Pak Darwin YTH dan sanak Palanta YAH Iko sajalan jo Editorial nan di bawah ko. Sabana manyadiahkan, bantuak "Negeri Tak Bertuan".
Editorial MI (28/1) RONTOKNYA INDUSTRI NASIONAL KIAN hari jalan menuju rontoknya industri nasional kian nyata. Deindustrialisasi, yang enam tahun lalu masih berupa kekhawatiran, kini mulai menjelma menjadi kenyataan. Hasil survei Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di lima provinsi pada 2010 meneguhkan fakta itu. Banyak pengusaha kecil dan menengah beralih menjadi pedagang, karena banyaknya hambatan berproduksi. Itulah misalnya yang menimpa mayoritas penjahit penghasil produk tekstil industri rumah tangga. Mereka tidak sanggup lagi bertahan sebagai produsen. Sebab, bertahan menjadi produsen sama saja dengan bunuh diri. Bunuh diri, karena bahan baku sulit diperoleh dan tarif listrik terus naik, menyebabkan ongkos produksi terus membengkak. Dua hal itu saja membuat mereka tidak mampu bersaing dengan barang China yang membanjiri negeri ini dengan harga lebih murah. "It's not whether you get knocked down, it's whether you get up!" -----Original Message----- From: "Darwin Bahar" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Mon, 7 Feb 2011 06:58:58 To: Palanta Rantaunet<[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [R@ntau-Net] OOT: Negeri Konsumen Editorial Media Indonesia, Senin, 07 Februari 2011 00:01 WIB http://www.mediaindonesia.com/read/2011/02/07/201471/70/13/Negeri-Konsumen ADA pertanyaan yang mengusik sanubari, menyentuh rasa kebangsaan, yaitu apakah Indonesia ini termasuk negara produsen atau negara konsumen? Bila hal itu ditanyakan kepada Badan Pusat Statistik (BPS), jawabnya dapat dipastikan Indonesia negara produsen. Bahkan, jawaban itu disertai dengan statistik yang mencengangkan, seperti kinerja perdagangan sepanjang 2010 yang dirilis BPS, pekan lalu. Mencengangkan, karena untuk kali pertama ekspor bulanan kita pada Desember 2010 mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah Republik dengan nilai US$16,8 miliar. Tahun lalu, total ekspor kita meningkat 35%, dari US$116,5 miliar pada 2009 menjadi US$157,7 miliar. Namun, yang lebih mencengangkan, impor kita juga naik, bahkan melebihi kenaikan ekspor. Impor melonjak 40%, dari US$96,8 miliar di 2009 menjadi US$135,6 miliar selama 2010. Terjadi lonjakan impor, tetapi neraca perdagangan kita versi BPS masih surplus. Benarkah demikian? Fakta di lapangan meragukannya. Maraknya cabai asal Thailand yang tidak terdeteksi keberadaannya dalam daftar impor, misalnya, merupakan contoh nyata mudahnya barang negeri orang masuk ke negeri ini secara ilegal. Negeri ini jelas dikepung produk impor, resmi maupun gelap, tidak peduli kendati barang-barang itu bisa diproduksi di dalam negeri. Bukan hanya cabai, kita pun mengimpor garam. Bahkan, mengimpor sudah seperti candu. Ketika harga pangan melambung, pemerintah pun mengambil langkah membebaskan bea masuk impor atas 57 produk terkait pangan. Di terminal peti kemas Pelabuhan Tanjung Priok saja saat ini ada 62 kontainer daging impor menunggu untuk masuk. Pemerintah juga tengah bersiap untuk kembali mengimpor beras dan gula. Padahal semua itu--beras, gula, garam, cabai, daging--merupakan kebutuhan rakyat, yang dapat dihasilkan di negeri sendiri. Nyatanya harus impor. Sebab, Indonesia gagal menjadi negara produsen. Kita pun gagal sebagai negara produsen sumber daya manusia. Sebanyak 48 ribu anak bangsa ini bekerja sebagai tenaga ahli di Eropa, Amerika, bahkan di Brasil. "Kita yang menyekolahkan mereka 15 tahun lalu, tapi negara lain yang panen," kata mantan Presiden BJ Habibie. Sebaliknya, kita justru 'mengekspor' jutaan tenaga kerja sebagai pembantu rumah tangga. Sebagian dari mereka disiksa tanpa mendapatkan pembelaan yang memadai dari negara. Negara seperti sedang menggali kubur untuk produksi negeri sendiri, sambil menggelar karpet merah untuk barang impor. Negeri ini telah menjadi negeri konsumen, yang tidak menghargai produk sendiri. Bahkan, tidak menghargai anak bangsanya sendiri. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
