Kesan James Mossman, Wartawan Inggris untuk Koran Daily Mail dan Sidney Morning Heral, ketika masuk ke jantung Sumatera, kesan terhadap suasana dan bertemu para pimpinan PRRI.
1. 1. “Sukarno tidak akan berani menyerang kami disini”, Kolonel Djambek memberitahu saya dengan senyum lebar ketika saya dating ke rumahnya keesokan pagi. Ia tinggal di vila besar di pinggir kota bersama istrinya, seorang perempuan keturunan Jerman yang cantik, dan kedua putranya yang masih kecil. Kedua putranya tersebut mengenakkan seragam colonel mini mirip dengan seragam ayahnya. 2. 2. Saya bertemu Syafruddin di rumahnya, dekat kota kecil Padang Panjang. Ia berbagi vila dengan Mohammad Natsir, pemimpin Partai Masyumi yang anti Sukarno. Keduanya keluar dari Jawa beserta seluruh keluarganya sekitar satu atau dua minggu sebelum perang saudara pecah. Syafruddin membawa beberapa koper penuh berisi uang yang diambil dari ruang penyimpanan Bank Indonesia, dimana ia menjadi Direktur. Natsir memboyong anak-anaknya yang banyak jumlahnya serta pendiriannya yang sederhana tetapi kuat 3. 3. Pada 15 April 1958, saya menemui Kolonel Simbolon di mes perwira di Padang Panjang. Ia kelihatan khawatir dan tertekan. Pasukan pemerintah 3. pusat telah bergerak dalam jarak lima mil dari jalan utama. Mereka menuju selatan dan diperkirakan akan memotong jalan tersebut dalam 12 jam. …….Tampa diduga Simbolon sangat berterus terang mengenai kesulitan yang akan dihadapi. “kami akan berusaha menahan mereka, tapi apa yang bisa kami lakukan menghadapi serangan udara ? “. Ia menggebrak meja dengan wadah rokok Player. “Kami membutuhkan pesawat tempur. Cukup dua prajurit pesawat tempur. Satu pesawat tempur dengan satu orang pilot yang handal saja sudah cukup. Kami bisa menghentikan Nasution agar tidak memasuki pangkalan kami di pantai. Mengapa barat tidak melihat ini ?. Mengapa mereka tidak cukup percaya kepada kami untuk mengirimkan sedikit saja pesawat tempur ?. Tak lama lagi semuanya akan terlambat”. Ia tersenyum lelah. Ia selalu sadar dengan efek dramatis kata-katanya. 4. 4. Bukittinggi sedang ramai oleh aktivitas. Perintah pemadaman listrik sudah tidak di hiraukan dan tampak cahaya dari jendela kantor-kantor pemerintah. Norman, pemilik hotel tempat kami menginap, menemui kami di beranda. “Mereka sedang mengevakuasi”, katanya. Mereka membakar tumpukan kertas dan memasukkan dokumen-dokumen ketruk lalu membawanya pergi. Hanya tuhan yang tahu apa yang akan mereka perbuat dengan dokumen-dokumen itu di hutan”. Norman menjalani hari yang sangat melelahkan karena menghadapi seorang sersan Polisi yang yang mabuk dan terhuyung-huyung dan masuk kehotelnya meminta wiski gratis siang tadi. Sersan itu menaruh pistolnya diatas meja dihadapannya dan memaksa Norman minum bersama. Setiap Norman bangkit, Polisi itu meletakkan tangannya di atas pistol. Polisi-Polisi lain datang dan pergi, meminta minuman keras atau mencoba mengajak berkelahi. Norman berfikir, keadaan akan semakin memburuk jika disiplin mulai luntur. Secara teknis, polisi-polisi itu adalah pelayan Jakarta. Nantinya, mereka harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya kepada tentara pemerintah pusat ketika tiba dari Jakarta. Saat ini mereka seperti mengambang diantara dua kesetiaan-kesetian terhadap pemerintah pusat dan kesetiaan terhadap “pemberontak”-, bermabuk-mabukan dan bersenag-senang setiap jamnya. 5. 5. Dialog terakhir dengan Kolonel Djambek : “Saya turut menyesal karena situasi menjadi seperti ini”, saya tidak bisa menahan diri untuik tidak berkata demikian. “Tidak apa-apa”, kata Djambek. Suaranya terdengar datar dan tidak bahagia. “Kami belum kalah. Kami akan terus berjuang. Kami akan berperang di hutan. Menyerang dan mundur. Seperti yang dulu kami lakukan terhadap Belanda”. Kami akan meledakkan jalur pipa minyak mereka dan mengadakan perang ekonomi untuk melawan mereka. Mereka tidak akan mampu mangkap kami, pada akhirnya mereka akan terpaksa untuk bersepakat dengan kami”. 6. 6. Dialog dengan seorang Kolonel tentara pusat : “Apa yang akan kalian lakukan dengan tawanan perang?”. “Kami akan menahan mereka selama satu atau dua hari lalu mengirim mereka pulang. Ayah mereka harus memukul mereka. Tapi kami orang Indonesia, kami selalu bersikap terlalu toleran terhadap anak-anak kami, sehingga mereka tidak akan dipukul. Mereka hanya akan kembali belajar. Sebenarnya mereka hanya anak-anak yang bandel” Sumber : James Mossman, Rebels in Paradise : Indonesia’s Civil War dalam Anthony Reid, Sumatera Tempoe Doeloe : dari Marcopolo sampai Tan Malaka. Andiko Sutan Mancayo -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
