Nakan Andi ko sarato Sanak sa Palanta;
Daniel Hoffman (2011), ekonom Zurich Financial Services Group, dalam laporannya mengenai krisis keuangan dunia mengatakan, pertumbuhan ekonomi menciptakan kesenjangan sosial dengan semakin banyak orang miskin dan semakin banyak orang sukses . Kesenjangan sosial dapat menyebabkan pergolakan sosial dan gagalnya pemerintahan global [*]. Apa yang dikemukakan Hoffman di atas bukan cerita baru memang---terutama pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada 'fundamentalisme pasar' atau semangat 'neo-lib'---tetapi itulah yang persis terjadi Indonesia dewasa ini, termasuk di ranah, kampung halaman kita tercinta. Ketika membaca bahwa ekonomi (baca: PDRB) Sumbar tetap tumbuh sebesar 4,2% dalam tahun 2009, yaitu tahun terjadinya musibah gempa bumi, saya agak kaget bercampur kagum. Akan tetapi kekagetan dan kekaguman saya segera sirna ketika mengetahui bahwa pertumbuhan tersebut sebagian terbesar disumbang oleh subsektor tanaman perkebunan (kelapa sawit). Perkebunan kelapa sawit dan ekpor CPO waktu ini memang merupakan 'primadona ekonomi' Indonesia di samping batu bara, yang menyebabkan perekonomian (baca: PDB/GNP) Indonesia tetap tumbuh cukup 'mengesankan'. Hanya karena yang diekspor produk mentah (CPO), nilai tambahanya untuk negara/daerah kecil, walaupun dibilang tidak ada juga salah, utamanya penciptaan lapangan kerja (pekerja kasar) serta penerimaan pajak (sebagian besar porsi pusat). Devisa? Tercatat di BI mah iya, tetapi sebagian ada yang diparkir di Singapura atau Hongkong. Indonesia yang 'kaya raya' tidak seperti China, yang seluruh devisa hasil ekspor dikuasai negara. Nilai tambah yang besar hanya bagi para pemilik modal. Angkanya singgah ke kantor statistik daerah, menambah pundi-pundi PDRB. Tetapi kemana dananya pergi, dan di mana multiplier effect terjadi, itu cerita lain; tergantung di mana kampung halaman si pemilik modal. Ini bukan urusan P(D)RB memang, tetapi P(N)RB. Hanya saat ini belum ada data/mekanisme yang dapat secara langsung menghitung P(N)RB yakni dengan memperhitungkan 'net income from abroad' (provinsi/kabupaten/kota). Untuk Sumbar, hampir dipastikan sebagian besar berasal dari luar daerah/negeri. Karena itu pertumbuhan ekonomi yang hanya diukur dengan hanya pertumbuhan PDRB saja saja tidak cukup, bahkan dapat menyesatkan. Perlu indikator lain yang lebih handal: HDI atau IPM. Kasus di bawah ini, dan sejumlah kasus petani vs perusahaan perkebunan kelapa sawit yang sudah beberapa kali dilewakan ke RN, IMHO merupakan puncak dari gunung es permasalahan yang berkaitan dengan hal di atas, mengapa bukan petani (yang seharusnya) dibela dan dilindungi, tetapi pengusaha perkebunan besar. Masalahnya, biar Kepala Daerah 'hantap-hantap' atau 'mangamek-ngamek' saja, ekonomi 'tumbuh' terus. Dan hampir dipastikan ini ini bukan kasus yang terakhir, kecuali ada langkah luar biasa untuk menghentikannya. Pertanyaannya, apakah Gub IP yang kelihatannya ingin sungguh-sungguh membangun Sumbar dan bersedia bekerja keras untuk itu, terinformasikan dengan baik/proporsional mengenai kasus-kasus ini? Pertanyaan berikutnya apakah semangat 'neo-lib' dalam pembangunan Sumbar akan tetap 'dilanjutkan? Tapi, siapa pula lah awak ini. Hanya seorang 'tukang ubek' :), tidak lebih dan tidak kurang. Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 67+) Asal Padangpanjang, suku Panyalai, tinggal di Depok, Jawa Barat [*] Arif Budimanta: Antara Davos dan Cianjur Kompas, 29 Januari 2011 (http://cetak.kompas.com/read/2011/01/29/0347551/antara.davos.dan.cianjur) . <http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/message/135997;_ylc=X3oDMTJzOXJwa2s 2BF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzExMjAxMjcEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MzI5NzI5BG1zZ0lkAzEzNTk 5NwRzZWMDZG1zZwRzbGsDdm1zZwRzdGltZQMxMjk2NDIxMDAw> Re: [R@ntau-Net] FW: [lumbung_derma] Release : Konflik Petani dengan Posted by: "andi ko" <mailto:[email protected]?Subject=%20Re%3A%20%5BR%40ntau-Net%5D%20FW%3A%2 0%5Blumbung_derma%5D%20Release%20%3A%20Konflik%20Petani%20dengan> [email protected] Sun Jan 30, 2011 6:10 am (PST) Komentar Simpang Ampek Kadai Sabalah Sasimpang Jalan Ka Kinali Buah Labek Tangkainyo Lamah Indak Tajangkau Dek Tangan Kami Salam Andiko Sutan Mancayo Pada 29 Januari 2011 17.45, Sepriadi < <mailto:sepriadi%40gmail.com> [email protected]> menulis: > Adakah yang bisa berkomentar terhadap kasus ini.? > > ///////// -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
