Assalamualaikum ww

Senior ambo kanda Darwin Bahar sarato mamak & dunsanak nan dirahmati Allah

Keterlibatan buya dalam PRRI tentu amat disesalkan, sebagai sebuah partai Islam 
terbesar dimasanya sangat disayangkan semua jadi ber-keping2 karena terpengaruh 
oleh asing yang getol mengintervensi politik suatu negara lain DEMI 
KEPENTINGANNYA dinegeri tersebut

Berhasilpun PRRI menguasai negeri ini pastilah akan mengorbankan semua2 yang 
tidak perlu dan bahkan tidak berhasilpun sudah sama lihat dan rasakan kenyataan 
pahit ini 


Ketika sebelum PRRI bergolak, kami sekeluarga tinggal di Tanjung Pinang dengan 
kehidupan lumayan terlebih mata uang yang berlaku disana adalah Dolar Malaya 
(Malayan Straits Dolar), saya melihat ayah saya menitipkan pakirim kekampuang 
lewat seorang famili sebuah sepeda baru merek reli (relight?) yang kalau jalan 
suka bunyi2 tik..tik .. dst itu untuk anak beliau (abang saya seayah lain ibu) 
yang tinggal di Mato Aia Gaduik Bukit Tinggi, sayang baru lebih kurang sebulan 
sepeda baru itu dipakai, terjadi PRRI dan sepeda kesayangan disita (dirampok) 
tentara pusat dan abang saya dibogem pecah2 bibirnya, ini salah satu banyak 
pengorbanan rakyat Sumatera Tengah ketika itu

Kalau saja para elit kita lebih bijaksana, bukankah dalam Islam ada tuntunan 
atau contoh dari Rasulullah, bila memutuskan sesuatu yang rumit, pilihlah yang 
memiliki mudhorat terkecil, jadi hasutan agen2 asing (kuffar) usah didengar 
sehingga PRRI tidak perlu ada, Masyumi tetap eksis, Buya dkk tetap mendampingi 
kalau perlu jadi orang dekat atau penasehat Sukarno dengan posisi sebenarnya 
berseberangan dan terus mengkontrol gerak gerik Sukarno sambil mencari 
kesempatan untuk mengambil alih kendali dan juga sambil menyadarkan dan membina 
Sukarno cs dan kalau misalnya mereka2 tersebut benar2 tidak bisa lagi dibina 
yaa 
kan tinggal DIBINA(sa) kan kalau udah ada kesempatan, kan gitu, 


Sekedar ber-andai2 nih, kalaulah jalan ini yang ditempuh dulu tentu sanak 
Darwin 
tidak kehilangan saudaranya, abang saya tidak kehilangan sepeda reli barunya 
dan 
semua pengalaman pahit baik kehilangan nyawa, martanbat, harta benda dan 
kebebasan karena di-inapkan tanpa diadili serta buron ke LN tidak perlu ada 
sama 
sekali
wasalam
abp58




________________________________
Dari: Darwin Bahar <[email protected]>
Kepada: Palanta Rantaunet <[email protected]>
Terkirim: Sen, 17 Januari, 2011 09:12:57
Judul: Tentang PRRI dan Manuver2 Politik Partai Masyumi di Dewan Konstituante - 
was: Re: [R@ntau-Net] Cerpen : KENANGAN MASA PRRI

Kanda Jo Buyuang sarato Sanak sa Palanta
Beberapa informasi yang disampaikan Kanda Jo Buyuang mengenai PRRI sangat 
menarik, termasuk apa yang beliau sebut sebagai “manuver2 politik partai 
Masyumi 
di Dewan Konstituante dan usaha2 mempengaruhi tokoh2 dewan Banteng di Sumteng”. 
Pertama beliau relatif lebih dewasa dan mengenal situasi dibandingkan dengan 
saya yang waktu itu baru kelas 1 SMP. Kedua sebagai diplomat karir yang sukses 
beliau mempunyai akses yang luas terhadap berbagai sumber. Walaupun hanya 
mengenal beliau di dunia maya (sejak tahun 2002 di RN) saya tahu beliau 
berwawasan luas serta sangat memahami agama Islam. Jadi hampir mustahil beliau 
melakukan  disinformasi dengan sengaja.
Akan tetapi, dengan segala hormat saya kepada  beliau, baru sekali ini saya 
mendengar adanya hubungan---maaf---yang agak aneh, antara  manuver2 politik 
partai Masyumi di Dewan Konstituante dengan usaha2 mempengaruhi tokoh2 dewan 
Banteng di Sumteng (untuk melaksanakan pemberontakan PRRI).
Perdebatan mengenai dasar negara di Dewan Konstituante adalah kitab yang 
terbuka, demikian pula peristiwa PRRI juga merupakan kitab yang terbuka, yang 
sudah banyak dibahas dan didiskusikan, termasuk di Palanta RN.
Seperti diketahui,  salah satu alasan Bung Karno membubarkan Masyumi dan PSI 
adalah karena keterlibatan kedua tokoh partai tersebut dalam ‘pemberontakan’ 
PRRI. Masyumi antara lain dengan keterlibatan Pak Natsir dan Syafrudin 
Prawiranegara, dan PSI Prof Soemitro Djojohadikusomo (ayahanda Prabowo 
Subianto. 
Kita tahu kedua partai tersebut berseberangan dalam pendapat  mengenai dasar 
Negara di Sidang Konstituante. Kita juga tahu ‘pemberontakan’ PRRI bukan 
‘pemberontakan’ dengan ‘alasan’ agama semacama DI/TII di Aceh, Jawa 
Barat/Tengah 
dan Sulawesi Selatan.  
Bicara jujur, saya termasuk yang lebih suka kalau peristiwa PRRI tidak terjadi, 
yang secara tidak langsung menyebabkan saya kehilangan satu-satunya saudara 
kandung (kakak perempuan saya). Saya juga lebih bahagia kalau Pak 
Natsir---tokoh 
yang sangat saya kagumi---yang  ketika itu menjadi  ketua umum Masyumi, tidak 
terlibat PRRI. Tetap sejarah kan tidak mengenal ‘kalau’.
Dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebagai seorang manusia, yang membuat 
beliau bisa saja kilaf dan keliru mengambil keputusan politik, IMHO, beliau 
adalah salah seorang dari sedikit negarawan besar  yang pernah dilahirkan 
bangsa 
ini di samping Soekarno, Hatta dan Syahrir.
Sebagai pejabat negara, beliau dikenal sangat lurus dan bersahaja. Sebagai 
seorang menteri di zaman revolusi beliau tidak malu mengenakan jas yang 
bertambal [*]. Sebagai politikus Islam, beliau sangat teguh dalam prinsip. Di 
parlemen Masyumi berkoalisi dengan PSI karena kesamaan visi mengenai demokrasi 
dan  keadilan sosial. Pak Natsir dan tokoh-tokoh teras Masyumi lainnya seperti 
Prawoto Mangunkusomo, Kasman Singodimedjo, dan Syafrudin Prawiranegara. tidak 
pernah terlibat dalam ‘koalisi transaksional’; menggadaikan prinsip demi 
kepentingan politik sesaat, hatta setelah Masyumi dibubarkan. Beliau-beliau 
tersebut lebih suka dipenjarakan ketimbang menghambakan diri di depan penguasa: 
Bung Karno yang ketika itu semakin otoriter.
Tokoh-tokoh Masyumi dan PSI tidak tertarik duduk dalam kabinet ‘kaki empat’ 
(Nasakom) bersama musuh ideologis mereka PKI, yang ditawarkan Bung Karno, yang 
menyebabkan beliau-beliau tersebut semakin dibenci oleh Bung Karno, yang 
kemudian memenjarkan beliau-beliau tersebut tanpa alasan yang jelas. Mereka 
juga 
pernah membuktikan bahwa tanpa PNI dan PKI, bisa mengurus negara dengan baik di 
kabinet  Burhanudin Harahap (Masyumi) bentukan Bung Hatta yang menjabat sebagai 
Presiden ketika Bung Karno---kalau tidak salah--- sedang menunaikan ibadah haji 
(CMIIW).
Dengan segala kedaifan saya, tidak terbayangkan oleh saya maneuver- maneuver 
politik (yang terkesan tidak etis)  macam apa yang dilakukan Pak Natsir cs di 
Dewan Konstituante, selain menggalang kekuatan partai-partai Islam (NU, PSII 
dan 
Perti) untuk menggoalkan syariat Islam sebagai dasar negara. Tetapi apakah itu 
salah atau bertentangan dengan etika demokrasi?
 
Kembali kepada  Sumbar di masa PRRI, tentulah  benar sekali apa yang 
dikemukakan 
Kanda Jo Buyuag tentang perlakuan keji sebagian anasir PRRI kepada masyarakat 
serta adanya  ‘rakyat badarai nn indak tahu ujuang pangka situasi’ yang ‘jadi 
bulan2an dek tentara pusat disiang hari dan tantara pemberontak di malam hari’. 
Tetapi juga tidak sedikit rakyat di pedalaman yang dengan tulus mendukung PRRI, 
walaupun itu dapat membahayakan keselamatan mereka sendiri. Hal itu saya 
ketahui 
dari ayah saya almarhum yang ketika PRRI berada di sekitar Paninjauan [**]. 
Ayah 
yang masuk DPO (mati) karena sebelumnya menjabat Ketua Masyumi Padangpanjang, 
selalu terhindar dari patroli APRI karena diberitahu atau disembunyikan 
masyarakat baik yang kenal maupun yang tidak kenal kepada beliau. Termasuk di 
dalam perjalanan yang penuh marabahaya dari Paninjauan ke Tanjung Balit p.p. 
yang dilakukannya setelah mengetahu kakak saya yang sangat disayanginya itu 
sakit---dan  kemudian meninggal---di rumah mamak kami yang menjadi guru di sana.
Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 67+)
[*] Gambaran yang lumayan utuh mengenai negarawan besar ini dapat diikuti dalam 
dalam kurang lebih dalam selusin tulisan dalam Majalah TEMPO No 21/XXXVII 14 
Juli 2008. Seluruh tulisan tersebut dapat diunduh melalui: 

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/07/14/LK/--------------
Mangenang masa akan,sadang n sesudah PRRI di Sumbar,io agak gudah perasaan n 
hati JB.

Masa2 akan mulainya pemberontakan PRRI,tahun2 1956 s/d 1958,JB ukatu tu sadang  
remaja tintiang,baru kls I SMAN Piaman,di Knmpg Nieh.Oleh para agitator n 
corong 
prri di Sumbar terutama di Padang n Piaman,selalu diteriakan semangat anti 
Jakarta n "semangat ke-Minangkaauan,kepada kami anak2 remaja tintiang tu.
Dalam diri JB n teman nn sebaya,tabudurlah dalam diri n sikap kabancian 
terhadap 
pem.pusat.
Para pelatih n instruktur nn baasa dari kalangan militer,gak sagan2 lo mancaci 
maki Panglima APRI n kepala
Staf AD.Agitasi n sikap para pentolan prri di sumbar inilah nn mengentalkan 
sikap anti jakarta n tidak sadar bahwa prri itu adalah pemerintahan tandingan 
alias pemberontakan terhadap pemerintahan Pusat.

Masa "kejayaan" prri hampir tidak ada di Piaman n Padang.Medio thn 1958 
terutama 
setelah Pakanbaru jatuh ketangan APRI n kudian disusul dikuasainya Padang n 
Piaman,pimpinan prri n tantaranya lari karimbo(pdg Alai,gn.letter w n sungai 
garinggiang).
Tinggalah rakyat badarai nn indak tahu ujuang pangka situasi nn jadi  bulan2an 
dek tentara pusat disiang hari n tantara pemberontak dimalam hari.

Dimaa JB,dalam situasi nn coman tun.Menjadi saksi dalam situasi prustasi 
mengalami kenyataan bahwa instruktur JB nn tentara tu manyarah ka APRI 
di+kalakuan tentara prri(baca batalyon Kuranji n 5Oktober) nn manjarah harato 
milik penduduk,belum lagi pelecehan seksual terhadap anak perempuan didaerah 
pendudukan prri.
Prustasi n kebencian terhadap situasi itu,membuat JB bersikap memilih jalan 
melanjutkan pendidikan SMAN di Piaman,maninggakan teman2 nn masih mandok di 
rinbo2 pdg alai nn sekitarnya.Mana sudah rugi diumua n rugi pulo untuak masa 
depan.alhamdulillah,JB dapat menyelesaikan SMAN pada umua 22thn.

Sudah tu tabang cigin ka Jakarta n kuliah di UI cq FISIP.
JB tinggakan Piaman(baca Sumbar) dalam keadaan negeri nn dikalahkan,harago diri 
sebagai suku Minangkabau nn bermartabat,sudah porak poranda.Tokoh2 minang(baca 
ex prri) berbondong-bondong beremigrasi  keluar Sumbar n hidup secara 
"menyembunyikan" identitas bekas pemberontak.

Di sumbar,tentara pendudukan(AD) berasal dari Jawa Tengah-Kodam Diponegoro,nn 
kultural n kebiasaan hidup mereka sangat bias terhadap agama nb adat nn dianut 
oleh masyarakat minang.
Melihat keadaan ini,atas inisiatif JB n beberapa teman dari UI,ditemuilah Menko 
Hankam-Kasad,jenderal AH.Nasution untuk menyampaikan sikons Sumbar sehabis 
pemberontakan prri n berharap kiranya kesatuan Diponegoro nn bertugas di 
Sumbar;diganti dengan kesatuan Siliwangi nn Islamy.
Pak Nas,memahami nn sikons Sumbar seperti nn kami sampaikan n akan mencaari 
jalan nn terbaik agar sikons Sumbar bisa berubah.

Dari pertemuan dengan pak Nas ini,kami juga mendapat penjelasan bahwa 
penyelesai-an prri di sumbar berbeda dengan pnyelesaian permesta di sulut.
Di Sulut,seluruh aparat militer permesta,diterima kembali dalam pangkuan NKRI 
cq 
APRI,demikian juga aparat sipilnya.Hal ini berdasarkan  pertemuan Menko Hankam 
denngan Kol.Kawilarang didekat kota Tomohon.

Di Sumbar,prri menyerah kalah kepada NKRI cq APRI n pentolan2nya ditangkap n 
disitumbinkan karena kol.Achmad Husein tidak mau menunggu Menko Hankam/Kasab 
dari kunjungan muhibah beliau ke uni soviet.

Itulah duo informasi lain nn diperoleh lansuang dari Pak Nas sewaktu kami 
menemui beliau dengan tujuan tsb terdahulu.

Jadi,bagi JB kenangan terhadap pemberontakan prri tahun2 1957/1958 terhadap 
Pusat adalah kenangan menarik n 'patriotik' pada awal mula,kenangan kekecewaan 
n 
prustrasi pada masa pelarian(mundurnya prri kedalam rimbo) n kenangan kesedihan 
atas nasib masyarakat Minang sebagai akibat penunpasan pemberontakan nn gagal 
itu.

Bagi dunsanak nn akan menulis kisah pemberontakan ini,ada baiknya melengkapi 
dengan manuver2 politik parrtai Masyumi di Dewan Konstituante n usaha2 
mempengaruhi tokoh2 dewan Banteng di Sumteng.
Peran n andil Partai Masyumi beserta  tokoh2nya cukup menentukan bagi terbentuk 
prri ini di Sumteng.

JB,Tuaku Magek Jabang Sutan Riayatsyah


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke