah instalasi publik, seperti
stasiun dan kantor pos. Juga berencana membakar instalasi tambang batu bara dan
menyerang semua simbol rezim kolonial di kota itu.
Gerakan pemberontak itu dapat dipatahkan. Hanya sebagian kecil sasaran
yang terpenuhi. Selebihnya menyisakan prahara berkepanjangan. Sampai 12 Januari
1927, lebih dari 1.300 orang ditangkap. Ratusan bom dan senjata api disita.
Kebanyakan mereka dibuang ke luar Sumatera Barat, termasuk ke Digul. Ada pula
yang dihukum gantung.
Pemberontakan yang gagal di dua tempat (Banten dan Sumatera Barat) pada
1926-1927 itu cukup mengguncang rezim kolonial di Batavia. Mereka pun memburu
pemimpin PKI dan onderbouw-nya, juga kaum pergerakan secara keseluruhan. Sejak
itu penguasa kolonial bertindak bengis dan makin represif. Setiap anasir
pergerakan nasional ditindas, dan partai-partai politik yang tak mau bekerja
sama dengan pemerintah dilarang. Proses ini berjalan sampai akhir 1930-an.
Orang-orang PKI menuduh Tan Malaka sebagai biang penyebab kegagalan
pemberontakan. Ia dimusuhi dan dicap pengkhianat partai, Trotsky-nya Indonesia.
Padahal, sejak semula Tan bukan saja tak setuju, melainkan juga berupaya
mencegah rencana pemberontakan yang dirancang oleh kelompok Prambanan itu.
Kelompok ini terdiri atas tokoh terkemuka PKI seperti Semaun (1899-1971),
Alimin Prawirodirdjo (1889-1964), Musso (1897-1948), dan Darsono (1897-?), yang
mendeklarasikan rencana pemberontakan di Prambanan, Solo, awal 1926.
Sebagai pemikir yang cemerlang dan otentik sejak masa mudanya, Ibrahim
Datuk Tan Malaka memiliki cukup alasan mengapa pemberontakan harus
dikesampingkan. Salah satu argumennya ialah bahwa kekuatan pergerakan belum
cukup matang. Masih diperlukan pembenahan organisasi partai guna menggalang
basis massa yang kuat dan meluas, bahkan di luar kelompok komunis.
Tan, sebagai pemimpin paling terkemuka PKI saat itu, menganjurkan untuk
sementara waktu pemimpin-pemimpin gerakan memperkuat organisasi dan tetap
melakukan aksi-aksi "pemanasan" dan agitasi di tempatnya masing-masing.
Pendirian ini telah diutarakannya kepada Alimin dan kawan-kawannya.
Dari tempat persembunyiannya di Singapura, ia bahkan telah menulis
pandangannya lewat sebuah risalah bertajuk Massa-Actie (1926, terbit ulang
1947). Dalam buku kecil itu ia menampik rencana kelompok Prambanan seraya
menyimpulkan bahwa rencana pemberontakan itu merupakan tindakan blunder yang
bisa menjadi bumerang terhadap partai sendiri, bahkan juga terhadap semua
partai nasionalis. Nyatanya memang demikian. PKI, yang didirikan pada 1920,
hancur, dan aktivis partai meringkuk dalam penjara atau dibuang ke Digul.
Kondisi ekonomi Hindia Belanda saat itu juga sedang membaik. Buruh cukup
mudah mendapat pekerjaan, sebagian pemuda mendapat kesempatan mempelajari
bahasa Belanda dan menduduki kursi yang agak empuk sebagai juru tulis. Pelengah
hidup seperti bioskop, sepak bola, dan dansa hula-hula mulai digemari. Ini
berbeda dengan 1942-1945, ketika sebagian besar pabrik gula tutup, kebun-kebun
binasa, mesin pabrik mati, rakyat tenggelam dalam penderitaan romusha Jepang.
Pendek kata, gagasan pemberontakan di tengah situasi ekonomi yang membaik itu
tak bakal laku.
Namun kegagalan pemberontakan itu tak lantas membuat Tan memikirkan diri
dan partainya sendiri. Baginya justru jauh lebih penting memikirkan perjuangan
mencapai kemerdekaan nasional. Ini antara lain dapat diilustrasikan dari fakta
berikut.
Pertama, selepas dari penangkapan pada 1922, dan kemudian diusir ke luar
Indonesia, ia sudah menjadi aktivis komunis yang tak kenal lelah "menjual"
gagasannya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hampir tak ada negara Asia
Timur dan Asia Tenggara yang tak dijejakinya. Ia juga pergi ke Moskow, jantung
komunisme. Ia hidup sengsara di tempat persembunyiannya dan selalu
dikejar-kejar polisi rahasia. Ia baru kembali ke Tanah Air secara diam-diam
pada zaman Jepang (1942).
Kedua, baginya partai hanyalah alat untuk mencapai perjuangan, yakni
kemerdekaan nasional bagi Indonesia. Selepas pemberontakan yang gagal itu, Tan
Malaka keluar dari PKI dan mendirikan Partai Republik Indonesia (Pari) di
perantauan Bangkok pada 1927. Pari kemudian mati suri. Pada masa perang
kemerdekaan (1947), ia mendirikan Partai Murba. Alasan keluar dari PKI lalu
mendirikan Pari sangat jelas, yakni karena tak lagi sehaluan dengan rekan-rekan
separtainya yang lama.
Di lain pihak ia menentang kebijakan Komunis Internasional (Komintern) di
Moskow. Sejak 1920-an Moskow tampak lebih peduli memanfaatkan Komintern bagi
kepentingan "hegemoni" internasional Uni Soviet ketimbang kepentingan
perjuangan kaum nasionalis di daerah-daerah jajahan. Komintern bahkan juga
cenderung mencurigai Pan Islamisme sebagai pesaing internasionalnya, sesuatu
yang tak bisa diterima oleh Tan Malaka.
Maka jelas kelihatan bahwa warna nasionalisme dalam diri Tan Malaka jauh
lebih kental daripada fanatisme terhadap ideologi (komunisme). Kedekatannya
dengan kelompok Islam sebagian karena pola asuhan masa kecilnya sebagai orang
Minang; sebagian lain, karena memang kelompok Islamlah yang lebih diandalkannya
sebagai mitra pergerakan ketimbang kelompok nasionalis sekuler yang menurutnya
cenderung berperilaku borjuis.
Ketiga, Tan Malaka dianggap sebagai satu dari tiga tokoh nasionalis yang
pertama-tama menuangkan konsepsi tentang konstruksi masyarakat bangsa yang
dibayangkan (the imagined community) di masa depan. Lewat sebuah risalah
berjudul Naar de Republiek Indonesia (Kanton, 1925) ia sudah membentangkan
betapa pentingnya persatuan dan betapa berbahayanya perpecahan.
"Ini harus kita cegah," tulisnya. "Akan tetapi tidak dengan [cara]
memberi khotbah tentang hikmah-hikmah yang kosong. Hanya satu program yang
benar-benar ingin memajukan kepentingan-kepentingan materiil dari seluruh
rakyat dan dilaksanakan secara jujur, yang dapat membentuk solidaritas
nasional, suatu solidaritas yang tidak hanya menggulingkan imperialisme, tetapi
juga dapat menjauhkan segala gangguan untuk selama-lamanya..." (halaman 26, 28).
Meskipun tak menyembunyikan pendirian Marxisnya, Tan Malaka memilih
mengabdikan diri dan intelektualitasnya sebagai nasionalis sejati yang ikut
merajut gagasan tentang the imagined community itu. Pemikirannya lebih dini
juga lebih radikal daripada Mohammad Hatta yang menulis Indonesia Vrije
(Indonesia Merdeka) sebagai pleidoi di depan pengadilan Belanda di Den Haag
(1928). Kemudian juga Soekarno yang menulis MIM (Menuju Indonesia Merdeka,
1933).
Dalam pemikiran ketiga tokoh ini, gambaran tentang masa depan Indonesia
itu memang belum utuh. Ia baru merupakan anggitan yang masih memerlukan
penyempurnaan sampai "cetak-biru" Indonesia Merdeka dapat dirumuskan, yaitu
Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 beberapa dasawarsa kemudian. Dan Tan Malaka
menyadari itu, sebab "aksi untuk mencapai kemerdekaan nasional ini," tulis Tan
dalam Naar de Republiek Indonesia, "akan berlangsung lama, tetapi pasti membawa
kemenangan (1925: 65).
Sayangnya, Tan Malaka tak sempat melihat tahap akhir perjuangan
kemerdekaan, karena ia tewas secara tragis. Ironis, karena setelah
malang-melintang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk memperjuangkan
kemerdekaan negeri Indonesia, ia lalu "dihujat dan dilupakan" oleh bangsanya
sendiri.
Sumber :
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/08/11/LU/mbm.20080811.LU127955.id.html
andiko
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.