Mamak Darwin jo sanak palanta

Sebagai kelanjutan dari yang ambo tulis di bawah, silahkan dibukak link iko

http://andiko2002.multiply.com/journal/item/106/Transformasi_Radikal_Dengan_Keterpaksaan
.

Paper iko adolah sebuah contoh kecil untuak kejadian yang jamak terjadi
dalam proses pembangunan di sektor sumberdaya alam kito. Mungkin dari
pikiran kecil iko, diskusi bisa kito kembangkan.

Salam

andiko

Pada 31 Januari 2011 09.29, andi ko <[email protected]> menulis:

> Mamak, pencerahan nan boneh di pagi manjalang barangkek iko.
>
> Ukatu Orde Baru awal tagak, ado tigo kato sakti yakti
> 'STABILITAS-PERTUMBUHAN-PEMERATAAN'. Tigo kato sakti iko nan menjadi kompas
> dari pembangunan dari pelita ka pelita. Ukatu SBY bakuaso, baliu buek pulo
> kato saktinyo yaitu 'PRO JOB, PRO GROUWD, JO PRO POOR". Pendekatannyo samo
> sajo, pembangunan bertumpu pada eksploitasi sumberdaya alam, skala besar,
> padat teknologi dan padat modal. Kedua periode iko tetap meninggalkan
> ketahanan ekonomi rumah tangga. Semua sektor di arahkan menopang
> industrialisasi dengan pendekatan iko. Sahinggo kutiko badai krisis
> mahampeh, mako rubuahlah sisitem ekonomi sampai ka suduik2 dapua rakyaik.
> Rubuhnyo berikut dengan rubuhnyo para taipan-taipan yang di susukan oleh
> kekuasaan.
>
> Mak, bekolah ambo sambuang, anak alah gelisah ka naiak bendi, mangaja kapa
> ka rumah di Batam.
>
> Salam
>
> andiko
>
> Pada 31 Januari 2011 09.17, Darwin Bahar <[email protected]> menulis:
>
> Nakan Andi ko sarato Sanak sa Palanta;
>>
>>
>>
>> Daniel Hoffman (2011), ekonom Zurich Financial Services Group, dalam
>> laporannya mengenai krisis keuangan dunia mengatakan, *pertumbuhan
>> ekonomi menciptakan kesenjangan sosial dengan semakin banyak orang miskin
>> dan semakin banyak orang sukses . Kesenjangan sosial dapat menyebabkan
>> pergolakan sosial dan gagalnya pemerintahan global* [*].
>>
>> Apa yang dikemukakan Hoffman di atas bukan cerita baru memang---terutama
>> pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada ‘fundamentalisme pasar’ atau semangat
>> ‘neo-lib’---tetapi itulah yang persis terjadi Indonesia dewasa ini, termasuk
>> di ranah, kampung halaman kita tercinta.
>>
>> Ketika membaca bahwa ekonomi (baca: PDRB) Sumbar tetap tumbuh sebesar 4,2%
>>  dalam  tahun 2009, yaitu tahun terjadinya musibah gempa bumi, saya agak
>> kaget bercampur kagum. Akan tetapi kekagetan dan kekaguman saya segera sirna
>> ketika mengetahui bahwa pertumbuhan tersebut sebagian terbesar disumbang
>> oleh subsektor tanaman perkebunan (kelapa sawit).
>>
>> Perkebunan kelapa sawit dan ekpor CPO waktu ini memang merupakan
>> ‘primadona ekonomi’ Indonesia di samping batu bara, yang menyebabkan
>> perekonomian (baca: PDB/GNP) Indonesia tetap tumbuh cukup ‘mengesankan’.
>> Hanya karena yang diekspor produk mentah (CPO), nilai tambahanya untuk
>> negara/daerah kecil, walaupun dibilang tidak ada juga salah, utamanya
>> penciptaan lapangan kerja (pekerja kasar) serta penerimaan pajak (sebagian
>> besar porsi pusat). Devisa? Tercatat di BI mah iya, tetapi sebagian ada yang
>> diparkir di Singapura atau Hongkong. Indonesia yang ‘kaya raya’ tidak
>> seperti China, yang seluruh devisa hasil ekspor dikuasai negara.
>>
>> Nilai tambah yang besar hanya bagi para pemilik modal. Angkanya singgah ke
>> kantor statistik daerah, menambah pundi-pundi PDRB. Tetapi kemana dananya
>> pergi, dan di mana *multiplier effect* terjadi, itu cerita lain;
>> tergantung di mana kampung halaman si pemilik modal. Ini bukan urusan P(D)RB
>> memang, tetapi P(N)RB. Hanya saat ini belum ada data/mekanisme yang dapat
>> secara langsung menghitung P(N)RB yakni dengan memperhitungkan ‘*net
>> income from abroad*’ (provinsi/kabupaten/kota). Untuk Sumbar, hampir
>> dipastikan sebagian besar berasal dari luar daerah/negeri.
>>
>> Karena itu pertumbuhan ekonomi yang hanya diukur dengan hanya pertumbuhan
>> PDRB saja saja tidak cukup, bahkan dapat menyesatkan. Perlu indikator lain
>> yang lebih handal: HDI atau IPM.
>>
>> Kasus di bawah ini, dan sejumlah kasus petani vs perusahaan perkebunan
>> kelapa sawit yang sudah beberapa kali dilewakan ke RN, IMHO merupakan puncak
>> dari gunung es permasalahan yang berkaitan dengan hal di atas, mengapa bukan
>> petani (yang seharusnya) dibela dan dilindungi, tetapi pengusaha perkebunan
>> besar.  Masalahnya, biar Kepala Daerah ‘hantap-hantap’ atau
>> ‘mangamek-ngamek’ saja, ekonomi ‘tumbuh’ terus.
>>
>> Dan hampir dipastikan ini ini bukan kasus yang terakhir, kecuali ada
>> langkah luar biasa untuk menghentikannya.
>>
>> Pertanyaannya, apakah Gub IP yang kelihatannya ingin sungguh-sungguh
>> membangun Sumbar dan bersedia bekerja keras untuk itu, terinformasikan
>> dengan baik/proporsional mengenai kasus-kasus ini?
>>
>> Pertanyaan berikutnya apakah semangat ‘neo-lib’ dalam pembangunan Sumbar
>> akan tetap  ‘dilanjutkan?
>>
>> Tapi, siapa pula lah awak ini.  Hanya seorang ‘tukang ubek’ :), tidak
>> lebih dan tidak kurang.
>>
>>
>>
>> Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 67+)
>>
>> Asal Padangpanjang, suku Panyalai, tinggal di Depok, Jawa Barat
>>
>>
>>
>>
>>
>> [*] Arif Budimanta: Antara Davos dan Cianjur
>>
>> Kompas, 29 Januari 2011
>>
>> (http://cetak.kompas.com/read/2011/01/29/0347551/antara.davos.dan.cianjur
>> )
>>
>>
>>
>> .
>> Re: [R@ntau-Net] FW: [lumbung_derma] Release : Konflik Petani dengan
>> <http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/message/135997;_ylc=X3oDMTJzOXJwa2s2BF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzExMjAxMjcEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MzI5NzI5BG1zZ0lkAzEzNTk5NwRzZWMDZG1zZwRzbGsDdm1zZwRzdGltZQMxMjk2NDIxMDAw>
>>  Posted
>> by: "andi ko" [email protected]
>> <[email protected]?Subject=%20Re%3A%20%5BR%40ntau-Net%5D%20FW%3A%20%5Blumbung_derma%5D%20Release%20%3A%20Konflik%20Petani%20dengan>
>>  Sun
>> Jan 30, 2011 6:10 am (PST)
>>
>>
>>
>> Komentar
>>
>> Simpang Ampek Kadai Sabalah
>> Sasimpang Jalan Ka Kinali
>> Buah Labek Tangkainyo Lamah
>> Indak Tajangkau Dek Tangan Kami
>>
>> Salam
>>
>> Andiko Sutan Mancayo
>>
>> Pada 29 Januari 2011 17.45, Sepriadi 
>> <[email protected]<sepriadi%40gmail.com>>
>> menulis:
>>
>> > Adakah yang bisa berkomentar terhadap kasus ini…?
>> >
>> >
>> /////////
>>
>> --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
>> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/~<http://groups.google.com/group/RantauNet/%7E>
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
>> - DILARANG:
>> 1. E-mail besar dari 200KB;
>> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
>> 3. One Liner.
>> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
>> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>>
>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke