Kanda Jo Buyuang sarato Sanak sa Palanta

Beberapa informasi yang disampaikan Kanda Jo Buyuang mengenai PRRI sangat
menarik, termasuk apa yang beliau sebut sebagai "manuver2 politik partai
Masyumi di Dewan Konstituante dan usaha2 mempengaruhi tokoh2 dewan Banteng
di Sumteng". Pertama beliau relatif lebih dewasa dan mengenal situasi
dibandingkan dengan saya yang waktu itu baru kelas 1 SMP. Kedua sebagai
diplomat karir yang sukses beliau mempunyai akses yang luas terhadap
berbagai sumber. Walaupun hanya mengenal beliau di dunia maya (sejak tahun
2002 di RN) saya tahu beliau berwawasan luas serta sangat memahami agama
Islam. Jadi hampir mustahil beliau melakukan disinformasi dengan sengaja.

Akan tetapi, dengan segala hormat saya kepada  beliau, baru sekali ini saya
mendengar adanya hubungan---maaf---yang agak aneh, antara  manuver2 politik
partai Masyumi di Dewan Konstituante dengan usaha2 mempengaruhi tokoh2 dewan
Banteng di Sumteng (untuk melaksanakan pemberontakan PRRI).

Perdebatan mengenai dasar negara di Dewan Konstituante adalah kitab yang
terbuka, demikian pula peristiwa PRRI juga merupakan kitab yang terbuka,
yang sudah banyak dibahas dan didiskusikan, termasuk di Palanta RN.

Seperti diketahui, salah satu alasan Bung Karno membubarkan Masyumi dan PSI
adalah karena keterlibatan kedua tokoh partai tersebut dalam 'pemberontakan'
PRRI. Masyumi antara lain dengan keterlibatan Pak Natsir dan Syafrudin
Prawiranegara, dan PSI Prof Soemitro Djojohadikusomo (ayahanda Prabowo
Subianto. Kita tahu kedua partai tersebut berseberangan dalam pendapat
mengenai dasar Negara di Sidang Konstituante. Kita juga tahu 'pemberontakan'
PRRI bukan 'pemberontakan' dengan 'alasan' agama semacama DI/TII di Aceh,
Jawa Barat/Tengah dan Sulawesi Selatan.  

Bicara jujur, saya termasuk yang lebih suka kalau peristiwa PRRI tidak
terjadi, yang secara tidak langsung menyebabkan saya kehilangan satu-satunya
saudara kandung (kakak perempuan saya). Saya juga lebih bahagia kalau Pak
Natsir---tokoh yang sangat saya kagumi---yang ketika itu menjadi  ketua umum
Masyumi, tidak terlibat PRRI. Tetap sejarah kan tidak mengenal 'kalau'.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebagai seorang manusia, yang
membuat beliau bisa saja kilaf dan keliru mengambil keputusan politik, IMHO,
beliau adalah salah seorang dari sedikit negarawan besar  yang pernah
dilahirkan bangsa ini di samping Soekarno, Hatta dan Syahrir.

Sebagai pejabat negara, beliau dikenal sangat lurus dan bersahaja. Sebagai
seorang menteri di zaman revolusi beliau tidak malu mengenakan jas yang
bertambal [*]. Sebagai politikus Islam, beliau sangat teguh dalam prinsip.
Di parlemen Masyumi berkoalisi dengan PSI karena kesamaan visi mengenai
demokrasi dan keadilan sosial. Pak Natsir dan tokoh-tokoh teras Masyumi
lainnya seperti Prawoto Mangunkusomo, Kasman Singodimedjo, dan Syafrudin
Prawiranegara. tidak pernah terlibat dalam 'koalisi transaksional';
menggadaikan prinsip demi kepentingan politik sesaat, hatta setelah Masyumi
dibubarkan. Beliau-beliau tersebut lebih suka dipenjarakan ketimbang
menghambakan diri di depan penguasa: Bung Karno yang ketika itu semakin
otoriter.

Tokoh-tokoh Masyumi dan PSI tidak tertarik duduk dalam kabinet 'kaki empat'
(Nasakom) bersama musuh ideologis mereka PKI, yang ditawarkan Bung Karno,
yang menyebabkan beliau-beliau tersebut semakin dibenci oleh Bung Karno,
yang kemudian memenjarkan beliau-beliau tersebut tanpa alasan yang jelas.
Mereka juga pernah membuktikan bahwa tanpa PNI dan PKI, bisa mengurus negara
dengan baik di kabinet Burhanudin Harahap (Masyumi) bentukan Bung Hatta yang
menjabat sebagai Presiden ketika Bung Karno---kalau tidak salah--- sedang
menunaikan ibadah haji (CMIIW).

Dengan segala kedaifan saya, tidak terbayangkan oleh saya maneuver- maneuver
politik (yang terkesan tidak etis)  macam apa yang dilakukan Pak Natsir cs
di Dewan Konstituante, selain menggalang kekuatan partai-partai Islam (NU,
PSII dan Perti) untuk menggoalkan syariat Islam sebagai dasar negara. Tetapi
apakah itu salah atau bertentangan dengan etika demokrasi?

 

Kembali kepada Sumbar di masa PRRI, tentulah  benar sekali apa yang
dikemukakan Kanda Jo Buyuag tentang perlakuan keji sebagian anasir PRRI
kepada masyarakat serta adanya  'rakyat badarai nn indak tahu ujuang pangka
situasi' yang 'jadi bulan2an dek tentara pusat disiang hari dan tantara
pemberontak di malam hari'. Tetapi juga tidak sedikit rakyat di pedalaman
yang dengan tulus mendukung PRRI, walaupun itu dapat membahayakan
keselamatan mereka sendiri. Hal itu saya ketahui dari ayah saya almarhum
yang ketika PRRI berada di sekitar Paninjauan [**]. Ayah yang masuk DPO
(mati) karena sebelumnya menjabat Ketua Masyumi Padangpanjang, selalu
terhindar dari patroli APRI karena diberitahu atau disembunyikan masyarakat
baik yang kenal maupun yang tidak kenal kepada beliau. Termasuk di dalam
perjalanan yang penuh marabahaya dari Paninjauan ke Tanjung Balit p.p. yang
dilakukannya setelah mengetahu kakak saya yang sangat disayanginya itu
sakit---dan kemudian meninggal---di rumah mamak kami yang menjadi guru di
sana.

Wallahualam bissawab

Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 67+)

Asal Padangpanjang, suku Panyalai, tinggal di Depok, Jawa Barat

 

[*] Gambaran yang lumayan utuh mengenai negarawan besar ini dapat diikuti
dalam dalam kurang lebih dalam selusin tulisan dalam Majalah TEMPO No
21/XXXVII 14 Juli 2008. Seluruh tulisan tersebut dapat diunduh melalui: 

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/07/14/LK/

 

[**] Ada kemungkinan ayah nakan Rina pernah bertemu dengan almarhum ayah
saya di sekitar Paninjauan Padangpanjang. Beliau biasa disapa masyarakat
dengan 'Angku Datuak' 

 

 


 
<http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/message/135189;_ylc=X3oDMTJzMjhjNWx
uBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzExMjAxMjcEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MzI5NzI5BG1zZ0lkAzEzNTE
4OQRzZWMDZG1zZwRzbGsDdm1zZwRzdGltZQMxMjk1MDk4OTgy> Re: [R@ntau-Net] Cerpen :
KENANGAN MASA PRRI 


Posted by: "[email protected]"
<mailto:[email protected]?Subject=%20Re%3A%20%5BR%40ntau-Net%5D%20Cerpen%
20%3A%20KENANGAN%20MASA%20PRRI> [email protected] 


Sat Jan 15, 2011 1:41 am (PST) 




Sanak mbo Muhammad Dafiq Saib n sanak palanta.

Mangenang masa akan,sadang n sesudah PRRI di Sumbar,io agak gudah perasaan n
hati JB.

Masa2 akan mulainya pemberontakan PRRI,tahun2 1956 s/d 1958,JB ukatu tu
sadang remaja tintiang,baru kls I SMAN Piaman,di Knmpg Nieh.Oleh para
agitator n corong prri di Sumbar terutama di Padang n Piaman,selalu
diteriakan semangat anti Jakarta n "semangat ke-Minangkaauan,kepada kami
anak2 remaja tintiang tu.
Dalam diri JB n teman nn sebaya,tabudurlah dalam diri n sikap kabancian
terhadap pem.pusat.
Para pelatih n instruktur nn baasa dari kalangan militer,gak sagan2 lo
mancaci maki Panglima APRI n kepala
Staf AD.Agitasi n sikap para pentolan prri di sumbar inilah nn mengentalkan
sikap anti jakarta n tidak sadar bahwa prri itu adalah pemerintahan
tandingan alias pemberontakan terhadap pemerintahan Pusat.

Masa "kejayaan" prri hampir tidak ada di Piaman n Padang.Medio thn 1958
terutama setelah Pakanbaru jatuh ketangan APRI n kudian disusul dikuasainya
Padang n Piaman,pimpinan prri n tantaranya lari karimbo(pdg Alai,gn.letter w
n sungai garinggiang).
Tinggalah rakyat badarai nn indak tahu ujuang pangka situasi nn jadi
bulan2an dek tentara pusat disiang hari n tantara pemberontak dimalam hari.

Dimaa JB,dalam situasi nn coman tun.Menjadi saksi dalam situasi prustasi
mengalami kenyataan bahwa instruktur JB nn tentara tu manyarah ka APRI
di+kalakuan tentara prri(baca batalyon Kuranji n 5Oktober) nn manjarah
harato milik penduduk,belum lagi pelecehan seksual terhadap anak perempuan
didaerah pendudukan prri.
Prustasi n kebencian terhadap situasi itu,membuat JB bersikap memilih jalan
melanjutkan pendidikan SMAN di Piaman,maninggakan teman2 nn masih mandok di
rinbo2 pdg alai nn sekitarnya.Mana sudah rugi diumua n rugi pulo untuak masa
depan.alhamdulillah,JB dapat menyelesaikan SMAN pada umua 22thn.

Sudah tu tabang cigin ka Jakarta n kuliah di UI cq FISIP.
JB tinggakan Piaman(baca Sumbar) dalam keadaan negeri nn dikalahkan,harago
diri sebagai suku Minangkabau nn bermartabat,sudah porak poranda.Tokoh2
minang(baca ex prri) berbondong-bondong beremigrasi keluar Sumbar n hidup
secara "menyembunyikan" identitas bekas pemberontak.

Di sumbar,tentara pendudukan(AD) berasal dari Jawa Tengah-Kodam
Diponegoro,nn kultural n kebiasaan hidup mereka sangat bias terhadap agama
nb adat nn dianut oleh masyarakat minang.
Melihat keadaan ini,atas inisiatif JB n beberapa teman dari UI,ditemuilah
Menko Hankam-Kasad,jenderal AH.Nasution untuk menyampaikan sikons Sumbar
sehabis pemberontakan prri n berharap kiranya kesatuan Diponegoro nn
bertugas di Sumbar;diganti dengan kesatuan Siliwangi nn Islamy.
Pak Nas,memahami nn sikons Sumbar seperti nn kami sampaikan n akan mencaari
jalan nn terbaik agar sikons Sumbar bisa berubah.

Dari pertemuan dengan pak Nas ini,kami juga mendapat penjelasan bahwa
penyelesai-an prri di sumbar berbeda dengan pnyelesaian permesta di sulut.
Di Sulut,seluruh aparat militer permesta,diterima kembali dalam pangkuan
NKRI cq APRI,demikian juga aparat sipilnya.Hal ini berdasarkan pertemuan
Menko Hankam denngan Kol.Kawilarang didekat kota Tomohon.

Di Sumbar,prri menyerah kalah kepada NKRI cq APRI n pentolan2nya ditangkap n
disitumbinkan karena kol.Achmad Husein tidak mau menunggu Menko Hankam/Kasab
dari kunjungan muhibah beliau ke uni soviet.

Itulah duo informasi lain nn diperoleh lansuang dari Pak Nas sewaktu kami
menemui beliau dengan tujuan tsb terdahulu.

Jadi,bagi JB kenangan terhadap pemberontakan prri tahun2 1957/1958 terhadap
Pusat adalah kenangan menarik n 'patriotik' pada awal mula,kenangan
kekecewaan n prustrasi pada masa pelarian(mundurnya prri kedalam rimbo) n
kenangan kesedihan atas nasib masyarakat Minang sebagai akibat penunpasan
pemberontakan nn gagal itu.

Bagi dunsanak nn akan menulis kisah pemberontakan ini,ada baiknya melengkapi
dengan manuver2 politik parrtai Masyumi di Dewan Konstituante n usaha2
mempengaruhi tokoh2 dewan Banteng di Sumteng.
Peran n andil Partai Masyumi beserta tokoh2nya cukup menentukan bagi
terbentuk prri ini di Sumteng.

JB,Tuaku Magek Jabang Sutan Riayatsyah,sk
Mandahi-liang,Padusunan,Piaman,kini di Bonjer,Jakbar.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerryR smartphone

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke