Tarimo kasih mak, curito yang bagus.

Salam

andiko

Pada 14 Januari 2011 14.13, Muhammad Dafiq Saib
<[email protected]>menulis:

> *Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
>
> Ka pangawani Rina jo Tan Mancayo nan sadang mamuloi carito tantang kenangan
> PRRI ambo tambahan carito pendek fiktif di bawahko.*.....
>
> *KENANGAN MASA PRRI*
>
>
>
> Aku memanggilnya mak etek. Mak etek Jun. Namanya Junaidi. Usianya sudah
> lebih tujuh puluh tahun. Tapi sosok tubuhnya masih gagah. Giginya masih
> utuh. Kecuali rambut ikalnya yang sudah hampir putih semuanya, beliau
> terlihat lebih muda dari usianya. Mak etek Jun adalah seorang pensiunan
> guru. Terakhir, sebelum pensiun,  beliau menjadi kepala sekolah dasar di
> kampung kami.
>
>
>
> Kalau lagi pulang kampung, aku suka sekali berkunjung ke rumah mak etek
> Jun. Selalu saja menarik berbincang-bincang dengan orang tua ini. Cerita apa
> saja. Masalah keadaan kampung, masalah pendidikan anak-anak, masalah politik
> ala kadarnya, masalah korupsi. Karena beliau memang seorang pengamat yang
> baik untuk hal-hal semua itu. Namun yang paling aku sukai adalah cerita
> tentang pengalaman masa muda beliau ketika ikut bergerilya di jaman PRRI.
>
>
>
> Pada kunjunganku terakhir aku melihat sebuah foto hitam putih berukuran
> besar tergantung di dinding. Foto seorang laki-laki  *bagurambeh*.
> Berjanggut dan bercambang lebat. Itu adalah foto beliau di waktu muda,
> karena sangat jelas terlihat wajahnya meski dibalut cambang dan janggut
> seperti itu.
>
>
>
> ‘Kok baru kelihatan foto yang satu ini, mak etek?’ aku berkomentar.
>
>
>
> ‘He..he..he.. Itu foto kenang-kenangan waktu baru balik dari rimba dulu. Si
> Pinto yang menemukan, lalu diperbesarnya dengan komputer, jadilah seperti
> itu. Dia pula yang membingkai dan meletakkan di situ,’ jawab mak etek Jun.
>
>
>
> Pinto adalah cucu kesayangan mak etek yang sudah duduk di kelas tiga SMP.
>
>
>
> Aku mendekat ke dinding tempat foto itu tergantung untuk mengamatinya lebih
> jelas. Ada catatan tanggal dan tahun di bawah foto itu.
>
>
>
> ‘Tahun 1961? Belum pernah *ambo* melihat mak etek seperti dalam foto itu.
> Bagaimana pula ceritanya sampai ber*gurambeh* lebat begitu?’ tanyaku.
>
>
>
> ‘Di hutan itu di mana pula ada pisau cukur. Paling ada gunting kecil untuk
> memangkas misai. Karena bertahun-tahun dibiarkan, jadilah seperti itu,’
> jawab mak etek tersenyum.
>
>
>
> ‘Gagah dan berwibawa terlihatnya,’ aku menambahkan.
>
>
>
> ‘Mungkin maksudmu mengerikan ha..ha..ha… ‘ mak etek terbahak-bahak.
>
>
>
> Aku tersenyum.
>
>
>
> ‘Semua teman mak etek di luar seperti itu?’
>
>
>
> ‘Tentu tidak…. Ada yang memang berbakat. Badannya penuh bulu. Tapi banyak
> juga yang kelimis.’
>
>
>
>
>
> ‘Sampai seperti yang di foto itu…. Sudah berapa lama itu tidak dicukur?’
>
>
>
> ‘Sejak lari ke luar hanya dua atau tiga bulan pertama saja masih sempat
> mengurusnya. Sesudah itu tidak pernah lagi.’
>
>
>
> ‘Ulang pulalah cerita mak etek tentang lari ke luar itu. Masih ada yang
> belum ambo dengar. Bagaimana awalnya mak etek sampai ikut?’ tanyaku.
>
>
>
> Mak etek Jun menarik nafas. Matanya sedikit menerawang. Mungkin sedang
> menjemput ingatan lama.
>
>
>
> ‘He..he..he.. Begini….,’ beliau mengawali.
>
>
>
> Aku mempererat duduk, bersiap mendengar cerita yang biasanya akan cukup
> panjang.
>
>
>
> ‘Aku sudah mengajar di sekolah rakyat ketika perang pecah. Dulu, tamat dari
> SGB kami sudah diangkat jadi guru. Aku mengajar di Lambah. Berjalan kaki
> menyeberangi jalan kereta api dan jalan raya di Biaro. Pernah pada suatu
> siang, pulang sekolah, aku dihentikan tentara APRI di jalan raya itu. Mereka
> baru berani beroperasi di jalan raya, belum berani masuk ke jalan-jalan
> kampung. Mereka banyak sekali. Ada empat buah truk tentara dan tiga buah jip
> Rusia berhenti di tepi jalan.  Mereka memeriksa dan membentak-bentak.
> Setiap penumpang bendi yang datang dari arah Bukit Tinggi disuruh turun.
> Barang belajaan ibu-ibu diperiksa. Entah apa yang mereka cari. Ada beberapa
> orang laki-laki yang disuruh naik ke atas truk. Untungnya, kami guru-guru
> selalu membawa surat keterangan dari kepala sekolah yang menyatakan bahwa
> kami adalah guru. Waktu surat itu aku perlihatkan, tentara yang tadinya
> membentak-bentak sambil menyorongkan bedilnya ke arah dadaku, tidak lagi
> marah-marah dan aku dibiarkan meneruskan perjalanan pulang ke rumah.
>
>
>
> Beberapa waktu kemudian, saat kami sedang liburan sekolah. Kami sedang *
> mengirik* padi di sawah di Bandar Panjang. Kecuali aku, yang bekerja siang
> itu semua orang tua-tua yang sudah berumur lebih lima puluh tahun. Kira-kira
> jam sebelas kami dengar *derung* mobil tentara di kejauhan. Mamakku, mak
> Endah menyuruh aku pergi bersembunyi. Tapi ada pula mamak yang lain, mak
> Malin menyuruh tinggal. ‘Kalau kau lari, bertemu di jalan, alamat kau akan
> dibedilnya. Lebih baik kau di sini saja,’ kata mak Malin.
>
>
>
> Akupun lebih memilih untuk tidak pergi. Beberapa saat kemudian kami dengar
> beberapa kali bunyi tembakan. Mamak-mamak itu sama bergumam, mempertanyakan
> entah siapa pula yang sudah kena tembak. Tiba-tiba saja, telah muncul tiga
> orang tentara APRI, menuju ke arah kami sambil menodongkan senjata. ‘Angkat
> tangan,’ perintahnya. Aku memberi contoh bagaimana mengangkat tangan, karena
> ada di antara mamak-mamak itu yang tidak faham.
>
>
>
> ‘Kau…..! Kesini kau!’ perintahnya padaku. Akupun mendekat.
>
>
>
> ‘Kau pemberontak!’ hardiknya. Ujung bedilnya menempel di pelipisku. Aku
> berusaha tenang. Lalu aku jawab, bahwa aku seorang guru.
>
>
>
> ‘Bohong kau! Mana surat-surat!’ hardiknya pula.
>
>
>
> ‘Kami sedang bergotong royong. Saya tidak membawa surat-surat,’ jawabku.
>
>
>
> ‘Bohong!’ bentaknya lagi.
>
>
>
> Kali ini aku ditamparnya, persis di mukaku. Bukan main sakitnya. Tapi yang
> lebih sakit adalah hatiku. Tentara itu mungkin seumur denganku. Dan aku
> ditampar *perai* saja. Mana mungkin aku membalas. Pondok kami di*usai*nya.
> Mungkin dia curiga kalau-kalau ada senjata tersembunyi di sana. Mamak-mamak
> yang lain ditanyainya pula satu persatu. Mak Endah, mamakku yang memang
> terlihat tegap juga ditamparnya. Entah apa masalahnya aku tidak tahu.
>
>
>
> Aku dan dua orang dari mamak-mamak itu dibawa mereka pergi. Agak kecut juga
> hatiku kalau-kalau aku akan dibedilnya pula. Rupanya kami dibawa ke Lasi. Di
> sana kami disuruh menggali lobang di sekitar sebuah rumah. Rumah itu mereka
> rampas untuk jadi markas. Ada puluhan orang yang bekerja paksa di sana,
> semua orang-orang yang mereka tangkap hari itu dari beberapa kampung.
>
>
>
> Sorenya mak ditemani mak tuoku datang ke Lasi membawa surat keteranganku.
> Komandan mereka lebih ramah kepada orang-orang tua itu. Aku dipanggil anak
> buahnya untuk menghadap. Tentara itu minta maaf atas perlakuan anak buahnya
> kepada kami. Dan sore itu kami semua diizinkan pulang.
>
>
>
> Tapi maaf tinggallah maaf. Hatiku sudah bulat. Selama bekerja membuat
> lobang itu otakku  berpikir keras tentang pergi bergabung dengan tentara *
> luar*. Aku akan segera melakukannya. Aku akan membalas kekurangajaran
> tentara-tentara keparat ini. Yang telah menamparku. Memaksaku bekerja.
> Mereka adalah manusia-manusia tidak tahu sopan santun. Main bentak dan main
> tampar bahkan terhadap orang-orang tua yang pada hal adalah rakyat sipil.
> Dan entah berapa orang pula orang kampung yang mereka tembaki hari itu.   
> Mereka
> memang tentara-tentara bengis dan semena-mena.
>
>
>
> Dalam perjalanan pulang mak tuo bercerita bahwa di kampung kami saja siang
> hari itu empat orang anak muda lagi mati tertembak. Anak-anak muda yang
> berusaha menghindar waktu ber*sirobok* dengan mereka. Anak-anak muda yang
> diteriaki supaya mengangkat tangan tapi tidak segera mengangkatnya. Mereka
> ditembak dari belakang. Ada yang kepalanya pecah. Yang dadanya rengkah. Yang
> perutnya terburai. Darahku tambah mendidih saja mendengar cerita itu.
> Meskipun sampai sejauh ini aku selamat berkat surat keterangan guru,  bukan
> tidak mungkin, jika aku tetap bertahan di kampung besok atau lusa mereka
> akan menembakku pula.
>
>
>
> Sesudah makan malam hari itu, secara tidak langsung aku beritahu mak bahwa
> aku akan ikut tentara *luar*. Beliau tidak setuju. Tapi aku jelaskan
> betapa besarnya resiko bagiku untuk tetap tinggal di kampung. ‘Apakah mak
> mau *ambo* mati serupa si Pudin pula?’ kataku. Si Pudin adalah kemenakan
> ayah yang ditembak tentara beberapa hari sebelumnya. Mak menangis malam itu.
> Beliau sangat faham tentang resiko dan kemungkinan itu.
>
>
>
> Malam itu juga aku pergi menemui tuan Asmar. Beliau ini wali jorong. Tuan
> Asmar adalah penghubung dengan komandan tentara luar. Beberapa anak muda
> dari kampung kami yang sudah lebih dahulu pergi, memulai kontaknya melalui
> tuan Asmar. Kepada tuan Asmar aku sampaikan niatku itu.  ‘Sebenarnya kalau
> kau siap, malam ini juga kau bisa ikut dengan mereka. Kau tunggulah disini.
> Biasanya mereka datang lewat tengah malam. Tapi kalau kau belum siap,
> biarlah aku sampaikan saja dulu niatmu itu kepada Tan Basa. Nah! Bagaimana
> pendapat kau?’ tanya tuan Asmar. Waktu itu sebenarnya aku siap saja. Tapi
> terpikir pula bahwa aku belum minta izin dengan bersungguh-sungguh kepada
> mak. Aku yakin beliau akan mengizinkan sesudah aku menjelaskan niatku tadi.
> Kusampaikan seperti itu dan tuan Asmar memahaminya.
>
>
>
> Dua hari kemudian aku sudah benar-benar siap. Mak mengizinkan meski dengan
> tangis dan air mata. Jam sembilan malam aku berangkat dari rumah menuju
> rumah tuan Asmar. Dan malam itu aku ikut rombongan mak Tan Basa. Nama beliau
> Harun. Tentara berpangkat letnan. Sejak saat itu resmilah aku menjadi anak
> buah beliau.’
>
>
>
> Aku mendengar cerita panjang mak etek Jun dengan mata tak berkedip.
>
>
>
> ‘Langsung diangkat jadi tentara? Maksud ambo, mak etek langsung diberi
> senjata?’
>
>
>
> ‘Tidaklah. Aku dilatih dulu. Bukan latihan baris berbaris, tapi latihan
> mempergunakan senjata. Sejak dari cara membersihkan sampai cara
> mempergunakannya.’
>
>
>
> ‘Berapa lama latihannya itu?’
>
>
>
> ‘Hanya beberapa pekan saja.’
>
>
>
> Terdengar azan asar. Kami mengakhiri obrolan sampai di situ.
>
>
>
>
>
>
> *****
>
>
> *Wassalamu'alaikum,*
> * *
> *Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
> Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
> Lahir : Zulqaidah 1370H,
> Jatibening - Bekasi*
>
> **
>
>  --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~<http://groups.google.com/group/RantauNet/%7E>
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. E-mail besar dari 200KB;
> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke