________________________________
From: andi ko <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Mon, January 10, 2011 2:11:50 PM
Subject: Re: [...@ntau-net] KETIKA PAPA BERCERITA 2 by : Ritrina
Ambo awali kisah pertemuan iko dengan......
..........................Dua lelaki tua itu saling bertatapan. Terpaan angin
dingin Bukitiinggi kala senja jatuh mengantarkan sendu menelisik, merambati
bunga anyelir yang memucat di samping pintu. Sepuluh menit lalu ada desisan
tertahan, ketika sebuah ketukan di pintu mengiring “Assalamualaikum”. Bergegas
si tuan rumah beranjak dan memutar gerendel pintu. Di hadapannya kini, berdiri
seorang lelaki dari jauh, sama tuanya, dimatanya bergayut kerinduan.
Seketika, seperti di bioskop tua di pasar Atas Bukittinggi, kenangan terhampar
pada jarak satu setengah meter yang membentang diantara keduanya. Bunyi
tembakan
mitraliur seolah berlari disela-sela mereka. Kedua lelaki itu menarik nafas
tuanya. Demikian lama waktu melemparkan pada sisi-sisi dunia dengan peradaban
berbeda. Lelaki yang mengetuk pintu itu, demikian rapih menyimpan perjalanan
pada keremangan malam di perpustakaan tua universitas di...........Amerika,
sementara itu yang berdiri dengan dada serasa pecah, di pintu itu, berpuluh
tahun menyaksikan zaman telah mencoba mengubur cerita
mereka...........................
Mari kito lanjutkan cerpen sejarah iko
Salam
andiko
Pada 10 Januari 2011 13.33, andi ko <[email protected]> menulis:
Rina, tolong sampaikan ka Mak nGah jo Papa Rina
>
>Ambo raso sato ikuik jo baliau, bilo ambo ka Bukiktinggi suatu waktu nanti,
>ambo
>ingin bacurito2 jo papa Rina.
>
>Salam
>
>andiko
>
>
>Pada 10 Januari 2011 13.27, rinapermadi <[email protected]> menulis:
>
>
>Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,
>>Adidunsanak Palanta nan mulie,
>>
>>Cerita Papa yang kembali saya ceritakan kepada adidunsanak palanta yang mana
>>sebagai buah tangan dari kepulangan ke tanah air seorang pejuang PRRI di
>>tahun
>>2011 ini yaitu salah seorang pemancang tiang bedirinya komunitas milis kita
>>ini,
>>siapa lagi kalau bukan Mak Ngah Sjamsir Sjarief.
>>
>>Selamat menikmati…
>>
>>KETIKA PAPA BERCERITA 2
>>By : Ritrina
>>
>>Melanjutkan cerita pertemuan Papa (H. Djasri S) dan Mak Ngah (Sjamsir
>>Sjarief)
>>nan bamukim di ‘tapi riak nan badabue’ di Santa Cruz California yang mana Mak
>>Ngah sambil pulang ke kampung halaman beliau di Biaro Bukittinggi Sumbar.
>> Mereka bernostalgia kembali mengenai masa-masa perang PRRI dibawah asuhan
>> para
>>penegak kebenaran, yang mana salah satunya adalah Pak Imam (alm. Buya Moh.
>>Natsir) dalam didikan sama di Universitas Rimba Raya.
>>
>>Hari Kamis pagi Mak Ngah me-sms Papa untuk mengajak pergi ke Kumpulan.
>>Kumpulan
>>adalah salah satu tempat Pak Imam tinggal di dalam rimbanya yang dikenal
>>dengan
>>sebuah komplek persembunyian dengan nama ‘Gang Kenanga’ seperti yang telah
>>penulis ceritakan di seri pertama. Jam 9 pagi mereka janjian untuk bertemu di
>>daerah Simpang By Pass Manggis Bukittinggi untuk kemudian naik angkot yang
>>bertujuan ke Kumpulan. Ketika sudah ketemu di sana dan naik ke mobil angkutan
>>itu, Mak Ngah me-sms penulis mengabarkan acara mereka hari itu.
>>
>>
>>Sebenarnya Mak Ngah ingin menelusuri tempat persembunyian Pak Imam di dalam
>>rimba disana, dengan bantuan Papa yang dulunya bertugas sebagai kurir Pak
>>Imam
>>dan keluarga. Hanya medan yang akan mereka lalui entah sudah tambah berat
>>atau
>>bagaimana, makanya Papa memutuskan untuk merubah keinginan Mak Ngah menjadi
>>acara ziarah. Mak Ngah yang duduk di bagian depan mobil sedangkan Papa duduk
>>di
>>bagian belakang membuat mereka tidak bisa bercerita langsung. Papa
>>mengirimkan
>>kertas bertuliskan perubahan rencana itu persis halnya anak sekolahan minta
>>contekan. Mak Ngah yang tidak begitu mengetahui lika liku kampung yang
>>setengah
>>abad yang lalu telah dia tinggalkan, menyerahkan keputusan ke Papa. Akhirnya
>>mereka bersepakat untuk menziarahi kuburan Kolonel Dahlan Djambek di daerah
>>Aia
>>Kijang tepatnya di sebuah kampung yang bernama Lariang.
>>
>>Di simpang Aia Kijang mereka berhenti untuk kemudian menyambung kendaraan
>>umum
>>ke daerah Lariang. Kamis adalah ‘hari pakan’ di daerah Kumpulan sehingga
>>transportasi lumayan lancar untuk masuk ke kampung-kampung di pelosok nagari
>>Sumatera Barat ini. Menuju Lariang jalan yang dilalui lumayan mendaki.
>>Setibanya
>>di Makam Kolonel Dahlan Djambek ini mereka berziarah mengirim doa. Ilalang
>>maninggi disana sini menyaingi tembok pekuburan Sang Kolonel yang meninggal
>>ditembaki tentara Soekarno di kala subuh sekitar September 1961.
>>
>>Menurut cerita orang kampung Lariang, Sang Kolonel berumur 36 tahun masa itu,
>>masih muda gagah. Dia dan anak buahnya bermalam di kampung itu di sebuah
>>rumah
>>di pinggir kampung. Sampai sekarang rumah itu masih dipertahankan bentuk
>>aslinya
>>dan tidak dirubah-rubah. Konon kabarnya Sang Kolonel yang berhasil ditangkap
>>di
>>rumah itu tidak bisa tertembus peluru. Anak buahnya yang terus menerus
>>ditembaki
>>oleh Tentara Soekarno telah hancur berantakan kepala dan tubuhnya karena
>>ditembaki berulang-ulang. Rata-rata kepala mereka pecah karena ditembaki
>>terus-menerus itu. Kain sarung yang dipakai oleh Sang Kolonel penuh dengan
>>lubang tembakan. Namun yang tembus ke badannya di sekitar dada hanya satu
>>tembakan saja.
>>
>>
>>Cerita dari mulut ke mulut orang kampung Lariang menceritakan bahwa Sang
>>Kolonel
>>kabarnya memiliki kemampuan yang luar biasa sehingga peluru tidak mempan
>>menembus badannya. Ketika melihat anak buahnya sudah berserakan berserpihan
>>manganak darah dan benak di subuh buta itu, Sang Kolonel memutuskan untuk
>>ikut
>>gugur bersama anak buahnya. Sehingga kain sarung yang dipakainya hancur penuh
>>tembakan tetapi yang menembus dadanya hanya satu tembakan. Satu tembakan yang
>>diijinkan dia untuk membuat dia gugur bersama anak buahnya yang sudah duluan
>>gugur. Sang Kolonel belum mau menyerah sebagaimana halnya Kolonel Ahmad Husen
>>yang telah duluan menyerah di awal tahun 1961 itu. Menurut Papa dan Mak Ngah,
>>banyak diantara pejuang yang tidak tahan hidup di dalam Rimba, sehingga
>>ditawari
>>pengampunan, jadi cepat menyerah. Ditambah lagi dengan adanya pengkhianat
>>perjuangan. Syukur Alhamdulillah tempat Pak Imam tidak bisa terdeteksi oleh
>>tentara Soekarno karena orang kampung yang selalu berpihak ke perjuangan
>>beliau,
>>sehingga tetap selamat sampai menyerah di September 1961 itu, Alhamdulillah…
>>
>>Makam Kolonel Dahlan Djambek sudah ditembok dan dipagar . Rumah tempat
>>kejadian
>>penangkapan itu masih bisa diziarahi. Hanya saja jalan menuju ke tempat
>>tersebut
>>lumayan rusak dan mendaki. Seperti halnya situs-situs sejarah di negeri kita
>>lainnya, Pemakaman inipun kurang terawat. Dimana tempat itu disemaki oleh
>>ilalang yang meninggi. Butuh sentuhan kepedulian dari para penerus cita-cita
>>perjuangan.
>>
>>
>>Selepas siang para pejuang senja ini kembali ke pasar Kumpulan untuk shalat
>>dan
>>makan. Papa memilih menu gulai ikan rayo asam durian, sedangkan Mak Ngah
>>memilih
>>ikan goreng. Sementara mulut mereka terus saja bercerita tentang masa-masa
>>yang
>>tidak akan pernah mereka lupakan tentang masa silam yang penuh kenangan. Mak
>>Ngah mengajak Papa untuk ke kampung Malampah yang berjarak 30 km dari Pasar
>>Kumpulan. Mengingat mereka hanya membawa ‘badan’ saja, Papa mengurungkan niat
>>Mak Ngah tersebut karena beberapa pertimbangan. Diantaranya mereka tidak
>>membawa
>>persiapan sekiranya nanti harus bermalam di perjalanan. Lain waktu perlu
>>perencanaan yang matang untuk menapak tilasi perjalanan setengah abad silam
>>tersebut.
>>
>>Perjalanan tersebut harus diakhiri dengan berangkat kembali menuju Kota
>>Bukittinggi. Papa mengantar Mak Ngah sampai di simpang By Pass untuk
>>seterusnya
>>Mak Ngah bisa kembali ke Biaro. Rupanya orangtua satu ini belum puas dengan
>>kejadian sehari itu sehingga beliau meneruskan jalan ke Hotel Pusako untuk
>>berenang sebagaimana hobinya sejak dulu. Ohya Kawan, Mak Ngah adalah sosok
>>tua
>>yang bersemangat mengalahkan yang muda. Di setiap ulang tahun beliau, selalu
>>berenang mengitari kolam renang sebanyak usia yang telah dilalui. Bila
>>sekarang
>>usia beliau memasuki 76 tahun artinya beliau telah beranang di hari ulang
>>tahunnya 75 lap di kolam renang di Santa Cruz California sana. Orang Melayu
>>cakap ; Boleh tahaaaannn… Dato’ satu nie.. Sungguh luar biasa untuk
>>kakek-kakek
>>seusia beliau itu.
>>
>>
>>Menurut Papa, Mak Ngah sangat ingin untuk pergi ke Gang Kenanga. Sehingga
>>Papa
>>telah melakukan persiapan untuk acara napak tilas tersebut. Seorang kawan
>>yang
>>seperjuangan dulu yang bergelar Datuak Tumangguang telah beliau hubungi.
>>Mereka
>>siap untuk menjadi penunjuk jalan menuju Gang Kenanga sebab beliau tinggal di
>>Kumpulan tepatnya di kampung Durian Kunik. Berkemungkinan bila acara itu
>>jadi,
>>maka akan memakan waktu 2 harian. Jika diriku ini tidak ‘takabek’ di Rantau
>>ini,
>>tentunya akan bernyanyi riang mengiringi langkah orang-orang tua ‘jagoan
>>ini.
>>Seperti yang sering kugeluti waktu kecil masuk hutan untuk memetik
>>pohon-pohon
>>cengkeh yang mulai berbuah di kebun di tengah ‘rimbo’ Manduang dulu itu.
>>
>>Batam, 10 Januari 2011
>>
>>Wassalam
>>Rina
>>
>>Note : Akan sangat bagus pabila Perkumpulan Pecinta Alam Bukittinggi bisa
>>ikut
>>dalam acara napak tilas ini, daripada mendaki Merapi atau Singgalang.
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
--
>>.
>>* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
>>wajib
>>mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
>>http://groups.google.com/group/RantauNet/%7E
>>* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>>===========================================================
>>UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
>>- DILARANG:
>>1. E-mail besar dari 200KB;
>>2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
>>3. One Liner.
>>- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
>>http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
>>- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>>- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>>- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
>>subjeknya.
>>===========================================================
>>Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>>http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
>>
>
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib
mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.