Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,

Adidunsanak Palanta nan mulie,

 

Cerita Papa yang kembali saya ceritakan kepada adidunsanak palanta yang mana
sebagai  buah tangan dari kepulangan ke tanah air seorang pejuang PRRI di
tahun 2011 ini yaitu salah seorang pemancang tiang bedirinya komunitas milis
kita ini, siapa lagi kalau bukan Mak Ngah Sjamsir Sjarief.

 

Selamat menikmati.

 

KETIKA PAPA BERCERITA 2

By : Ritrina

 

Melanjutkan cerita pertemuan Papa (H. Djasri S) dan Mak Ngah (Sjamsir
Sjarief) nan bamukim di 'tapi riak nan badabue' di Santa Cruz California
yang mana Mak Ngah sambil pulang ke kampung halaman beliau di Biaro
Bukittinggi Sumbar.  Mereka bernostalgia kembali mengenai masa-masa perang
PRRI dibawah asuhan para penegak kebenaran, yang mana salah satunya adalah
Pak Imam (alm. Buya Moh. Natsir) dalam didikan sama di Universitas Rimba
Raya.

 

Hari Kamis pagi Mak Ngah me-sms Papa untuk mengajak pergi ke Kumpulan.
Kumpulan adalah salah satu tempat Pak Imam tinggal di dalam rimbanya yang
dikenal dengan sebuah komplek persembunyian dengan nama 'Gang Kenanga'
seperti yang telah penulis ceritakan di seri pertama. Jam 9 pagi mereka
janjian untuk bertemu di daerah Simpang By Pass Manggis Bukittinggi untuk
kemudian naik angkot yang bertujuan ke Kumpulan. Ketika sudah ketemu di sana
dan naik ke mobil angkutan itu, Mak Ngah me-sms penulis mengabarkan acara
mereka hari itu. 

 

Sebenarnya Mak Ngah ingin menelusuri tempat persembunyian Pak Imam di dalam
rimba disana, dengan bantuan Papa yang dulunya bertugas sebagai kurir Pak
Imam dan keluarga. Hanya medan yang akan mereka lalui entah sudah tambah
berat atau bagaimana, makanya Papa memutuskan untuk merubah keinginan Mak
Ngah menjadi acara ziarah. Mak Ngah yang duduk di bagian depan mobil
sedangkan Papa duduk di bagian belakang membuat mereka tidak bisa bercerita
langsung. Papa mengirimkan kertas bertuliskan perubahan rencana itu persis
halnya anak sekolahan minta contekan.  Mak Ngah yang tidak begitu mengetahui
lika liku kampung yang setengah abad yang lalu telah dia tinggalkan,
menyerahkan keputusan ke Papa. Akhirnya mereka bersepakat untuk menziarahi
kuburan Kolonel Dahlan Djambek di daerah Aia Kijang tepatnya di sebuah
kampung yang bernama Lariang.

 

Di simpang Aia Kijang mereka berhenti untuk kemudian menyambung kendaraan
umum ke daerah Lariang.  Kamis adalah 'hari pakan' di daerah Kumpulan
sehingga transportasi lumayan lancar untuk masuk ke kampung-kampung di
pelosok nagari Sumatera Barat ini. Menuju Lariang jalan yang dilalui lumayan
mendaki. Setibanya di Makam Kolonel Dahlan Djambek ini mereka berziarah
mengirim doa. Ilalang maninggi disana sini menyaingi tembok pekuburan Sang
Kolonel yang meninggal ditembaki tentara Soekarno di kala subuh sekitar
September 1961.  

 

Menurut cerita orang kampung Lariang, Sang Kolonel berumur 36 tahun masa
itu, masih muda gagah. Dia dan anak buahnya bermalam di kampung itu di
sebuah rumah di pinggir kampung. Sampai sekarang rumah itu masih
dipertahankan bentuk aslinya dan tidak dirubah-rubah. Konon kabarnya Sang
Kolonel yang berhasil ditangkap di rumah itu tidak bisa tertembus peluru.
Anak buahnya yang terus menerus ditembaki oleh Tentara Soekarno telah hancur
berantakan kepala dan tubuhnya karena ditembaki berulang-ulang. Rata-rata
kepala mereka pecah karena ditembaki terus-menerus itu. Kain sarung yang
dipakai oleh Sang Kolonel penuh dengan lubang tembakan. Namun yang tembus ke
badannya di sekitar dada hanya satu tembakan saja. 

 

Cerita dari mulut ke mulut orang kampung Lariang menceritakan bahwa Sang
Kolonel kabarnya memiliki kemampuan yang luar biasa sehingga peluru tidak
mempan menembus badannya. Ketika melihat anak buahnya sudah berserakan
berserpihan manganak darah dan benak di subuh buta itu, Sang Kolonel
memutuskan untuk ikut gugur bersama anak buahnya. Sehingga kain sarung yang
dipakainya hancur penuh tembakan tetapi yang menembus dadanya hanya satu
tembakan. Satu tembakan yang diijinkan dia untuk membuat dia gugur bersama
anak buahnya yang sudah duluan gugur. Sang Kolonel belum mau menyerah
sebagaimana halnya Kolonel Ahmad Husen yang telah duluan menyerah di awal
tahun 1961 itu. Menurut Papa dan Mak Ngah, banyak diantara pejuang yang
tidak tahan hidup di dalam Rimba, sehingga ditawari pengampunan, jadi cepat
menyerah. Ditambah lagi dengan adanya pengkhianat perjuangan. Syukur
Alhamdulillah tempat Pak Imam tidak bisa terdeteksi oleh tentara Soekarno
karena orang kampung yang selalu berpihak ke perjuangan beliau, sehingga
tetap selamat sampai menyerah di September 1961 itu, Alhamdulillah.

 

Makam Kolonel Dahlan Djambek sudah ditembok dan dipagar . Rumah tempat
kejadian penangkapan itu masih bisa diziarahi. Hanya saja jalan menuju ke
tempat tersebut lumayan rusak dan mendaki. Seperti halnya situs-situs
sejarah di negeri kita lainnya, Pemakaman inipun kurang terawat. Dimana
tempat itu disemaki oleh ilalang yang meninggi. Butuh sentuhan kepedulian
dari para penerus cita-cita perjuangan. 

 

Selepas siang para pejuang senja ini kembali ke pasar Kumpulan untuk  shalat
dan makan. Papa memilih menu gulai ikan rayo asam durian, sedangkan Mak Ngah
memilih ikan goreng. Sementara mulut mereka terus saja bercerita tentang
masa-masa yang tidak akan pernah mereka lupakan tentang masa silam yang
penuh kenangan. Mak Ngah mengajak Papa untuk ke kampung Malampah yang
berjarak 30 km dari Pasar Kumpulan. Mengingat mereka hanya membawa 'badan'
saja, Papa mengurungkan niat Mak Ngah tersebut karena beberapa pertimbangan.
Diantaranya mereka tidak membawa persiapan sekiranya nanti harus bermalam di
perjalanan. Lain waktu perlu perencanaan yang matang untuk menapak tilasi
perjalanan setengah abad silam tersebut.

 

Perjalanan tersebut harus diakhiri dengan berangkat kembali menuju Kota
Bukittinggi. Papa mengantar Mak Ngah sampai di simpang By Pass untuk
seterusnya Mak Ngah bisa kembali ke Biaro. Rupanya orangtua satu ini belum
puas dengan kejadian sehari itu sehingga beliau meneruskan jalan ke Hotel
Pusako untuk berenang sebagaimana hobinya sejak dulu. Ohya Kawan, Mak Ngah
adalah sosok tua yang bersemangat mengalahkan yang muda. Di setiap ulang
tahun beliau, selalu berenang mengitari kolam renang sebanyak usia yang
telah dilalui. Bila sekarang usia beliau memasuki 76 tahun artinya beliau
telah beranang di hari ulang tahunnya 75 lap di kolam renang di Santa Cruz
California sana. Orang Melayu cakap ; Boleh tahaaaannn. Dato' satu nie..
Sungguh luar biasa untuk kakek-kakek seusia beliau itu. 

 

Menurut Papa, Mak Ngah  sangat ingin untuk pergi ke Gang Kenanga. Sehingga
Papa telah melakukan persiapan untuk acara napak tilas tersebut. Seorang
kawan yang seperjuangan dulu yang bergelar Datuak Tumangguang telah beliau
hubungi. Mereka siap untuk menjadi penunjuk jalan menuju Gang Kenanga sebab
beliau tinggal di Kumpulan tepatnya di kampung Durian Kunik. Berkemungkinan
bila acara itu jadi, maka akan memakan waktu 2 harian. Jika diriku ini tidak
'takabek' di Rantau ini, tentunya akan bernyanyi riang mengiringi langkah
orang-orang tua 'jagoan  ini. Seperti yang sering kugeluti waktu kecil masuk
hutan untuk memetik pohon-pohon cengkeh yang mulai berbuah di kebun di
tengah 'rimbo' Manduang dulu itu.

 

Batam, 10 Januari 2011

 

Wassalam

Rina

 

Note : Akan sangat bagus pabila Perkumpulan Pecinta Alam Bukittinggi bisa
ikut dalam acara napak tilas ini, daripada mendaki Merapi atau Singgalang. 

 

 

 

 

 

 

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke