Sanak sapalanta nan ambo hormati, Menarik mambaco otokritik dari budayawan Riau Prof Yusmar Yusuf yang dimuat harian "Kompas" hari Selasa 2 hari nan lalu.
Berlaku jugakah ini untuk Sumbar ? Maaf & wasalam, Epy buchari L-67, Ciputat Timur Yang Banyak Mengklaim adalah Negeri Kalah Selasa, 11 Januari 2011 | 03:16 WIB Pekanbaru, Kompas - Budayawan Riau, Prof Yusmar Yusuf, mengungkapkan, tidak masanya lagi sebuah daerah banyak mengklaim sesuatu yang bersifat abstrak yang nyaris mustahil dapat diwujudkan. Sebuah negeri yang mengklaim sebagai negeri bermarwah sesungguhnya adalah negeri yang tidak bermarwah. ”Negeri yang mengklaim keberhasilan adalah negeri yang tidak berhasil. Sesungguhnya negeri yang banyak mengklaim adalah negeri kalah,” ujar Yusmar dalam diskusi budaya yang diselenggarakan menyambut HUT ke-20 Riau Pos di Pekanbaru, Senin (10/1). Diskusi terkait ”Visi Terwujudnya Provinsi Riau sebagai Pusat Perekonomian dan Kebudayaan Melayu dalam Lingkungan Masyarakat yang Agamis, Sejahtera, Lahir, dan Batin di Asia Tenggara Tahun 2020” yang diproklamirkan pada 2000 atau 10 tahun lalu. Tentang visi Riau itu, Yusmar menyatakan, program itu semestinya dievaluasi. Idealnya, ketika mengklaim sebagai pusat budaya, Pemerintah Provinsi Riau mampu melakukan riset, mengumpulkan penelitian dan tidak gamang dengan universitas. ”Visi itu menjadi tidak jelas karena Pemprov Riau justru gamang dengan universitas dan lembaga riset. Proses kuratorial gagal, dokumentasi gagal, dan promosi Melayu sesungguhnya tidak ada. Visi ini lahir dari euforia tahun 1998 saat Melayu merasa kehilangan tempat. Namun, kini, kebudayaan dikembangkan berdasarkan SK (surat keputusan), akhirnya menuntut ada pabrik anggaran,” ujar Yusmar. Kelemahan Riau membesarkan budaya Melayu karena kebudayaan hanya dicerminkan dari kesenian. Padahal, budaya mencakup seluruh aspek kehidupan dari soal ekonomi, pemerintahan, dan seni. Budaya lebih banyak dimodifikasi dan dimanipulasi sehingga menciptakan kecederaan budaya. ”Melayu semestinya ibarat perempatan yang dapat menampung seluruh komponen bangsa dan golongan, menjadi titik tempat berjumpa, rendezvous, ubber alles. Tidak perlu Melayu Riau meniru Malaysia. Jadilah Melayu dengan resam Sumatera atau Riau sendiri,” katanya. Budayawan Riau lain, Taufik Ikram Jamil, sepakat, visi Riau itu mesti dievaluasi. Visi itu hendaknya tidak dijadikan wacana politik, melainkan aksi nyata. (SAH) -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
