Dunsanak sadonyo, 
 
Dengan falsafah minang, alam terkembang jadi guru, ternyata banyak hal berharga 
yg bisa kita pelajari dalam alam ini, berikut sedikit tulisan, mengenai apa 
pelajaran yg bisa kira raih dari kabut, semoga bermanfaat
 
Salam dari gurun pasir abu dhabi, UAE
 
HM malin sinaro ( 41 ) 
(palembayan, kab agam )
http://hdmessa.wordpress.com
 
--------------------------
 
Lintas kabut, sutra putih
 
Berjalan melintasi  jalanan yg tertutup kabut tebal sungguh suatu pengalaman 
yang mengesankan.  Saat masa muda dulu, saat melakukan perjalanan lintas alam 
di pegunungan sekitar bandung, di pagi hari  musim penghujan, suasana alam nya 
selalu berkabut tebal, kita bagai melintasi lorong putih, menakjubkan sekali. 
Sampai  kelompoknya pun dinamai dg nama lintas kabut.
 
Naik kendaraan melintasi jalanan berkabut cukup mendebarkan juga. Saat dulu 
pulang kampuang ke ranah minang, dataran tingginya yg berbukit2, penuh kabut 
juga di musim hujan. Dalam perjalanan menuju kota padang dari arah selatan  ( 
solok)  kita akan melewati  jalan berkelok di pegunungan, jalur jalan yg 
terkenal dg nama jalur Sitinjau laut, karena dari jalanan menyusuri pebukitan 
tsb, saat udara cerah kita bisa melihat lautan di seberang sana. Jalanan 
berkelok ini berada diantara dinding bukit disebelah  kanan dan jurang di kiri 
jalan, alam yg indah namun sungguh mengerikan saat melewatinya. Dulu saya 
melewati jalan tersebut saat cuaca berkabut tebal, saya hanya bisa berdoa saja 
kalau lewat jalan tsb, karena memang banyak terjadi kecelakaan di jalur jalan 
tsb. Alhamdulillah supir bis yg sudah mengenal jalanan tersebut, bisa 
melewatinya dengan selamat. Jalur lintas sumatera lain nya yg pernah saya 
lewati saat berkabut dan mendebarkan juga melewatinya
 ialah jalur kelok Sembilan di jalur jalan antara sumatera barat dan Riau, saat 
berjalan dari bukittinggi ke pekanbaru. Jalur dengan kelokan tajam menyusuri 
bukit dan lembah, dihitung2 ada 9 buah kelokannya, sehingga dinamai jalan kelok 
Sembilan.
 
Hanya orang yg berhasil melintasi kabut malam, akan bisa merasakan nikmatnya 
belaian hangat mentari pagi
 
Baca selengkapnya ;
http://hdmessa.wordpress.com/2011/01/09/lintas-kabut-sutra-putih/

 

 
LINTAS KABUT, SUTRA PUTIH
Berjalan melintasi  jalanan yg tertutup kabut tebal sungguh suatu pengalaman 
yang mengesankan.  Saat masa muda dulu, saat melakukan perjalanan lintas alam 
di pegunungan sekitar bandung, di pagi hari  musim penghujan, suasana alam nya 
selalu berkabut tebal, kita bagai melintasi lorong putih, menakjubkan sekali. 
Sampai kelompoknya pun dinamai dg nama lintas kabut.
 
Naik kendaraan melintasi jalanan berkabut cukup mendebarkan juga. Saat dulu 
pulang kampuang ke ranah minang, dataran tingginya yg berbukit2, penuh kabut 
juga di musim hujan. Dalam perjalanan menuju kota padang dari arah selatan  ( 
solok)  kita akan melewati  jalan berkelok di pegunungan, jalur jalan yg 
terkenal dg nama jalur Sitinjau laut, karena dari jalanan menyusuri pebukitan 
tsb, saat udara cerah kita bisa melihat lautan di seberang sana. Jalanan 
berkelok ini berada diantara dinding bukit disebelah  kanan dan jurang di kiri 
jalan, alam yg indah namun sungguh mengerikan saat melewatinya. Dulu saya 
melewati jalan tersebut saat cuaca berkabut tebal, saya hanya bisa berdoa saja 
kalau lewat jalan tsb, karena memang banyak terjadi kecelakaan di jalur jalan 
tsb. Alhamdulillah supir bis yg sudah mengenal jalanan tersebut, bisa 
melewatinya dengan selamat. Jalur lintas sumatera lain nya yg pernah saya 
lewati saat berkabut dan mendebarkan juga melewatinya
 ialah jalur kelok Sembilan di jalur jalan antara sumatera barat dan Riau, saat 
berjalan dari bukittinggi ke pekanbaru. Jalur dengan kelokan tajam menyusuri 
bukit dan lembah, dihitung2 ada 9 buah kelokannya, sehingga dinamai jalan kelok 
Sembilan.
 
Waktu bepergian ke daerah jawa tengah,pengalaman melintasi jalanan dataran 
tinggi yg penuh kabut lain nya, ialah saat melewati jalur dari kota wonosobo 
menuju dataran tinggi dieng, jalannya berkelok mendaki tertutup kabut tebal 
lagi, sungguh hanya supir2 yg pengalaman bisa membawa kendaraan melintasinya, 
saya hanya berdebar2 saja melewatinya. Sampai di dieng jam 10 pagi, kabut masih 
tebal, matahari pun tak tampak, seperti masih subuh saja.
 
Pengalaman berjalan melintas kabut lain nya, ialah saat menempuh perjalanan 
dari Pangalengan, Bandung selatan mendaki  jalan berkelok ke gunung wayang 
windu melewati kebun teh kertamanah dan Malabar. Saat pagi hari musim 
penghujan, alam pun penuh kabut tebal, kebun teh, bagai hamparan putih saja, 
kendaraan pun berjalan perlahan menapaki jalan berkelok yg tertutup kabut tebal 
tersebut karena jarak pandang pun terbatas.
 
sampai pula pengembaraan saya ke negeri gurun pasir abu dhabi, menakjubkan 
sekali ternyata saya mengalami juga perjalanan melintas kabut. Ternyata tak 
selamanya gurun pasir itu panas, ada juga dingin nya, sampai berkabut tebal 
udaranya. Antara bulan November sampai februari, gurun pasir jazirah Arab 
mengalami musim dingin, suhu antara 15-25 derajat, pada saat2 tertentu turun 
pula kabut tebal. Dan kabut di hamparan gurun pasir yg datar, lebih tebal dan 
lama waktunya dibanding kabut di daerah pegunungan yg berbukit2, yang biasanya 
kalau kita sampai di balik bukit/gunung cuaca akan berubah terang.
 
Melewati jalan berkabut, kita seperti memasuki lorong panjang berdinding kabut 
putih, seorang teman yg pernah mengalami mati suri, koma selama beberapa waktu 
lamanya, pernah bercerita pengalaman nya. Saat mati suri tsb, ia bercerita, 
seperti sedang berjalan melintasi lorong panjang yg berdinding putih seperti 
kabut. di dinding nya tampak bayangan gambar2 saat ia masa kecil yg ceria 
sampai masa dewasanya, bagai melewati lorong waktu. Di ujung lorong tampak 
sinar putih kilau bercahaya, namun ia tak sampai ke ujung lorong tersebut, 
karena telah terbangunkan oleh sorot lampu di atas tempat rumah sakit dimana ia 
dirawat. Saat terbangun kembali dari keadaan tsb, ia merasa bersyukur sekali 
masih hidup di dunia ini. Hal tsb memberi kesadaran padanya bahwa hidup ini 
adalah anugrah dan berusaha untuk menggunakan nya sebaik mungkin
 
Kembali ke cerita jalanan berkabut tadi, beberapa waktu yg lalu, masih di musim 
dingin ini, saya berkendaraan  menuju Abu dhabi, melintasi jalanan gurun pasir 
di pagi hari, awal berangkat dekat rumah cuaca walau masih dingin, tapi 
pemandangan cukup jelas, saat sudah sampai di pertengahan jalan raya di area 
gurun pasir, ternyata jalanan tertutup kabut tebal, jarak pandang ke depan 
sekitar 5-10 meter saja. Saya lihat banyak kendaraan lain yg memilih untuk 
berhenti di pinggir jalan menunggu kabut reda. Sebenarnya  kondisi jalan 
seperti ini sungguh berbahaya, banyak kecelakaan terjadi karenanya. Saya ambil 
keputusan untuk terus berjalan saja dengan kecepatan rendah dengan harapan, 
mudah2an kabutnya cepat reda, karena hari sudah mulai siang sekitar jam 9, 
walau sinar mentari masih tak terlihat jelas. Saya coba mengingat2 lagi trick 
aman menyetir di tengah kabut dari supir2 yg pernah saya naiki dulu waktu 
melintasi jalan berkabut di Indonesia.  Ternyata
 kabut tebal cukup lama juga, hampir sekitar 40 km jauhnya saya berjalan dg 
kecepatan lambat sekitar  50 km/jam. Rumusnya sederhana saja,  hati2, jalan 
lambat, hidupkan lampu kabut dan ikuti rambu serta garis jalan, perhatikan  
kendaraan di depan/belakang.  Alhamdulillah akhirnya sinar mentari pagi 
menghangatkan kabut pagi yg mereda karenanya, langit pun jadi terang dan 
pemandangan jalan jadi jelas.
 
Sambil jalan saya merenunginya, bahwa perjalanan melintasi kabut ini, adalah 
juga analogi dari perjalanan hidup manusia di dunia ini. Kabut di depan kita, 
adalah bagaikan masa depan, kita tak tahu pasti masa depan kita, walau tampak 
remang2 kita bisa membayangkan nya, dan sedikit demi sedikit dengan berjalan 
nya waktu masa depan akan tampak jelas pula.
 
Saat menempuh perjalanan hidup ini, manusia dibekali dg petunjuk jalan dan juga 
sinar penerang        ( baca:  agama, petunjuk ) , bagaikan rambu jalan dan 
sinar lampu. Kalau kita mengikuti jalan lurus  insya Allah akan selamat 
menempuh perjalanan hidup ini, kalau sembrono semaunya, jalan ngebut tak 
mengikuti petunjuk jalan, kemungkinan besar kita akan celaka, jalan menyimpang 
walau sedikit, di jalanan berkelok di pegunungan, bisa masuk jurang karenanya.
 
Dulu pernah ngobrol2 dg teman yg bisa dikata cukup mengerti  agama, tahu hal yg 
benar dan salah. Ia bilang ke saya, “ndra, kalau hidup ini lurus2 sajah, nggak 
seru ah, nggak apa kan, belok2 dikit mah, , nanti juga balik lagi ke jalan 
lurus ( tobat), kan dimaafkan juga”, katanya , maksudnya buat dosa2 dikit nggak 
apa lah, nanti juga kan tobat lagi..?.  Susah juga untuk menjelaskan nya dulu, 
setelah memahami hikmah dibalik jalanan berkabut ini, kalau ketemu lagi saya 
bisa bilang padanya  ( mudah2an sempat baca juga tulisan ini ). Saat berjalan, 
apalagi melintasi jalanan berkabut, salah2 dikit bawa setir mobil, bisa 
melenceng jauh dan membawa celaka. Begitulah orang jarang sadar, bahwa dosa2 
besar dimulai dg dosa2 kecil yg dianggap biasa, ini adalah sebuah trick jitu 
dari setan, menggoda manusia, semoga kita dilindungi dari hal tersebut.
 
Hanya orang yg berhasil melintasi kabut malam, akan bisa merasakan nikmatnya 
belaian hangat mentari pagi


      

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke