Walau masih pembukaan, tapi langsung menyentuh perasaan awak

Gali taruih carito tu Mak Lembang....
Kami tunggu

Salam
TR
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: Muhammad Dafiq Saib <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 13 Jan 2011 23:13:29 
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [R@ntau-Net] Cerpen : KENANGAN MASA PRRI

Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu

Ka pangawani Rina jo Tan Mancayo nan sadang mamuloi carito tantang kenangan 
PRRI ambo tambahan carito pendek fiktif di bawahko......


KENANGAN MASA PRRI
 
Aku memanggilnya
mak etek. Mak etek Jun. Namanya Junaidi. Usianya sudah lebih tujuh puluh tahun.
Tapi sosok tubuhnya masih gagah. Giginya masih utuh. Kecuali rambut ikalnya yang
sudah hampir putih semuanya, beliau terlihat lebih muda dari usianya. Mak etek
Jun adalah seorang pensiunan guru. Terakhir, sebelum pensiun,  beliau menjadi 
kepala sekolah dasar di
kampung kami. 
 
Kalau lagi
pulang kampung, aku suka sekali berkunjung ke rumah mak etek Jun. Selalu saja
menarik berbincang-bincang dengan orang tua ini. Cerita apa saja. Masalah
keadaan kampung, masalah pendidikan anak-anak, masalah politik ala kadarnya,
masalah korupsi. Karena beliau memang seorang pengamat yang baik untuk hal-hal
semua itu. Namun yang paling aku sukai adalah cerita tentang pengalaman masa
muda beliau ketika ikut bergerilya di jaman PRRI. 
 
Pada kunjunganku
terakhir aku melihat sebuah foto hitam putih berukuran besar tergantung di
dinding. Foto seorang laki-laki  bagurambeh. Berjanggut dan bercambang
lebat. Itu adalah foto beliau di waktu muda, karena sangat jelas terlihat
wajahnya meski dibalut cambang dan janggut seperti itu.
 
‘Kok baru
kelihatan foto yang satu ini, mak etek?’ aku berkomentar.
 
‘He..he..he..
Itu foto kenang-kenangan waktu baru balik dari rimba dulu. Si Pinto yang
menemukan, lalu diperbesarnya dengan komputer, jadilah seperti itu. Dia pula
yang membingkai dan meletakkan di situ,’ jawab mak etek Jun.
 
Pinto adalah
cucu kesayangan mak etek yang sudah duduk di kelas tiga SMP.
 
Aku mendekat ke
dinding tempat foto itu tergantung untuk mengamatinya lebih jelas. Ada catatan 
tanggal dan
tahun di bawah foto itu.
 
‘Tahun 1961?
Belum pernah ambo melihat mak etek
seperti dalam foto itu. Bagaimana pula ceritanya sampai bergurambeh lebat 
begitu?’ tanyaku.
 
‘Di hutan itu di
mana pula ada pisau cukur. Paling ada gunting kecil untuk memangkas misai.
Karena bertahun-tahun dibiarkan, jadilah seperti itu,’ jawab mak etek
tersenyum.
 
‘Gagah dan
berwibawa terlihatnya,’ aku menambahkan.
 
‘Mungkin
maksudmu mengerikan ha..ha..ha… ‘ mak etek terbahak-bahak.
 
Aku tersenyum.
 
‘Semua teman mak
etek di luar seperti itu?’
 
‘Tentu tidak…. Ada yang memang berbakat.
Badannya penuh bulu. Tapi banyak juga yang kelimis.’
 
 
‘Sampai seperti
yang di foto itu…. Sudah berapa lama itu tidak dicukur?’
 
‘Sejak lari ke
luar hanya dua atau tiga bulan pertama saja masih sempat mengurusnya. Sesudah
itu tidak pernah lagi.’
 
‘Ulang pulalah
cerita mak etek tentang lari ke luar itu. Masih ada yang belum ambo dengar.
Bagaimana awalnya mak etek sampai ikut?’ tanyaku.
 
Mak etek Jun
menarik nafas. Matanya sedikit menerawang. Mungkin sedang menjemput ingatan
lama.
 
‘He..he..he..
Begini….,’ beliau mengawali.
 
Aku mempererat
duduk, bersiap mendengar cerita yang biasanya akan cukup panjang.
 
‘Aku sudah
mengajar di sekolah rakyat ketika perang pecah. Dulu, tamat dari SGB kami sudah
diangkat jadi guru. Aku mengajar di Lambah. Berjalan kaki menyeberangi jalan
kereta api dan jalan raya di Biaro. Pernah pada suatu siang, pulang sekolah,
aku dihentikan tentara APRI di jalan raya itu. Mereka baru berani beroperasi di
jalan raya, belum berani masuk ke jalan-jalan kampung. Mereka banyak sekali. 
Ada empat buah truk tentara
dan tiga buah jip Rusia berhenti di tepi jalan.  Mereka memeriksa dan 
membentak-bentak. Setiap penumpang
bendi yang datang dari arah Bukit Tinggi disuruh turun. Barang belajaan ibu-ibu
diperiksa. Entah apa yang mereka cari. Ada
beberapa orang laki-laki yang disuruh naik ke atas truk. Untungnya, kami
guru-guru selalu membawa surat
keterangan dari kepala sekolah yang menyatakan bahwa kami adalah guru. Waktu 
surat itu aku perlihatkan,
tentara yang tadinya membentak-bentak sambil menyorongkan bedilnya ke arah 
dadaku,
tidak lagi marah-marah dan aku dibiarkan meneruskan perjalanan pulang ke rumah.
 
Beberapa waktu
kemudian, saat kami sedang liburan sekolah. Kami sedang mengirik padi di sawah 
di Bandar Panjang. Kecuali aku, yang bekerja
siang itu semua orang tua-tua yang sudah berumur lebih lima puluh tahun. 
Kira-kira jam sebelas kami
dengar derung mobil tentara di
kejauhan. Mamakku, mak Endah menyuruh aku pergi bersembunyi. Tapi ada pula
mamak yang lain, mak Malin menyuruh tinggal. ‘Kalau kau lari, bertemu di jalan,
alamat kau akan dibedilnya. Lebih baik kau di sini saja,’ kata mak Malin.
 
Akupun lebih
memilih untuk tidak pergi. Beberapa saat kemudian kami dengar beberapa kali
bunyi tembakan. Mamak-mamak itu sama bergumam, mempertanyakan entah siapa pula
yang sudah kena tembak. Tiba-tiba saja, telah muncul tiga orang tentara APRI,
menuju ke arah kami sambil menodongkan senjata. ‘Angkat tangan,’ perintahnya.
Aku memberi contoh bagaimana mengangkat tangan, karena ada di antara
mamak-mamak itu yang tidak faham. 
 
‘Kau…..! Kesini
kau!’ perintahnya padaku. Akupun mendekat.
 
‘Kau
pemberontak!’ hardiknya. Ujung bedilnya menempel di pelipisku. Aku berusaha
tenang. Lalu aku jawab, bahwa aku seorang guru.
 
‘Bohong kau!
Mana surat-surat!’ hardiknya pula.
 
‘Kami sedang
bergotong royong. Saya tidak membawa surat-surat,’ jawabku.
 
‘Bohong!’
bentaknya lagi. 
 
Kali ini aku
ditamparnya, persis di mukaku. Bukan main sakitnya. Tapi yang lebih sakit
adalah hatiku. Tentara itu mungkin seumur denganku. Dan aku ditampar perai 
saja. Mana mungkin aku membalas.
Pondok kami diusainya. Mungkin dia
curiga kalau-kalau ada senjata tersembunyi di sana. Mamak-mamak yang lain 
ditanyainya pula
satu persatu. Mak Endah, mamakku yang memang terlihat tegap juga ditamparnya.
Entah apa masalahnya aku tidak tahu.
 
Aku dan dua
orang dari mamak-mamak itu dibawa mereka pergi. Agak kecut juga hatiku
kalau-kalau aku akan dibedilnya pula. Rupanya kami dibawa ke Lasi. Di sana kami 
disuruh
menggali lobang di sekitar sebuah rumah. Rumah itu mereka rampas untuk jadi 
markas.
Ada puluhan orang yang bekerja paksa di sana, semua orang-orang
yang mereka tangkap hari itu dari beberapa kampung. 
 
Sorenya mak
ditemani mak tuoku datang ke Lasi membawa surat
keteranganku. Komandan mereka lebih ramah kepada orang-orang tua itu. Aku
dipanggil anak buahnya untuk menghadap. Tentara itu minta maaf atas perlakuan
anak buahnya kepada kami. Dan sore itu kami semua diizinkan pulang.
 
Tapi maaf
tinggallah maaf. Hatiku sudah bulat. Selama bekerja membuat lobang itu
otakku  berpikir keras tentang pergi
bergabung dengan tentara luar. Aku
akan segera melakukannya. Aku akan membalas kekurangajaran tentara-tentara
keparat ini. Yang telah menamparku. Memaksaku bekerja. Mereka adalah 
manusia-manusia
tidak tahu sopan santun. Main bentak dan main tampar bahkan terhadap
orang-orang tua yang pada hal adalah rakyat sipil. Dan entah berapa orang pula
orang kampung yang mereka tembaki hari itu.   Mereka
memang tentara-tentara bengis dan semena-mena.
 
Dalam perjalanan
pulang mak tuo bercerita bahwa di kampung kami saja siang hari itu empat orang
anak muda lagi mati tertembak. Anak-anak muda yang berusaha menghindar waktu
bersirobok dengan mereka. Anak-anak
muda yang diteriaki supaya mengangkat tangan tapi tidak segera mengangkatnya.
Mereka ditembak dari belakang. Ada
yang kepalanya pecah. Yang dadanya rengkah. Yang perutnya terburai. Darahku
tambah mendidih saja mendengar cerita itu. Meskipun sampai sejauh ini aku
selamat berkat surat
keterangan guru,  bukan tidak mungkin,
jika aku tetap bertahan di kampung besok atau lusa mereka akan menembakku pula. 
 
Sesudah makan
malam hari itu, secara tidak langsung aku beritahu mak bahwa aku akan ikut
tentara luar. Beliau tidak setuju.
Tapi aku jelaskan betapa besarnya resiko bagiku untuk tetap tinggal di kampung.
‘Apakah mak mau ambo mati serupa si
Pudin pula?’ kataku. Si Pudin adalah kemenakan ayah yang ditembak tentara
beberapa hari sebelumnya. Mak menangis malam itu. Beliau sangat faham tentang
resiko dan kemungkinan itu.
 
Malam itu juga
aku pergi menemui tuan Asmar. Beliau ini wali jorong. Tuan Asmar adalah 
penghubung
dengan komandan tentara luar. Beberapa anak muda dari kampung kami yang sudah
lebih dahulu pergi, memulai kontaknya melalui tuan Asmar. Kepada tuan Asmar aku
sampaikan niatku itu.  ‘Sebenarnya kalau
kau siap, malam ini juga kau bisa ikut dengan mereka. Kau tunggulah disini.
Biasanya mereka datang lewat tengah malam. Tapi kalau kau belum siap, biarlah
aku sampaikan saja dulu niatmu itu kepada Tan Basa. Nah! Bagaimana pendapat
kau?’ tanya tuan Asmar. Waktu itu sebenarnya aku siap saja. Tapi terpikir pula
bahwa aku belum minta izin dengan bersungguh-sungguh kepada mak. Aku yakin
beliau akan mengizinkan sesudah aku menjelaskan niatku tadi. Kusampaikan
seperti itu dan tuan Asmar memahaminya. 
 
Dua hari
kemudian aku sudah benar-benar siap. Mak mengizinkan meski dengan tangis dan
air mata. Jam sembilan malam aku berangkat dari rumah menuju rumah tuan Asmar.
Dan malam itu aku ikut rombongan mak Tan Basa. Nama beliau Harun. Tentara
berpangkat letnan. Sejak saat itu resmilah aku menjadi anak buah beliau.’
 
Aku mendengar
cerita panjang mak etek Jun dengan mata tak berkedip.
 
‘Langsung
diangkat jadi tentara? Maksud ambo, mak etek langsung diberi senjata?’
 
‘Tidaklah. Aku
dilatih dulu. Bukan latihan baris berbaris, tapi latihan mempergunakan senjata.
Sejak dari cara membersihkan sampai cara mempergunakannya.’
 
‘Berapa lama
latihannya itu?’
 
‘Hanya beberapa pekan
saja.’ 
 
Terdengar azan
asar. Kami mengakhiri obrolan sampai di situ.
 
 
                                                                        *****   
                                                              

Wassalamu'alaikum,
 Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
Lahir : Zulqaidah 1370H, 
Jatibening - Bekasi


      

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke