~~."IJP".~~

-----Original Message-----
From: Indra Jaya Piliang <[email protected]>
Date: Fri, 14 Jan 2011 03:32:59 
To: <[email protected]>
Subject: Menulis Airin (3)

http://www.indrapiliang.com/2011/01/14/menulis-airin-3/ 
Menulis Airin (3) 
oleh
Indra J Piliang
Ternyata “Menulis Airin (1)” dan “Menulis Airin (2)” mendapatkan respons khusus 
di website saya (www.indrapiliang.com). Muncul tanggapan pro-kontra. Selama 
argumen-argumen yang dibangun bersifat saling memberi informasi, bagi saya 
tidak ada masalah. Bahkan yang menyerang secara personalpun lewat kata dan 
kalimat sudah bukan persoalan lagi. Kata-kata setajam apapun tidak akan 
berbentuk kepal tangan yang menghunjam ke dagu, bukan?
Saya tak yakin serial tulisan tentang Airin ini akan memberi pengaruh besar. 
Tapi, sekecil apapun, saya tetap mencoba untuk menunjukkan bahwa politik butuh 
prinsip-prinsip dasar yang tak berubah. Mau tidak setuju dengan Airin 
sekalipun, tidak ada masalah, asalkan dengan argumentasi yang terukur. Manusia 
boleh berganti dalam politik, tetapi prinsip-prinsip dasar mestinya sama. 
Tanggapan yang masuk menyebut Airin sebagai perempuan. Argumentasi yang dulu 
digunakan untuk menolak Megawati Soekarno Putri. Juga dulu digunakan untuk 
menolak Gubernur Atut. Padahal, sejarah Indonesia sendiri tidak mengenal 
diskriminasi dalam politik. 
Sebagai contoh, ketika pemilih di Amerika Serikat baru mulai menyuarakan hak 
pilih terhadap perempuan pada akhir tahun 1960-an, perempuan Indonesia sudah 
memilih pada pemilu 1955. Sampai tahun 1970-an dan 1980-an, pemilih perempuan 
Amerika Serikat masih tetap berjuang di sejumlah negara bagian. Sekalipun jauh 
lebih lama merdeka, Amerika Serikat masih mengalami diskriminasi, bukan hanya 
terhadap perempuan, melainkan juga kulit hitam.
Jadi, agak aneh kalau mempersoalkan (lagi) keperempuanan Airin dibandingkan 
dengan kandidat laki-laki lain. Kata orang-orang tua di Minangkabau: kalau mau 
menyalakan lilin, jangan matikan lilin orang lain. Dr Syahrir almarhum pernah 
mengungkap: janganlah mengutuk kegelapan, mulailah menyalakan lilin. Lilin yang 
banyak akan membawa terang, asal jangan sampai membawa kebakaran. 
Bagi saya, Airin adalah sosok lilin yang menerangi dunia politik yang “gelap” 
dengan hegemoni kaum laki-laki. Ketika pemerintahan berjalan, jarang kandidat 
perempuan yang terpilih terjebak dalam perilaku-perilaku yang dituduhkan ke 
politisi. Misalnya: korupsi. Data-data menyebutkan, jarang sekali politisi 
perempuan yang terkena kasus korupsi. Entah bagaimana, kaum politisi perempuan 
lebih mampu menjaga diri, ketimbang politisi laki-laki. 
Keunggulan politisi perempuan, dibanding laki-laki, mestinya memunculkan 
semangat bagi pendukung Airin.  Atau tidak membuat pendukung pasangan yang lain 
menggunakan kampanye yang bersifat negatif terhadap kaum perempuan. Kalau ada 
yang melakukan itu, saya kira mereka sedang mempraktekkan pola Malin Kundang 
dalam politik. Ketika disumpahi ibunya, Malin Kundang berubah menjadi batu. 
Malin-Kundang-i politik banyak terjadi akhir-akhir ini.
*** 
Tangsel adalah kota. Sebagai kota, Tangsel memiliki ciri-ciri sebagai 
masyarakat urban. Individualisme begitu kuat, dibandingkan dengan komunalisme 
atau sistem kekerabatan. Banyaknya kawasan perumahan memang membawa dampak 
kepada semakin eratnya hubungan warga bertetangga. Inisiatif warga menjadi 
penting. Begitupula, peranan dari pihak swasta dan masyarakat sipil juga kuat. 
Pemerintah, dalam level ini, barangkali lebih banyak menjadi pelayan 
kepentingan publik. 
Nah, pelayanan itu menyangkut fasilitas umum dan fasilitas sosial. Pemeliharaan 
terhadap ruang publik (public sphere) menjadi penting. Dalam konteks itu, 
setiap proses pengambilan keputusan sepatutnya mendapatkan masukan dari publik. 
Dialog lebih penting, ketimbang monolog. Dominasi dan hegemoni adalah petaka.
Maka, bicara soal urban, jadi agak rumit melihat cara menolak Airin dengan 
alasan “Tangsel Pilih Tangsel”. Bukankah penolakan atas Airin juga karena 
logika “Airin adalah bagian dari Monarki Banten”? Cara berkampanye seperti itu 
jelas akan membawa perspektif kedaerahan yang kuat atau tribalisme baru di 
dalam wadah masyarakat kota. 
Padahal, Tangsel berbeda dengan Pandeglang atau Lebak. Tangsel lahir sebagai 
sebuah ruang publik yang datang dari beragam suku bangsa di Indonesia. 
Kehadiran universitas di Tangsel makin menambah tinggi “maqam” Tangsel, 
dibandingkan dengan wilayah saya di Sumatera Barat Dua, misalnya. Sekalipun 
Sumbar Dua yang meliputi delapan kabupaten dan kota itu menghasilkan banyak 
pahlawan kemerdekaan, sampai sekarang tidak ada universitas yang dikenal 
bonafid. Universitas Andalas, misalnya terletak di Sumbar Satu. 
Bagi saya, aneh sekali kalau ada intelektual yang mencoba membawa unsur 
“kebantenan” dalam kaitannya dengan pilkada Tangsel. Apalagi kalau sampai 
melibatkan unsur kampus dengan alasan “kebantenan” itu. Berbeda dengan 
intelektual Yogya yang membawa soal keistimewaan, bagi saya Tangsel tetaplah 
menjadi satu daerah yang memiliki ciri-ciri yang sama dengan daerah lain, 
termasuk dari sisi hak dan kewajibannya. 
 
*** 
 
Kita sedang menata demokrasi di Indonesia. Apapun yang terjadi di Aceh, 
misalnya, akan memberi dampak kepada Papua. Cara kita menghadapi persoalan di 
Bali, akan berimbas kepada reaksi masyarakat Bengkulu. Identitas-identitas 
kedaerahan atau apa yang dikenal sebagai “politik identitas”, bukan semakin 
hilang seiring dengan kebebasan informasi. Kalaupun ada perbandingan, biasanya 
orang-orang bertanya: kenapa di sana berbeda, kenapa di sini tidak?
Maka agak menggelisahkan dan menggelikan apabila cara menolak Airin digunakan 
di tempat-tempat lain. Bisa-bisa keindonesiaan akan lenyap. Apalagi, publik 
tahu bahwa tokoh-tokoh yang berada di balik itu merupakan figur publik. Status 
itu tidak akan lepas, mau di manapun tempatnya.
Saya termasuk orang yang tidak terlalu banyak melibatkan diri dalam pilkada 
demi pilkada di Indonesia. Kecuali di Sumatera Barat, di daerah lain jarang. 
Perhatian terhadap isu-isu nasional jauh lebih penting dewasa ini, ketimbang 
satu demi satu memelototi daerah per daerah. 
Tapi, sekali lagi, soal Tangsel ini unik. Fakta persidangan Mahkamah Konstitusi 
juga menunjukkan bahwa yang melakukan money politics adalah pasangan lain 
(juga) di luar Airin. Hanya saja, Airin terlanjur disebut dengan stigma 
negatif. Bagi saya, hal itu sama sekali tidak adil. Sama seperti kurang adilnya 
sikap awal saya yang diam-diam mengharapkan pertarungan sengit antara Airin 
melawan lawan-lawannya. 
Dulu, ketika pilkada DKI Jakarta, sebelum ke TPS saya dan istri sepakat untuk 
memilih Fauzi Bowo. Alasan saya: “Fauzi Bowo adalah ‘menantu’ CSIS”. Waktu itu, 
saya masih bekerja di CSIS sebagai analis politik dan perubahan sosial. Nah, di 
TPS, pilihan saya berubah. Alasannya: kalau Fauzi Bowo menang mutlak, maka 
hegemoni akan datang. Harus diberikan perlawanan. Maka, Adang Dorodjatun 
menjadi pilihan. 
Pas keluar dari TPS, saya tanya istri: “Kamu milih siapa?” Eh, istri saya juga 
ternyata memilih Adang. Saya menganggap, pilihan saya dan istri yang berubah di 
dalam TPS itu sebagai “kesadaran etis” dengan nalar yang tiba-tiba datang. Itu 
juga pikiran diam-diam saya atas Airin dan Tangsel.
Kini, saya kira “kesadaran etis” itu kurang tepat lagi. Kurang 
bertanggungjawab. Spekulatif. Kalau memang pikiran objektif menunjukkan bahwa 
Airin memiliki keunggulan dibandingkan dengan yang lain, kenapa harus berubah 
pada detik-detik terakhir. Jangan sampai keterombang-ambingan kelas menengah 
justru membuat agenda-agenda pembangunan Tangsel ke depan justru terbengkalai. 
Emosi sesaat saja ternyata tidak cukup untuk kepentingan (politik) jangka 
menengah dan panjang... Semoga. 
 
Jakarta, 14 Januari 2011
 
 



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke