Cara Haji Misbach Melawan Penyimpangan Dalam Islam[image: Misbach]

Sembilan puluh dua tahun yang silam. Di Surakarta tersiar kabar mengenai
rencana debat antara Haji Misbach dan Martodharsono. Jauh-jauh hari, kedua
tokoh ini sudah saling serang di media masing-masing: Haji Misbach dengan
“Medan Moeslimin”, sedangkan Martodharsono dengan koran “Djawi Hiswara”-nya.

Atas titah dari Tjokroaminoto, pemimpin utama Sarekat Islam (SI) kala itu,
sebuah vergadering akbar akan segera dilakukan pada 24 Februari 1918,
sekaligus akan mempertemukan antara Haji Misbach dan Martodharsono di atas
podium. Vergadering itu rencananya akan dilakukan di Sriwedari, dan akan
diikuti oleh sedikitnya 20.000 orang. Umat islam Surakarta sangat menunggu
vergadering itu.

Pemicu pertikaian ini adalah artikel Djojosoediro di koran Djawi Hisworo,
yang mana pemimpin redaksinya adalah Martodharsono. Pada saat itu,
Djojosoediro, atas persetujuan dan dorongan dari Martodharsono, menulis:

“Ah seperti pegoeron (tempat beladjar ilmoe). Saja boekan goeroe, tjoemah
bertjeritera atau memberi nasehat, keboetoelan sekarang ada waktoenja. Maka
baiklah sekarang sadja. Adapon fatsal (selamatan) hoendjoek makanan itoe
tidak perloe pakai nasi woedoek dengan ajam tjengoek brendel. SEBAB GOESTI
KANDJENG NABI RASOEL ITOE MINOEM TJIOE A.V.H. DAN MINOEM MADAT, KADANG
KLE’LE’T DJOEGA SOEKA. Perloe apakah mentjari barang jang tidak ada.
Maskipon ada banjak nasi woedoek, kalau tidak ada tjioe dan tjandoe
tentoelah pajah sekali.”

Umat Islam, terutama di Surakarta, gempar dengan tulisan tersebut. Sebagian
besar menganggap bahwa tulisan tersebut merupakan pelecehan terhadap nabi
Muhammad dan umat Islam. Sarekat Islam, sebagai organisasi islam terbesar
kala itu, merasa wajib untuk melakukan pembelaan. Untuk itu, pada awal
Februari 1918, Tjokroaminoto telah membentuk apa yang disebut Tentara
Kandjeng Nabi Mohammad (TKNM) untuk “memertahankan kehormatan Islam, Nabi,
dan Kaum Muslimin”.

Martodharsono sendiri bukan orang sembarangan. Dia adalah murid Tirto Adhi
Soerjo, sang pemula, dan Raden Pandji Natarata alias Raden Sastrawidjaja,
ahli sastra dari Yogyakarta. Ketika artikelnya mulai mendapat respon dan
kemarahan dari umat Islam, Martodharsono pun berusaha memberikan klarifikasi
di koran “Djawi Hiswara”. Namun, klarifikasi tersebut tidak bisa memadamkan
api yang sudah terlanjur berkobar.

Di Surakarta, Haji Misbach segera membentuk Sidik Amanat Tableg Vatonah
(SATV) untuk memperkuat “kebenaran dan memajukan islam”. Akan tetapi, SATV
ini jangan dibayangkan semacam milisi untuk memukul lawan, melainkan sebuah
gerakan untuk mempropagandakan islam, mendirikan sekolah-sekolah bumi-putra,
dan menerjemahkan Al-quran dan teks-teks keagamaan klasisk yang berbahasa
Arab.

Bagi Haji Misbach, melawan penyelewengan terhadap ajaran islam tidak bisa
dengan kekerasan, melainkan dengan bantahan lewat famplet dan
tulisan-tulisan. Bahkan, untuk semakin memperkokoh islam itu, Haji Misbach
mendorong berdirinya sekolah-sekolah dan pusat-pusat pengajaran. Ia
menganjurkan kaum muslimin untuk terus “bergerak”, tidak diam atau pasif.

Coba anda bayangkan jika orang seperti Djojosoediro dan Martodharsono
menulis artikelnya di era sekarang, maka ia bisa diserukan untuk dipenggal
kepalanya oleh kelompok FPI dan sejenisnya. Tetapi, Haji Misbach dan umat
islam saat itu melawan pelecehan dengan cara bijaksana dan terhormat.


http://berdikarionline.com/kabar-rakyat/20110207/cara-haji-misbach-melawan-penyimpangan-dalam-islam.html

Sumber Milis : [mediacare]

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke