Sutan Mancayo sarato Dunsanak di palanta nan ambo hormati
Kutiko pemilu 1955 namo *Haji Misbach *manjadi ikon oleh PKI untuk menarik
umat Islam masuk menjadi anggota partai karena titel hajinya.
Ambo copaskan riwayat hidup H. Misbach sbb:
*
Haji Misbach memiliki posisi yang unik dalam sejarah di Tanah Air.
Namanya sedahsyat Semaun, Tan Malaka, atau golongan kiri lainnya. Di
kalangan gerakan Islam, memang namanya nyaris tak pernah disebut lantaran
pahamnya yang beraliran komunis. Menurut Misbach, Islam dan komunisme tidak
selalu harus dipertentangkan, Islam seharusnya menjadi agama yang bergerak
untuk melawan penindasan dan ketidakadilan.
Lahir di Kauman, Surakarta, sekitar tahun 1876, dibesarkan sebagai putra
seorang pedagang batik yang kaya raya. Bernama kecil Ahmad, setelah menikah
ia berganti nama menjadi Darmodiprono. Dan usai menunaikan ibadah haji,
orang mengenalnya sebagai Haji Mohamad Misbach.
Kauman, tempat Misbach dilahirkan, letaknya di sisi barat alun-alun
utara, persis di depan keraton Kasunanan dekat Masjid Agung Surakarta. Di
situlah tinggal para pejabat keagamaan Sunan. Ayah Misbach sendiri seorang
pejabat keagamaan. Karena lingkungan yang religius itulah, pada usia sekolah
ia ikut pelajaran keagamaan dari pesantren, selain di sekolah bumiputera
"Ongko Loro".
Menjelang dewasa, Misbach terjun ke dunia usaha sebagai pedagang batik
di Kauman mengikuti jejak ayahnya. Bisnisnya pun menanjak dan ia berhasil
membuka rumah pembatikan dan sukses. Pada 1912 di Surakarta berdiri Sarekat
Islam (SI). Bicara kepribadian Misbach, orang memuji keramahannya kepada
setiap orang dan sikap egaliternya tak membedakan priyayi atau orang
kebanyakan. Sebagai seorang haji ia lebih suka mengenakan kain kepala ala
Jawa, Misbach mulai aktif terlibat dalam pergerakan pada tahun 1914, ketika
ia berkecimpung dalam IJB (Indlandsche Journalisten Bond)-nya Marco. Pada
tahun 1915, ia menerbitkan surat kabar Medan Moeslimin, yang edisi
pertamanya tertanggal 15 Januari 1915 dan kemudian menerbitkan Islam
Bergerak pada tahun 1917. Surat-surat kabar ini menjadi media gerakan yang
sangat populer di Surakarta dan sekitarnya.
Marco Kartodikromo, salah satu tokoh pergerakan pada saat itu berkisah
tentang Misbach:
".. Di Pemandangan Misbach tidak ada beda di antara seorang pencuri
biasa dengan orang yang dikata berpangkat, begitu juga di antara rebana dan
klenengan, di antara bok Haji yang bertutup muka dan orang bersorban cara
Arab dan berkain kepala cara Jawa. Dan sebab itu dia lebih gemar memaki kain
kepala dari pada memakai peci Turki atau bersorban seperti pakaian
kebanyakan orang yang disebut "Haji".
Apa yang tersirat dari tulisan Marco adalah populisme Misbach. Populisme
seorang Haji, sekaligus pedagang yang sadar akan penindasan kolonialis
Belanda dan tertarik dengan ide-ide revolusioner yang mulai menerpa Hindia
pada jaman itu.
Misbach langsung terjun melakukan pengorganisiran di basis-basis rakyat.
Membentuk organisasi dan mengorganisir pemogokan ataupun rapat-rapat
umum/vergadering yang dijadikan mimbar pemblejetan kolonialisme dan
kapitalisme.Bulan Mei 1919 akibat pemogokan-pemogokan petani yang
dipimpinnya, Misbach dan para pemimpin pergerakan lainnya di Surakarta
ditangkap.
Pada 16 Mei 1920, ia kembali ditangkap dan dipenjarakan di Pekalongan
selama 2 tahun 3 bulan. Pada 22 Agustus 1922 dia kembali ke rumahnya di
Kauman, Surakarta. Maret 1923, ia sudah muncul sebagai propagandis PKI/SI
Merah dan berbicara tentang keselarasan antara paham Komunis dan Islam.
Bulan Juli 1924 ia ditangkap dan dibuang ke Manokwari dengan tuduhan
mendalangi pemogokan-pemogokan dan teror-teror/sabotase di Surakarta dan
sekitarnya. Walaupun bukan yang pertama diasingkan tapi ia-lah orang yang
pertama yang sesungguhnya berangkat ke tanah pengasingan di kawasan Hindia
sendiri.
Orang menggambarkan Haji Misbach sebagai sosok yang tak segan bergaul
dengan anak-anak muda penikmat klenengan (musik Jawa) dengan tembang yang
sedang populer. Satu tulisan tentang Misbach menyebutkan, di tengah
komunitas pemuda, Misbach menjadi kawan berbincang yang enak, sementara di
tengah pecandu wayang orang Misbach lebih dihormati ketimbang direktur
wayang orang.
"... di mana-mana golongan Rajat Misbach mempoenjai kawan oentoek
melakoekan pergerakannya. Tetapi didalem kalangannya orang-orang jang
mengakoe Islam dan lebih mementingkan mengoempoelken harta benda daripada
menolong kesoesahan Rajat, Misbach seperti harimau didalem kalangannya
binatang-binatang ketjil. Kerna dia tidak takoet lagi menyela kelakoeannja
orang-orang yang sama mengakoe Islam tetapi selaloe mengisep darah temen
hidoep bersama."
Takashi Shiraisi mengungkapkan perbedaan dinamika sosial Islam di Yogya
dan Surakarta. Ini dikaitkan dengan persamaan dan perbedaan antara KH Achmad
Dahlan, pendiri Muhammadiyah dan, Misbach, seorang muslim ortodoks yang
saleh, progresif, dan hidup di Surakarta.
Di Yogya, Muhammadiyah yang lahir pada 1912 di Kauman, segera menjadi
sentral kegiatan kaum muslimin yang saleh yang kebanyakan berlatar belakang
keluarga pegawai keagamaan Sultan. Ayah Dahlan adalah chatib amin Masjid
Agung dan ibunya putri penghulu (pegawai keagamaan kesultanan) di Yogya.
Dahlan sendiri sempat dipercaya menjadi chatib amin. Para penganjur
Muhammadiyah umumnya anak-anak pegawai keagamaan. Kala itu birokrat
keagamaan umumnya adalah alat negara sehingga, kata Shiraisi, wewenang
keagamaannya tidak berasal dari kedalaman pengetahuan tentang Islam tetapi
karena jabatannya. Meskipun mereka berhaji dan belajar Islam, masih kalah
wibawa dibandingkan para kiai yang pesantrennya bebas dari negara.
Kendati demikian, reformisme Muhammadiyah berhasil menyatukan umat Islam
yang terpecah-pecah. Tablig-tablignya, kajian ayat yang dijelaskan dengan
membacakan dan menjelaskan maknanya di masjid-masjid, pendirian lembaga
pendidikan Islam, membangunkan keterlenaan umat Islam. Mereka tumbuh menjadi
pesaing tangguh misionaris Kristen dan aktivis sekolah-sekolah bumiputera
yang didirikan pemerintah.
Lain dengan di Surakarta. Kala itu belum ada pengaruh sekuat Dahlan dan
Muhammadiyah. Ini karena di Surakarta sudah ada sekolah agama modern pertama
di Jawa, Madrasah Mamba'ul Ulum yang didirikan patih R. Adipati
Sosrodiningrat (1906) dan SI pun sudah lebih dulu berkiprah sebagai wadah
aktivis pergerakan Islam. Di Surakarta, pegawai keagamaan yang progresif,
kiai, guru-guru Al-Quran, dan para pedagang batik mempunyai forum yang
berwibawa, Medan Moeslimin. Di situlah pendapat mereka yang kerap berbeda
satu sama lain tersalur. Kelompok ini menyebut diri "kaum muda Islam".
Beda pergerakan Islam Surakarta dan Yogya, di Yogya reformis tentu juga
modernis, tetapi di Surakarta kaum muda Islam memang modernis tetapi belum
tentu reformis. Kegiatan keislaman di Solo banyak dipengaruhi kiai progresif
tapi ortodoks, seperti Kiai Arfah dan KH Adnan. Sampai suatu ketika
ortodoksi yang cenderung menghindar ijtihad itu terpecah pada 1918.
Perpecahan kelompok Islam di Surakarta dipicu artikel yang dimuat dalam
Djawi Hiswara, ditulis Martodharsono, seorang guru terkenal dan mantan
pemimpin SI. Ketika artikel itu muncul di Surakarta tidak langsung terjadi
protes, tetapi Tjokroaminoto memperluas isi artikel dan menyerukan pembelaan
Islam atas pelecehan oleh Martodharsono. Seruan itu muncul di Oetoesan
Hindia, sehingga bangkitlah kaum muda Islam Surakarta.
Tjokroaminoto membentuk Tentara Kanjeng Nabi Muhammad (TKNM), yang
mencuatkan nama Misbach sebagai mubalig vokal. Mengiringi terbentuknya TKNM,
lahir perkumpulan tablig reformis bernama Sidik, Amanah, Tableg, Vatonah
(SATV). Haji Misbach menyebar seruan tertulis menyerang Martodharsono serta
mendorong terlaksananya rapat umum dan membentuk subkomite TKNM. Segeralah
beredar cerita, Misbach akan berhadapan dengan Martodharsono di podium.
Komunitas yang dulunya kurang greget menyikapi keadaan itu tiba-tiba menjadi
dinamis. Kaum muslimin Surakarta berbondong-bondong menghadiri rapat umum di
lapangan Sriwedari, pada 24 Februari 1918 yang konon dihadiri 20.000-an
orang. Tjokroaminoto mengirim Haji Hasan bin Semit dan Sosrosoedewo
(penerbit dan redaktur jurnal Islam Surabaya, Sinar Islam), dua orang
kepercayaannya di TKNM. Waktu itu terhimpun sejumlah dana untuk pengembangan
organisasi ini. Muslimin Surakarta bergerak proaktif menjaga wibawa Islam
terhadap setiap upaya penghinaan terhadapnya. Inilah awal perang membela
Islam dari "kaum putihan" Surakarta. Belakangan, muncul kekecewaan jamaah
TKNM ketika Tjokro tiba-tiba saja mengendurkan perlawanan kepada
Martodharsono dan Djawi Hiswara setelah mencuatnya pertikaian menyangkut
soal keuangan dengan H Hasan bin Semit. Buntutnya, Hasan bin Semit keluar
dari TKNM. Beredar artikel menyerang petinggi TKNM. Muncul statemen seperti
"korupsi di TKNM dianggap sudah menodai Nabi dan Islam".
Dalam situasi itu muncul Misbach menggantikan Hisamzaijni, ketua
subkomite TKNM dan menjadi hoofdredacteur (pemimpin redaksi) Medan
Moeslimin. Artikel pertama Misbach di media ini, Seroean Kita. Dalam artikel
itu Misbach menyajikan gaya penulisan yang khas, yang kata Takashi, menulis
seperti berbicara dalam forum tablig. Ia mengungkapkan pendapatnya, bergerak
masuk ke dalam kutipan Al-Quran kemudian keluar lagi dari ayat itu. "Persis
seperti membaca, menerjemahkan, dan menerangkan arti ayat Al-Quran dalam
pertemuan tablig."
Sikap Misbach ini segera menjadi tren, apalagi kemudian secara
kelembagaan perkumpulan tablig SATV benar-benar eksis melibatkan para
pedagang batik dan generasi santri yang lebih muda. Menurut Shiraisi, ada
dua perbedaan SATV dibanding Muhammadiyah. Pertama, Muhammadiyah menempati
posisi strategis di tengah masyarakat keagamaan Yogya, sedangkan SATV adalah
perhimpunan muslimin saleh yang merasa dikhianati oleh kekuasaan keagamaan,
manipulasi pemerintah, dan para kapitalis non muslim. Kedua, militansi para
penganjur Muhammadiyah bergerak atas dasar keyakinan bahwa bekerja di
Muhammadiyah berarti hidup menjadi muslim sejati. Sedangkan militansi SATV
berasal dari rasa takut untuk melakukan manipulasi, dan keinginan kuat
membuktikan keislamannya dengan tindakan nyata. Di mata pengikut SATV,
muslim mana pun yang perbuatannya mengkhianati kata-katanya berarti muslim
gadungan.
SATV menyerang para elite pemimpin TKNM, kekuasaan keagamaan di
Surakarta, menyebut mereka bukan Islam sejati, tetapi "Islam lamisan", "kaum
terpelajar yang berkata mana yang bijaksana yang menjilat hanya untuk
menyelamatkan namanya sendiri." Dasar keyakinan SATV dengan Misbach sebagai
ideolognya, "membuat agama Islam bergerak". Misbach kondang di tengah
muslimin bukan sekadar karena tablignya, melainkan ia menjadi pelaku dari
kata-kata keras yang dilontarkannya di berbagai kesempatan. Ia dikenal luas
karena perbuatannya "menggerakkan Islam": menggelar tablig, menerbitkan
jurnal, mendirikan sekolah, dan menentang keras penyakit hidup boros dan
bermewah-mewah, dan semua bentuk penghisapan dan penindasan.
"Jangan takut, jangan kawatir"
Misbach sangat antikapitalis. Siapa yang secara kuat diyakini menjadi
antek kapitalis yang menyengsarakan rakyat akan dihadapinya melalui artikel
di Medan Moeslimin atau Islam Bergerak. Tak peduli apakah dia juga seorang
aktivis organisasi Islam. Berdamai dengan pemerintah Hindia Belanda adalah
jalan yang akan dilawan dengan gigih. Maka kelompok yang anti politik, anti
pemogokan, secara tegas dianggapnya berseberangan dengan misi keadilan.
Misbach membuat kartun di Islam Bergerak edisi 20 April 1919. Isinya
menohok kapitalis Belanda yang menghisap petani, mempekerja-paksakan mereka,
memberi upah kecil, membebani pajak. Residen Surakarta digugat, Paku Buwono
X digugat karena ikut-ikutan menindas. Retorika khas Misbach, muncul dalam
kartun itu sebagai "suara dari luar dunia petani". Bunyinya, "Jangan takut,
jangan kawatir". Kalimat ini memicu kesadaran dan keberanian petani untuk
mogok. Ekstremitas sikap Misbach membuat ia ditangkap, 7 Mei 1919, setelah
melakukan belasan pertemuan kring (subkelompok petani perkebunan). Tapi
akhirnya Misbach dibebaskan pada 22 Oktober sebagai kemenangan penting
Sarekat Hindia (SH), organisasi para bumiputera.
Misbach menegaskan kepada rakyat "jangan takut dihukum, dibuang,
digantung", seraya memaparkan kesulitan Nabi menyiarkan Islam. Misbach pun
sosok yang selain menempatkan diri dalam perjuangan melawan kapitalis, ia
meyakini paham komunis. Misbach mengagumi Karl Marx, dia sempat menulis
artikel Islamisme dan Komunisme di pengasingan. Marx di mata Misbach berjasa
membela rakyat miskin, mencela kapitalisme sebagai biang kehancuran
nilai-nilai kemanusiaan. Agama pun dirusak oleh kapitalisme sehingga
kapitalisme harus dilawan dengan historis materialisme.
Misbach kecewa terhadap lembaga-lembaga Islam yang tidak tegas membela
kaum dhuafa. Berjuang melawan kapitalisme tak membuat Misbach tidak
menegakkan Islam. Baginya, perlawanan terhadap kapitalis dan pengikutnya
sama dengan berjuang melawan setan. Misbach pun ketika CSI (Central Sarekat
Islam) pecah melahirkan PKI/SI Merah, memilih ikut Perserikatan Kommunist di
Indie (PKI), bahkan mendirikan PKI afdeling Surakarta.
Terkait dengan "teror-teror" yang terjadi di Jawa, Misbach tetap
dipercaya sebagai otaknya. Misbach ditangkap. Dalam pengusutan sejumlah
fakta memberatkannya meskipun belakangan para saksi mengaku memberi
kesaksian palsu karena iming-iming bayaran dari Hardjosumarto, orang yang
"ditangkap" bersama Misbach. Hardjosumarto sendiri juga mengaku menyebarkan
pamflet bergambar palu arit dan tengkorak, membakar bangsal sekatenan, dan
mengebom Mangkunegaran.
Namun Misbach tetap tidak dibebaskan. Dia dibuang ke Manokwari, Papua,
beserta dengan istri dan tiga anaknya. Selama penahanan di Semarang, tak
seorang pun diizinkan menjenguknya. Misbach hanya dibolehkan membaca
Al-Qur’an. Di pengasingan, selain mengirim laporan perjalanannya, Misbach
juga menyusun artikel berseri "Islamisme dan Komunisme".
Medan Moeslimin kemudian memuat artikel Misbach tersebut,
“…agama berdasarkan sama rata sama rasa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa hak
persamaan untuk segenap manusia dalam dunia tentang pergaulan hidup, tinggi
dan hinanya manusia hanya tergantung atas budi kemanusiaannya. Budi terbagi
tiga bagian: budi kemanusiaan, budi binatang, budi setan. Budi kemanusiaan
dasarnya mempunyai perasaan keselamatan umum; budi binatang hanya mengejar
keselamatan dan kesenangan diri sendiri; dan budi setan yang selalu berbuat
kerusakan dan keselamatan umum.”
Ditengah ganasnya alam di tempat pembuangannya Misbach terserang malaria
dan meninggal di pada 24 Mei 1926 dan dimakamkan di kuburan Penindi,
Manokwari, di samping kuburan istrinya.*
Sumber : Tabloid Pembebasan Edisi V/Thn II/Februari 2003
Kontributor : Dewan Redaksi Tabloid Pembebasan, Januari 2004
Versi Online : Indomarxist.Net, 3 Februari 2004
dikutip dari: http://indomarxist.tripod.com/hmisbach.htm
Salam
AI
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/