Assalamualaikum, ww
Mnangkabau tak jadi tak hebat kalaupun "parawisata tidak sehebat bali" toh
disana yang menangguk untung lebih banyak orang jakarta dan yang menanggung
derita ya orang bali asli.
Minangkabau tetap membanggakan dan hebat meskipun "tidak lagi muncul urang
gadang" di dunia politik selama tidak tidak ada orang minang yang muncul
kepermukaan sebagai koruptor atau panduto gadang.
Minangkabau tetap istimewa kalaupun ekonomi tak secerah daerah lain, apa memang
ada sekarang ini yang bisa mengatakan tidak bermasalah dengan ekonomi nanparalu
tetap jalan saling membantu antar keluarga.
Sebagai si minang tetap bisa tegak kepala ketika nagari di guncang bencana lagi
dan lagi. Awak sependapat itu karena ke minangan kita bahwa itu "bencana itu
fenomena alam" bukan karena hal hal gaip atau apalah, bencana itu konsekuensi
tinggal di nagari indah yang secara alami berpotensi gempa, longsor dan
tsunami. Mari fikirkan bagaimana memperkecil risikonya.
Tidak ada yang salah dengan minangkabau "jika ada satu dua orang yang malu
mengaku sebagai orang minang" karena itu artinya dia sedang bermasalah dengan
jatidirinya. Ado nan batanyo soal warisan turunan ka mama dedeh itu kan artinya
nggak ngerti bahwa harta turunan tidak dibagikan tapi diturunkan. Beda dengan
harta pencarian yang harus dibagikan sesuai aturan agama islam.
Jangan politisasi ke minangkabauan karena itu tak terganti. Mungkin daerah
sumatera barat bertambah luas tapi daerah minangkabau ya tetap cando asalnyo.
Masalah ada "populasi lain di sekitar kita itu tak baru dan tak masalah" dalam
adat kita yang jelas dan tak perlu dikutak katik lagi. Kalau uramg sumondo non
minang maka anaknya adalah urang minang sebaliknya pula kalau mintuo urang
non-minang anaknya menjadi anak pisang urang minang. Adat dan aturan
minangkabau hanya berlaku untuk urang minagkabau, indak urang kasado urang nan
tingga di daerah minangkabau.
Minangkabau itu adat bersandi sarak , sarak bersandi kitabulah maka kamu bukan
urang minang lagi jika baganti keyakinan lepas segala hak dan kewajiban sebagai
minang. So...belum cukupkah kepastian itu.
Harusnya bukan mengecilkan adat atau menggugat adat tapi mari bersama
memurnikan dan menyampakannya secara lebih sederhana ke generasi muda. Kalau
orang jepang bisa maju tampa merubah adat kebiasaannya kalau china bisa maju
karena tidak kehilangan identitasnya kenapa kita tidak. wassalam
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.