Editorial Media Indonesia, Senin, 07 Februari 2011 00:01 WIB http://www.mediaindonesia.com/read/2011/02/07/201471/70/13/Negeri-Konsumen
ADA pertanyaan yang mengusik sanubari, menyentuh rasa kebangsaan, yaitu apakah Indonesia ini termasuk negara produsen atau negara konsumen? Bila hal itu ditanyakan kepada Badan Pusat Statistik (BPS), jawabnya dapat dipastikan Indonesia negara produsen. Bahkan, jawaban itu disertai dengan statistik yang mencengangkan, seperti kinerja perdagangan sepanjang 2010 yang dirilis BPS, pekan lalu. Mencengangkan, karena untuk kali pertama ekspor bulanan kita pada Desember 2010 mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah Republik dengan nilai US$16,8 miliar. Tahun lalu, total ekspor kita meningkat 35%, dari US$116,5 miliar pada 2009 menjadi US$157,7 miliar. Namun, yang lebih mencengangkan, impor kita juga naik, bahkan melebihi kenaikan ekspor. Impor melonjak 40%, dari US$96,8 miliar di 2009 menjadi US$135,6 miliar selama 2010. Terjadi lonjakan impor, tetapi neraca perdagangan kita versi BPS masih surplus. Benarkah demikian? Fakta di lapangan meragukannya. Maraknya cabai asal Thailand yang tidak terdeteksi keberadaannya dalam daftar impor, misalnya, merupakan contoh nyata mudahnya barang negeri orang masuk ke negeri ini secara ilegal. Negeri ini jelas dikepung produk impor, resmi maupun gelap, tidak peduli kendati barang-barang itu bisa diproduksi di dalam negeri. Bukan hanya cabai, kita pun mengimpor garam. Bahkan, mengimpor sudah seperti candu. Ketika harga pangan melambung, pemerintah pun mengambil langkah membebaskan bea masuk impor atas 57 produk terkait pangan. Di terminal peti kemas Pelabuhan Tanjung Priok saja saat ini ada 62 kontainer daging impor menunggu untuk masuk. Pemerintah juga tengah bersiap untuk kembali mengimpor beras dan gula. Padahal semua itu--beras, gula, garam, cabai, daging--merupakan kebutuhan rakyat, yang dapat dihasilkan di negeri sendiri. Nyatanya harus impor. Sebab, Indonesia gagal menjadi negara produsen. Kita pun gagal sebagai negara produsen sumber daya manusia. Sebanyak 48 ribu anak bangsa ini bekerja sebagai tenaga ahli di Eropa, Amerika, bahkan di Brasil. "Kita yang menyekolahkan mereka 15 tahun lalu, tapi negara lain yang panen," kata mantan Presiden BJ Habibie. Sebaliknya, kita justru 'mengekspor' jutaan tenaga kerja sebagai pembantu rumah tangga. Sebagian dari mereka disiksa tanpa mendapatkan pembelaan yang memadai dari negara. Negara seperti sedang menggali kubur untuk produksi negeri sendiri, sambil menggelar karpet merah untuk barang impor. Negeri ini telah menjadi negeri konsumen, yang tidak menghargai produk sendiri. Bahkan, tidak menghargai anak bangsanya sendiri. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
